DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 299


__ADS_3

Selesai menikmati semua jamuan yang telah disediakan, dan juga berbincang banyak hal, Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima kemudian memutuskan untuk pulang ke tempat mereka masing-masing. Begitu juga dengan para pendekar yang lainnya. Mereka ingin membahas kembali wacana Prabu Jabang Wiyagra soal pembentukan Pasukan Maha Wira. Mereka semua harus memikirkannya matang-matang terlebih dahulu, sebelum memberikan keputusan.


"Tidak masalah bagiku. Aku harap kalian bisa dengan cepat memberikan keputusan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka.


"Baik Gusti Prabu. Kami permisi dulu. Terima kasih atas semuanya Gusti Prabu." Kata Panglima Bayu Kusuma.


"Sama-sama. Kalian berhati-hatilah di perjalanan."


"Nggih Gusti."


Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima beserta para pendekar pun akhirnya pulang dari istana Kerajaan Wiyagra Malela, dengan penuh rasa bangga dan bahagia. Mereka pulang dengan membawa berbagai macam hadiah yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Para pendekar yang ikut ke istana Kerajaan Wiyagra Malela diberi saran oleh Prabu Jabang Wiyagra, agar mereka tidak lagi mengisolasi diri. Karena jika nanti mereka menjadi bagian dari Pasukan Maha Wira, maka mereka harus membuka diri mereka kepada masyarakat, secara luas.


Cukup berat memang syarat yang diajukan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Namun cara tersebut adalah sebuah upaya Prabu Jabang Wiyagra, agar para pendekar terbaik seperti mereka memiliki tempat. Sehingga mereka akan merasa, kalau keberadaan mereka memang benar-benar dianggap. Karena kebanyakan, para bandit berasal dari para pendekar yang merasa dikecewakan dan terasingkan dari tanah kelahiran mereka sendiri. Sehingga mereka memberontak, dan berbalik menjadi orang yang jahat.


Namun jika para pendekar ini dimasukkan ke dalam satu tempat yang mengatur mereka. Maka mereka akan lebih patuh dan tunduk kepada peraturan tersebut. Apalagi para pendekar ini juga tahu kalau peraturan itu dibuat oleh Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Mereka tidak mungkin berani mengkhianati Prabu Jabang Wiyagra, kecuali jika mereka ingin mati. Ditambah lagi kekuatan pasukan Prabu Jabang Wiyagra di dalam main-main. Dan tidak boleh dianggap remeh. Kalau ada yang berani berkhianat, pasti mereka akan mendapat hukuman berat.

__ADS_1


"Mbah? Apakah Mbah Kangkas berkas semua adalah orang-orang yang bisa dipercaya?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas, setelah tamu-tamunya pergi.


"Kenapa Gusti Prabu? Apakah Gusti Prabu telah meragukan mereka?" Mbah Kangkas justru bertanya balik kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Entahlah Mbah. Aku merasa seperti ada sesuatu di antara mereka. Itulah mengapa aku ingin membentuk Pasukan Maha Wira. Kalau Pasukan Maha Wira terbentuk, maka akan semakin mudah bagiku untuk mengawasi pergerakan mereka semua. Aku berharap kalau semua ini hanyalah kekhawatiranku saja."


"...Tapi aku juga heran, kenapa firasatku ini begitu kuat. Jujur Mbah Kangkas, Aku merasa seperti ada pengkhianatan di antara pasukan yang dibawa oleh Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima. Aku khawatir kalau sampai Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima yang menjadi korban. Karena seorang Panglima akan rentan terhadap percobaan pembunuhan."


"Menurut hamba, ada baiknya kalau Gusti Prabu mengirimkan beberapa anggota Pasukan Bara Jaya untuk mengawasi pergerakan yang dilakukan para pendekar itu. Guna memastikan keadaan Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima baik-baik saja. Karena jika sampai terjadi sesuatu kepada mereka berdua, maka hal tersebut akan melemahkan kekuatan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, Gusti Prabu."


"Nggih Gusti Prabu."


Prabu Jabang Wiyagra seperti memiliki sebuah firasat yang sangat kuat terhadap para pendekar tersebut. Prabu Jabang Wiyagra merasa kalau adanya pengkhianatan di antara kedua belah pihak. Entah pengkhianatan macam apa yang telah dilakukan, Prabu Jabang Wiyagra sendiri masih belum mengetahuinya secara pasti. Namun jika hal itu memang benar-benar terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kalau Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro akan kembali berperang. Karena jika memang mereka berkhianat, maka dengan terpaksa Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang harus melenyapkan mereka semua.


