DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 233


__ADS_3

Setelah berhasil mengalahkan Nyi Dwi Sangkar dan seluruh pasukannya, Panglima Galang Tantra, Maha Patih Kumbandha, Maha Patih Lare Damar, dan juga semua orang yang terlibat dalam pertarungan tersebut, langsung membereskan pelabuhan itu. Maha Patih Lare Damar memerintahkan kepada semua pasukan, untuk menenggelamkan satu buah kapal. Yang dimana kapal-kapal itu berisikan mayat-mayat para korban peperangan, dari pihak pasukan Kerajaan Bala Bathara.


"Kumpulkan mayat musuh-musuh kita menjadi satu di sebuah kapal yang besar. Lalu tenggelamkan di lautan. Sedangkan untuk para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang gugur, pisahkan mereka. Untuk dibawa ke Kerajaan Wiyagra Malela. kita akan memakamkan mereka di pemakaman khusus untuk para pejuang." Perintah Maha Patih Lare Damar kepada pasukannya.


"Baik Gusti Patih."


Maha Patih Lare Damar juga melakukan perundingan dengan Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha. Maha Patih Lare Damar merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Padepokan Mbah Kangkas. Karena seharusnya Mbah Kangkas dan yang lainnya juga ada di sini. Tetapi semenjak pertempuran berlangsung dia bersama yang lainnya tidak muncul. Maha Patih Lare Damar mengkhawatirkan keselamatan mereka yang berada di Padepokan Mbah Kangkas.


"Aku khawatir dengan keadaan di Padepokan Mbah Kangkas. Karena seharusnya Mbah Kangkas dan yang lainnya ada di tempat ini untuk membantu kita semua. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang muncul di tempat ini." Ucap Maha Patih Lare Damar.


"Mungkin sebaiknya hamba pergi ke sana saja Gusti Patih. Hamba akan membawa Pasukan Bara Jaya. Kalau sampai terjadi sesuatu, hamba jadi bisa mengatasinya dengan mudah." Kata Panglima Galang Tantra.


"Jangan. Akulah yang akan datang ke sana. Kalian bereskan saja semua yang ada di sini. Lagi pula aku juga harus bertemu dengan Prabu Putra Candrasa. Aku mengetahui secara pasti bagaimana keadaan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Putra Candrasa sudah bersiap dengan para pasukannya di Kerajaan Putra Malela."


"Baiklah kalau begitu Gusti Patih. Sampaikan salam hamba kepada Prabu Putra Candrasa, dan juga yang lainnya."


"Yah. Pasti. Aku harus pergi sekarang sebelum malam hari tiba."


"Silahkan Gusti Patih."


Maha Patih Lare Damar lalu berlari dengan kecepatan tinggi. Secepat kilat dia sudah lenyap meninggalkan tempat tersebut. Maha Patih Lare Damar merasa sangat tidak tenang karena tidak mendapatkan kabar dari Padepokan Mbah Kangkas. Seharusnya Mbah Kangkas ada di wilayah pelabuhan untuk membantu para pasukan yang sedang berperang. Maha Patih Lare Damar paham betul bagaimana sifat Mbah Kangkas.

__ADS_1


Mbah Kangkas tidak akan melanggar janjinya. Apalagi dia adalah orang yang sangat-sangat loyal kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan sudah mengakui kalau Prabu Jabang Wiyagra adalah rajanya. Sangat tidak mungkin kalau Mbah Kangkas mengingkari janji-janjinya itu. Apalagi kalau sampai dia berkhianat kepada Prabu Jabang Wiyagra. Maha Patih Lare Damar merasa kalau ada sesuatu yang terjadi kepada Mbah Kangkas dan orang-orang yang bersamanya.


Maha Patih Lare Damar khawatir kalau sampai ada penyerangan yang dilakukan secara diam-diam oleh pasukan Prabu Barajang ke Padepokan Mbah Kangkas. Karena Padepokan Mbah Kangkas adalah tempat yang sangat rawan dengan penyerangan pasukan Prabu Barajang. Apalagi Mbah Kangkas adalah musuh bebuyutan Prabu Barajang. dan kedua orang itu tidak akan pernah damai sampai kapanpun. Dan akan terus bertarung.


