DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 36


__ADS_3

Prabu Bagas Candramawa dan Maha Patih Widhala sudah kembali ke istana. Mereka juga dibuat terkejut karena mereka melewati beberapa tempat yang sudah hancur dan sedang dibersihkan oleh para warga.


Prabu Bagas Candramawa dan Maha Patih Widhala dibuat kebingungan dengan semua pemandangan yang tidak biasa itu. Mereka tidak pernah menyangka kalau semua ini juga terjadi di wilayah mereka. Beruntungnya, istana tidak mengalami hal yang sama.


“Kami senang melihat Gusti Prabu tidak apa-apa. Istana juga aman dan tidak terjadi apa-apa Gusti Prabu. Tapi setiap tempat-tempat penting yang Gusti Prabu miliki, telah diserang dan dihancurkan. Mohon maaf Gusti Prabu.” Ucap salah satu prajurit yang melaporkan semua kejadian malam tadi.


Prajurit itu juga mengatakan, kalau semua pejabat penting yang ada di luar istana terbunuh dengan kondisi tanpa kepala. Kekacauan malam tadi dilakukan secara serempak. Sehingga para prajurit kewalahan menghadapi serangan yang datang secara tiba-tiba.


Para prajurit yang berjaga di istana juga tidak berani keluar dari istana, karena mereka takut kalau sampai musuh menyusup juga ke istana. Namun ternyata istana Kerajaan Candramawa tidak mendapatkan serangan sedikit pun dari musuh mereka.


Namun tempat yang biasa dikunjungi oleh para pejabat istana dan juga jalur perdagangan mereka sudah dirusak oleh para pendekar sakti itu. Para pimpinan prajurit dan juga para prajurit yang melawan juga banyak yang tewas, dan sebagian besar terluka dengan sangat parah.


Para Patih dan Punggawa istana tidak berani meninggalkan istana sampai sekarang. Namun mereka mengirimkan logistik untuk para prajurit yang ada di luar istana. Mereka juga mulai membuat pertahanan yang kuat di istana, untuk menghalau kalau sampai musuh mereka kembali melakukan penyerangan.


“Pasti ini juga terjadi di Kerajaan Rawaja Pati, Gusti Prabu. Mereka pasti juga mengalami hal yang sama. Atau bahkan lebih buruk dari ini.” Ucap Maha Patih Widhala.


“Yah. Kamu benar Maha Patih Widhala. Pasti yang melakukan ini adalah Prabu Jabang Wiyagra, sebagai peringatan untuk kita semua. Sasaran utama mereka adalah Prabu Suta Rawaja. Dan kerajaannya, Kerajaan Rawaja Pati.”


“Lalu, kenapa dia harus menyerang semuanya Gusti Prabu?”


“Karena dia tahu kalau kita mendukung Prabu Suta Rawaja. Jadi dia menyerang semuanya untuk melemahkan kekuatan kita. Ini bukan sepenuhnya salah Prabu Jabang Wiyagra. Tapi ini adalah kesalahanku.”


“Mohon maaf Gusti Prabu. Itulah mengapa hamba sangat tidak setuju dengan keputusan Gusti Prabu untuk bergabung dengan Kerajaan Rawaja Pati. Prabu Suta Rawaja adalah orang yang amat sangat licik Gusti Prabu.”


“Sekarang aku percaya dengan ucapanmu Maha Patih. Aku baru sadar, kalau semua yang kita lakukan hanyalah untuk kepentingan Prabu Suta Rawaja. Dia benar-benar ahli mempengaruhi pemikiran orang lain. Aku menyesal sudah percaya kepadanya.”


“Sudahlah Gusti Prabu. Kita utamakan saja untuk memperbaiki semuanya. Baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan ke depan.”

__ADS_1


“Iya Maha Patih Widhala. Sekarang, kamu pergilah ke istana. Bawa ikat pinggang ini. Katakan pada semua orang kalau aku masih hidup. Dan aku memutuskan untuk tetap berada disini selama beberapa waktu.”


“.....Jangan lupa juga untuk membawa beberapa prajurit, dan bawa logistik sebanyak mungkin yang kamu bisa. Aku ingin kita membangun perkemahan di tempat ini.”


“Baik Gusti Prabu. Hamba pergi sekarang.”


“Silahkan.”


Maha Patih Widhala menggunakan ilmu yang ia miliki untuk sampai ke istana dengan cepat. Dia juga memerintahkan beberapa prajurit untuk menjadi pengawal sementara Prabu Bagas Candramawa.


