DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 80


__ADS_3

Semua warga desa pun berkumpul dan bersiap-siap untuk pergi dari desa mereka bersama dengan pasukan siluman Pangeran Rawaja Pati. Tapi tiba-tiba saja ada prajurit berkuda yang jumlahnya ratusan, datang ke desa itu.


Dan ternyata, ada salah satu warga desa yang dengan tega mengkhianati mereka semua. Hal itu membuat para warga desa yang lain mengutuk keras perbuatan salah satu orang yang juga sama-sama merasakan penderitaan di desa ini.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin menjadi kaya raya. Aku sudah bosan hidup miskin. Maafkan aku. Maafkan aku." Kata pria tua itu sembari bergegas pergi dari tempat itu bersama dengan ketiga anak-anaknya yang masih kecil.


Para pasukan Prabu Garan Darang pun merasa sangat bangga, karena mereka semua dikirim oleh Prabu Garan Darang untuk menghabisi mereka semua. Dan untuk yang paling banyak membunuh, akan diberikan imbalan yang besar. Mereka juga akan diberi kenaikan jabatan.


Namun yang mereka tidak tahu adalah, saat itu juga sudah ada pasukan siluman Pangeran Rawaja Pati yang mengelilingi mereka semua, tanpa mereka ketahui. Karena para pasukan siluman itu menggunakan kemampuan mereka untuk melenyapkan diri dari pandangan orang-orang.


"Tamatlah kalian semua pengkhianat!" Ucap salah satu prajurit kepada mereka.


Saat para prajurit berkuda itu sudah turun dari kuda-kuda mereka, tiba-tiba sebuah serangan mendatangi mereka semua. Namun para pasukan siluman itu hanya membunuh kuda-kuda yang mereka tunggangi. Para prajurit mulai ketakutan dan mereka tengok sana tengok sini untuk mencari musuh mereka.


Dan yang membuat mereka semua semakin bingung adalah, para warga desa yang secara tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka. Mereka semakin dibuat panik, karena beberapa lesatan panah mulai mengarah ke mereka.


Srrraaaappp!


Srrraaaappp!


Srrraaaappp!


Ratusan panah menyerbu mereka semua tanpa diketahui dari mana asalnya. Satu persatu dari mereka mulai mati dan tumbang di tempat itu. Para prajurit yang masih hidup berusaha bersembunyi dibalik pepohonan. Mereka yang masih hidup berusaha untuk kabur dari sana sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Tapi semua itu langsung digagalkan oleh Patih Kinjiri dan Utari Gita yang sudah ada di belakang mereka semua.


"Hey! Jangan lari. Hadapi kami kalau kalian memang seorang pemberani." Ucap Utari Gita.


Para prajurit itu jelas tidak tahu siapa Utari Gita dan Patih Kinjiri. Karena yang mereka tahu, nama mereka adalah Noto dan Dinta. Dua orang pengembara yang kemudian membuka rumah makan di tempat itu. Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mencurigai mereka berdua sedikit pun.


"Kalian pikir kalian ini siapa?! Hah?!"


"Kami semua ini prajurit istana! Tunduk! Atau mati!"


Utari Gita dan Patih Kinjiri pun tertawa mendengar ucapan para prajurit itu. Mereka berdua jelas tidak takut dengan gertakan para prajurit istana yang lemah dan kurang berpengalaman itu. Para prajurit itu sudah pasti tidak ada apa-apanya ditangan Patih Kinjiri dan Utari Gita.


"Aku saja yang maju. Biar mereka tahu bagaimana rasanya dikalahkan oleh perempuan." Ucap Utari Gita.


Mereka kemudian mengitari Utari Gita dengan mengayun-ayunkan pedang mereka. Patih Kinjiri kemudian melompat ke atas pohon dan melihat pertarungan mereka dari sana. Semua prajurit yang jumlahnya ratusan itu kini sudah mengepung Utari Gita.


Namun nampak Utari Gita sangat tenang. Dan dengan cepat dia kemudian memulia pertarungan tersebut dengan mengayunkan kayu yang ada ditangannya kepada lawannya. Para prajurit itu dibuat tertegun. Karena sebuah kayu mampu menumbangkan tiga orang prajurit sekaligus.


