DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 330


__ADS_3

Setelah sekian lama berada dalam pengasingan bersama dengan Maha Patih Galangan, akhirnya Maha Patih Lare Damar kembali ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Namun, Maha Patih Lare Damar tidak akan lama berada di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dia datang ke tempat ini untuk melaporkan hal penting kepada Prabu Jabang Wiyagra. Akhir-akhir ini, Maha Patih Lare Damar dan juga Maha Patih Galangan, seringkali mendapatkan masalah. Masalah itu ditimbulkan oleh para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur. Yang tidak suka dengan Ratna Malangi. Mereka tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah dari Prabu Jabang Wiyagra.


Dari sekian banyaknya mantan anggota Kelompok Satrio Luhur, ada beberapa orang yang Maha Patih Lare Damar curigai. Salah satunya adalah Suma Gara. Meskipun orang tua itu jarang sekali bicara, tapi tingkah lakunya cukup mencurigakan bagi Maha Patih Lare Damar. Suma Gara kerap kali menghilang dan datang secara tiba-tiba. Memang dia adalah orang yang sakti, karena mantan anggota Kelompok Satrio Luhur. Tapi bukan kesaktiannya yang membuat Maha Patih Lare Damar curiga. Maha Patih Lare Damar lebih curiga kepada sebuah kalung yang ia pakai. Maha Patih Lare Damar seperti tidak asing dengan kalung itu. Maha Patih Lare Damar merasa, kalau Suma Gara dan beberapa temannya sekarang sudah berada di pihak lain, yang tentunya berseberangan.


Prabu Jabang Wiyagra bisa langsung memahami apa yang dikatakan oleh Maha Patih Lare Damar. Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya sudah mengetahui hal itu dari Sang Maha Guru. Bahwa tidak semua orang yang merupakan mantan anggota Kelompok Satrio Luhur, mampu menerima kepergian Panglima Agung Wira Satya. Kebanyakan, mereka yang kecewa mulai berpindah haluan. Bahkan ada yang menjadi seorang pembunuh bayaran. Tapi, setahu Sang Maha Guru, salah satu mantan anggota kelompok Satrio luhur yang menjadi pembunuh bayaran itu sekarang sudah mati. Dan hanya menyisakan para anggota lain yang hidupnya miskin. Kebanyakan dari mereka juga berakhir dengan menjadi seorang petani.


Semenjak kepergian Panglima Agung Wira Satya, para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur mulai terpecah belah. Mereka hanya peduli kepada urusan mereka masing-masing. Sangat jarang di antara mereka saling bertegur sapa saat bertemu. Semua itu disebabkan karena rasa kekecewaan mereka terhadap Panglima Agung Wira Satya. Juga terhadap diri mereka sendiri, yang merasa sudah tidak berguna lagi, hidup di dunia yang mereka anggap kejam ini. Rasa sakit yang sangat besar di dalam diri mereka, kemudian mulai meracuni pikiran mereka. Dan merubah mereka menjadi orang-orang yang keras kepala dan brutal.


Hanya beberapa orang saja dari mereka, yang masih memegang teguh ajaran yang dianut di dalam Kelompok Satrio Luhur. Hal itu hanya berlaku bagi orang-orang yang tabah dan sabar. Sedangkan mereka yang menuruti kebencian dalam diri mereka, sudah pasti akan terlelap dalam penderitaan, dan kesengsaraan jiwa, yang sangat luar biasa. Semenjak Panglima Agung Wira Satya tidak ada di antara mereka, mereka mulai menjadi asing, dan seakan tidak mengenal satu sama lain. Bahkan saat ada salah satu dari mereka yang mati, kebanyakan seperti tidak peduli lagi. Jiwa para ksatria Satrio Luhur akan telah mati dan pergi entah kemana, bersama dengan Panglima Agung Wira Satya.

__ADS_1


Ada suatu kejadian yang sangat menyedihkan, sekaligus juga menyakitkan. Pada saat itu, Kencana Wangsa dan Rana Wangsa mencoba untuk menyatukan kembali orang-orang Satrio Luhur yang masih hidup. Sayangnya, banyak dari mereka yang menolak untuk kembali lagi seperti dulu. Padahal, sudah banyak sekali para mantan anggota Satrio Luhur yang mati di tangan Ratna Malangi. Dan salah satu orang yang sangat tidak peduli dengan hal itu adalah Suma Gara. Diketahui, kalau Suma Gara juga mempengaruhi pemikiran anggota-anggota yang lain, untuk tidak membantu Kencana Wangsa dan Rana Wangsa, dalam menyatukan orang-orang yang pernah bergabung dengan kelompok Satrio Luhur.


