DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 253


__ADS_3

Genderang perang telah dibunyikan, seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela sudah bersiap pada posisi mereka masing-masing, untuk menyambut kedatangan Ratna Malangi dan para pasukannya. Walaupun Ratna Malangi sudah memecah pasukannya menjadi dua bagian, tapi tetap saja pasukan yang ia bawa masih sangat banyak. Ratna Malangi dan pasukannya pun berhenti tidak jauh dari benteng pertahanan Ibu Kota Wiratira, yang dijaga sangat rapat dan sangat ketat oleh pasukan Prabu Jabang Wiyagra.


Melihat begitu banyaknya pasukan yang dibawa oleh Ratna Malangi, Panglima Galang Tantra langsung memerintahkan Patih Dawal dan Patih Kepila untuk melaporkan hal ini kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Patih Dawala! Patih Kepila!"


"Kami Panglima!"


"Cepat beritahu Prabu Jabang Wiyagra! Sekarang!" Perintah Panglima Galang Tantra.


"Baik Panglima!"


Patih Dawala dan Patih Kepila pun dengan cepat langsung menuju istana Kerajaan Wiyagra Malela. Di sana Prabu Jabang Wiyagra juga sudah bersiap dengan jubah perang yang menutupi seluruh tubuhnya. Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui terlebih dahulu tentang Ratna Malangi yang sudah sampai di benteng pertahanan wilayah Ibu Kota Wiratirta. Ditemani oleh Sang Maha Guru dan Mbah Kangkas, Prabu Jabang Wiyagra pergi keluar menuju halaman istana. Di halaman istana, sudah banyak sekali anggota pasukan Pasukan Bara Jaya yang sudah berkumpul.

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra lalu naik ke atas sebuah mimbar, untuk memberikan sepatah kata kepada para pasukannya.


"Pasukanku! Yang aku banggakan! Hari ini adalah hari penentuan dari segala kemenangan! Masa depan kita ditentukan oleh hasil dari peperangan ini! Aku meminta dengan hormat kepada kalian semua! Berjuanglah bersamaku! Tunjukkan kepada musuh-musuh kita! Selamanya kita akan berjaya di Tanah Jawa!" Ucap Prabu Jabang Wiyagra dengan tegas kepada seluruh Pasukan Bara Jaya.


Para anggota Pasukan Bara Jaya pun bersorak gembira. Mereka merasa sangat bangga berjuang secara langsung, bersama dengan raja mereka. Meskipun mereka juga harus merelakan kebersamaan bersama dengan keluarga. Tidak nampak sedikitpun ada rasa takut di wajah mereka. Para anggota Pasukan Bara Jaya adalah orang-orang pemberani yang tidak takut mati. Apalagi sekarang Prabu Jabang Wiyagra ada di tengah-tengah mereka semua. Membuat mereka menjadi seorang pemberani.


Dengan adanya Prabu Jabang Wiyagra di tengah-tengah pasukan, maka seluruh pasukan yang ada akan merasa memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi musuh-musuh mereka. Jutaan pasukan yang berkumpul di wilayah Ibu Kota Wiratirta, sekarang ini sedang bersiap menunggu serangan dari Ratna Malangi dan para pasukannya yang justru hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa. Ratna Malangi seakan ragu untuk melangkahkan kakinya ke depan, untuk melakukan penyerangan.


Seluruh pasukannya bahkan saling bertanya satu sama lain,


Dengan Ratna Malangi yang masih saja diam dan hanya menatap tajam ke arah pintu gerbang benteng perbatasan Ibu Kota. Setelah beberapa lama kemudian, Ratna Malangi menarik nafasnya dalam-dalam. Dia memegang erat-erat tali yang mengikat di leher kuda yang ia tunggangi. Dan tanpa basa-basi, Ratna Malangi tiba-tiba langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk melakukan penyerangan. Padahal mereka harus menghadapi pasukan meriam yang sudah mulai mengisi peluru-peluru mereka.


Seluruh pasukan Ratna Malangi melaju dengan sangat cepat. Panglima Galang Tantra yang memimpin benteng pertahanan itu, juga langsung memerintahkan para pasukan meriam untuk menggempur habis-habisan para pasukan musuh yang sedang berusaha untuk menerobos masuk ke wilayah Ibu Kota Wiratirta. Seketika seluruh tempat yang ada di wilayah Ibu Kota Wiratirta menjadi sangat panas. Karena terjadi banyak sekali ledakan di luar benteng pertahanan.