Semua prajurit yang menggunakan pedang itu pun seketika langsung menyerang Utari Gita secara membabi buta. Utari Gita mendapatkan serangan dari segala arah. Puluhan pedang dari para prajurit terus mencoba mengenai dirinya. Tapi tidak ada satu saja yang berhasil.


Justru para prajurit itulah yang satu persatu tumbang dan terkapar di tanah. Mereka kewalahan melawan seorang perempuan yang hanya menggunakan sebuah kayu kecil. Kalau saja Utari Gita menggunakan pedang, pasti mereka semua sudah mati sedari tadi.


Para prajurit yang masih berdiri terus saja menyerang Utari Gita dengan jurus-jurus yang mereka miliki. Jumlah mereka yang banyak, ternyata tidak menjamin kemenangan mereka. Yang masih bisa bangun, mereka akan bangun kembali untuk menyerang Utari Gita.

__ADS_1


Tapi semuanya sia-sia saja, karena Utari Gita jauh lebih hebat dari pada semua prajurit-prajurit istana itu. Semua yang melawan Utari Gita kebingungan. Karena tidak ada satu pun dari mereka semua yang bisa menyentuh Utari Gita.


"Bagaimana? Aku hebat bukan?" Ucap Utari Gita sembari tertawa.


Para prajurit itu hanya bisa diam meringis menahan sakit disekujur tubuh mereka, karena mereka semua sudah terluka. Utari Gita menatap setiap satu dari mereka dengan tatapan meledek. Utari Gita masih belum puas dengan semua itu. Sebenarnya dia menginginkan lebih.


Namun hal itu sudah cukup untuk membuat mereka kalap. Karena sekarang, tidak ada lagi dari mereka yang berani maju melawan. Bahkan pimpinan prajurit pun sampai tidak mau lagi melawan Utari Gita, karena dia sudah babak belur. Dan sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan Utari Gita.


"Dasar prajurit-prajurit bodoh. Beraninya hanya dengan orang lemah. Ayo! Maju lagi!" Ucap Utari Gita.


"Kamu belum menang ja-lang! Belum!" Ucap si pimpinan prajurit.


Utari Gita lalu mengambil sebuah pedang dari salah satu prajurit yang sudah tak sadarkan diri. Utari Gita langsung menebas kepala si pimpinan prajurit. Seketika kepalanya langsung menggelinding. Dan membuat semua prajurit yang ada disana semakin ketakutan.


Tak hanya itu, Utari Gita juga menusuk dan membabat satu persatu ratusan prajurit yang sudah terkapar itu. Mereka semua tidak ada yang bisa melawan, karena mereka sudah dihajar habis-habisan. Mereka tidak memiliki tenaga lagi untuk memberontak. Sampai tersisalah tiga orang prajurit.


"Ingat baik-baik wajahku ini. Katakan kepada raja kalian. Kalau aku! Utari Gita! Akan menghabisi seluruh orang yang mendukungnya! Paham?!" Ucap Utari Gita sembari mencekik salah satu prajurit.


Kemudian pasukan Kerajaan Wiyagra Malela pun muncul dari tempat persembunyian mereka. Lalu Utari Gita mengikat salah satu prajurit yang masih hidup diseekor kuda milik prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Lantas dia memukul kuda itu agar kuda itu berlari dengan kencang.


Sekarang tinggal tersisa satu prajurit lagi. Si prajurit itu menjadi bulan-bulanan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Dia dipukul, ditendang, dan ditusuk berkali-kali hingga dia sekarat. Setelah itu, salah satu dari pasukan Kerajaan Wiyagra Malela memenggal kepalanya.


Barulah kepala dan tubuh si prajurit itu di gantung di gapura desa secara terpisah. Untuk memberikan peringatan kepada prajurit Kerajaan Mangkon Rogo. Supaya mereka tidak main-main lagi dengan kekuasaan yang mereka miliki. Pesan itu pastinya akan sampai ke Prabu Garan Darang.

__ADS_1


Kalau sudah meradang, pasti Prabu Garan Darang akan mengerahkan pasukan untuk menyerang desa itu. Dan saat itulah Utari Gita, Patih Kinjiri, beserta seribu pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan menyergap dan menyerang mereka secara habis-habisan.


__ADS_2