
Pada siang hari, para murid Mangku Cendrasih berkumpul di titik-titik yang telah ditentukan. Ada yang di pasar ikan, pasar baju dan perhiasan, tempat penginapan, rumah makan mewah, dan juga beberapa tempat hiburan yang ada di wilayah Kerajaan Rawaja Pati.
Siang hari itu terlihat ada beberapa rombongan pasukan khusus yang mengawal Prabu Suta Rawaja yang akan menghadiri pesta ulang tahun Prabu Bujang Antasura yang akan dilaksanakan nanti malam.
Prabu Suta Rawaja membawa beberapa Patih dan para Punggawa kerajaan. Karena Maha Patih Raseksa tidak ikut dalam pengawalan tersebut.
Dia bersama pasukan yang lainnya harus menjaga istana selama Prabu Suta Rawaja pergi ke Kerajaan Antasura. Pesta meriah itu kabarnya akan dilangsungkan selama satu minggu. Dan hanya dilaksanakan pada malam harinya saja.
Sedangkan siang hari akan digunakan untuk aktivitas yang lain, dan juga persiapan untuk pada malam harinya.
Hal ini menjadi kesempatan bagus untuk murid-murid Mangku Cendrasih, dan juga Mangku Cendrasih sendiri. Murid-muridnya bisa melakukan serangan secara serempak kepada para pejabat istana yang sedang berada di wilayah mereka masing-masing, seperti yang dilakukan oleh Singo Rogo dan yang lainnya.
Sedangkan Mangku Cendrasih akan mendatangi istana Kerajaan Rawaja Pati pada malam harinya.
Serangan-serangan kecil itu akan memberikan dampak yang besar bagi pertahanan Kerajaan Rawaja Pati dan juga kerajaan-kerajaan lain yang ikut hadir dalam pesta itu.
Patih Kinjiri bersama pasukannya yang akan melakukan serangan kejutan kepada semua orang yang hadir di pesta tersebut. Fokus mereka hanyalah untuk memberikan rasa takut. Dan membunuh orang-orang penting yang ada disana.
Jika mereka berhasil dalam menjalankan serangan ini, maka akan banyak sekali keuntungan yang akan mereka dapatkan. Dan target utama mereka saat ini adalah Maha Patih Raseksa. Dia adalah orang yang paling kuat diantara ketiga kerajaan besar itu.
Kalau dia mati, maka itu akan membuat mental musuh menjadi lemah dan mereka menjadi penakut. Jadi Prabu Jabang Wiyagra bersama pasukannya hanya tinggal membersihkan sisanya saja.
Namun jelas tugas ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena Maha Patih Raseksa jelas sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi di istana.
Terlebih, Maha Patih Raseksa memiliki sebuah senjata ampuh, yaitu sebuah gada. Gada tersebut adalah senjata pusaka yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Dia mendapatkan senjata itu setelah dia selesai berguru kepada Prabu Suta Rawaja.
Gada itu mampu membuat sebuah getaran hebat jika dihantamkan pada tanah. Dan jika gada itu dihantamkan pada sebuah batu besar, maka batu itu akan langsung berkeping-keping.
__ADS_1
Bayangkan jika gada tersebut sampai mengenai manusia. Sudah pasti orang itu akan langsung mati. Kecuali si korban memiliki ilmu kesaktian yang lebih. Karena itulah Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Mangku Cendrasih untuk memimpin pasukannya melakukan penyerangan kepada Kerajaan Rawaja Pati.
Mereka terus menunggu dan terus menunggu. Waktu pun semakin berlalu. Tak terasa kalau malam hari sudah tiba. Semua orang sudah memposisikan diri mereka masing-masing.
Mangku Cendrasih menggunakan ilmu telepati untuk tetap terhubung dengan murid-muridnya. Agar dia bisa tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukan serangan.
Singo Rogo dan yang lainnya juga sudah berada pada posisi mereka. Serangan Singo Rogo dan Joko Gondol kemarin hanyalah sebuah lonceng peringatan. Sedangkan serangan pada malam ini adalah serangan yang sebenarnya. Kesempatan ini tidak datang dua kali.
