
Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya tanpa henti berdoa kepada Yang Maha Kuasa, untuk Buta Karang. Menghadapi jiwa-jiwa yang tersesat ternyata jauh lebih sulit, dibandingkan dengan menghadapi orang yang menggunakan ilmu kesaktian. Karena yang menjadi tolak ukur dari jiwa-jiwa tersesat itu, bukan kesaktian dalam ilmu kanuragan, melainkan kesaktian antara hati dan pikiran. Kalau sampai Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya goyah, maka mereka semua sudah dinyatakan kalah. Semua yang dilakukan Prabu Jabang Wiyagra bersama pasukannya juga serba salah. Kalau beliau tidak bisa mengendalikan amarahnya, maka Buta Karang akan mengambil jiwa mereka. Sebuah serangan yang jauh lebih mengerikan dibandingkan ilmu kesaktian.
Saat sedang berdoa itulah, Intan Senggani mengambil kesempatan untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya. Dan ternyata, serangan dari Intan Senggani berhasil mengenai tiga orang anggota Pasukan Bara Jaya. Mereka langsung terkapar dan muntah darah. Buta Karang yang awalnya mengabaikan kehadiran Intan Senggani, kini dia sudah mulai memperhatikannya. Intan Senggani bahkan memutuskan untuk membantu Buta Karang dalam menghadapi Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Yang tentunya dengan sebuah syarat. Yaitu, Buta Karang harus memberikan kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela kepada Intan Senggani, kalau mereka berhasil mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra.
Melihat tidak ada lagi pilihan lain, Buta Karang menerima penawaran tersebut. Intan Senggani kalau diperintahkan oleh Buta Karang untuk menghalang-halangi pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Agar Buta Karang bisa lebih leluasa dalam menghadapi Prabu Jabang Wiyagra. Dan disinilah Buta Karang mulai kembali menggunakan ilmu kesaktiannya. Buta Karang memanggil pasukan makhluk halus, untuk membantu Intan Senggani, dalam menghadapi para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Pasukan makhluk halus yang didatangkan oleh Buta Karang di tengah-tengah pertempuran, membuat Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya cukup kewalahan. Karena mereka harus membagi-bagi kekuatan.
Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya, di bawah perintah Prabu Putra Candrasa, menghadapi Intan Senggani dan pasukan bangsa lelembut. Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya, akan menghadapi Buta Karang. Pertarungan itu berlangsung dengan sangat alot. Karena pasukan lembut milik Buta Karang membuat Prabu Jabang Wiyagra kerepotan menghadapinya. Apalagi mereka ini pasukan yang sulit untuk mati. Sehingga banyak pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang kemudian harus terluka. Ditambah lagi dengan Intan Senggani yang sudah pulih dari luka-luka pertarungannya. Dan sekarang dia telah memiliki kekuatan lebih dari cukup, untuk menghadapi para pasukan Prabu Jabang Wiyagra.
"Terimalah penderitaan yang tiada akhir ini Jabang Wiyagra. Kamu akan melihat seluruh pasukanmu mati sia-sia. Dan selamanya kamu akan dihantui oleh rasa bersalah. Kamu akan menanggung malu atas kekalahanmu." Ucap Buta Karang.
"Ya. Mungkin benar apa yang kamu ucapkan, Buta Karang. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Pasukanku sudah siap mati demi membela kebenaran. Mereka tidak akan mundur sedikitpun, hanya karena menghadapi makhluk yang menjijikan seperti dirimu." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
"Kurang ajar! Hadapi aku sekarang!" Kata Buta Karang yang langsung menyerang Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Jabang Wiyagra dan para abdinya yang lain, juga membalas serangan dari Buta Karang. Mereka saling bertarung satu sama lain, dengan perasaan yang berkecamuk. Prabu Jabang Wiyagra tetap berusaha kuat mempertahankan kesabarannya, agar tidak terpancing oleh hasutan Buta Karang. Karena dalam pertarungan itu, Buta Karang masih terus berusaha untuk membangkitkan amarah yang ada di dalam diri Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Sura Kalana, Maha Patih Kumbandha, dan juga yang lainnya berusaha untuk meredam amarah yang ada di dalam diri mereka. Meskipun pada dasarnya mereka sangat kesal menghadapi Buta Karang, yang sangat sulit untuk dikalahkan. Amarah yang biasa mereka lampiaskan, sekarang harus berusaha mereka redam dengan kesabaran.
Yang paling mengkhawatirkan adalah Maha Patih Kumbandha. Dia terlihat begitu marah saat menatap mata Buta Karang. Seakan-akan ingin melahap tubuh Buta Karang secara mentah-mentah. Namun Prabu Sura Kalana terus berusaha untuk mengingatkannya, agar tidak hanya mengandalkan ototnya saja.
