
Dalam situasi yang genting seperti sekarang ini, Prabu Jabang Wiyagra ternyata melakukan banyak sekali hal di dalam istananya. Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan para Patih untuk memasang seluruh senjata meriam yang ada di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Yang jumlah senjata itu kalau dihitung sudah mencapai lebih dari lima ratus unit senjata meriam ukuran besar.
Belum lagi dengan ukuran kecil yang bisa digunakan oleh satu orang yang jumlahnya lebih dari dua ribu unit. Secara keseluruhan, semua senjata-senjata itu sudah cukup untuk menggempur habis pasukan Kerajaan Bala Bathara. Karena Kerajaan Bala Bathara sama sekali tidak memiliki persenjataan semacam itu. Senjata yang mereka gunakan masih tertinggal jauh, dibandingkan dengan senjata yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela.
Prabu Jabang Wiyagra juga memerintahkan para raja-raja kecil yang ada di bawah kepemimpinannya untuk segera merapat ke wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela, dan juga mengevakuasi semua rakyat di kerajaan mereka masing-masing. Prabu Jabang Wiyagra para raja-raja tersebut untuk membuat sebuah tempat khusus semacam gua ataupun ruangan bawah tanah, yang digunakan untuk bersembunyi.
Sebesar apapun pertempurannya nanti, semua rakyat yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra bisa dipastikan keselamatannya dengan tempat tinggal darurat yang mereka buat. karena jika mereka muncul ke permukaan, dan sampai ditemukan oleh para pasukan Prabu Barajang, maka mereka yang lemah akan diberantas sampai tuntas. Dan yang kuat akan dijadikan budak oleh Prabu Barajang.
Prabu Barajang pasti akan melakukan penindasan secara besar-besaran sebagai pelampiasan dendamnya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia akan memperbudak semua rakyat Kerajaan Wiyagra Malela, dengan para pasukan baru yang ia miliki, untuk menakut-nakuti seluruh rakyat Kerajaan Wiyagra Malela, agar mereka tidak bisa melakukan perlawanan. Dan selamanya mereka akan menjadi budak dari Prabu Barajang.
"Gusti Prabu, dengan jumlah pasukan yang sangat banyak seperti sekarang, hamba yakin kalau Gusti Prabu pasti mampu mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra." Ucap Maha Patih Kana Raga kepada Prabu Barajang.
__ADS_1
Saat itu Prabu Barajang peserta para pasukan yang ia bawa sudah menempuh perjalanan sampai ke wilayah Kerajaan Panca Warna. Dia bersama dengan pasukannya sudah menembus setengah perjalanan. di tengah-tengah perjalanan itulah Maha Patih Kana Raga kembali menghasut pikiran Prabu Barajang, agar semakin membenci Prabu Jabang Wiyagra.
Maha Patih Kana Raga selalu melakukan hal itu untuk mempengaruhi pemikiran Prabu Barajang. Dengan perubahannya pemikiran Prabu Barajang, maka akan semakin mudah untuknya mengendalikan Prabu Barajang. Dan yang paling penting adalah, dia bisa merampas tahta Kerajaan Bala Bathara setelah peperangan ini usai.
Tahta itu nantinya akan dia serahkan kembali kepada kekasihnya, yaitu Nyi Dwi Sangkar. Di tangan Nyi Dwi Sangkar, Maha Patih Kana Raga bisa mendapatkan kedudukan seorang Panglima. Yang menguasai pasukan secara keseluruhan. Baik untuk Kerajaan Bala Bathara sendiri, ataupun untuk kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya.
Sedangkan untuk Prabu Barajang sendiri, dia akan dibiarkan hidup terlunta-lunta, dan dilengserkan dari tahtanya. Maha Patih Kana Raga dan Nyi Dwi Sangkar sudah tahu secara pasti kalau Prabu Barajang dan pasukannya akan kalah dalam peperangan ini, dengan jumlah kematian pasukan yang akan jauh lebih besar.