Mereka harus benar-benar bisa menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Perhitungan waktu yang tepat, dan juga strategi serangan yang sudah diatur sedemikian rupa akan memberikan mereka peluang yang jauh lebih besar untuk sebuah kemenangan.
“Kita bersiap.” Ucap Mangku Cendrasih kepada para pasukan yang dibawanya.
Mereka semua adalah pasukan khusus yang dilatih langsung oleh Maha Patih Putra Candrasa. Mereka bukan pasukan sembarangan yang hanya bisa ilmu bela diri saja. Tapi mereka juga bisa membuat diri mereka tidak terlihat.
Mereka ahli dalam menggunakan semua senjata, baik pedang atau pun panah. Posisi mereka yang berada tepat dibawah menara pengawas yang tak jauh dari istana, membuat mereka semakin mudah mengawasi pergerakan para penjaga.
Mereka hanya bisa dilihat orang yang memiliki pandangan batin yang tajam. Mereka melumpuhkan penjaga satu persatu. Para penjaga yang berada di tempat lain sama sekali tidak menyadari kalau beberapa dari mereka telah mati.
Maha Patih Raseksa, dia seperti gelisah dan perasaannya campur aduk tidak tenang. Sesekali dia membuka gorden kamarnya untuk melihat ke arah luar.
“Lihat. Dia sedang mengawasi semua orang yang ada disini. Menghindarlah dari pandangan matanya. Cari tempat lain yang lebih aman.” Ucap Mangku Cendrasih pada pasukannya.
“Kenapa Ki Mangku? Bukannya kita tidak terlihat ya Ki?”
“Jangan bodoh. Dia bukan orang sembarangan. Dia tetap bisa melihat kalian dengan kemampuan mata batinnya yang tajam. Sebaiknya kita cepat. Dia pasti sudah mulai merasa gelisah. Dan sebentar lagi dia akan keluar dari kamarnya.”
“.....Habisi semua penjaga, dan singkirkan mayat mereka dari pandangan mata Maha Patih Raseksa. Menyebarlah. Cepat!” Perintah Mangku Cendrasih pada mereka.
__ADS_1
“Baik Ki.”
Mereka semua mulai berhati-hati dan benar-benar memperhatikan gerak-gerik Maha Patih Raseksa yang masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia lalu bersiap memakai pakainnya. Tidak lupa dia juga membawa sebuah pedang yang tersimpan di dalam kamar itu.
“Prajurit! Beri tahu semua pasukan untuk memperketat penjagaan. Tidak ada yang boleh tidur malam ini! Paham kalian?!” Perintah Maha Patih Raseksa kepada dua prajurit yang berjaga di depan pintu kamarnya.
“Baik Kanjeng Maha Patih.”
Dua orang itu berlari sembari berteriak menyebarkan perintah dari Maha Patih Raseksa. Para pasukan yang sedang beristirahat di dalam kamar mereka pun langsung bersiap setelah mendengar pemberitahuan dari teman-teman mereka yang lain. Ada beberapa Patih dan Punggawa yang masih ada di istana pun ikut terbangun.
“Hey prajurit! Ada apa ini?!” Teriak seorang Patih kerajaan memanggil seorang prajurit.
“Mohon maaf Kanjeng Patih. Kanjeng Maha Patih Raseksa memberikan perintah untuk memperketat penjagaan. Dan melarang semua orang yang ada di istana ini untuk tidur. Sepertinya Kanjeng Maha Patih Raseksa mengetahui sesuatu Kanjeng Patih.”
“Ya sudah. Kamu lanjutkan saja.”
Sang Patih pun bergegas menemui Maha Patih Raseksa. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.
“Maaf Maha Patih, ada apa ini? kenapa semua prajurit harus dibangunkan malam-malam begini?” Tanya Sang Patih.
“Aku merasa ada yang tidak beres dengan malam ini. Kau bergabunglah dengan pasukanmu yang lain. Jaga tempat ini, jangan sampai lengah. Dan ingat! Kalau kamu mencurigai sesuatu, sekecil apa pun itu, segera beritahu aku. Paham?!”
“Baik Maha Patih. Saya paham. Akan saya beri tahu yang lainnya juga.”
“Sekarang.”
“Siap.”
__ADS_1