DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 193


__ADS_3

"Hamba datang melapor Gusti Patih." Kata salah seorang pengawal kepada Maha Patih Baruncing.


"Ada apa pengawal?"


"Pasukan yang diberangkatkan ke wilayah perairan, sebagian besar sudah kembali ke istana, Gusti Patih."


"Apa maksudmu sebagian besar?" Tanya Maha Patih Baruncing terkejut.


Perasaannya telah berkecamuk. Kekhawatirannya soal keadaan pasukan yang diberangkatkan ke wilayah perairan ternyata benar-benar terjadi sekarang. Sebagian besar pasukan memang sudah kembali ke istana, tapi sebagiannya lagi harus bernasib buruk, karena mereka tewas dalam penyerangan yang dilakukan oleh pasukan kapal perang Kerajaan Wiyagra Malela.


Karena berada di laut, jasad mereka tidak bisa dibawa pulang. Mereka sudah hanyut bersama dengan kapal perang yang mereka gunakan dalam pertempuran itu. Maha Patih Baruncing terdiam seribu bahasa setelah mendengar kabar kekalahan pasukannya. Hal ini baru pertama kalinya terjadi. Padahal pasukan Kerajaan Panca Warna terkenal sangat tangguh di perairan.


Tetapi kali ini nasib buruk menimpa mereka semua. Kapal-kapal perang yang dulu mereka banggakan berhasil ditenggelamkan oleh angkatan kapal perang Kerajaan Wiyagra Malela, yang kenyataannya jauh lebih kuat dan jauh lebih tangguh. Mirisnya adalah, sebagian besar Laksamana juga tewas dalam peristiwa tersebut. Dan tak ada satupun dari mereka yang kembali.


Maha Patih Baruncing lalu memerintahkan pengawal untuk memanggil para Patih yang terlibat dalam penyerangan tersebut untuk menghadap kepadanya. Para Patih itu pun kebingungan, karena mereka tidak tahu harus menyampaikan apa kepada Maha Patih Baruncing. Mereka masih berduka atas kematian teman-teman mereka di pertempuran.


"Tidak perlu takut. Aku tidak akan menghukum kalian. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di sana." Ucap Maha Patih Baruncing.


"Baik Gusti Patih. Jadi..."


Salah seorang Patih kemudian mulai menceritakan semua yang terjadi di pertempuran kapal tersebut. Awalnya keadaan baik-baik saja dan mereka tidak menemukan hambatan apapun saat dalam perjalanan. Bahkan seratus kapal perang berukuran besar itu berjalan dengan sangat tenang dan sangat berhati-hati.


Semua Laksamana, para Patih, pimpinan pasukan, dan para prajurit, semuanya tengah bersiap pada posisi mereka masing-masing. Karena sebagian besar dari mereka juga mengendalikan senjata yang ada di dalam kapal. Senjata-senjata di kapal perang tersebut sangat beragam. Namun sebagian besar adalah busur panah raksasa yang bisa mengeluarkan anak panah berapi.


Ada juga senjata pelontar batu yang mirip seperti senjata meriam yang digunakan oleh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Semua senjata-senjata itu dikendalikan oleh lebih dari dua orang, untuk satu buah senjatanya. Bisa dibayangkan, kalau jumlah orang yang ada di sana bisa mencapai lima ribu orang. dan mereka semua adalah para prajurit yang terlatih. Bukan prajurit biasa yang hanya bisa memegang senjata saja.


Mereka semua adalah para prajurit yang sudah sangat berpengalaman di wilayah perairan. Mereka bisa memperkirakan cuaca, memperbaiki kapal dan juga persenjataan kapal yang rusak dalam waktu yang cepat, dan juga masih banyak lagi keahlian yang mereka semua miliki. Termasuk salah satunya dalam melakukan penyergapan kepada kapal lawan, tanpa bisa terendus jejaknya.


Namun di hari itu semuanya terasa sangat berbeda. Para pasukan kapal perang itu dibuat kelimpungan, karena secara tiba-tiba mereka semua tersesat di wilayah perairan yang sebenarnya sudah mereka pelajari dengan sangat teliti. Mereka sama sekali tidak tahu kalau akan ada penyerangan besar-besaran dari pasukan Angkatan Laut Kerajaan Wiyagra Malela dan juga Kerajaan Batih Reksa.

__ADS_1


Salah seorang Laksamana sempat mencurigai adanya sebuah pergerakan di balik kabut, yang kalah itu memang cukup tebal di wilayah perairan Kerajaan Batih Reksa.


"Gusti Patih, pasukan kapal barisan depan mengatakan kalau di depan kabutnya sangat tebal. Apa tidak sebaiknya kita berhenti terlebih dahulu?" Ucap seorang Laksamana.


"Lanjutkan saja. Kabut ini bisa menjadi senjata untuk kita semua. Kalau kita berhenti, bisa-bisa kita yang dimangsa oleh pasukan kapal perang dari Kerajaan Batih Reksa."


"Mohon maaf Gusti Patih. Tetapi hamba bersama yang lainnya merasakan ada firasat yang buruk. Kabut ini muncul secara tiba-tiba dan tidak biasa. Kalau kita memaksakan diri, hamba khawatir....."


