DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 308


__ADS_3

Ki Gendalastra yang mengetahui kalau sudah banyak muridnya yang mulai dipengaruhi oleh Jiramani dan Mahendra, menjadi sangat kecewa dan murka. Ki Gendalastra lalu menghajar serta menghukum Jiramani dan Mahendra. Jiramani dan Mahendra berusaha untuk mengelak dan melakukan perlawanan. Tapi mereka berdua kalah, karena waktu itu Ki Gendalastra masih sangat gagah. Sehingga bisa dengan sangat mudah mengalahkan Jiramani dan Mahendra.


Meskipun mereka berdua sudah pernah dihajar habis-habisan oleh Ki Gendalastra, tetapi dua orang murid laknat itu masih saja melakukan kejahatan. Kalau saja Ki Gendalastra tidak menganggap Jiramani dan Mahendra seperti anak kandungnya sendiri, mungkin Ki Gendalastra sudah membunuh mereka berdua saat itu juga. Jiramani dan Mahendra memang sempat berubah untuk beberapa saat. Tapi tak bertahan lama.


Karena desakan ekonomi dan kebutuhan hidup sehari-hari, Jiramani dan Mahendra akhirnya kembali melakukan kejahatan. Mereka berdua sering mencuri, merampok, dan juga melakukan berbagai macam pemerasan kepada rakyat Maja Lingga. Karena mereka berdua adalah seorang pendekar, hanya tidak ada satupun orang yang berani melakukan perlawanan. Rakyat Maja Lingga hanya bisa pasrah dengan kejahatan yang mereka berdua lakukan.


Ki Gendalastra akhirnya menghajar Jiramani dan Mahendra untuk yang kedua kalinya. Sampai mereka berdua sekarat dan tidak mampu lagi melawan kehendak Ki Gendalastra. Namun karena sudah menjadi watak yang mendarah daging dalam diri mereka, Jiramani dan Mahendra tetap saja berbuat jahat kepada orang-orang di sekitar mereka. Bahkan mereka pernah menjadi dukun santet untuk siapa saja yang membutuhkan tenaga mereka. Tanpa sepengetahuan dari Ki Gendalastra.


Karena sudah seringnya dihajar oleh Ki Gendalastra, Jiramani dan Mahendra menjadi sangat berhati-hati dalam melakukan kejahatan. Sehingga selama beberapa tahun belakangan ini, Ki Gendalastra sama sekali tidak mengetahui, kalau Jiramani dan Mahendra telah melakukan banyak sekali kejahatan di Kota Maja Lingga. Karena usianya sudah semakin menua, Ki Gendalastra lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah pribadinya.

__ADS_1


Ki Gendalastra kembali dibuat terkejut setelah ia tahu kalau Jiramani dan Mahendra mendapatkan tugas dari Prabu Jabang Wiyagra. Apalagi Panglima Bayu Kusuma-lah yang mengajak mereka berdua untuk ikut dalam tugas tersebut. Panglima Bayu Kusuma jelas tidak mengetahui, kalau Jiramani dan Mahendra sering sekali berbuat kejahatan secara diam-diam. Dan mereka juga memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang penguasa. Karena itulah Ki Gendalastra melarang mereka berdua untuk ikut dalam tugas tersebut.


Namun seperti yang sudah dikatakan, kalau Jiramani dan Mahendra adalah murid laknat, dan sangat keras kepala. Mereka berdua tidak mendengarkan nasehat dari Ki Gendalastra, guru mereka sendiri. Mereka pun berdebat cukup hebat, sampai timbullah perkelahian antara guru dan dua murid jahat tersebut. Karena usianya sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan, Ki Gendalastra tidak mampu menyaingi kemampuan dua muridnya sendiri. Yang mengakibatkan dirinya kalah dan tewas di tangan Jiramani dan Mahendra.


Setelah mengetahui kalau Ki Gendalastra tewas di tempat, Jiramani menjadi sangat khawatir karena ia takut kalau sampai ada orang yang mengetahui perbuatan mereka. Namun Mahendra menenangkannya, dan mengatakan kalau itu adalah hal yang bagus. Karena dengan terbunuhnya Ki Gendalastra, maka tidak ada lagi orang yang bisa menghalang-halangi ambisi besar mereka. Mereka berdua bisa bergerak dengan bebas, sebebas-bebasnya. Dan melakukan apa saja, tanpa harus takut ketahuan oleh guru mereka.


Tak hanya membunuh gurunya sendiri, Mahendra juga memfitnah orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Negoro. Dengan menaruh sebuah kain yang menjadi ciri khas baju dari murid-murid Padepokan Ageng Singo Negoro. Setelah itu barulah dia pergi meninggalkan Padepokan Ageng Maja Lingga bersama dengan Jiramani. Fitnah yang begitu hina itu ia lemparkan kepada orang-orang Padepokan Ageng Singo Negoro, yang tidak tahu menahu soal peristiwa tersebut. Agar semua murid di Padepokan Ageng Maja Lingga mengamuk dan membalas dendam.