Kalau apa yang dirasakan oleh Maha Patih Lare Damar itu memang benar, artinya Prabu Barajang sudah membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok. Bukan hanya dua kelompok besar saja, tetapi masih ada kelompok-kelompok lain yang dikirimkan oleh Prabu Barajang untuk mengurangi kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Dengan cara, menghabiskan satu persatu kekuatan pendukung, sedikit demi sedikit.


*


*


*


Secara tiba-tiba, para pasukan penjaga benteng perbatasan menghilang entah kemana, bersama dengan semua senjata meriam yang mereka gunakan. Padahal Prabu Barajang dan seluruh pasukannya melihat dengan jelas kalau ada banyak sekali pasukan di tempat ini, dan bahkan sempat menyerang mereka.


"Apa yang terjadi di tempat ini?! Ke mana mereka semua?!" Ucap Prabu Barajang.


Para pasukannya pun kebingungan mencari keberadaan para prajurit penjaga benteng perbatasan, yang secara tiba-tiba menghilang.


"Cepat cari mereka semua! Jangan berhenti sebelum mereka semua ditemukan!" Perintah Prabu Barajang kepada pasukannya.


"Baik Gusti Prabu!"

__ADS_1


Para pasukan Prabu Barajang pun langsung mencari mereka ke segala tempat. Dari mulai memasuki rumah-rumah warga, sampai ke beberapa tempat-tempat penting lainnya. Tapi mereka tidak melihat satu orang pun.


"Aku yakin pasti ada yang melakukan sesuatu di tempat ini." Gumam Prabu Barajang dalam hati.


Prabu Barajang mencoba menggunakan kemampuan mata batinnya, untuk menerawang apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Tetapi pandangannya selalu gelap dan tidak ada satupun hal yang bisa ia lihat. Seperti ada sebuah asap hitam tebal, dan juga kabut yang menutupi pandangan mata batinnya. Prabu Barajang menjadi sangat yakin kalau ada seseorang yang melakukan sesuatu kepada tempat ini.


Prabu Barajang menjadi semakin kesal, saat dia menyadari kalau Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang tidak ada di sana. Prabu Barajang berteriak dengan sangat keras, memanggil-manggil nama Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang. Tetapi Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang hanya diam dan seperti tidak peduli kepada panggilan raja mereka, yang saat ini tengah kebingungan mencari keberadaan musuh-musuhnya.


"Lihatlah Mbah Gagang, dia pasti sedang kebingungan sekarang karena musuhnya tiba-tiba menghilang." Ucap Maha Patih Kana Raga sembari tertawa.


"Ya. Sepertinya dia sedang kebingungan, karena tidak menemukan musuh-musuhnya. Aku rasa, aku tahu siapa yang melakukan hal ini."


"Siapa Mbah?"


"Satu-satunya orang yang bisa melakukan hal ini hanyalah Sang Maha Guru saja. Di sini kita sudah bisa mengetahui kalau Sang Maha Guru juga ikut campur dalam peperangan ini. Sekarang kita semua tahu kalau kita menghadapi lawan yang berat, Gusti Patih."


"Aku tidak peduli seberapa berat lawan yang akan aku hadapi Mbah Gagang. Kita berdua sudah mengibarkan bendera perang kepada Prabu Jabang Wiyagra. Mau tidak mau, suka tidak suka, hidup ataupun mati, kita tetap harus berperang dengannya."


Mendengar jawaban dari Maha Patih Kana Raga, Mbah Gagang yang awalnya meragukan keberanian Maha Patih Kana Raga, sekarang dia menjadi percaya kepadanya. Maha Patih Kana Raga memang memiliki jiwa seorang pemimpin, yang tegas dan teguh pada pendirian. Pandangan Maha Patih Kana Raga tidak pernah berubah. Dari dulu dia selalu ingin menuntut balas kematian rajanya kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Hal itu dilihat oleh Mbah Gagang dari kerja kerasnya yang luar biasa. Selama bersama dengan Nyi Dwi Sangkar, Maha Patih Kana Raga sudah mempelajari banyak hal. Dia begitu keras kepada dirinya sendiri. Seakan tidak ada satu hari pun dia tidak melatih ilmu Kanuragannya. Namun Mbah Gagang belum bisa memastikan kemampuan yang dimiliki oleh Maha Patih Kana Raga. Karena Maha Patih Kana Raga selalu menyembunyikan kemampuannya di hadapan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2