
Panglima Dara Gending membawa dua puluh orang pasukan terbaiknya untuk berangkat ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Dan mereka semua menyamar menjadi seorang perempuan penghibur, yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya. Saat melewati perbatasan Kerajaan Panca Warna, Panglima Dara Gending peserta dua puluh orang pasukannya menjelaskan semuanya secara detail kepada pasukan yang menjaga perbatasan.
Jelas saja para pasukan penjaga perbatasan yang yang ada di sana merasa sangat senang, karena mereka juga sedang membutuhkan beberapa orang perempuan untuk menghibur ke pesanan mereka selama berjaga di sana. Namun di sinilah masalahnya, Panglima Dara Gending dan pasukannya sudah tidak mungkin mau memberikan tubuh mereka kepada para baji-ngan ini. Panglima Dara Gending dan pasukannya bukan anak perempuan murahan yang tergoda dengan kekayaan.
Para penjaga perbatasan di tempat ini ternyata memiliki gaji yang sangat besar dari pemerintah mereka. Yang artinya, Kerajaan Panca Warna sudah berkembang sangat pesat secara diam-diam. Tetapi Panglima Dara Gending dan pasukannya tidak mau mengulik lebih dalam siapa yang telah memimpin Kerajaan Panca Warna selama ini. Karena itu bisa menimbulkan kecurigaan kepada para pasukan yang menjaga perbatasan itu. Apalagi Panglima Dara Gending dan pasukannya adalah orang-orang asing di tempat ini.
"Jadi bagaimana? Apakah kalian mau menemani kami di tempat ini?" Tanya salah seorang penjaga.
"Tentu saja bisa. Tapi tentunya kita membutuhkan tempat yang jauh lebih baik daripada tempat ini bukan?" Kata Panglima Dara Gending.
"Kalian tidak perlu khawatir. Kami sudah memiliki tempat kami sendiri. Kami bisa menjamin kalau kalian akan betah untuk waktu yang lama."
"Baiklah."
Panglima Dara Gending dan dua puluh orang pasukannya itu langsung dibawa ke sebuah tempat. Tempat itu nampak seperti sebuah rumah yang ukurannya sangat-sangat besar. Dan ternyata, tempat itu memang khusus digunakan oleh para pejabat istana yang ada di sana untuk melakukan perbuatan maksiat mereka. Suatu hal biasa yang terjadi di seluruh wilayah yang ada di Kerajaan Panca Warna. Karena itu sudah menjadi budaya bagi mereka semua yang ada di sana.
Karena Panglima Dara Gending ada orang yang paling cantik di antara yang lainnya, dia pun diberi sebuah tempat spesial, dan langsung dipertemukan dengan seorang pejabat kaya raya yang memegang wilayah perbatasan tersebut. Panglima Dara Gending menyapa si laki-laki tua itu dengan santun. Panglima Dara Gending mencoba untuk tersenyum dan bersikap ramah kepada semua orang yang ada di sana. Walaupun pada dasarnya dia merasa sangat jijik kepada mereka semua.
"Wah.. Kalian semua benar-benar prajurit yang sangat pintar. Jarang sekali Aku melihat perempuan secantik ini. Siapa namamu manis?" Tanya si pejabat itu.
"Namaku Dara Gending. Dan aku berasal dari Kerajaan Wiyagra Malela. Aku datang ke tempat ini untuk menghabisi kalian semua."
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun terkejut mendengar jawaban dari Panglima Dara Gending. Termasuk pasukannya sendiri pun merasa heran, karena Panglima Dara Gending begitu jujur untuk menjawab pertanyaan si pejabat itu. Padahal mereka diperintahkan untuk melakukan penyamaran. Bahkan seharusnya mereka melakukan penyusupan secara diam-diam. Tapi inilah Panglima Dara Gending, dia jujur kepada semua orang yang ada di sana, karena dia memang ingin menghabisi mereka semua.
Dan benar saja, salah seorang prajurit ingin menyerangnya dari belakang, Panglima Dara Gending langsung menghantam kepalanya hingga hancur berantakan. Baik perempuan maupun laki-laki, semuanya lari kocar-kacir ketakutan melihat hal tersebut. Dan berusaha kabur dari tempat itu. Tetapi Panglima Dara Gending dengan cepat langsung menutup seluruh pintu maupun jendela yang ada di rumah mewah itu, dengan ilmu kanuragan yang ia miliki. Sehingga tidak ada satupun orang yang bisa keluar dari sana.