__ADS_1


Walau dalam keadaan yang cukup terdesak, para pasukan Ratna Malangi masih berusaha untuk menghancurkan pintu gerbang benteng pertahanan Ibu Kota. Suara teriakan ada di mana-mana, akibat dari serangan ganas tersebut. Dengan jumlah yang begitu banyaknya, para pasukan yang dimiliki oleh Ratna Malangi berusaha untuk memanah para prajurit yang menggunakan senjata meriam untuk menyerang mereka. Tetapi para pasukan meriam juga tidak mau kalah begitu saja. Mereka juga melakukan perlawanan.


Tanpa henti, para pasukan meriam terus menggempur para pasukan Ratna Malangi, yang datang berbondong-bondong untuk menghancurkan pintu gerbang. Sedangkan Ratna Malangi sendiri masih berada di barisan belakang untuk menghindari serangan pasukan meriam, yang terus menerus menyerangnya. Dan di sinilah Ratna Malangi langsung menunjukkan kehebatannya di depan semua orang. Ratna Malangi melompat sangat tinggi dari kuda yang ia tunggangi. Dan langsung mendarat di benteng pertahanan Ibu Kota Wiratirta.


Para prajurit yang melindungi seluruh pasukan meriam pun langsung menyerang Ratna Malangi. Mereka berusaha menghentikan Ratna Malangi yang sudah mulai menyerang para pasukan meriam. Tapi para prajurit itu terlalu lemah untuk berhadapan dengan Ratna Malangi. Karena kesaktian yang dimiliki oleh Ratna Malangi sangat tinggi. Bahkan Patih Rekta, dan Patih Sanggem, yang ada di sana juga sempat terkena pukulan dari Ratna Malangi. Sehingga membuat mereka berdua terluka.


Ratna Malangi memang tidak boleh dianggap remeh. Karena dalam beberapa kali pukulan saja, Ratna Malangi sudah mampu membuat mereka berdua kesakitan. Seluruh prajurit yang ada di sana juga berusaha untuk menyerang Ratna Malangi. Tetapi Panglima Galang Tantra mencegah mereka semua, untuk tidak lagi melakukan hal itu. Karena Ratna Malangi jauh lebih kuat daripada mereka.


"Utamakan gerbangnya!" Perintah Panglima Galang Tantra yang juga langsung bergegas untuk membantu Patih Rekta dan yang lainnya.


Di sana ratusan Patih berusaha untuk menyerang para pasukan Ratna Malangi yang ada di sekitaran benteng pertahanan. Terutama dengan para pasukan Ratna Malangi yang sedang berusaha membobol gerbang pertahanan. Ribuan panah terus melesat ke bawah, yang membuat para pasukan Ratna Malangi semakin kewalahan. Ratna Malangi sendiri masih berusaha untuk menyerang para Patih dan juga para Panglima yang secara terus menerus menyerangnya.


Diantara para Panglima yang menyerangnya adalah, Panglima Galang Tantra, Panglima Rama Kumara, Panglima Gatot Malasa, Panglima Dapa Samudra, dan Panglima Dala Bima. Tidak ketinggalan, Panglima Kinjiri beserta Ki Singo Rogo juga turut membantu yang lainnya untuk menyerang Ratna Malangi, yang memiliki kesaktian luar biasa ini. Bahkan, Ratna Malangi masih sangat kuat menghadapi ketujuh orang yang sedang menyerangnya itu. Ia juga mampu menangkis setiap serangan dari para Patih, yang juga masih berusaha untuk melukainya.

__ADS_1


Sepertinya, Ratna Malangi benar-benar bukanlah lawan yang sepadan dengan semua orang yang ada di sini. Karena dia mampu menyaingi setiap orang yang menyerangnya. Dalam keadaan yang sebenarnya terjepit di antara para prajurit, Ratna Malangi sudah mampu melumpuhkan puluhan prajurit yang juga menyerangnya dengan berbagai macam senjata. Meskipun Panglima Galang Tantra sudah melarang para prajurit untuk tidak ikut-ikutan menyerang Ratna Malangi, tapi tetap saja para prajurit juga tidak bisa berbuat banyak. Seberapa besar pun usaha mereka menghindari dari Ratna Malangi, mereka pasti akan tetap terlibat dalam pertarungan.


__ADS_2