
Malam penyerangan pun akhirnya tiba. Kini Utari Gita dan Bamantara sudah bersiap bersama murid-murid Mbah Kangkas. Mereka semua diperintahkan untuk menyerang pasar dan juga tempat perbelanjaan orang-orang kaya di salah satu kota wisata. Karena di sana banyak sekali pengunjung dari berbagai tempat.
Dengan suasana tempat yang ramai dan banyak sekali orang, maka para prajurit istana yang berjaga di sana akan kesulitan untuk menghadapi Utari Gita dan Bamantara. Ditambah lagi dengan murid Mbah Kangkas yang jumlahnya cukup banyak, hingga lebih dari lima puluh orang.
"Kita berpencar. Kita bagi semuanya menjadi dua bagian. Sebagian ikut dengan Bamantara, dan sebagian lagi ikut denganku." Perintah Utari Gita.
Utari Gita membawa pasukannya ke sebuah pasar yang sangat besar. Di sana sangat ramai sekali pengunjung dari kalangan orang-orang kaya, karena di pasar tersebut hanya menjual barang-barang mewah, yang hanya cocok dibeli oleh para orang-orang besar saja.
Kalau Utari Gita dan pasukannya mampu menaklukkan pasar tersebut, dan juga daerah sekitarnya, maka mereka akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Bahkan bisa mendapatkan dana tambahan untuk melengkapi persenjataan pasukan Mbah Kangkas.
Sedangkan untuk Bamantara, Dia menuju ke beberapa rumah makan mewah. Yang di tempat tersebut juga sangat ramai sekali pengunjung, bahkan banyak juga prajurit istana yang datang ke sana. Sehingga Ini kesempatan bagus untuk Bamantara memberikan pelajaran kepada para prajurit istana yang suka bertindak semaunya.
"Lihat para baji-ngan itu, mereka sedang menyantap makanan. Kita tunggu beberapa saat lagi, setelah beberapa dari mereka selesai makan, baru kita sergap." Ucap Bamantara
"Baik Kang."
Berbeda dengan Utari Gita yang sudah tidak sabar ingin menghabisi semua orang yang ada di sana. Ketika sampai di pasar tersebut, Utari Gita langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerang secara brutal. Yang menjadi sasaran utamanya adalah para prajurit istana yang berjaga.
__ADS_1
Dan kalau ada para pengunjung yang berusaha melakukan perlawanan, maka mereka akan langsung dibunuh di tempat. Kedatangan Utari Gita dan pasukannya membuat semua orang panik, dan berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Para prajurit yang sedang berjaga di sana pun sangat kewalahan, karena jumlah pasukan yang dibawa oleh Utari Gita sangatlah banyak, melebihi jumlah mereka. Ditambah lagi dengan orang-orang yang terus saja berlarian tanpa henti. Membuat para prajurit istana jadi kesulitan untuk melakukan serangan balik kepada Utari Gita dan pasukannya.
Para murid Mbah Kangkas bahkan membakar pasar itu, dan menjarah semua barang-barang yang berharga. Para pedagang yang ada di sana hanya bisa pasrah, karena mereka takut dibunuh. Apalagi para murid-murid Mbah Kangkas sangat-sangatlah ganas dalam menyerang musuh mereka.
Mereka tidak segan untuk menghabisi siapa saja yang mencoba menghalangi mereka melakukan penjarahan. Pasar yang awalnya ramai dan menyenangkan, sekarang berubah menjadi menakutkan karena banyak sekali mayat yang mulai bergelimpangan. Pasar itu kini sudah berubah menjadi tempat pembantaian.
Para murid-murid Mbah Kangkas menumpahkan semua rasa kecewa mereka, kepada orang-orang kaya yang ada di sana. Orang-orang kaya yang ada di tempat ini juga sama seperti Prabu Barajang, yang suka sekali menginjak orang yang ada posisinya ada di bawah. Dan mereka tidak pernah mau membagi harta mereka dengan orang-orang yang membutuhkan.
Bahkan semakin banyak harta yang mereka miliki, maka mereka semakin congkak dan tamak. Kekejaman yang dilakukan oleh murid-murid Mbah Kangkas sebanding dengan apa yang orang-orang ini lakukan kepada orang lain. Mereka semua pantas mendapatkan hal itu.
