
Prabu Jabang Wiyagra mengirimkan utusan untuk datang ke Padepokan Mbah Kangkas. Prabu Jabang Wiyagra ingin mengundang Mbah Kangkas ke istananya, untuk membicarakan banyak hal. Sekaligus ingin menugaskan Utari Gita dan Bamantara lebih lama lagi di wilayah tersebut. Supaya mereka berdua membentuk panji-panji perlawanan.
"Prabu Jabang Wiyagra mengirim kami berdoa untuk menemui Mbah Kangkas. Sekaligus untuk menyampaikan pesan penting, kalau Bamantara dan Utari Gita akan ditugaskan lebih lama lagi di tempat ini. Supaya bisa membangun panji-panji perlawanan." Ucap salah seorang utusan.
"Aku merasa senang kalau Prabu Jabang Wiyagra yang mengundangku secara langsung dengan mengirimkan kalian berdua. Tapi aku masih harus mengurus beberapa hal di padepokanku ini. Terutama dengan masalah keamanan."
".....Karena semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, para pejabat dan juga prajurit istana sudah mulai melakukan serangan secara menyeluruh, ke tiap-tiap wilayah yang sudah berhasil kami kuasai." Jawab Mbah Kangkas.
"Mbah Kangkas tenang saja, karena kami akan mengirimkan bala bantuan ke tempat ini. Asalkan kami diberitahu jalur untuk masuk ke wilayah ini dengan aman."
Ada sedikit keraguan dalam hati Mbah Kangkas. Dia keberatan kalau harus meninggalkan murid-muridnya yang ada di sini, karena situasi belum benar-benar aman sepenuhnya. Namun Utari Gita dan Bamantara, mengajukan diri untuk pemimpin padepokan ini sementara, selama Mbah Kangkas pergi.
Dengan begitu, Mbah Kangkas bisa pergi dengan tenang, karena ada orang yang mau mewakili dirinya selama ia pergi ke Kerajaan Wiyagra Malela. Apalagi ini adalah kesempatan emas bagi Mbah Kangkas untuk meminta bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra secara langsung. Karena belum tentu di hari-hari berikutnya masih ada kesempatan bagus seperti sekarang.
Akhirnya Mbah Kangkas ikut dengan dua orang utusan Prabu Jabang Wiyagra. Sebelum pergi, Mbah Kangkas berpesan kepada Utari Gita dan Bamantara, untuk tidak melakukan serangan tanpa perintahnya. Yang terpenting adalah, mereka harus menjaga tempat ini agar tetap baik-baik saja. Karena padepokan ini adalah pusat dari padepokan yang lain.
Namun Mbah Kangkas suka memberikan sebuah peta penting kepada Utari Gita dan Bamantara. Kalau sampai terjadi sesuatu, seperti penyerangan ataupun yang lainnya, maka Utari Gita dan Bamantara bisa membawa murid-murid Mbah Kangkas ke tempat yang aman. Peta itulah yang akan menunjukkan sebuah tempat, yang di mana mereka bisa mengasingkan diri.
__ADS_1
Karena cepat atau lambat pasti akan ada serangan besar ke padepokan Mbah Kangkas. Apalagi sekarang yang memegang kekuasaan di wilayah ini adalah para pejabat istana yang suka berbuat curang. Ditambah lagi dengan Prabu Barajang yang belum mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi di wilayah kekuasaannya sendiri.
Sehingga para pejabat yang curang ini bisa dengan leluasa melakukan apa saja yang mereka mau, tanpa harus berada di bawah pengawasan Prabu Barajang. Kalau sampai para pejabat itu benar-benar melakukannya, maka Utari Gita dan Bamantara berada dalam masalah besar. Jadi mereka berdua harus lebih berhati-hati dalam bertindak.
Karena hatinya masih belum bisa tenang, Mbah Kangkas akhirnya terpaksa berangkat dengan menggunakan ilmu kesaktiannya, agar cepat sampai ke Kerajaan Wiyagra Malela, bersama dengan dua orang utusan Prabu Jabang Wiyagra. Dalam waktu singkat, Mbah Kangkas dan dua orang utusan itu sudah sampai di gerbang utama istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Para pasukan yang berjaga di sana pun langsung membukakan gerbang untuk mereka bertiga. Mbah Kangkas berjalan dengan sangat cepat, karena dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra. Begitu juga dengan Prabu Jabang Wiyagra yang sudah menunggu kedatangannya di halaman istana.
Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat senang, karena Mbah Kangkas mau menerima undangannya untuk datang ke istana ini. Prabu Jabang Wiyagra langsung mengajak Mbah Kangkas ke sebuah pendopo yang ada di dekat istana. Mereka berdua langsung akrab, seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.
"Aku mengucapkan banyak sekali terima kasih kepadamu, Mbah Kangkas. Karena Mbah Kangkas sudah mau menerima undanganku untuk datang di istana ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Jangan merendahkan dirimu di tempat ini, Mbah Kangkas. Mbah Kangkas ini adalah orang yang hebat. Jarang sekali, ada sebuah padepokan yang bisa berdiri di tempat yang penuh dengan penindasan. Aku sudah mendengarkan semuanya dari mata-mata yang aku kirimkan, Mbah Kangkas."
"......Aku juga sama sekali tidak menyangka, kalau semua kekacauan ini bisa terjadi. Memang tujuan Utari Gita dan Bamantara itu baik. Tapi menurutku, cara mereka salah. Karena itu akan menimbulkan peperangan yang jauh lebih besar lagi." Kata Prabu Jabang Wiyagra.
Mbah Kangkas juga mengungkapkan kekhawatirannya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Untuk sementara waktu ini, Prabu Barajang masih belum mengetahui kalau ada peristiwa penyerangan di wilayahnya. Karena berita tersebut terus berusaha ditutup-tutupi oleh para pejabat yang curang.
__ADS_1
Alasannya sudah pasti karena para pejabat yang curang itu takut sekali dibunuh, ataupun mendapatkan hukuman berat dari Prabu Barajang. Sehingga mereka berusaha keras menutupinya, dengan alasan merenovasi tempat tersebut. Padahal mereka takut kalau sampai Prabu Barajang mengetahui kegagalan mereka.
Namun sisi baik dari penyerangan tersebut adalah, Mbah Kangkas seakan memiliki jalan, untuk kembali melanjutkan perjuangannya yang sempat tertunda, akibat penekanan yang dilakukan oleh pihak istana kepada dirinya. Mbah Kangkas menginginkan Kerajaan Bala Bathara diambil alih oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Mbah Kangkas berharap, Prabu Jabang Wiyagra bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Agar keadaan di tanah kelahirannya bisa kembali seperti semula.
"Dulu, pada masa pemerintahan sebelumnya, tidak pernah ada kekacauan seperti ini. Semuanya damai, tentram, dan tidak ada permusuhan dengan siapapun. Tetapi karena sifat anak-anak paduka raja yang rakus, akhirnya kekacauan terjadi di mana-mana."
".....Kalau dilihat dari depan, memang tidak terjadi apa-apa. Tetapi kalau dilihat sampai ke dalamnya, maka semua isinya adalah kebusukan dan kebohongan saja. Bahkan anak-anak paduka raja tidak segan untuk menindas siapa saja yang berani menentang mereka." Ucap Mbah Kangkas.
Prabu Jabang Wiyagra menanggapi pernyataan itu dengan bahasa yang sangat lembut dan sopan.
"Tidak semua anak bisa meniru sifat baik orang tuanya. Terkadang kita pun sebagai orang tua, bisa saja salah mendidik anak-anak kita. Hingga akhirnya, mereka bertindak semaunya sendiri. Aku berharap Yang Maha Kuasa selalu memberikan kita petunjuk."
"Ya. Gusti Prabu benar. Memang paduka raja selalu memanjakan kedua putranya, saat mereka masih kecil. Setelah mereka tumbuh besar, mereka saling memperebutkan kekuasaan. Hingga kerajaan besar itu terbagi menjadi dua kerajaan, agar kedua-duanya sama-sama menjadi seorang raja."
".....Dan inilah hasilnya, sekarang situasinya sangat kacau balau. Semua orang di tindas, ditekan, dan disingkirkan oleh raja mereka sendiri. Mereka diperlakukan seperti budak yang hina. Badan mereka adalah orang-orang yang membutuhkan perlindungan, dan juga Kedamaian."
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra yang mendengar ucapan itu, hanya terdiam seribu bahasa. Dia bingung harus mengatakan apa kepada Mbah Kangkas. Semua yang dikatakan oleh Mbah Kangkas adalah sebuah kebenaran. Dan memang benar-benar terjadi.