
Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Prabu Putra Candrasa dan juga Panglima Galang Tantra untuk mempersiapkan semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Para pasukan itu dibentuk berkelompok. Dan masing-masing kelompok sudah memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Ada yang menyamar menjadi petani, pekerja pabrik, kuli angkut barang, ada yang menjadi pelayan rumah makan, dan lain sebagainya.
Dan di hari itu juga, secara mendadak Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha memerintahkan semua orang yang ada di pelabuhan untuk mengosongkan pelabuhan itu. Semua kapal yang sudah mendarat di dermaga juga tidak dibiarkan untuk pergi. Semua kapal ditahan di tempatnya. Sedangkan untuk warga sipil, baik lokal maupun pendatang, mereka semua dibawa ke tempat yang aman oleh para prajurit.
Selama beberapa saat, kondisi wilayah pelabuhan sangat-sangat sepi. Tidak ada satupun orang yang diperbolehkan masuk ke wilayah itu. Kemudian, setelah semua persiapan pasukan Prabu Sura Kalana selesai, mereka semua langsung bersiap di posisi mereka masing-masing. Ada yang memasuki rumah-rumah warga, rumah makan, dan juga berbagai macam hiburan yang ada di sana.
Keadaan kembali seperti biasa, dan terlihat sangat-sangat normal, seperti tidak terjadi apapun di tempat itu. Semua orang memerankan peran mereka masing-masing. Untuk beberapa hari kedepan, mereka akan beradaptasi dengan lingkungan yang cukup dekat dari kehidupan mereka sehari-hari yang sebagai seorang prajurit kerajaan. Hal itu juga tidak terlalu sulit bagi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela.
Para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela sudah terbiasa dekat dengan rakyat, sehingga prajurit ini tahu apa saja yang harus dilakukan ketika menyamar menjadi mereka. Pada hari pertama dan hari kedua, semuanya masih baik-baik saja dan tidak ada yang mencurigakan. Semuanya berjalan normal dan tidak ada masalah sedikitpun di pelabuhan tersebut. Suasana begitu tenang dan nyaman.
Namun pada hari berikutnyalah ada sesuatu yang cukup membuat para pasukan merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran beberapa orang asing di tempat itu. Walaupun mereka sama-sama orang Jawa, tapi kelihatannya mereka bukan orang-orang dari Kerajaan Wiyagra Malela ataupun Kerajaan Batih Reksa. Dari cara mereka berbicara yang keras, mereka seperti orang-orang dari Kerajaan Bala Bathara.
Semua pasukan saling memperhatikan satu sama lain, hanya dengan sebuah lirikan mata. Ada juga yang menggunakan kedua tangan mereka untuk memberikan kode kepada teman-teman mereka yang lain agar datang ke tempat tersebut. Suasana di sekitar rumah makan yang menjadi tempat singgah orang-orang asing itu, kini berubah menjadi sangat ramai. Dan orang-orang asing itu sama sekali tidak merasa curiga.
Dan memang benar salah satu dari mereka ternyata sedang mencari seorang nahkoda kapal, yang sebenarnya sudah mati di tangan Maha Patih Kumbandha.
"Di tempat ini banyak sekali nahkoda kapal tuan-tuan. Jadi saya sendiri pun kebingungan untuk memahami wajah mereka satu persatu. Tapi yang saya tahu, para nahkoda sebelumnya sudah diganti. Karena nahkoda yang sebelumnya sudah sangat tua dan tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan mereka."
"....Lagi pula sekarang inikan banyak sekali orang-orang yang masih muda yang bisa melakukan banyak pekerjaan dan lebih bisa diandalkan. Mereka juga lebih membutuhkan pekerjaan daripada para anak muda yang sebelumnya." Jawab si prajurit yang menyamar menjadi pelayan rumah makan tersebut.
"Hmmmm... Lalu di mana kami bisa menemukan mereka? Kenapa kapal-kapal mereka kosong?" Tanya salah satu dari mereka.
"Biasanya mereka juga duduk di sini. Tapi mungkin mereka memiliki tempat lain yang biasa digunakan untuk berkumpul para nahkoda kapal. Kalau saya lihat, tuan-tuan ini pasti orang-orang terhormat ya?"
Mereka Semua terlihat sangat congkak dan sombong setelah si pelayan menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Ya. Kami semua adalah orang-orang kaya yang ingin datang berkunjung ke tempat ini untuk menikmati segala keindahan yang ada. Dan kami akan membayar mahal jika ada seorang nahkoda kapal yang mau kami sewa secara pribadi."
Di sini si pelayan semakin curiga kepada mereka semua. Apalagi dengan beberapa kantung koin dan pedang yang mereka bawa di pinggang mereka.
"Saya bisa mencarikannya, tapi butuh waktu seharian. Bagaimana tuan-tuan?"
"Mau sehari ataupun dua hari tidaklah masalah. Kami memiliki waktu satu minggu di tempat ini."
"Baik, nanti akan saya bicarakan dengan para nahkoda kapal. Kira-kira, tuan-tuan ini membutuhkan berapa kapal?"
"Kami membutuhkan setidaknya tiga kapal besar dan juga lima kapal berukuran sedang."
"Baik. Akan saya usahakan. Kalau saya ingin mengabari tuan-tuan, saya harus ke mana?"
Di tempat itu juga banyak sekali para pasukan dari Panglima Galang Tantra dan juga pasukan Maha Patih Kumbandha. Ada yang menyamar sebagai pengurus rumah penginapan, dan ada juga yang menyamar menjadi tamu di rumah penginapan itu. Kalau para orang-orang asing ini datang ke rumah penginapan tersebut, justru akan menjadi kesempatan besar bagi para pasukan ini untuk menangkap mereka dengan mudah.
*
*
*
Si prajurit itupun langsung memberikan laporan kepada pimpinannya setelah lima orang asing itu pergi dari rumah makannya.
"Kalau didengarkan secara seksama dari cara mereka berbicara, kelima orang itu seperti berusaha menutupi logat mereka. Tapi saya yakin Ketua, dari logatnya, mereka berasal dari wilayah Kerajaan Bala Bathara. Katanya mereka sedang mencari para nahkoda kapal. Mereka membutuhkan tiga buah kapal besar, dan juga lima buah kapal berukuran sedang." Lapor si prajurit kepada pimpinannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan langsung melaporkannya Panglima Galang Tantra. Kamu membalilah ke tempatmu, sebelum mereka semua mencurigaimu."
"Baik Ketua."
Si prajurit kembali ke rumah makannya. Sedangkan si pimpinan prajurit langsung menemui Panglima Galang Tantra di tempat persembunyiannya yang berada di sebuah rumah warga. Di sana Panglima Galang Tantra sedang berbincang bersama Maha Patih Kumbandha. Mereka berdua juga sedang merencanakan sesuatu yang besar, untuk menghadang kedatangan para pasukan dari Kerajaan Panca Warna dan Kerajaan Bala Bathara.
"Mohon maaf mengganggu Panglima."
"Tidak apa-apa. Katakan apa yang kamu dapatkan."
"Begini Panglima, salah seorang prajurit yang menyamar sebagai pelayan di rumah makan, telah kedatangan tamu tak diundang. Mereka berjumlah lima orang. Logat mereka, nampaknya seperti orang-orang dari Kerajaan Bala Bathara. Tapi mereka memaksakan logat mereka untuk sama seperti kita. Sekarang mereka ada di sebuah rumah penginapan yang tidak jauh dari tempat ini."
"Apa tujuan mereka datang ke tempat ini?"
"Katanya mereka mencari para nahkoda kapal. Mereka membutuhkan tiga buah kapal besar dan juga lima kapal berukuran sedang."
"Sudah pasti ketiga kapal besar itu akan digunakan untuk mengangkut persenjataan. Tiga kapal lagi akan digunakan untuk mengangkut pasukan. Dan dua kapal lagi yang berukuran sedang akan digunakan untuk mengangkut bahan makanan." Ucap Maha Patih Kumbandha.
"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu Maha Patih?" Tanya Panglima Galang Tantra.
"Karena memang itu yang akan mereka lakukan. Untuk apa lagi mereka membutuhkan kapal sebanyak itu kalau hanya ingin berlibur ataupun berdagang? Satu buah kapal yang besar seharunya cukup, bukan?"
"Kamu benar juga Maha Patih. Kalau begitu ayo kita kumpulkan para pimpinan pasukan."
"Ayo."
__ADS_1