Entah apa maksudnya. Tapi yang jelas, Suma Gara tetap gagah dengan pendiriannya. Yaitu bersikap 'Tidak Peduli Lagi'. Hingga akhirnya, Kencana Wangsa dan Rana Wangsa pun menyerah dan pasrah dengan keadaan. Setiap kali mereka berdua mendengar kabar, ada salah seorang anggota Satrio Luhur yang mati di tangan Ratna Malangi, mereka berdua hanya bisa menangisi kepergian saudara-saudara mereka. Tanpa bisa melakukan apa-apa, di usia mereka yang sudah sangat tua. Namun Prabu Jabang Wiyagra juga tidak bisa menaruh kecurigaannya kepada Suma Gara, sepenuhnya. Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak memiliki bukti yang kuat untuk menuduh Suma Gara, yang menurut Maha Patih Lare Damar, sekarang berada di pihak lain.


"Aku paham dengan apa yang kalian berdua alami di sana, para abdi setiaku." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Lare Damar dan Maha Patih Galangan.


"....Namun, aku tidak bisa menuduh orang sembarangan. Apalagi sampai memberikan hukuman kepada Suma Gara. Kalau memang dia mencurigakan, maka sudah menjadi tugas kalian untuk mencari bukti yang kuat, agar aku bisa memberikan keputusan." Kata Prabu Jabang Wiyagra mengungkapkan pendapatnya.


"Ya. Aku percayakan semuanya kepadamu Maha Patih. Jaga Ratna Malangi baik-baik. Karena dia menyimpan banyak sekali rahasia di kepalanya. Yang akan sangat berguna untuk kita semua. Untuk sekarang ini, biarkan dia menikmati kesehariannya seperti orang biasa terlebih dahulu. Akan ada waktunya, di mana Ratna Malangi akan mengungkapkan semuanya kepada kalian berdua. Dengarkan dengan baik apa yang diucapkan kepada kalian. Karena bisa saja, salah satu kalimat yang keluar dari mulutnya, ada sebuah kunci yang ia berikan kepada kalian tanpa sengaja."

__ADS_1


"Kami paham Gusti Prabu. Hamba rasa, kehadiran hamba bersama dengan Maha Patih Galangan di tempat ini sudah cukup. Hamba dan Maha Patih Galangan akan langsung kembali ke tempat tinggal Ratna Malangi. Hamba khawatir kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya."


"Ya. Berhati-hatilah. Doaku bersama kalian semua."


"Nggih Gusti Prabu."


"Dan ingat satu hal. Kalau sampai terjadi masalah, segera kabari aku secepatnya. Aku akan datang ke sana saat itu juga."


"Nggih Gusti Prabu."

__ADS_1


Pertemuan itu berlangsung dengan sangat singkat. Maha Patih Lare Damar dan Maha Patih Galangan harus segera kembali ke tempat tinggal Ratna Malangi. Akan sangat berbahaya bagi Ratna Malangi, kalau Maha Patih Galangan dan Maha Patih Lare Damar berlama-lama di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena tanpa mereka berdua, Ratna Malangi seringkali mendapatkan perundungan dari para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur. Walaupun Kencana Wangsa dan Rana Wangsa juga selalu berusaha untuk membela Ratna Malangi, tetapi pembelaan dari mereka berdua tidaklah cukup untuk melindungi Ratna Malangi. Karena mereka berdua sekarang hanyalah orang biasa. Tidak memiliki jabatan ataupun posisi penting seperti yang dimiliki oleh Maha Patih Lare Damar dan juga Maha Patih Galangan.


Maha Patih Galangan dan Maha Patih Lare Damar harus menjaga Ratna Malangi secara bergantian. Mereka berdua harus mengawasi Ratna Malangi dengan ketat. Lengah sedikit saja, pasti para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur akan menghina dan juga mengejek Ratna Malangi. Ratna Malangi yang merasa sakit hati, seringkali berusaha pergi dari tempat itu. Meskipun dia sendiri pun sudah mengakui semua kesalahannya, tapi Ratna Malangi tetaplah manusia biasa. Dia memiliki perasaan yang rapuh, seperti manusia pada umumnya. Jika terus-menerus mendapatkan hinaan dan cacian. Apalagi Ratna Malangi memiliki trauma di masa kecil. Yang kemudian butuhnya menjadi seorang perempuan yang kejam suka menindas. Namun itu dulu. Sekarang Ratna Malangi sedang berusaha untuk memperbaiki semua kesalahannya. Dan selalu berusaha untuk berbuat baik kepada siapapun.


__ADS_2