DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 327


__ADS_3

Di kediaman Ratu Mekar Senggani.....


"Aku sama sekali tidak setuju dengan rencana penyerangan yang akan kamu lakukan, Mekar Semggani. Rencanamu itu terlalu terburu-buru. Aku khawatir kalau itu hanyalah jebakan untuk dirimu. Karena dengan kamu melakukan penyerangan kepada Patih Lanja Arang, maka itu akan mengurangi jumlah pasukanmu sendiri."


"....Meskipun para pasukan ku sudah siap siaga untuk membantumu setiap saat ketika kamu berada dalam masalah, tapi hal itu tidak menjamin kalau kamu akan menang di medan perang. Apalagi penyerangan mu ini didasarkan pada balas dendam. Kalau kamu masih belum bisa menerima kepergian Maha Patih Baruncing, kamu bisa menuntutnya kepadaku. Karena akulah yang menjatuhkan hukuman pancung kepadanya."


Apa yang telah diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra membuat hati Ratu Mekar Senggani menjadi luluh. Dia merasa bersalah kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena sudah mengambil keputusan secara terburu-buru. Dan apa yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra memang benar. Ratu Mekar Senggani melakukan penyerangan atas dasar balas dendam, karena masih belum bisa menerima kepergian Maha Patih Baruncing. Namun Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak membebankan hal itu kepada Prabu Jabang Wiyagra. Yang sudah dilakukan oleh Maha Patih Baruncing memang salah. Bahkan Maha Patih Baruncing pantas untuk menerima hukuman yang lebih menyakitkan dan mengerikan daripada hukuman pancung.


Hukuman yang dijatuhkan kepada Maha Patih Baruncing oleh Prabu Jabang Wiyagra merupakan hukuman yang paling ringan, yang pernah ada. Karena dengan begitu, si pelaku bisa mati dengan cepat, tanpa harus merasakan rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan lagi. Prabu Jabang Wiyagra juga sudah mempertimbangkan semuanya matang-matang. Menimbang setiap masalah yang ditimbulkan oleh Maha Patih Baruncing pada saat itu. Hasilnya, hukuman pancunglah yang tepat untuk orang seperti Maha Patih Baruncing. Begitu juga dengan pertahanan kelas kakap yang lainnya, yang perilakunya sama dengan Maha Patih Baruncing.

__ADS_1


Itu adalah kudu terasa belas kasih Prabu Jabang Wiyagra kepada musuh-musuhnya. Prabu Jabang Wiyagra juga menjelaskan semua itu kepada Ratu Mekar Senggani. Agar Ratu Mekar Senggani tidak menyalahkan siapapun atas kematian Maha Patih Baruncing, karena itu semua murni keputusan dari Prabu Jabang Wiyagra yang sudah sangat keram dengan perilaku semua musuh-musuhnya, yang tidak pernah menyadari kesalahan mereka. Dengan gamblang, Ratu Mekar Senggani sendiri pun mengakui kesalahan yang dilakukan oleh Maha Patih Baruncing kepada semua orang. Semua itu juga dilakukan berdasarkan perintah dari Ratu Mekar Senggani sendiri.


Waktu itu Ratu Mekar Senggani sudah lupa daratan. Dan sama sekali tidak mengenal kebaikan. Kecuali kepada rakyatnya sendiri. Karena yang gak pedulikan hanyalah kekuasaan dan kedudukannya di Kerajaan Panca Warna. Dia tidak peduli dengan keadaan kerajaan-kerajaan yang lainnya. Termasuk segala permasalahan yang dihadapi oleh Prabu Jabang Wiyagra pada saat itu. Bisa dimaklumi, kalau Prabu Jabang Wiyagra sangat-sangat murka kepadanya. Namun dengan adanya Ratu Mekar Senggani di tempat ini, itu membuktikan kalau Prabu Jabang Wiyagra masih memiliki belas kasihan kepada setiap orang yang pernah memusuhi dirinya. Sekalipun mereka pernah mencampakan Prabu Jabang Wiyagra.


"Hamba meminta maaf atas kesalahan hamba yang satu ini, Gusti Prabu. Hamba memang sudah salah mengambil tindakan. Dan itu jelas akan membahayakan pasukan hamba sendiri. Hamba akui, kalau hamba belum bisa menerima kepergian Maha Patih Baruncing. Namun, hamba sama sekali tidak menyalahkan Gusti prabu atas kepergiannya."


"....Adanya hamba di tempat ini, itu sudah membuktikan kalau Gusti Prabu tidak bersalah. Dan hukuman yang Gusti Prabu jatuhkan kepada Maha Patih Baruncing sudahlah tepat. Sekali lagi hamba meminta maaf yang sebesar-besarnya, Gusti Prabu. Jikalau permintaan maaf hamba masih belum cukup, hamba siap menerima hukuman yang berat." Ucap Ratu Mekar Senggani.