"Cukup!" Bentak Sang Patih.


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan!"


Sangat Laksamana jelas tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan mendapatkan masalah besar kalau sampai membantah perintah dari Sang Patih. Akhirnya pasukan barisan depan pun kembali diperintahkan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tapi di sinilah semua hal-hal buruk dimulai. Kebodohan Sang Patih membuat semua orang berada dalam masalah besar.


Karena ternyata, pasukan kapal perang Kerajaan Batih Reksa sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Dan penyergapan tersebut dipimpin langsung oleh Maha Patih Kumbandha. Maha Patih Kumbandha diberikan wewenang untuk memimpin semua Laksamana yang ada. Termasuk memimpin kapal perang bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra.


Dan jumlah kapal perang yang dipimpin oleh Maha Patih Kumbandha jauh lebih banyak daripada kapal perang yang dimiliki oleh Angkatan Laut Kerajaan Panca Warna. Walaupun ukuran kapal perang yang dimiliki Kerajaan Batih Reksa dan Kerajaan Wiyagra Malela jauh lebih kecil, tetapi kemampuan Angkatan Laut mereka jauh lebih hebat.


"Siapkan meriamnya!" Perintah Maha Patih Kumbandha.


"Siap!"


Semua pasukan meriam pun bersiap pada kapal mereka masing-masing.


"Bidik!"


Semua pasukan angkatan laut sudah memegang erat-erat batang besi panas, yang digunakan untuk menyalakan meriam-meriam tersebut. Dan saat para pasukan Angkatan Laut Kerajaan Panca Warna muncul melewati kabut tebal itu,


"Tembak!"

__ADS_1


Blaarrrr!!!


Blaarrrr!!!


Blaarrrr!!!


Blaarrrr!!!


Suara peluru meriam yang melesat cepat menuju kapal perang Kerajaan Panca Warna begitu bergemuruh. Bahkan peluru-peluru besar yang berasal dari senjata meriam tersebut mampu menghilangkan seluruh kabut yang menutupi mereka semua yang ada di sana. dan langsung membuat musuh panik seketika karena mereka sudah tidak bisa lagi lari dari tempat itu.


Dan ternyata mereka juga dihadang dari segala sisi. Seratus kapal Angkatan Laut terbaik dari Kerajaan Panca Warna satu persatu hanyut ke dalam laut beserta para pimpinannya. Strategi yang digunakan oleh Maha Patih Kumbandha benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan perhitungan. Karena sebenarnya pasukan Angkatan Laut Kerajaan Batih Reksa juga sama-sama tertutup oleh kabut.


Mereka sama-sama tidak bisa melihat keberadaan Pasukan Angkatan Laut dari Kerajaan Panca Warna. Kamu dengan perhitungan yang matang dan juga strategi yang baik, serta kecerdasan dan ketajaman mata batin yang dimiliki oleh Maha Patih Kumbandha, mereka bisa memperhitungkan kapan musuh akan datang di wilayah perairan mereka.


Penyerangan tersebut sangat-sangatlah menguntungkan bagi pihak Pasukan Angkatan Laut Kerajaan Batih Reksa. Karena serangan meriam mereka tidak ada satu pun yang meleset. Bahkan dengan sangat mudah mampu menghancurkan kapal-kapal perang milik pasukan Angkatan Laut Kerajaan Panca Warna, beserta orang-orang penting di dalamnya.


Para Patih dan juga Laksamana yang tersisa berusaha keras untuk bisa keluar dari penyergapan tersebut. Bahkan Sang Patih yang memimpin penyerangan itu sampai memerintahkan salah seorang Laksamana untuk menabrak kapal-kapal lain agar bisa selamat.


"Sungguh perencanaan yang gila. Jangan biarkan satupun dari mereka yang lolos." Perintah Maha Patih Kumbandha kepada pasukannya.


"Siap Gusti Patih!"


Sedangkan keributan antar sesama pasukan Kerajaan Panca Warna mulai terjadi. Mereka saling menyalahkan satu sama lain karena penyergapan ini. Bahkan beberapa dari mereka sampai bertarung untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.


"Kau sebagai pemimpin memang benar-benar bodoh! Kau seharusnya mati di sini!" Ucap seorang Laksamana yang menyalahkan Sang Patih.


"Apa kamu bilang?! Kamu yang bodoh! Bagaimana bisa kita bisa mati kutu seperti ini?!"


Keributan itu membuat mereka terpecah menjadi dua kubu. Kubu Sang Patih dan juga Kubu para Laksamana. Sehingga mereka saling serang satu sama lain. Sebenarnya kalau mereka mau menahan ego, untuk sejenak saja, pasti mereka bisa sama-sama selamat dari penyergapan tersebut. Dan tidak banyak korban berjatuhan.

__ADS_1


Namun bagi Maha Patih Kumbandha, itu sebuah kesempatan yang sangat-sangat bagus. Karena dengan begitu pasukan kapal perangnya bisa dengan mudah menggempur mereka semua. Walaupun pada akhirnya, ada saja beberapa dari mereka yang selamat. Dan berhasil kembali ke istana Kerajaan Panca Warna, dengan keadaan yang sudah sangat kacau.


__ADS_2