
"Aku sudah tahu siapa pelaku di balik semua peristiwa ini. Dan yang melakukan ini bukanlah orang-orang sembarangan. Karena mereka semua dalam musuh Romo Guru dari masa lalu. Sekarang mereka semua sudah berkumpul menjadi satu. Aku yakin, tidak akan lama lagi mereka akan menyerang seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela." Ucap Prabu Jabang Wiyagra di ruang singgasana.
"Dulu, Romo adalah orang yang sangat Sakti dan dikagumi oleh semua orang. Dia masuk ke dalam sebuah kelompok pasukan pembela rakyat, yang kala itu diketuai oleh seorang pendekar sakti bernama Wira Satya, yang bernama Satrio Luhur. Dibawah kepemimpinan Wira Satya, Satriyo Luhur pernah mencapai puncak kejayaannya."
"....Kelompok ini sangat dihormati oleh masyarakat kelas bawah. Mereka bahkan sangat memuji-muji Wira Satya, karena sudah berjasa besar dalam melindungi rakyat yang kala itu menjadi korban peperangan dari semua kerajaan yang ada di Tanah Jawa ini. Namun Satrio Luhur hanyalah sebuah nama. Yang tidak mencerminkan sifat dari nama yang sangat agung tersebut."
"....Banyak anggota kelompok Satrio Luhur yang tidak jarang melakukan kejahatan, dan menakuti orang-orang, dengan alasan untuk membuat mereka tunduk kepada Wira Satya. Karena Wira Satya ingin sekali menjadi seorang raja. Padahal, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Wira Satya untuk memiliki sebuah tahta dan kerajaan."
Prabu Jabang Wiyagra menceritakan semuanya dengan penuh perasaan sedih. Prabu Jabang Wiyagra mendengar cerita tersebut dari Sang Maha Guru sendiri. Sang Maha Guru dulu adalah salah satu anggota kelompok Satrio Luhur. Dan Wira Satya adalah pemimpin sekaligus guru kedua dari Sang Maha Guru. Karena Wira Satya adalah pengganti dari guru besar yang sudah mati.
Wira Satya adalah orang yang lurus, jujur dan sangat baik hati. Tidak pernah sekalipun ia berusaha untuk menyakiti orang lain, kecuali orang itu sudah menyakitinya terlebih dahulu. Wira Satya memiliki banyak sekali murid dan juga anak buah yang siap mati untuk dirinya. Sehingga banyak orang yang mendukung Wira Satya agar menjadi seorang raja. Tetapi bukan itu yang Wira Satya inginkan.
Wira Satya hanya ingin memperjuangkan keadilan dan kedamaian untuk rakyat yang tidak bersalah, yang sudah menjadi korban peperangan. Wira Satya dan orang-orang kepercayaannya sebenarnya tidak pernah meminta upeti ataupun imbalan kepada siapapun. Wira Satya melakukan pengorbanan secara sukarela tanpa mengharapkan apa-apa.
__ADS_1
Tetapi kelompok Satrio Luhur semakin hari semakin berkembang pesat. Jumlah anggotanya pun semakin banyak. Awalnya semua berjalan baik-baik saja tanpa ada masalah apapun di dalam kelompok ini. Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama, setelah muncul satu orang yang membuat kelompok ini menjadi rusak dan terpecah belah. Orang itu bernama Kawirit.
Kawirit adalah seorang pendekar yang memiliki ketertarikan kepada ilmu hitam. Yang jelas hal tersebut sangat dilarang oleh Wira Satya. Dan juga sudah keluar dari aturan kelompok Satrio Luhur. Karena akibat ilmu hitam yang ia anut, Kawirit menjadi orang yang mudah marah, keras kepala, dan sangat susah diatur. Bahkan dia berani menantang perintah dan larangan Wira Satya.
Wira Satya semakin lama semakin geram dengan perilaku Kawirit yang semakin menjadi saja setiap harinya. Hampir setiap hari Kawirit membuat onar dan membuat masalah, dengan mengatasnamakan Wira Satya. Wira Satya jelas tidak terima dengan hal tersebut, karena dapat merusak nama baik kelompok Satrio Luhur, yang memiliki nama yang sangat agung.
Kawirit benar-benar sudah menjadi duri dalam daging di kelompok Satrio Luhur. Tak hanya berbuat onar dan juga kerusuhan saja, tapi dia juga mempengaruhi anggota kelompok yang lain, untuk menjadi pengikutnya. Sehingga membuat kelompok Satrio Luhur menjadi terpecah belah. Yang paling menyakitkan adalah, banyak anggota kelompok yang justru berpihak kepada Kawirit.
Kawirit memang sengaja membuat kekacauan itu agar masyarakat menjadi panik, dan mudah dipengaruhi oleh pikirannya yang sesat. Kawirit mempengaruhi semua orang yang ia temui untuk memusuhi Wira Satya. Kawirit mengatakan kepada semua masyarakat kalau Wira Satya adalah orang yang sangat licik dan jahat yang ingin memanfaatkan keadaan, untuk mencari kehormatan. Padahal kenyataannya tidak.
Justru Kawirit sendirilah yang licik dan jahat. Karena dia berambisi besar, untuk menjadi seorang raja yang besar. Bahkan dikatakan juga kalau Kawirit beserta para pengikutnya terlibat dalam pembunuhan Prabu Jaya Digdaya. Entah hal itu benar atau pun tidak, yang pasti pada waktu itu Wira Satya memerintahkan kepada Sang Maha Guru untuk menyelamatkan Prabu Sura Kalana, yang waktu itu masih sangat kecil.
"Dimas Prawira, kamu pergilah ke istana Kerajaan Reksa Digdaya. Dan selamatkan Raden Sura Kalana dari penjara. Karena hanya dialah satu-satunya yang bisa meneruskan tahta Prabu Jaya Digdaya."
__ADS_1
"Baik Kakang Wira."
Saat itu juga Sang Maha Guru langsung pergi ke istana Kerajaan Reksa Digdaya, untuk menyelamatkan Prabu Sura Kalana yang kalau itu ada di dalam penjara. Hal itu dilakukan oleh Wira Satya agar Prabu Jaya Digdaya memiliki seorang pewaris yang bisa meneruskan tahtanya. Terutama agar tidak terjadi peperangan yang jauh lebih besar. Karena jika waktu itu Prabu Sura Kalana mati, maka akan banyak orang yang memberontak.
Akan banyak perang saudara yang terjadi jika sampai Abdi Prawira gagal dalam menyelamatkan Prabu Sura Kalana yang kala itu sudah dalam keadaan tidak berdaya, karena hidup di dalam penjara, yang membuatnya sangat tersiksa. Abdi Prawira adalah nama asli dari Sang Maha Guru, pada saat usianya masih belum tua seperti sekarang. Yang kala itu Abdi Prawira masih belum menjadi seorang guru besar.
Kawirit yang mendengar kalau Prabu Sura Kalana setelah diselamatkan oleh Abdi Prawira, menjadi sangat murka dan langsung memerintahkan seluruh pengikutnya untuk menyerang Wira Satya dan juga anggota kelompok Satrio Luhur yang masih tersisa. Karena pada waktu itu Kawirit sudah memiliki kelompoknya sendiri. Dan sudah menyatakan perang kepada Wira Satya. Sehingga Wira Satya perlu bertindak secepat mungkin.
Saat itu, rencana Kawirit adalah untuk merampas sebagian harta warisan milik Prabu Sura Kalana. Untuk ia gunakan membangun kerajaannya sendiri. Tetapi karena Prabu Sura Kalana berhasil diselamatkan oleh Abdi Prawira, warisan Prabu Sura Kalana pun tetap aman dan tidak bisa dirampas oleh Kawirit. Hanya Prabu Sura Kalana sendirilah yang mengetahui di mana warisan dari ayahandanya Itu disimpan.
Kawirit mengerahkan semua anggota kelompoknya untuk menghabisi Wira Satya dan semua orang yang masih loyal kepadanya. Kawirit benar-benar sudah gelap mata. Dia bahkan menyerang pemimpinnya sendiri, yang pernah menyelamatkan nyawanya. Karena dulu keluarga Kawirit di bantai habis oleh sekelompok prajurit sebuah kerajaan yang kala itu tengah berperang, dan menghancurkan tempat tinggal Kawirit.
Pada saat itu hanya Wira Satya-lah yang mau menolong Kawirit, dan menjadikan Kawirit sebagai salah satu anggota kelompok Satrio Luhur. Tetapi karena kekuasaan, Kawirit tidak ingat dengan semua kebaikan yang diberikan oleh Wira Satya. Di otaknya hanyalah kekuasaan dan kekuasaan. Setiap hari dia melakukan serangan ke berbagai kota dan desa, untuk membuat wilayah kekuasaan kerajaan impiannya.
__ADS_1