
Semua material untuk pembangunan sudah dipersiapkan. Pembangunan padepokan tersebut akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Dan harus diselesaikan dalam waktu empat puluh satu hari. Karena itu adalah perintah dari Syekh Hassan Baghda, sebelum Zafir berangkat ke Tanah Jawa.
Zafir melakukan semua yang diperintahkan oleh Sang Guru, tanpa terlewatkan satupun. Zafir juga membacakan doa-doa yang telah diajarkan oleh Syekh Hassan Baghda kepadanya. Agar tanah yang ia tempati menjadi aman dan tentram. Dan padepokannya, menjadi padepokan yang penuh dengan kebaikan.
Meskipun Zafir berasal dari Timur Tengah, tetapi padepokan yang ia bangun, sama sekali tidak memiliki unsur Timur Tengah. Zafir benar-benar memasukkan unsur budaya Tanah Jawa sepenuhnya, ke dalam padepokannya. Dari mulai material dan juga susunan bangunannya.
Dibantu oleh Patih Daraka dan Patih Kayat, Zafir membuat gambaran, bagaimana nantinya padepokan ini dibangun. Zafir bahkan meminta saran dari para penasehat kerajaan, agar Zafir tidak menyalahi aturan adat yang ada di Tanah Jawa ini. Sikap Zafir tidak ada bedanya dengan Syekh Hassan Baghda.
Zafir menjunjung tinggi yang namanya toleransi. Karena dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Aturan adat dan budaya tidak boleh disepelekan, karena sekarang Zafir berada di tempat yang adatnya berbeda dengan orang-orang di Timur Tengah. Dan Zafir wajib untuk menghormati semua aturan adat yang ada.
Dari perhitungan hari, sampai pada apa saja yang biasanya dihidangkan untuk masyarakat, yang membantunya membangun padepokan. Sebelum memulai pembangunan, Zafir juga mengadakan acara doa bersama, dengan para sesepuh desa, dan juga ketua adat serta para penasehat istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Zafir benar-benar mengikuti semua saran yang diberikan oleh para penasehat istana. Dan juga para sesepuh desa. Zafir benar-benar mengalir dengan masyarakat yang ada di kerajaan ini. Ada dan istiadat yang berbeda dengannya, tidak menjadikannya orang yang merasa paling benar sendiri. Walaupun Zafir memiliki pedoman yang kuat terhadap kepercayaan yang dia anut.
Semua masyarakat yang ada di sana pun menerima Zafir dengan sangat baik. Karena mereka merasa dihargai, walaupun keyakinan mereka tidak sama dengan Zafir. Tetapi sebenarnya, ajaran yang dianut oleh orang-orang Jawa, semuanya merujuk kepada Yang Maha Kuasa. Baik dari budi pekerti maupun yang lainnya.
__ADS_1
Itulah salah satu hal yang membuat Zafir merasa kagum kepada orang-orang yang ada di Tanah Jawa. Dari para tetua adat pun, Zafir sudah bisa memahami, kalau sebenarnya orang Jawa sangat-sangat mengenal siapa Tuhan mereka. Hanya saja mereka menyebutnya dalam bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa Jawa.
Dalam hal perjalanan spiritual, masyarakat Jawa menempuh perjalanan yang sangat luar biasa. Dalam ajaran yang Zafur anut, anak-anak dari kecil sudah dididik dengan ilmu agama. Sedangkan di masyarakat Jawa, anak-anak didik untuk mengenal alam. Dengan mengenal alam sekitar, mereka akan lebih mengenal diri mereka sendiri.
Karena dalam proses pengenalan terhadap lingkungan, akan ada titik di mana anak-anak di Tanah Jawa mengalami kesulitan dan juga penderitaan. Dari kesulitan dan penderitaan itulah, anak-anak ini akan terdidik untuk lebih dewasa. Mereka akan memahami, apa maksud dari sabar dan ikhlas. Itu adalah dua hal utama yang harus mereka miliki.
Dan itu sama persis dengan apa yang Zafir pelajari selama ini. Sabar, dan ikhlas. Dua kalimat sederhana yang sangat sulit untuk dijalankan. Tidak semua orang bisa menjalankan maksud dari dua kalimat tersebut dengan baik dan benar. Kebanyakan manusia akan memberontak terhadap takdir mereka sendiri.
Bagi mereka yang mau berusaha, maka kebahagiaan akan hadir dalam kehidupan mereka. Namun bagi yang pasrah tanpa melakukan apa-apa, maka yang ada diri mereka hanyalah kebencian dan kejahatan, yang akan menghancurkan kehidupan mereka. Membuat mereka sengsara dan sangat menderita.
