
Dulu, sebelum berdirinya Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro, Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga kerap kali berperang. Sering kali terjadi keributan di antara dua padepokan besar tersebut. Yang mengakibatkan banyak sekali korban berjatuhan, dari kedua belah pihak. Hal itu dipicu oleh perbedaan pendapat di antara Guru Besar Padepokan Ageng Singo Negoro, dan Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga.
Kedua Guru Besar di ketua padepokan tersebut memang tidak pernah akur satu sama lain. Kabarnya hal itu juga terjadi sejak mereka masih sama-sama berguru. Entah bagaimana pergesekan di antara mereka berdua bisa berlanjut hingga sekarang. Namun yang pasti selalu saja ada pemicunya. Meskipun ketua Guru Besar di dua padepokan besar tersebut dianggap orang-orang suci, tetapi kenyataannya, mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri dengan baik.
Dan yang paling sering memicu keributan adalah dari pihak Padepokan Ageng Maja Lingga. Dulu orang-orang dari Padepokan Ageng Maja Lingga sering sekali membuat keributan di wilayah Padepokan Ageng Singo Negoro. Karena para murid-murid yang berguru di Padepokan Ageng Maja Lingga ingin menunjukkan taring mereka kepada semua orang. Agar mereka ditakuti dan disegani. Dan mendapatkan kehormatan di kalangan masyarakat. Namun seringkali hal itu justru membuat masyarakat merasa jijik dengan perilaku arogan mereka.
Apalagi masyarakat seringkali dimintai uang keamanan oleh para pendekar dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Katanya uang keamanan tersebut akan digunakan oleh pembangunan Padepokan. Tapi itu hanyalah alasan mereka saja, demi bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kenyataannya, Padepokan Ageng Maja Lingga bisa mendapatkan bangunan baru mereka setelah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra. Sebelum Prabu Jabang Wiyagra menjadi seorang raja, Padepokan Ageng Maja Lingga terkenal sebagai padepokan yang memiliki tempat terburuk. Karena mereka tidak pernah melakukan renovasi bangunan padepokan.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra mulai mencurigai para pendekar yang datang dari Maja Lingga. Terutama dengan dua orang pentolan dari Maja Lingga, yaitu Mahendra dan Jiramani. Entah mengapa Prabu Jabang Wiyagra merasa kalau ada yang mencurigakan dari mereka berdua. Semenjak memasuki istananya, Prabu Jabang Wiyagra mencium bau darah yang sangat menyengat, dari para pendekar yang berasal dari Maja Lingga. Namun Prabu Jabang Wiyagra berpikir kalau itu hanyalah sebuah pertanda, kalau mereka membunuh banyak orang saat menjalankan tugas di Kerajaan Panca Warna.
Namun pada akhirnya Prabu Jabang Wiyagra tahu, kalau para pendekar dari Maja Lingga sudah mengkhianati guru mereka sendiri. Dan kemungkinan besarnya, yang melakukan pembunuhan kepada Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga adalah Mahendra dan Jiramani. Karena mereka berdualah yang paling berpengaruh di Padepokan Ageng Maja Lingga. Mahendra dan Jiramani adalah lulusan terbaik dari padepokan tersebut. Dan mereka juga yang menjadi murid tertua, dari dua puluh lima orang pendekar yang ikut bersama dengan Panglima Bayu Kusuma. Artinya mereka berdua memiliki kekuatan yang cukup, jika memang mereka berdualah yang menjadi pelaku pembunuh itu.
Kalau firasat Prabu Jabang Wiyagra benar, maka akan terjadi peperangan hebatan antara Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro. Dan perang besar antara kedua padepokan besar tersebut, pastinya juga akan merambah ke seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Karena banyak juga prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang merupakan lulusan dari Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro. Mereka pasti akan saling menyerang satu sama lainnya. Dan tidak peduli dengan siapa yang mereka bunuh. Sekalipun saudara sendiri.
Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga tidak pernah lagi bermain perempuan, ataupun melakukan pemerasan kepada rakyat yang ada di wilayah padepokan tersebut. Bisa saja Mahendra dan Jiramani yang merupakan murid paling lama di Padepokan Ageng Maja Lingga, masih menggunakan budaya lama mereka, yang suka memeras orang-orang di sekitar Padepokan Ageng Maja Lingga. Mungkin saja Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga mengetahui perilaku buruk muridnya itu, sehingga terjadilah perselisihan antara guru dan murid. Yang membuat Sang Guru Besar akhirnya harus terbunuh. Namun itu hanyalah opini Prabu Jabang Wiyagra saja. Karena belum mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi kepada Sang Guru Besar.
__ADS_1
Mbah Kangkas mengingatkan Prabu Jabang Wiyagra untuk berhati-hati dalam mengambil langkah. Karena Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro adalah dua padepokan besar yang cukup berpengaruh di Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka juga memiliki banyak sekali murid yang tersebar di berbagai tempat, yang ada di seluruh wilayah Tanah Jawa. Untuk mengantisipasi adanya peperangan besaran antara Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Mbah Kangkas agar menyampaikan pesan dari Prabu Jabang Wiyagra kepada Patih Daraka.
Karena sekarang, Patih Daraka dan pasukannya, berada tidak jauh dari wilayah Padepokan Ageng Maja Lingga. Prabu Jabang Wiyagra ingin Patih Daraka dan seluruh pasukannya berjaga di wilayah perbatasan antara Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Untuk mencegah adanya bentrokan antara kedua padepokan besar tersebut. Tak hanya itu saja, Prabu Jabang Wiyagra juga meminta bantuan kepada Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha, agar mengirimkan pasukan bantuan kepada Patih Daraka. Karena mengingat jumlah murid dari kedua padepokan besar tersebut sangatlah banyak. Dan mereka juga terkenal sama-ama sangat kuat. Namun sudah pasti mereka akan kalah jika berhadapan Maha Patih Kumbandha dan pasukannya.
Di hari itu juga, Mbah Kangkas langsung pergi ke berbagai tempat untuk menjalankan tugas dari Prabu Jabang Wiyagra. Pertama Mbah Kangkas mendatangi Patih Daraka dan pasukannya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Mbah Kangkas pergi ke Kerajaan Batih Reksa untuk menemui Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha. Bukan hanya itu saja, ternyata Mbah Kangkas juga pergi ke istana Kerajaan Antasura dan Kerajaan Candramawa. Untuk meminta bantuan pasukan tambahan. Jelas saja Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa begitu terkejut mendengar kabar itu. Mereka tidak menyangka kalau hal itu akan terjadi kepada Sang Guru Besar.
Akhirnya, ketiga raja besar tersebut mengirimkan banyak sekali bantuan pasukan, untuk menjaga wilayah perbatasan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Karena kalau sampai terjadi peperangan besar antara kedua padepokan besar itu, maka ketiga raja besar tersebut juga akan terkena imbasnya. Mereka akan mengalami kerugian secara ekonomi, karena ketika raja besar tersebut juga menjalin hubungan perdagangan dengan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Terutama dalam hal persenjataan. Karena di Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro banyak sekali pandai besi yang tahu selera senjata yang digunakan orang-orang di wilayah kekuasaan ketiga raja besar tersebut.
__ADS_1
Begitu juga dengan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro yang mendapatkan penghasilan besar dari ketiga raja besar itu. Kalau sampai mereka menyakiti para pasukan dari Kerajaan Batih Reksa, Kerajaan Antasura, dan Kerajaan Candramawa, maka semua orang yang ada di dua kota besar tersebut akan mendapatkan masalah yang serius. Mereka akan kehilangan jalur ekonomi mereka. Karena Prabu Jabang Wiyagra jelas akan memutus hubungan dagangan kedua kota besar tersebut, dengan ketiga raja besar yang berada di bawah kepemimpinannya. Ketiga raja besar tersebut harus memutar otak untuk mencegah peperangan antara Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro.