DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 239


__ADS_3

"Aku sebenarnya sudah terlalu tua untuk hal semacam ini Nanda Prabu. Masih banyak hal yang harus aku urus. Bukan hanya musuh-musuhku saja. Tapi, Yang Maha Kuasa-lah yang memegang kendali atas semuanya. Kita hanyalah seorang hamba. Tidak ada daya dan upaya selain dari Yang Maha Kuasa."


"Benar Romo. Aku sendiripun sebenarnya tidak pernah sekalipun menginginkan peperangan ini. Tetapi, musuh-musuhku selalu menuntut peperangan ini terjadi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain menghadapi mereka. Aku sangat berharap kalau semuanya akan segera selesai, Romo."


"Ya. Aku pun mengharapkan ada yang sama, Nanda Prabu. Semoga Yang Maha Kuasa selalu melindungi kita semua."


Prabu Jabang Wiyagra dan Sang Maha Guru merasa khawatir dengan apa yang terjadi kepada Mbah Kangkas dan juga yang lainnya, sampai sekarang ini belum bisa ditemukan keberadaannya. Dua buah pedang milik Puger Satriya dan Arya Panunggul menjadi sebuah bukti atas apa yang telah terjadi di Padepokan Mbah Kangkas. Prabu Jabang Wiyagra belum menemukan titik terang dari semua permasalahan ini.


Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa berharap kalau keadaan akan membaik seperti semula. Tidak ada lagi peperangan di Tanah Jawa yang menimbulkan banyak sekali korban jiwa. Sekarang ini, Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa melakukan perketatan penjagaan di wilayah kekuasaannya. Setiap pasukan yang ada difokuskan kepada benteng-benteng yang sudah mereka bangun.


Banyak benteng-benteng pertahanan yang dibangun oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk melindungi wilayah kekuasaannya. Para pasukan yang ada di Padepokan Ageng Reksa Pati juga dikerahkan untuk menjaga setiap wilayah yang ada. Apalagi sekarang musuh mereka jauh lebih kuat dan lebih ganas. Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya harus sangat berhati-hati.


*


*

__ADS_1


*


Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candrawama juga diundang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela oleh Prabu Jabang Wiyagra, untuk membahas strategi mereka dalam menaklukkan musuh yang berada di wilayah Kerajaan Bala Bathara. Belum lagi dengan Prabu Gala Ganda yang masih hidup. Serta Maha Patih Rangkat Sena yang juga bisa menjadi masalah bagi semua orang.


Walaupun Maha Patih Rangkat Sena sudah pergi meninggalkan Prabu Gala Ganda bersama para pasukannya, tetapi tidak berarti kalau Maha Patih Rangkat Sena juga sependapat dengan Prabu Jabang Wiyagra. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang telah dilakukan oleh Maha Patih Rangkat Sena dan juga Prabu Gala Ganda. Karena bisa saja itu adalah salah satu strategi mereka agar aman dari sasaran Prabu Jabang Wiyagra dan bala tentaranya.


"Kita memang harus mempersiapkan segalanya dimulai dari sekarang Gusti Prabu. Di kerajaan kami berdua, persenjataan sudah berkembang dengan sangat baik. Itu bisa membantu dalam pertempuran kita nantinya." Ucap Prabu Bujang Antasura.


"Benar Gusti Prabu. Kalau perlu, kita yang menyerang mereka terlebih dahulu." Sambung Prabu Bagas Candramawa.


"Aku memang sudah memikirkan semuanya. Tetapi butuh banyak sekali orang untuk menjalankan rencana tersebut. Dan perkiraanku, akan banyak sekali para prajurit yang mati dalam pertempuran." Kata Prabu Jabang Wiyagra.


"Silahkan Zafir. Katakan pendapatmu."


"Jadi begini Maha Raja. Bagaimana kalau kita mencari terlebih dahulu keberadaan para pendekar yang hilang di Padepokan Mbah Kangkas? Bisa jadi semua ini sangat-sangat berhubungan dengan menghilangnya para pendekar itu. Hamba yakin Maha Raja, pasti ada sebuah bukti yang belum ditemukan oleh Patih Rogo Geni."