Dan baru saja Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas membicarakan masalah tersebut, salah seorang anggota Pasukan Bara Jaya menemui Prabu Jabang Wiyagra. Dia melaporkan kalau ada seorang mata-mata yang membawa sebuah informasi penting dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Si mata-mata katanya tidak bisa memberikan informasi tersebut kepada orang lain, selain Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Karena itu adalah sebuah informasi yang sangat-sangat rahasia. Dan akan sangat berbahaya jika diketahui oleh orang lain. Apalagi si mata-mata juga seperti sedang dalam keadaan yang terancam, karena dia terlihat begitu ketakutan dan dia nampak kelelahan.

__ADS_1


"Apa yang telah mengejarmu sampai ke istana ini?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


"Mohon maaf Gusti Prabu. Hamba hendak melaporkan sesuatu yang sangat penting. Hamba mendapatkan sebuah kabar, kalau Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga telah dibunuh oleh seseorang. Semua murid Padepokan Ageng Maja Lingga mengira kalau pembunuhan tersebut dilakukan oleh orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Rogo, Gusti Prabu."


Hati Prabu Jabang Wiyagra tersentak mendengarkan informasi tersebut. Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak menyangka, kalau seorang Guru Besar bisa terbunuh begitu saja. Padahal Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga adalah orang yang sangat sakti. Bahkan tidak semua orang bisa bertemu dengannya. Prabu Jabang Wiyagra betul kalau si mata-mata ini adalah orang yang sangat jujur. Dari sorot matanya saja Prabu Jabang Wiyagra sudah tahu, kalau si mata-mata mengatakan hal yang sebenar-benarnya. Bahkan mengatakan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra secara lengkap, tanpa ada yang ditutupi.


"Baiklah. Mbah Kangkas, aku ingin beberapa orang Pasukan Bara Jaya dikirimkan ke Kota Maja Lingga, untuk mengawasi apa yang sudah terjadi di sana. Dan aku minta, mata-mataku ini mendapatkan tempat perlindungan, dan juga pengawalan dari para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena dia adalah saksi kunci untuk kita semua."


"Baik Gusti Prabu."


Mbah Kangkas segera memberitahukan hal tersebut kepada para anggota Pasukan Bara Jaya. Para anggota Pasukan Bara Jaya yang ada di istana, langsung mempersiapkan diri mereka. Tiga orang dari anggota pasukan tersebut, segera meninggalkan istana menuju Kota Maja Lingga, untuk memastikan kebenaran dari berita yang disampaikan oleh si mata-mata itu. Mereka semua menyamar menjadi orang biasa, agar tidak dicurigai oleh orang-orang yang ada di Kota Maja Lingga. Apalagi sekarang situasi antara Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro sedang memanas, dan belum bisa dipastikan kalau kedua kota tersebut memang dalam keadaan yang benar-benar aman.


Gesekan yang terjadi di antara dua kota besar tersebut, bisa menjadi masalah besar untuk Kerajaan Wiyagra Malela. Terutama untuk Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra-lah yang telah mempersatukan mereka. Dan yang membuat Prabu Jabang Wiyagra heran adalah, kenapa harus seorang Guru Besar yang terbunuh? Jika memang ada musuh yang membenci Prabu Jabang Wiyagra, seharusnya mereka akan merencanakan sesuatu untuk bisa menyerang Kerajaan Wiyagra Malela. Bukannya membunuh Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga, yang kalau dipikir-pikir lagi, tidaklah penting untuk mereka semua.


Namun si mata-mata Prabu Jabang Wiyagra mengira, kalau hal tersebut dilakukan untuk menimbulkan kekacauan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Karena dengan terbunuhnya seorang Guru Besar di Padepokan Ageng Maja Lingga, maka akan banyak murid-murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang keluar dari perguruan mereka. Atau yang lebih parahnya lagi adalah, Padepokan Ageng Maja Lingga akan melakukan serangan besar-besaran kepada Padepokan Ageng Singo Negoro. Dan akan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah di Kota Singo Negoro.

__ADS_1


__ADS_2