Panglima Dara Gending memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghabisi setiap prajurit yang berusaha melakukan perlawanan. Panglima Dara Gending ingin semuanya mati di tempat ini secara bersama-sama, malam ini juga. Karena Panglima Dara Gending sudah sangat geram dengan perilaku mereka yang bobrok, dan lebih rendah daripada hewan. Panglima Dara Gending bahkan dengan teganya membunuh seorang perempuan yang masih di bawah umur. Yang katanya adalah seorang menjadi primadona di tempat itu.
Leher si perempuan dipatahkan dengan satu tangannya. Seketika perempuan itu pun langsung tewas dengan mata yang melotot, dan lidah yang menjulur keluar. Semua orang yang ada di sana pun berteriak kepanikan melihat kejadian itu, dan berusaha untuk mendobrak pintu keluar.
"Heeyyy...!"
"Duduk kalian semua."
"Aku tidak akan membunuh kalian, jika kalian mau melakukan sesuatu untukku."
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami? Kenapa kalian juga membunuh para prajurit yang tidak bersalah ini?" Kata si pejabat.
Panglima Dara Gending lalu mendekatkan wajahnya ke wajah si pejabat itu, sembari berkata...
"Tidak bersalah? Apa yang kamu katakan barusan? Kalian semua di sini adalah tikus! Tahu?!"
"....Dan kalian semua memang pantas untuk dihabisi." Ancam Panglima Dara Gending sembari menempelkan sebuah pedang keleher si pejabat itu.
__ADS_1
"Ampun! Ampun! Jangan bunuh aku! Aku akan berikan apapun yang kalian butuhkan!" Kata si pejabat.
"Oh ya?"
"Ya! Ya! Aku janji! Aku janji!"
Si pejabat itu kepanikan setelah dia menyadari kalau Panglima Dara Gending kita main-main dengan ucapannya. Bahkan untuk meyakinkan kembali semua orang, Panglima Dara Gending juga membunuh beberapa laki-laki dan perempuan yang ada di sana. Untuk membuktikan, kalau bahwa dia memang benar-benar bisa membunuh semua orang yang ada di sana. Panglima Dara Gending lalu menghantam wajah si pejabat itu dengan sangat keras. Hingga membuat hidung si pejabat itu langsung berdarah.
"Sekarang beritahu aku, di mana saja tempat-tempat penting yang ada di peta ini. Lahan pertanian, gudang persediaan makanan, gudang persenjataan, dan juga markas-markas para prajurit istana yang berjaga." Ucap Panglima Dara Gending sembari menunjukkan sebuah peta wilayah Kerajaan Panca Warna yang ia bawa.
Si pejabat itu dengan cepat langsung menunjukkan semua tempat-tempat penting yang ada di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Panca Warna. Panglima Dara Gending lalu menyuruh seorang anak buah si pejabat itu untuk menandai semua lokasi yang ada di peta dengan sebuah tinta.
"Cepat!" Bentak Panglima Dara Gending kepada anak buah si pejabat yang sebenarnya enggan menuruti perintah dari Panglima Dara Gending.
"Baik! Baik Panglima Dara Gending!"
Anak buah si pejabat itu menandai setiap lokasi yang ada di peta dengan tangan yang gemetar. Apalagi setelah Panglima Dara Gending menempelkan sebuah pisau di pipinya, orang itu semakin ketakutan karena ia belum mau mati di tempat ini. Walaupun semua orang yang ada di sini sangat setia kepada pemerintahan Ratu Mekar Senggani, tapi tetap saja mereka merasa ketakutan saat mendapatkan ancaman.
Dalam situasi yang menegangkan seperti ini, tidak ada satupun orang yang berani melakukan perlawanan. Apalagi yang mereka hadapi adalah Panglima Dara Gending. Seorang Panglima perempuan yang sangat ditakuti oleh semua orang. Meskipun Panglima Dara Gending sudah lama tidak muncul ke publik, tetapi bukan berarti kewibawaannya sudah hilang. Justru kemunculannya hari ini membuat semua orang menjadi tegang dan ketakutan.
Semua orang yang ada di Kerajaan Panca Warna tahu betul bagaimana Panglima Dara Gending. Terutama dengan kisah masa lalunya saat masih berjuang bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra. Setiap orang yang mendengar ceritanya pasti akan bergidik ngeri, dikarenakan Panglima Dara Gending adalah seorang Panglima perempuan yang sangat kejam, dan tidak pernah berbelas kasihan kepada siapapun yang menjadi musuh Kerajaan Wiyagra Malela.
__ADS_1