DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 68


__ADS_3

Pertarungan antara Prabu Suta Rawaja dan Pangeran Rawaja Pati masih terus berlanjut. Mereka berdua saling adu kehebatan dan kesaktian satu sama lain. Namun Prabu Suta Rawaja sudah mulai terlihat kewalahan menghadapi kekuatan Pangeran Rawaja Pati.


Sedangkan Maha Patih Raseksa berhadapan dengan Mangku Cendrasih. Maha Patih Raseksa masih belum bisa melupakan kekalahannya beberapa bulan yang lalu. Dia masih ingin menghadapi Mangku Cendrasih yang jelas-jelas ilmunya lebih tinggi darinya.


Namun sama seperti gurunya, Maha Patih Raseksa juga sering kacau dalam beberapa hal. Ambisinya yang besar tidak diimbangi dengan kekuatan yang mumpuni. Dia hanya bermodal nyali untuk menghadapi Mangku Cendrasih.


Para pasukannya juga sudah banyak sekali yang tewas dalam penyergapan itu. Mereka semua kalah jumlah, karena pasukan Kerajaan Wiyagra Malela jumlahnya semakin banyak. Mereka semua sedikit demi sedikit mulai berdatangan dan bergabung dalam pertempuran itu.


Prabu Suta Rawaja dan Maha Patih Raseksa terus menerus didesak. Mereka juga mulai diserbu dari segala arah. Sehingga pergerakan mereka berdua menjadi semakin sulit. Tempat ini juga sempit untuk menampung para pasukan yang terus menerus berdatangan.


"Gusti Prabu! Ayo cepat pergi! Kita harus mundur!" Teriak Maha Patih Raseksa kepada Prabu Suta Rawaja.


Prabu Suta Rawaja langsung bergegas mundur bersama sisa-sisa pasukannya. Mereka semua lari kocar-kacir. Prabu Suta Rawaja dilindungi oleh Maha Patih Raseksa dari belakang. Bahkan saat ada sebuah pedang yang menancap dipunggung Maha Patih Raseksa, dia tetap berusaha bertahan untuk melindungi Prabu Suta Rawaja.


Maha Patih Raseksa berusaha menghalau para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang masih mengejar Prabu Suta Rawaja. Dia menggunakan seluruh kemampuan yang ia miliki untuk menghalau pasukan yang jumlahnya ribuan itu. Sampai pada akhirnya, dia mengorbankan dirinya, dengan cara membuat sebuah pagar ghaib.


Pagar ghaib itu hanya pagar sementara. Karena Maha Patih Raseksa sudah kehilangan banyak darah. Dia juga sudah setengah sadar saat itu. Namun dia terus memaksakan dirinya untuk membuat pagar ghaib yang menutupi seluruh jalan yang menuju ke Kerajaan Rawaja Pati.

__ADS_1


Mangku Cendrasih lalu menggunakan kekuatannya untuk menyerang Maha Patih Raseksa. Dan satu kali pukulan itulah, Maha Patih Raseksa langsung tumbang, begitu juga dengan pagar ghaibnya yang langsung hancur. Dan seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela pun langsung menerobos untuk mengejar Prabu Suta Rawaja.


"Tunggu! Jangan kesana! Itu adalah jebakan!" Teriak Maha Patih Putra Candrasa yang kemudian datang ke tempat itu.


Semua pasukan pun akhirnya menghentikan laju mereka. Mereka semua tidak ada yang berani membantah perintah dari Maha Patih Putra Candrasa. Walau pun sebenarnya mereka ingin sekali mengejar pasukan Kerajaan Rawaja Pati yang masih tersisa.


"Sudah cukup. Kita tidak membawa rajanya, tapi kita mendapatkan Maha Patih-nya. Gusti Prabu Jabang Wiyagra meminta kita semua kembali ke istana. Bawa juga para pasukan Kerajaan Rawaja Pati yang masih hidup. Tangkap mereka semua!" Perintah Maha Patih Putra Candrasa.


"Baik Gusti Patih!"


Semua pasukan yang ada disana akhirnya kembali dengan membawa Maha Patih Raseksa yang sudah tidak sadarkan diri, dan juga puluhan prajurit Kerajaan Rawaja Pati yang masih bertahan hidup. Mereka semua diikat satu sama lain agar tidak melarikan diri.


Semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela pulang dengan rasa bangga, karena mereka berhasil mengalahkan sebagian besar pasukan Kerajaan Rawaja Pati, dan membuat Prabu Suta Rawaja lari kocar-kacir dari pertempuran itu. Mereka juga membunuh semua Patih yang ikut dalam rombongan Prabu Suta Rawaja.


Kalau diteruskan, mungkin pertempuran akan terus berlanjut sampai berhari-hari. Dan bisa saja pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan banyak yang mati, karena dari yang diketahui, ternyata Prabu Suta Rawaja sudah mempersiapkan pasukan lain di kerajaannya. Pasukan itu ditugaskan untuk menyergap Kerajaan Wiyagra Malela, jika sampai mereka mengerjarnya ke Kerajaan Rawaja Pati.


Namun Prabu Jabang Wiyagra dengan cepat bisa membaca pergerakan itu, dan dia langsung memerintahkan Maha Patih Putra Candrasa untuk menjemput seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang masih hidup. Dan menangkap seluruh pasukan Kerajaan Rawaja Pati yang masih tersisa disana.

__ADS_1


Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra sendiri sudah berada di istananya. Dia sedang terduduk disinggasananya, dan ditemani oleh Ratu Ayu Anindya. Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya masih khawatir. Dia khawatir kalau kemenangan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan membuat mereka lalai dan terbuai.


Karena masih ada lagi musuh yang jauh lebih besar dari pada Kerajaan Rawaja Pati dan Prabu Suta Rawaja. Yaitu Ditya Kalana. Sampai sekarang Prabu Jabang Wiyagra masih belum tahu dimana keberadaannya. Bahkan semua mata-mata terbaik yang ia sebar pun masih belum membawakan hasil yang pasti.


Semuanya hanya membawakan dugaan dan dugaan. Namun yang paling menonjol adalah, pasukan berbaju hitam yang beberapa waktu lalu menyerang Kerajaan Antasura. Semua orang curiga dengan pasukan itu, karena sampai saat ini mereka tidak tahu pasti siapa pemimpinnya. Banyak juga para pendekar sakti yang mulai bergabung.


Mereka merampok desa-desa dan juga menyerang setiap orang yang mereka temui. Pergerakan mereka juga kabarnya sudah mulai merambah ke daerah-daerah kekuasaan Kerajaan Candramawa. Dan juga beberapa kerajaan besar yang lainnya. Yang artinya, mereka juga memiliki tujuan yang sama dengan Prabu Suta Rawaja.


Hanya saja mereka jauh lebih cerdas dan jauh lebih terkondisi, tidak seperti Prabu Suta Rawaja yang grusa-grusu menghadapi semua hal. Mereka jauh lebih senyap dan jauh lebih mengerikan. Para pasukan itu tidak diketahui berapa jumlah pastinya. Tapi melihat pergerakan mereka, pasti jumlah mereka lebih dari seribu orang.


Hal itu yang membuat Prabu Jabang Wiyagra merasa khawatir. Karena tidak menutup kemungkinan kalau sewaktu-waktu pasukan itu bisa sampai ke Kerajaan Wiyagra Malela. Membuat kekacauan dan kerusuhan di segala tempat. Tapi yang harus diwaspadai adalah, mereka menyelinap masuk ke dalam istana.


Walau pun Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri sempat menghadapi mereka saat di Kerajaan Antasura, tapi mereka berdua juga tidak tahu secara pasti seberapa besar kekuatan mereka. Karena bisa saja masih ada orang-orang sakti yang berdiri di belakang mereka, dan menggerakkan mereka untuk menciptakan kerusuhan.


Ditya Kalana hanya satu dari sekian banyak orang yang ingin melihat kehancuran Kerajaan Wiyagra Malela. Masih banyak lagi orang di luar sana yang menginginkan Kerajaan Wiyagra Malela hancur dan tercerai berai. Jadi mereka membuat kekacauan di kerajaan-kerajaan yang bersahabat sengan Kerajaan Wiyagra Malela terlebih dahulu.


Tujuannya jelas, untuk memecah dan mengurangi kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela sedikit demi sedikit. Karena setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk bertarung dengan Prabu Jabang Wiyagra yang terkenal sakti mandraguna itu. Banyak musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra di masa lalu yang masih menghilang hingga saat ini.

__ADS_1


Hal itu juga yang mulai membuatnya khawatir. Bisa saja, selama menghilang mereka sudah menyusun kekuatan. Dan juga memperkuat diri mereka sendiri. Mereka jelas akan menuntut balas atas kekalahan mereka di masa lalu. Karena sebelum Kerajaan Wiyagra Malela berdiri, banyak sekali pendekar-pendekar aliran hitam yang Prabu Jabang Wiyagra bunuh. Sebagian dari mereka juga berhasil melarikan diri.


__ADS_2