Setelah peperangan ini usai, Kerajaan Bala Bathara akan mengalami kemunduran dalam ekonomi, karena Prabu Barajang mengalami kekalahan besar dalam peperangan melawan Prabu Jabang Wiyagra. Pada saat itulah Nyi Dwi Sangkar dan Maha Patih Kana Raga akan muncul menjadi seorang pahlawan bagi Kerajaan Bala Bathara.
Kehidupan yang terlalu menyakitkan untuk gadis seusianya itu, membuat dirinya menjadi orang yang jahat dan tidak pernah peduli kepada kebaikan apapun. Nyi Dwi Sangkar bisa mengkhianati siapa saja yang tidak ia sukai. Bahkan suaminya sendiri pun, yaitu Ki Dampar, bisa ia khianati. Yang padahal, mereka sudah mengalami susah dan senang, selama puluhan tahun.
__ADS_1
Sifat jahatnya itu tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri. Tetapi dari perlakuan orang-orang kepadanya. Termasuk salah satunya adalah Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra yang pernah menolak cinta dari Nyi Dwi Sangkar, membuatnya semakin sakit hati dan memicu sifat iblis dalam dirinya muncul. Penolakan itu membuat Nyi Dwi Sangkar merasakan penderitaan batin yang sangat besar.
Ditambah lagi dengan rasa sakit lainnya, yang sudah menghinggapi dirinya sejak ia kecil. Itulah mengapa Nyi Dwi Sangkar juga sangat kesulitan untuk mempercayai orang lain. Hanya Maha Patih Kana Raga yang selama ini mampu membuatnya merasakan bagaimana rasanya jatuh hati kembali. Setelah puluhan tahun dia tidak merasakan hal itu.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nyi Dwi Sangkar seperti menemukan sosok Prabu Jabang Wiyagra yang baru. Meskipun rasa dendamnya terhadap Prabu Jabang Wiyagra belum bisa dihilangkan sampai sekarang, tapi setidaknya sekarang di sudah menjadi sosok yang lain yang bisa dikatakan jauh lebih tenang, dan lebih baik.
Sejahat-jahatnya Nyi Dwi Sangkar, dia sama sekali tidak mau menyakiti orang-orang yang berasal dari kalangan bawah. Karena dia tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang ditindas dan diremehkan. Hal itu jelas sangat berbeda dengan Prabu Barajang, yang suka menindas dan menipu rakyatnya sendiri. Nyi Dwi Sangkar sangat tidak suka dengan sikap seperti itu.
Selama masa hidupnya sebagai pendekar yang menganut ilmu hitam, Nyi Dwi Sangkar tidak pernah sekalipun mencari masalah dengan orang lain. Kecuali orang itu yang mencari masalah dengan dirinya. Walaupun dia memiliki sikap dan sifat yang kejam, tetapi di dalam dirinya masih ada sedikit kebaikan. Yang sangat sering ia tutupi dari orang lain.
Andaikan saja tidak menjadi penganut ilmu hitam, mungkin Nyi Dwi Sangkar sudah menjadi pendekar yang terkenal di kalangan masyarakat kelas bawah, sebagai pahlawan untuk mereka. Namun sekarang ini, sikap penolongnya itu didasari dengan keinginan untuk mendapatkan sebuah kekuasaan. Agar ia bisa menyaingi kedudukan Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Nyi Dwi Sangkar ingin membuktikan kepada Prabu Jabang Wiyagra, kalau perempuan juga berhak menjadi seorang penguasa. Dia sudah bersumpah untuk melengserkan kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Dan akan merebut tahta Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau Nyi Dwi Sangkar bisa menguasai tahta Kerajaan Wiyagra Malela, dia akan menggunakan seluruh kekayaan yang ada untuk membangun istana yang jauh lebih megah.
Nyi Dwi Sangkar akan menduduki seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Tanah Jawa ini. Dan Prabu Jabang Wiyagra akan diasingkan dari tanah kelahirannya sendiri, agar Prabu Jabang Wiyagra merasakan bagaimana rasanya penderitaan yang selama ini Nyi Dwi Sangkar alami. Jadi, Nyi Dwi Sangkar sesungguhnya tidak benar-benar berniat untuk Prabu Jabang Wiyagra. Dia hanya ingin Prabu Jabang Wiyagra menderita seumur hidupnya.