"Maha Patih! Apa yang kamu lakukan?! Kendalikan dirimu!" Ucap Prabu Sura Kalana kepada Maha Patih Kumbandha.
"Jaga bicaramu Maha Patih!"
"Nanda Prabu, biarkan Maha Patih Kumbandha menenangkan dirinya terlebih dahulu. Maha Patih Kumbandha, menyingkirlah dari tempat ini. Tenang dirimu. Jangan paksakan." Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Kumbandha.
__ADS_1
"Terima kasih Gusti Prabu."
Akhirnya Maha Patih Kumbandha pun memilih untuk menyingkir dari tempat itu, dan melakukan meditasi, untuk meredam amarahnya yang tak kunjung padam. Maha Patih Kumbandha memang sulit mengendalikan amarahnya sendiri, kalau sudah berada di puncaknya. Buta Karang yang mengetahui kalau Maha Patih Kumbandha adalah orang yang mudah marah, mencoba memanfaatkan keadaan itu untuk mempengaruhi pikirannya. Maha Patih Kumbandha mendengar bisikan-bisikan aneh yang sudah pasti berasal dari Buta Karang. Buta Karang mencoba mengendalikan pikiran Maha Patih Kumbandha. Bahkan berusaha untuk membalikkan pikirannya. Supaya Maha Patih Kumbandha kesulitan dalam membedakan mana kawan dan mana lawan.
Melihat hal itu, Prabu Jabang Wiyagra lalu menyingkir dari tempat itu, dan berusaha menolong Maha Patih Kumbandha. Prabu Jabang Wiyagra menaruh telapak tangan kanannya di kepala Maha Patih Kumbandha. Benar saja, Maha Patih Kumbandha merasakan panas yang sangat luar biasa di sekujur tubuhnya. Yang menandakan, kalau Buta Karang sedang berusaha untuk mempengaruhi jiwanya. Maha Patih Kumbandha berteriak kepanasan. Namun Prabu Jabang Wiyagra tetap tidak melepaskan tangannya dari kepala Maha Patih Kumbandha. Justru Prabu Jabang Wiyagra semakin kuat menekankan tangannya ke kepala Maha Patih Kumbandha.
"Panas Gusti Prabu! Panas!" Teriak Maha Patih Kumbandha.
Prabu Jabang Wiyagra tidak lagi mempedulikan teriakan Maha Patih Kumbandha. Begitu juga dengan Prabu Sura Kalana, yang terus berkonsentrasi untuk menghadapi Buta Karang. Entah sudah berapa kali pukulan yang mengenai tubuhnya. Tapi Prabu Sura Kalana berkali-kali bangkit untuk kembali menyerang Buta Karang. Walaupun Buta Karang sudah tidak lagi sekuat seperti sebelumnya, tapi dia masih mampu menghadapi para abdi setia Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan Buta Karang bisa dengan mudah menghindari semua serangan yang ia dapatkan. Sesekali Buta Karang juga menangkis serangan-serangan itu. Dan mengembalikan serangan tersebut kepada tuannya. Yang membuat para abdi Prabu Jabang Wiyagra harus mengalami luka.
Padahal, satu-satunya orang yang bisa melukai mereka hanyalah Prabu Jabang Wiyagra. Terutama dengan Maha Patih Bala Antasura, yang hanya bisa dibunuh dengan panahnya sendiri. Namun di hadapan Buta Karang, dia tidak ada apa-apanya. Bahkan ia kerap kali tersungkur ke tanah, karena serangan yang ia dapatkan. Tubuhnya juga sudah babak belur, seperti yang lainnya. Awalnya Maha Patih Bala Antasura ingin menggunakan panah pusakanya. Tetapi Prabu Bujang Antasura melarang hal itu. Karena Buta Karang tidak mempan terhadap senjata pusaka seperti apapun. Justru Buta Karang bisa menghisap kekuatan yang terdapat di dalam sebuah benda pusaka.
__ADS_1
Dan sudah pasti itu untuk menambah kekuatannya. Sekarang pun, tubuh Buta Karang sedikit demi sedikit mulai membesar. Tidak seperti sebelumnya, yang pendek dan gemuk. Sekarang, secara perlahan tubuhnya mulai meninggi. Dan perutnya yang buncit secara perlahan pun mulai mengecil. Hal tersebut disebabkan, karena Buta Karang menghisap sedikit demi sedikit sari-sari ilmu kesaktian yang dikeluarkan oleh lawan-lawannya. Namun, tidak semua ilmu kesaktian bisa ia hisap sari-sarinya. Hanya beberapa ilmu saja, yang masuk ke dalam daftar ilmu hitam. Yang sangat sejalan dengan Prabu Sura Kalana dan para raja yang lain. Karena mereka semua adalah mantan pengikut aliran hitam. Yang dulu bermusuhan dengan Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga memudahkan Buta Karang untuk mengalahkan mereka, dengan kekuatannya.