
Kerajaan-kerajaan kecil yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Gelap Ngampar, sekarang tidak lagi memiliki seorang raja. Akhirnya, Prabu Jabang Wiyagra mengambil alih kekuasaan pusat, yaitu istana besar Kerajaan Gelap Ngampar itu sendiri.
Sehingga apapun yang berada di bawahnya, sekarang dibawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra sepenuhnya. Sedangkan kerajaan-kerajaan kecil yang tidak lagi memiliki raja, kerajaan-kerajaan tersebut akan dirubah menjadi sebuah Keraton.
Sedangkan para pengurus dan para pimpinannya, akan diambil dari para pejabat yang berhasil lulus dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Karena mereka jauh lebih jujur daripada orang-orang asli yang ada di sana. Agar semuanya jauh lebih teratur dan lebih terkondisi.
Jelas hal itu sangat tidak disetujui oleh sebagian orang yang masih berpihak kepada raja-raja mereka yang telah mati, atau bisa dikatakan sebagai pejabat istana yang korup. Mereka memang sangat sulit terdeteksi, karena para pejabat korup tersebut, sudah menimbun harta mereka di satu tempat yang tidak diketahui.
Tapi seperti biasanya, pada waktunya nanti mereka semua akan ketahuan. Karena Prabu Jabang Wiyagra sendiri sudah menempatkan mata-matanya di segala tempat. Para mata-mata yang dikirim oleh Prabu Jabang Wiyagra masuk ke dalam segala hal.
Ada yang menjadi prajurit. Ada yang menjadi pendekar. Ada yang menjadi pedagang. Ada yang menjadi pengemis. Ada juga yang menjadi warga desa biasa. Dan tugas mereka adalah untuk mengetahui siapa saja pejabat istana yang korup. Sekaligus untuk mengetahui Di mana para pejabat korup tersebut menyimpan semua harta mereka.
Prabu Jabang Wiyagra benar-benar melakukan penaklukan secara besar-besaran. Prabu Jabang Wiyagra tidak pandang bulu, untuk menyingkirkan mereka yang berusaha menghalang-halangi langkahnya, dalam menciptakan kedamaian. Karena masih ada saja orang-orang yang iri dan dengki kepadanya.
"Maha Patih, aku benar-benar sangat menyayangkan karena masih ada saja pejabat yang licik di Tanah Jawa yang indah dan kaya ini. Padahal kalau diperhitungkan, dan dibagi dengan adil, pasti tidak akan ada lagi orang yang kelaparan dan kesusahan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Benar Gusti Prabu. Tetapi itulah manusia, tidak semua orang memiliki pemikiran seperti Gusti Prabu Prabu Jabang Wiyagra. Banyak orang-orang di luar sana yang sangat rakus terhadap apa yang mereka inginkan."
__ADS_1
"Iya Maha Patih. Padahal sudah berkali-kali aku memberikan peringatan kepada mereka semua, untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena aku sama sekali tidak menyukai pertikaian semacam ini."
".....Tapi mereka selalu saja menantangku untuk melakukannya. Niat baikku mereka balas dengan kejahatan. Layaknya melempar kotoran diwajahku." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Semua orang yang mendukung Gusti Prabu, sudah memahami Betul apa yang Gusti Prabu lakukan. Banyak orang yang sekarang hidupnya menjadi tentram dan aman, karena Gusti Prabu selalu tegas dalam hal apapun. Dan tidak pernah takut membuat keputusan."
".....Hamba masih ingat betul bagaimana dulunya nasib tempat ini. Kebanyakan dari mereka yang menjadi rakyat Kerajaan Wiyagra Malela adalah para bandit. Termasuk hamba sendiri, Gusti Prabu."
".....Tetapi sekarang, tempat ini berubah menjadi surga bagi semua orang. Begitu juga para mantan bandit yang sekarang sudah memiliki pekerjaan mereka masing-masing. Dan bisa menghidupi keluarga mereka dengan sangat baik." Kata Maha Patih Putra Candrasa.
"Terima kasih Maha Patih. Selama ini kamu selalu mendukungku dalam hal apapun. Makan di saat orang-orang membenciku, hanya kamulah yang bertahan untuk tetap berada di sampingku."
Prabu Jabang Wiyagra begitu bangga kepada Maha Patih Putra Candrasa yang sangat-sangat setia kepadanya. Selepas perbincangan di taman istana, Prabu Jabang Wiyagra mengajak Maha Patih Putra Candrasa untuk masuk ke dalam bersama dengannya.