Kalau Prabu Jabang Wiyagra tetap memberikan hukuman kepada Ratu Mekar Senggani, sekalipun Ratu Mekar Senggani ikhlas dan menerima dengan lapang dada, tetap jajan itu akan menjadi masalah yang besar nantinya. Karena banyak orang yang mulai mendukung Ratu Mekar Senggani. Jumlah mereka kian hari kian banyak. Dan mereka berasal dari berbagai macam golongan. Mereka semua sudah memberikan kepercayaan kepada Ratu Mekar Senggani, karena Ratu Mekar Senggani telah membangun banyak sekali hal-hal yang sangat berguna bagi orang banyak, di tempat ini. Kalau mereka tahu Ratu Mekar Senggani dijatuhi hukuman, mereka pasti akan melakukan pemberontakan kepada Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku tidak akan menghukummu Mekar Senggani. Apa yang sudah kamu alami di Kerajaan Putra Malela, bagiku sudah lebih dari cukup. Sekarang, tarik kembali barisan pasukanmu yang sudah siap berperang. Katakan semuanya kepada mereka, apa adanya. Minta maaflah kepada mereka atas tindakanmu yang terburu-buru itu. Tunjukkan jiwa kepemimpinanmu mereka para abdi setiamu."


"Nggih Gusti Prabu."


Ratu Mekar Senggani melangkah keluar dari rumahnya. Dia lalu berbicara di hadapan semua orang dengan sangat lantang. Para pasukannya saat kebingungan dengan keputusan Ratu Mekar Senggani, yang secara tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk melakukan penyerangan kepada Patih Lanja Arang. Karena mereka tidak tahu, kalau Ratu Mekar Senggani telah diberi peringatan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena dari sekian banyak orang yang ada di tempat ini, hanya Ratu Mekar Senggani saja yang bisa melihat keberadaan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra menggunakan ilmu kesaktiannya agar tidak terlihat oleh orang banyak. Karena urusannya hanyalah dengan Ratu Mekar Senggani. Bukan dengan mereka.


"Maafkan aku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Prabu Jabang Wiyagra sudah memberikan peringatan kepadaku, untuk tidak melakukan penyerangan ini. Karena penyerangan ini hanyalah jebakan untuk kita semua. Patih Lanja Arang ingin mengurangi jumlah kita. Jumlah kalian. Jumlah orang-orang yang setia kepadaku. Karena dia sangat menginginkan kematianku dan kehancuranku. Aku harap kalian bisa memahaminya. Sekali lagi. Maafkan aku." Ucap Ratu Mekar Senggani di hadapan semua orang.


Para pasukannya memang merasa kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Ratu Mekar Senggani. Namun mereka juga tidak bisa memaksakan keadaan. Karena jika mereka memaksa, maka bisa saja bahaya memang benar-benar sedang menanti mereka di depan mata. Apalagi setelah mereka mendengar nama Prabu Jabang Wiyagra. Tentu saja mereka menjadi khawatir. Kebanyakan apa yang diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra selalu benar. Jarang sekali tebakan Prabu Jabang Wiyagra meleset. Prabu Jabang Wiyagra adalah seorang raja besar. Beliau ahli dalam segala hal. Tentu saja beliau juga sangat ahli dalam membaca pergerakan yang dilakukan musuh-musuhnya.

__ADS_1


Akhirnya, penyerangan itu pun harus dibatalkan. Ratu Mekar Senggani harus menunggu perintah selanjutnya dari Prabu Jabang Wiyagra. Untuk sekarang ini, Ratu Mekar Senggani diperintahkan untuk tetap diam di tempatnya. Karena penyerangan kemarin yang dilakukan oleh kelompok pemberontakan, hanyalah untuk menguji seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani. Untung saja para pemberontak utusan Patih Lanja Arang itu mengalami apes. Sehingga mereka tidak bisa melaporkan apa yang terjadi di wilayah kekuasaan Ratu Mekar Senggani saat ini. Ditambah lagi dengan keadaan mereka, yang sebagian besar anggota tubuhnya sudah terkubur di dalam tanah. Yang hanya menyisakan kepalanya saja di atas tanah.


Prabu Jabang Wiyagra lebih setuju dengan cara itu. Daripada harus melakukan penyerangan secara langsung kepada Patih Lanja Arang. Kalau saja Prabu Jabang Wiyagra tidak cepat sampai ke kediaman Ratu Mekar Senggani, sudah pasti Ratu Mekar Senggani telah melakukan penyerangan besar-besaran. Bisa dipastikan juga, kalau sekarang Ratu Mekar Senggani telah kehilangan banyak pasukan. Atau mungkin saja dia sudah kehilangan nyawanya sendiri. Dan Patih Lanja Arang bisa tertawa puas di atas penderitaan yang dialami Ratu Mekar Senggani beserta para abdi setianya.


__ADS_2