__ADS_1


"Kamu benar juga Zafir. Tapi bagaimana kalau musuh-musuh kita menyerang Kerajaan Wiyagra Malela dan kerajaan-kerajaan yang lainnya? Itu akan sangat berbahaya bukan?"


"Benar Maha Raja. Tapi untuk mencegah hal itu agar tidak terjadi, Maha Raja bisa mengerahkan para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela untuk melingkari wilayah yang sekiranya menjadi tempat tinggal musuh-musuh kita."


Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zafir. Bagaimanapun juga para pendekar itu sudah sangat berjasa bagi Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra juga tidak bisa menunggu sampai Mbah Kangkas sembuh, karena waktu adalah segalanya. Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa memperkirakan secara pasti kapan serangan dari musuhnya akan datang.


Jadi, Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya harus bergerak dengan cepat, sebelum semuanya menjadi kacau balau. Akhirnya Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Prabu Bagas Candramawa dan Prabu Bujang Antasura untuk mempersiapkan semua pasukan sekaligus persenjataan mereka. Prabu Jabang Wiyagra juga memberikan perintah kepada Maha Patih Lare Damar untuk menemui Pangeran Rawaja Pati dan Panglima Kinjiri.


Tak hanya itu saja, Prabu Jabang Wiyagra ingin semua Panglima yang ada di bawah kepemimpinannya, diberitahu mengenai masalah besar ini. Seperti Panglima Dara Gending dan juga para Panglima yang lainnya. Para Panglima itu tidak akan bergerak, kecuali mendapatkan perintah dari Prabu Jabang Wiyagra. Karena mereka juga harus menjaga wilayah mereka masing-masing dari segala pengaruh musuh.


Selama ini, kebanyakan para Panglima bergerak tanpa diketahui oleh siapapun, untuk membuat wilayah mereka tetap aman dari pengaruh musuh, yang selalu mencoba mempengaruhi keadaan. Walaupun para musuh-musuh besar Prabu Jabang Wiyagra sudah mati, tetapi bukan berarti semuanya sudah bersih begitu saja. Karena orang-orang yang mendukung musuh Prabu Jabang Wiyagra tetap masih ada yang selamat.


Mereka yang selamat dari serangan bala tentara Kerajaan Wiyagra Malela kebanyakan adalah para pejabat istana yang berusaha untuk mengembalikan kejayaan mereka. Karena setelah beberapa kerajaan hancur, para mantan pejabat istana itu membentuk satu kelompok untuk kembali membentangkan sayap mereka. Walaupun mereka tidak bisa bertarung, tapi mereka adalah orang-orang pintar dan terpelajar.


Prabu Jabang Wiyagra juga mengirim Patih Kepila untuk datang ke istana Kerajaan Putra Malela, menemui Prabu Putra Candrasa. Prabu Putra Candrasa selama ini hanya bisa diam, karena Prabu Jabang Wiyagra selalu melarangnya untuk ikut campur dengan masalah yang terjadi saat ini. Prabu Jabang Wiyagra ingin Kerajaan Putra Malela berkembang dengan pesat terlebih dahulu agar mereka memiliki kekuatan yang baik.

__ADS_1


Jumlah pasukan Kerajaan Putra Malela belum terlalu banyak. Kalau mereka terus-menerus dilibatkan dalam peperangan ataupun pertempuran, maka jumlah pasukan mereka sedikit demi sedikit akan habis. Prabu Putra Candrasa belum mendapatkan dukungan penuh dari rakyatnya di Kerajaan Putra Malela. Karena para mantan pasukan Prabu Baruncing masih berkeliaran di wilayah kekuasaan Prabu Putra Candrasa.


Namun untuk saat ini, setiap orang benar-benar dibutuhkan untuk mempertahankan kejayaan Kerajaan Wiyagra Malela, dan juga semua orang yang berada di bawahnya. Prabu Jabang Wiyagra masih memiliki agenda panjang untuk beberapa puluh tahun kedepan, yang belum terlaksana. Agar semua agenda itu terlaksana, maka semua orang harus berusaha mempertahankan setiap wilayah yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra.


__ADS_2