Prabu Jabang Wiyagra ingin menunjukkan sesuatu yang sangat berharga kepada Maha Patih Putra Candrasa. Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa memasuki ke sebuah ruangan yang sangat-sangat rahasia. Di dada seorangpun yang tahu tentang ruangan tersebut, kecuali Prabu Jabang Wiyagra sendiri.
Maha Patih Putra Candrasa dibuat menganga setelah melihat isi ruangan tersebut. Yang di mana itu adalah tempat penyimpanan benda-benda pusaka milik Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Dan jumlahnya sangat sangatlah banyak. Bahkan Maha Patih Putra Candrasa tidak mampu menghitungnya.
__ADS_1
Banyak sekali Bunda pusaka dari tingkat yang paling rendah, sampai ke tingkat yang paling tinggi. Dari benda pusaka yang paling kecil, dan bahkan sangat kecil, hingga ke benda pusaka yang sangat besar. Semua benda pusaka tersebut berasal dari berbagai jenis.
Ada tombak, panah, keris, cincin, gelang, kalung, pedang, ikat pinggang, dan juga baju. Dan semua senjata pusaka itu adalah milik Prabu Jabang Wiyagra. Sampai saat ini, belum ada yang mampu memiliki salah satu benda pusaka yang ada di ruangan itu.
Prabu Jabang Wiyagra kemudian mengambil salah satu pedang. Dia menunjukkannya kepada Maha Patih Putra Candrasa. Pedang itu berkilat-kilat. Dan terlihat begitu tajam. Ujung bilah pedang tersebut bercabang, dan memiliki bentuk yang melengkung, serta pada sarung pedangnya pun terdapat tulisan dalam huruf Arabian.
Prabu Jabang Wiyagra kembali menaruh pedangnya, lalu mengambil sebuah belati, yang ukurannya dari pergelangan tangan sampai siku. Prabu Jabang Wiyagra memberikannya kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Ingat Maha Patih, saat kau memegang belati ini, maka kamu akan memasuki sebuah alam yang berbeda. Jika kamu mampu keluar dari tempat itu tanpa tersesat, maka kamu pantas mendapatkan belati ini. Karena aku ingin mewariskan belati ini kepada siapa saja yang mampu melewati alam tersebut." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Maha Patih Putra Candrasa pun langsung memegang belati itu. Dan benar saja, seketika dia merasa tubuhnya terlempar sangat jauh entah kemana. Tiba-tiba Maha Patih Putra Candrasa sudah berada di sebuah jalan yang sangat lebar. Di depannya sudah ada laki-laki tua yang sedang memandanginya dengan tatapan yang sangat tajam.
Maha Patih Putra Candrasa kebingungan dan hanya memandangi laki-laki tua itu dengan penuh pertanyaan dikepalanya. Karena baru kali ini ia bertemu dengan sosok laki-laki tua yang berpakaian serba putih, dan memiliki bola mata seperti bola mata harimau. Laki-laki tua itu menunjuk ke arah belakang Maha Patih Putra Candrasa.
Maha Patih Putra Candrasa pun langsung berbalik dan menatap jalan yang masih terlihat sangat panjang di belakangnya. Jalan itu berbentuk lurus dan tidak ada satu pun belokan yang ada disana. Maha Patih Putra Candrasa mencoba mengikuti petunjuk dari laki-laki tua itu. Dia berjalan secara perlahan dan menyusuri sedikit demi sedikit sepanjang jalan tersebut.
Maha Patih Putra Candrasa menengok ke arah kanan dan ke arah kiri. Yang ia lihat hanyalah pohon-pohon berdiameter sangat lebar, yang menjulang tinggi di sepanjang pinggir jalan yang sangat luas dan panjang itu. Maha Patih Putra Candrasa tidak menemukan apa-apa selain itu.
__ADS_1
Namun, saat Maha Patih Putra Candrasa sudah berjalan cukup lama, dia mendapati langit berubah menjadi merah. Dan hawa panas pun sangat terasa di tempat tersebut. Bahkan, ada beberapa pohon yang langsung mengering karena hawa panas yang sangat luar biasa.
Tapi Maha Patih Putra Candrasa ingat dengan pesan yang disampaikan Prabu Jabang Wiyagra. Kalau Maha Patih Putra Candrasa berhasil melewati semuanya. Maka dia akan menjadi pemilik sah dari belati yang membuatnya terdampar di tempat ini.