Merasa ada hal yang tidak biasa, murid-murid yang mendatangi rumah Ki Gendalastra pun nekat masuk ke dalam. Mereka ingin mengetahui apa yang telah terjadi kepada guru mereka. Setelah masuk ke ruang tamu, mereka sama sekali tidak menemukan siapapun berada di sana, termasuk Ki Gendalastra. Masih dengan berbagai kecurigaan yang ada di dalam diri mereka, terpaksa mereka pun memasuki satu persatu kamar dan ruangan yang ada di dalam rumah tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka setelah memasuki salah satu ruangan.

__ADS_1


Mereka menemukan Ki Gendalastra yang sudah tergeletak di sana, dengan bersimbah darah. Bahkan, wajah Ki Gendalastra sudah sangat sulit untuk dikenali, karena sebagian besar area wajahnya sudah hancur. Kedua tulang tangan, dan juga tulang kakinya sudah patah. Ki Gendalastra tewas dalam keadaan yang sangat-sangat mengenaskan. Tidak ada satupun orang yang percaya dengan keadaan yang dialami oleh Ki Gendalastra. Sampai semua murid pun akhirnya terpaksa melihat jasad Ki Gendalastra, untuk membuktikan kalau semua yang mereka katakan itu benar.


Tidak ada satupun orang yang berani menyentuh jasad Ki Gendalastra. Mereka takut kalau sampai jasad itu rusak. Karena memang, keadaan Ki Gendalastra benar-benar sangat memperihatinkan. Semua orang yang ada di sana pun menangis, serta merasa sangat terpukul dengan kepergian Ki Gendalastra. Mereka semua tidak pernah menyangka kalau hal mengerikan ini akan terjadi kepada guru mereka. Di saat itulah ada seorang murid yang menemukan sebuah sobekan kain. Yang merupakan ciri khas baju yang digunakan oleh para murid yang berasal dari Padepokan Ageng Singo Negoro.


Awalnya mereka semua tidak percaya dengan penemuan tersebut. Dan menganggap hal itu adalah fitnah. Namun mengingat kembali apa yang sudah pernah terjadi, mereka menjadi yakin kalau yang melakukan pembunuhan itu adalah orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Negoro. Karena seperti yang semua orang tahu, Ki Jangkung Sapu Jagat yang menjadi seorang guru besar dari Padepokan Ageng Singo Negoro, adalah orang yang sangat sakti mandraguna. Dan dikatakan pernah mengalahkan Ki Gendalastra. Hanya Ki Jangkung-lah yang benar-benar mengetahui kelemahan dari Ki Gendalastra.


Akhirnya semua orang yang ada di sana pun menjadi tersulut amarahnya. Apalagi saat Jiramani dan Mahendra juga hadir di sana. Mahendra dan Jiramani memprovokasi semua orang, untuk melakukan penyerangan kepada Ki Jangkung Sapu Jagat dan Padepokan Ageng Singo Negoro.


"Kita harus menuntut balas atas kematian guru besar kita! Ki Gendalastra! Jangan diam saja seperti ini. Kalau kita diamkan orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Negoro, maka kita juga akan menjadi korban dari ambisi besar Ki Jangkung Sapu Jagat. Ki Jangkung sangat menginginkan wilayah kekuasaan Ki Gendalastra, guru kita semua. Karena itulah dia memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan hal ini." Ucap Mahendra kepada semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Karena sedang berada dalam situasi yang penuh dengam emosi, akhirnya semua orang yang ada di sana pun setuju dengan rencana yang dikatakan oleh Mahendra. Mereka semua sepakat untuk melakukan serangan balasan kepada orang-orang Padepokan Ageng Singo Negoro. Yang padahal pada waktu itu, Ki Jangkung dan semua orang yang ada di Padepokan Ageng Singo Negoro belum mengetahui hal tersebut. Saat itu Ki Jangkung hanya bisa merasakan resah dan gelisah, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Sampai tiba-tiba dia mendengar kabar dari salah satu orang di Kota Singo Negoro.


Orang itu mengatakan kepada Ki Jangkung, kalau guru besar Padepokan Ageng Maja Lingga, yaitu Ki Gendalastra, telah dibunuh oleh seseorang. Yang diduga adalah orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Negoro. Ki Jangkung jelas tidak bisa menerima hal itu. Karena beliau sendiri pun baru mengetahui kalau ada peristiwa pembunuhan di Padepokan Ageng Maja Lingga. Dia bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa, tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Ki Gendalastra. Apalagi Ki Gendalastra dan Ki Jangkung Sapu Jagat diketahui sudah lama tidak bertemu.


__ADS_2