Hal semacam itu tidak didapatkan Zafir di negerinya. Karena kebanyakan, orang-orang di negerinya pun berperang dengan saudara mereka sendiri. Perang yang dimaksud bukanlah perang antara senjata dengan senjata, tetapi perang antara perbedaan pemikiran, dan perbedaan pendapat.
Dari perbedaan pemikiran dan perbedaan pendapat itu, banyak sekali kelompok-kelompok pemuka agama yang kemudian terpecah menjadi beberapa golongan. Dan masing-masing dari mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda. Sehingga tidak semua orang di negerinya memiliki pemikiran yang sama, sekalipun mereka menganut ajaran yang sama.
Hal itu sering membuat bingung orang-orang yang ada di sana. Karena setiap kelompok pasti selalu merasa bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Namun, satu-satunya pendapat yang memiliki pengaruh kuat adalah Syekh Hassan Baghda. Dikarenakan pendapatnya jauh lebih nyaman untuk didengarkan. Dan tidak menimbulkan perselisihan.
__ADS_1
Syekh Hassan Baghda dan para pengikutnya jauh lebih tenang. Mereka selalu adem ayem. Mereka lebih banyak melakukan kegiatan sosial, daripada harus mempermasalahkan suatu hal, yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Syekh Hassan Baghda dan para pengikutnya cenderung memiliki rasa empati dan toleransi yang tinggi, dari pada kelompok yang lainnya.
Selesai dengan acara doa bersama, Zafir lalu melakukan peletakkan batu pertama. Selanjutnya tinggal menghitung hari saja, untuk memulai pembangunannya. Selama ini, Zafir selalu memimpikan bagaimana ia bisa meneruskan perjalanan gurunya yang sempat tertunda karena usia. Di Tanah Jawa ini, Syekh Hassan Baghda sempat ingin membangun sebuah padepokan.
Namun sayangnya, perang juga berkecamuk di tanah kelahirannya. Tanah Jawa juga mengalami banyak sekali bencana, akibat perang saudara yang tiada hentinya. Dengan sangat terpaksa, Syekh Hassan Baghda harus mengurungkan niat baiknya itu. Selama bertahun-tahun dia mencari seseorang yang pantas untuk menjadi penerusnya di Tanah Jawa.
Hingga pada akhirnya dia dipertemukan dengan Zafir. Zafir adalah seorang anak yatim piatu yang hidup menggelandang di jalanan. Kedua orang tuanya mati dalam peperangan. Zafir memang terlahir dari keluarga para pejuang. Bahkan kakek buyutnya pun juga seorang pejuang yang cukup terkenal pada masanya.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Zafir tidak memiliki siapa-siapa lagi. Keluarga ayah dan keluarga ibunya bahkan tidak mau menganggap Zafir sebagai keluarga mereka, dan Zafir hanya dijadikan budak. Mereka mencampakkannya, dan memperlakukan Zafir seperti seekor keledai. Tragisnya, hal itu berlangsung selama beberapa tahun.
Karena tidak tahan dengan siksaan yang ia dapatkan dari keluarganya sendiri, Zafir kemudian memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia lebih memilih untuk hidup menggelandang di jalanan, daripada harus disiksa terus menerus. Didikan yang keras membuat Zafir menjadi liar. Membentuknya menjadi anak yang nakal dan brutal, untuk anak seusianya.
Zafir kecil terkenal suka memukuli anak-anak lain, hanya untuk mendapatkan sepotong roti, dan sebotol air. Namun kenakalan dan sifat Zafir yang brutal itu, tidak berlangsung lama. Karena takdir mempertemukannya dengan Syekh Hassan Baghda. Semenjak bertemu dengan Syekh Hassan, kehidupan Zafir berubah total. Dia pandai mengaji. Dan rajin melakukan ibadah. Bahkan Zafir juga pandai membuat syair.
Semua itu berkat kesabaran dan ketabahan Syekh Hassan dalam mendidiknya. Anak yang nakal dan susah diatur itu secara perlahan berubah menjadi anak penurut. Bahkan Zafir menjadi contoh untuk anak-anak yang lainnya pada masa itu. Karena sikapnya yang tegas dan tubuhnya yang tangkas, Zafir menjadi orang kepercayaan Syekh Hassan. Dan diangkat menjadi anaknya.
__ADS_1