Karena untuk kembali ke tempat ini, Maha Patih Widhala perlu waktu berhari-hari. Ditambah juga dengan logistik dan pasukan tambahan yang akan dia bawa ke tempat ini.


Prabu Bagas Candramawa pun akhirnya dibawa ke rumah kepala desa. Disana dia melihat banyak sekali orang yang sudah menunggu kedatangannya. Mereka semua mengelu-elukan nama Prabu Bagas Candramawa.


Namun Prabu Bagas Candramawa sendiri merasa sangat sedih melihat keadaan mereka. Karena disana banyak sekali warga yang terluka. Ada juga beberapa prajurit yang terpaksa diobati di halaman rumah kepala desa.


“Silahkan Gusti Prabu. Semoga Gusti Prabu berkenan memasuki rumah hamba yang sederhana ini.” Ucap Si Kepala Desa.


“Tempat ini sangat nyaman untukku. Tapi, aku ingin para prajurit dan juga para warga yang terluka saja yang masuk ke dalam.”


“Mohon maaf Gusti Prabu. Maksud Gusti Prabu bagaimana?”


“Mereka lebih membutuhkannya dari pada aku. Mereka terluka karena aku. Karena mereka membela keamanan negara ini. Mereka sudah banyak berkorban. Sekarang, sebagai seorang raja, aku juga ingin berkorban untuk mereka.”


“Mohon maaf Gusti Prabu, bukan hamba bermaksud menolak. Tapi hamba rasa tidak pantas seorang raja berada di luar, sedangkan kami rakyat biasa tinggal di tempat yang hangat, Gusti Prabu.”


“Jangan merendahkan diri kalian sendiri. Aku seorang raja. Aku sudah terbiasa tinggal di tempat yang nyaman dan tenang. Sedangkan kalian, sekarang kalian harus menanggung penderitaan atas kesalahanku.”

__ADS_1


“......Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Tolonglah. Bantu aku kali ini saja.”


Si Kepala Desa jadi tidak enak hati mendengar ucapan Prabu Bagas Candramawa. Akhirnya dia mengiyakan keputusan Prabu Bagas Candramawa. Dia akhirnya mempersiapkan semuanya. Dia merubah rumahnya menjadi sebuah tempat pengobatan.


Para rakyat dan para prajurit pun merasa sangat berterimakasih kepada Prabu Bagas Candramawa. Karena kedatangan Prabu Bagas Candramawa, para tabib yang sebelumnya enggan menolong karena tidak mendapatkan upah, akhirnya mereka pun berbondong-bondong untuk datang memberikan bantuan.


Prabu Bagas Candramawa yang mengetahui kalau banyak tabib di desa ini yang enggan menolong warga mereka sendiri, menjadi kesal dan meluapkan semua amarahnya kepada para tabib itu.


“Sekali lagi kalian bersikap seperti ini, aku akan memenggal kepala kalian semua! Aku bisa membeli nyawa kalian kalau aku mau! Paham kalian semua?!”


Para tabib yang curang dan suka mengambil keuntungan itu pun langsung ketakutan saat mereka berhadapan dengan Prabu Bagas Candramawa. Mereka tidak mungkin berani membantah perintah dari Prabu Bagas Candramawa, karena pasti mereka akan mendapat hukuman yang berat.


“Ampun Gusti Prabu! Ampun! Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami! Kami berjanji Gusti Prabu! Kami berjanji! Tapi tolong jangan hukum kami Gusti! Keluarga kami sangat membutuhkan kami!” Kata mereka memelas meminta pengampunan kepada Prabu Bagas Candramawa.


“Prajurit!”


“Hamba Gusti Prabu!”


“Cari semua tabib yang ada di desa ini. Katakan pada mereka, kalau mereka mendapatkan perintah langsung dariku untuk membantu semua orang yang terluka!”


“.....Seret mereka kalau mereka menolak! Atau aku sendiri yang akan menyeret mereka semua!”


“Baik Gusti Prabu! Perintah Gusti Prabu akan hamba laksanakan!”


“Cepat!”


Para prajurit itu pun langsung menyusuri setiap area desa. Mereka mengetuk pintu demi pintu untuk mencari para tabib yang masih bersembunyi di rumah mereka. Kebanyakan dari para tabib itu memang selalu meminta upah yang tidak sedikit.

__ADS_1


Namun saat mereka tahu kalau itu adalah perintah langsung dari Prabu Bagas Candramawa, mereka terpaksa menurutinya. Karena mereka takut dibunuh.


__ADS_2