DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 154


__ADS_3

Rencana yang dibuat oleh Pangeran Rawaja Pati mulai dijalankan. Patih Kinjiri harus menyerang keraton yang pertama. Patih Daraka menyerang keraton yang kedua. Dan Patih Kayat, akan menyerang keraton yang ketiga. Patih Kinjiri-lah yang akan menyerang keraton pertama terlebih dahulu, karena itu adalah pintu gerbang utama menuju istana Kerajaan Wesi Kuning.


Setelah gerbang utama terbuka barulah Patih Daraka dan Patih Kayat yang memimpin pasukan untuk menyerang Keraton kedua dan keraton yang ketiga. Sedangkan untuk keraton-raton yang seterusnya, akan dibiarkan selama beberapa hari terlebih dahulu. Karena tujuan dari penyerangan itu hanyalah untuk melemahkan kekuatan musuh, sekaligus untuk menunjukkan taring mereka di tempat ini.


Dengan adanya serangan sedikit demi sedikit, maka mereka akan mengetahui secara pasti, berapa jumlah pasukan musuh yang ada di sana. Karena dari perkembangan yang mereka lihat, pihak musuh terus-menerus menambahkan jumlah pasukan mereka di setiap keraton yang ada. Dan pertambahan pasukannya, berjalan cukup cepat. Sehingga Pangeran Rawaja Pati juga harus mengambil langkah cepat.


Pangeran Rawaja Pati ingin memastikan, sekaligus mencegah, agar pihak musuh tidak menyerang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Pangeran Rawaja Pati ingin membuat mereka sibuk dengan urusan yang ada di dalam kandang mereka sendiri. Pangeran Rawaja Pati juga sudah memberitahu Lare Damar mengenai penyerangan yang akan mereka lakukan.


Jadi Lare Damar bisa persiap kalau sampai ada musuh yang melakukan serangan balasan. Karena musuh akan dibuat berpikir, kalau yang melakukan serangan tersebut adalah Lare Damar dan pasukannya. Dan kalau sampai musuh melakukan serangan balasan, maka rencana Pangeran Rawaja Pati benar-benar berhasil dilakukan.


Dibantu oleh pasukan siluman dari Pangeran Rawaja Pati, Patih Kinjiri, Patih Daraka, dan Patih Kayat, berangkat bersama pasukan yang sudah mereka kumpulkan. Seperti biasanya, mereka juga mengenakan pakaian serba hitam, dan menutupi rapat-rapat wajah mereka dengan sebuah topeng. Agar musuh tidak mengenali wajah-wajah mereka.


Karena menjadi kelompok pertama yang melakukan penyerangan, Patih Kinjiri dan pasukan yang di bawanya, secara perlahan mencoba untuk mendekat ke arah gerbang keraton pertama. Namun seperti yang sudah dijelaskan oleh Maha Patih Galangan dan juga Pangeran Rawaja Pati, bahwa setiap keraton memiliki lima ribu pasukan.


Keraton pertama sudah sangat membuat Patih Kinjiri kesulitan, karena dengan jumlah pasukan yang terbatas, Patih Kinjiri tidak bisa melakukan penyerangan begitu saja. Patih Kinjiri harus menggunakan strategi yang lebih jitu, agar bisa masuk ke keraton pertama yang dijaga ketat oleh lima ribu pasukan siap tempur itu.


Pasukan yang dibawa oleh Patih Kinjiri jumlahnya hanya seratus orang. Maha Patih Galangan tidak bisa mendapatkan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak lagi, dikarenakan banyak sekali pasukannya masih berpihak kepada Prabu Bawesi. Sehingga tidak semua anggota pasukannya bisa dipercaya begitu saja.


Semua orang yang ikut dengan Patih Kinjiri saling tatap satu sama lain. Mereka saling bertanya-tanya karena Patih Kinjiri tidak kunjung memberikan perintah kepada mereka. Sedangkan pasukan Patih Daraka dan pasukan Patih Kayat di barisan belakang, sudah menunggu sedari tadi. Tapi kalau Patih Kinjiri tidak bergerak, maka yang lain pun tidak akan pernah bergerak.


"Gusti Patih? Kapan kita akan memulai serangannya? Pasukan di barisan belakang sudah menunggu kita." Ujar salah seorang anggota pasukan yang berbisik kepada Patih Kinjiri.

__ADS_1


"Jangan bodoh! Jangan tergesa-gesa. Kita semua harus mengawasi dulu pergerakan musuh kita. Kita cari kepalanya, kita juga akan dapatkan ekornya." Jawab Patih Kinjiri.


Semua pasukan yang ikut bersama Patih Kinjiri lalu ikut melihat-lihat ke arah benteng. Mereka coba mencari orang-orang yang terlihat penting, seperti pimpinan pasukan ataupun para Patih.


"Gusti Patih!"


"Ada apa?"