Peristiwa pembantaian ini akan menjadi pukulan keras untuk Prabu Barajang dan semua orang yang mendukungnya. Dan akan banyak juga para rakyat tertindas yang pastinya akan bersatu dan berani melakukan perlawanan. Karena mereka akan merasa, mereka sudah mendapatkan seorang pahlawan yang akan membawakan perubahan.
Pertarungan antara murid-murid Mbah Kangkas dan Utari Gita yang melawan para prajurit istana masih terus berlanjut, karena para prajurit istana sama sekali tidak menyerah. Mereka terus berusaha mempertahankan wilayah mereka. Meskipun secara perlahan pasar itu mulai terbakar habis.
"Serang terus! Jangan mundur!" Perintah salah seorang pimpinan prajurit.
__ADS_1
Para prajurit yang jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan murid-murid Mbah Kangkas itu, terus berusaha melakukan serangan balik. Walaupun sudah ada beberapa dari mereka yang mati, tapi mereka tetap saja bersikukuh untuk mempertahankan wilayah ini. Karena wilayah ini adalah wilayah yang sangat penting.
Mereka tidak memilih untuk lari, karena hasilnya akan sama saja. Kalau mereka sampai ketahuan gagal, maka mereka akan dibunuh oleh Prabu Barajang. Jadi lebih baik mereka melakukan perlawanan, sekalipun mereka harus mati di tangan Utari Gita dan pasukannya. Karena mati melawan musuh, bagi mereka adalah suatu kematian yang terhormat.
Lagi pula mereka semua juga sudah kenyang memakan semua harta rampasan yang selama ini mereka kumpulkan. Dan memang sudah waktunya bagi mereka beristirahat untuk selama-lamanya. Agar tidak ada lagi para penindas di tempat ini, maupun di tempat yang lain.
Dengan terbakarnya pasar terbesar yang ada di wilayah kota, maka kekhawatiran yang dirasakan oleh Prabu Barajang akan semakin besar dan akan membuat dirinya semakin gila. Karena Prabu Barajang pasti akan mengira, kalau semua serangan yang terjadi adalah ulah dari para pasukan Prabu Jabang Wiyagra.
Dengan begitu, Prabu Barajang akan mengerahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak lagi. Sehingga memudahkan Utari Gita dan Bamantara untuk menghabisi mereka semua, tanpa harus mencari mereka ke segala tempat. Yang tentunya hal tersebut akan membuat Prabu Jabang Wiyagra menjadi bangga atas pencapaian mereka.
Karena sebenarnya itu adalah hal utama yang diharapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Dengan kacaunya keadaan di Kerajaan Bala Bathara, maka bantuan untuk Kerajaan Wesi Kuning juga akan semakin berkurang. Fokus Prabu Barajang juga akan terpecah dan terbagi-bagi yang bisa membuatnya semakin bingung.
Bamantara dan pasukannya yang sebelumnya hanya menunggu momen yang pas, sekarang sudah mulai melakukan penyerangan secara mendadak. Dan yang menguntungkan adalah, para prajurit yang berjaga di sana sudah banyak yang mulai mabuk. Sehingga mereka menjadi tidak fokus, dan kesulitan untuk menghadapi Bamantara dan pasukannya.
Bamantara tidak ragu menggunakan ilmu kanuragannya untuk membunuh para prajurit dan juga orang-orang yang melakukan perlawanan. Tidak butuh waktu lama, tempat tidur sudah sangat rusak, dan sudah sangat rusuh. Banyak prajurit yang mulai tewas dalam penyerangan itu. Sehingga membuat banyak orang ketakutan dan lari berhamburan.
Hampir semua orang-orang kaya yang ada di sana dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Ada yang kepalanya putus, ada juga yang kehilangan anggota tubuh mereka, seperti tangan, kaki, mata, telinga, dan masih banyak yang lainnya. Suasana di tempat itu benar-benar sudah sangat mengerikan. Apalagi di sana banyak sekali anak-anak dan juga perempuan.
__ADS_1
Anak-anak itu melihat dengan jelas bagaimana orang-orang di sekitar mereka dibunuh. Sampai-sampai mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka karena rasa ketakutan yang berlebihan. Bahkan ada beberapa anak-anak yang terinjak-injak oleh orang-orang yang sedang berusaha untuk menyelamatkan diri.