"Lihat di sana." Ucap salah seorang anggota pasukan sembari menunjuk ke salah satu menara jaga, yang ada di benteng tersebut.


Patih Kinjiri melihat adanya pergerakan dari orang-orang penting yang ada di keraton tersebut. Nampaknya itu adalah seorang Patih dengan beberapa pengawalnya. Sepertinya dia akan melakukan perjalanan ke suatu tempat. Terlihat dia membawa banyak sekali logistik, yang dibawa menggunakan kuda.


Patih Kinjiri memerintahkan semua pasukannya untuk tetap berada di sini. Sedangkan dia akan menyergap orang itu. Agar dia bisa memiliki cara untuk masuk secara halus, ke dalam keraton. Semua pasukan pun bersiap siaga dengan panah di tangan mereka. Mereka semua membidik ke arah Patih dan para pengawalnya itu.


Karena terkejut dan panik, Sang Patih mencoba untuk melarikan diri menggunakan kudanya menuju ke dalam keraton. Tapi dengan cepat, Patih Kinjiri langsung menendang kudanya hingga jatuh tersungkur ke tanah. Saat sang Patih mencoba berteriak meminta pertolongan, Patih Kinjiri langsung meniupkan sebuah besi beracun kepada sang Patih, yang membuatnya kesulitan bicara.


Patih Kinjiri langsung membawa tubuh sang Patih ke tempat yang aman. Di sana semua pasukan Patih Kinjiri sudah sangat ketar-ketir, dikarenakan melakukan tindakan tersebut, tidak jauh dari pintu gerbang utama. Untungnya semua pasukan yang berjaga di sana sedang lengah. Mereka tidak memperhatikan dengan baik apa yang terjadi kepada sang Patih dan para pengawalnya.


Kalau sampai ada satu orang saja yang melihat keberadaan Patih Kinjiri, bisa dipastikan Patih Kinjiri akan mendapat serangan secara besar-besaran dari dalam keraton. Patih Kinjiri langsung membawa sang Patih kepada pasukannya, untuk diinterogasi. Dan dipaksa agar mau membantu mereka masuk ke dalam keraton dengan cara yang aman dan tidak mencurigakan.


"Hey! Dengar! Jika besi kecil ini aku tusukkan ke dalam tubuhmu, maka kamu akan langsung mati. Kamu paham?" Ancam Patih Kinjiri.

__ADS_1


Sang Patih hanya mengagukan kepalanya, tanda kalau dia mengerti, karena dia belum bisa bicara akibat besi kecil yang menancap di lehernya. Setelah besi kecil itu dicabut, barulah sang Patih bisa berbicara.


"Siapa kalian sebenarnya? Aku tidak memiliki masalah dengan kalian." Ucap sang Patih.


"Dengar Patih! Jangan pernah macam-macam dengan kami! Yang perlu kamu lakukan adalah membawa kami masuk ke dalam keraton. Dan jika kamu menolak, maka kamu akan berakhir di tempat ini. Bagaimana?"


"Apa kalian pasukan Lare Damar?"


Buuuggghhh!


Patih Kinjiri langsung memukul perut sang Patih karena tidak menjawab pertanyaannya dengan baik.


"Aahhh! Ampun! Ampun..."


"Sekarang aku tanya sekali lagi, kau mau membantu kami? Atau tidak?"


"Baik.. Baiklah... Aku akan membantu kalian agar bisa masuk ke dalam keraton. Jangan lewat pintu gerbang. Di sana akan ada banyak sekali penjaga. Kalian akan langsung disergap jika lewat pintu gerbang. Karena tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan keluar masuk tanpa perintah dari Prabu Bawesi." Ucap sang Patih.


Patih Kinjiri sedikit terkejut setelah mengetahui kalau kecurigaan Prabu Jabang Wiyagra ternyata tidak meleset. Prabu Bawesi sudah sembuh dari sakitnya dan sekarang dialah yang memimpin istana Kerajaan Wesi Kuning secara langsung. Dan hal itu tidak diketahui oleh siapapun, kecuali pasukannya sendiri yang berada di dalam istana tersebut.


Terpaksa Patih Kinjiri tidak jadi melakukan penyerangan. Patih Kinjiri memberitahukan hal itu kepada Patih Daraka dan Patih Kayat. Kedua Patih itu pun setuju untuk tidak melanjutkan penyerangan. Namun, Patih Kinjiri akan mencoba masuk ke dalam keraton, sesuai dengan arahan dari sang Patih yang ia tangkap.

__ADS_1


Di sisi kiri dinding benteng pertahanan, ada sebuah rahasia yang menuju ke sebuah lorong. Dan lorong-lorong itulah yang menghubungkan antara satu keraton dengan keraton yang lainnya. Sang Patih yang ditangkap pun dibawa oleh Patih Daraka dan Patih Kayat. Sedangkan Patih Kinjiri akan masuk sendirian ke dalam Keraton untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


__ADS_2