
"Gi-la. Dia memang benar-benar hebat. Menghadapi satu saja aku tidak mampu, nagaimana aku bisa menghadapi sebanyak ini."
Prabu Barajang tidak diberi satupun kesempatan untuk melakukan perlawanan. Sekarang dia harus menghadapi lima orang dalam bentuk dan kemampuan yang sama. Prabu Barajang ya bisa menghindar dan terus-menerus menghindar, tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun. Setiap kali Prabu Barajang berusaha untuk melarikan diri dari tempat itu, Maha Patih Lare Damar selalu bisa mencegahnya.
Maha Patih Lare Damar yang sekarang menjadi lima orang itu, bisa menyerang Prabu Barajang secara bersamaan tanpa adanya penghalang. Sedangkan pecahan raga yang lainnya, sedang menyibukkan diri mereka dengan menghabisi para pasukan Prabu Barajang yang masih tersisa. Prabu Barajang tidak tahu lagi harus melakukan apa dalam keadaan yang terjepit seperti ini. Prabu Barajang hanya bisa pasrah.
Berapa bagian tubuhnya sudah terasa sakit. Prabu Barajang seakan sudah kehabisan tenaga untuk menghindari serangan Maha Patih Lare Damar yang semakin lama semakin gencar.
"Hei Lare Damar! Aku tidak peduli yang asli yang mana! Tapi jika kamu memang punya nyali hadapi aku satu lawan satu!" Ucap Prabu Barajang menantang.
"Kenapa Barajang? Apakah kamu takut menghadapiku? Atau kamu memang benar-benar sudah tidak mampu?" Jawab kelima-limanya secara bersamaan.
"Diam kamu kepa-rat! Aku Barajang! Aku masih mampu menghadapimu walaupun seribu orang sekaligus!"
"Baiklah."
Karena tantangan itu kelima sosok Maha Patih Lare Damar tersebut pun kembali memecah raga mereka, menjadi dua puluh orang. Prabu Barajang semakin dibuat panik dan kebingungan melihat hal itu. Karena tantangannya ternyata benar-benar dikabulkan. Sekarang dia harus menanggung akibat dari mulutnya sendiri. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memilih untuk tetap bertahan dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Dua puluh sosok Maha Patih Lare Damar tersebut langsung menyerang Prabu Barajang dengan sangat ganas. Bahkan saat Prabu Barajang sudah terkapar di tanah, mereka masih memukuli dan menendangi wajahnya. Prabu Barajang terus berusaha untuk melindungi wajahnya agar tidak babak belur. Tetapi tendangan dan pukulan mereka benar-benar sangat keras.
__ADS_1
Prabu Barajang hanya bisa berteriak kesakitan menerima setiap serangan mereka. Hingga pada akhirnya Prabu Barajang terpaksa meminta ampun kepada mereka, karena sudah tidak tahan dengan pukulan dan tendangan yang terus-menerus mereka lesatkan.
"Ampun! Ampuni aku! Aku mohon! Jangan! Tolong! Cukup!" Prabu Barajang terus memohon kepada mereka agar berhenti dipukuli.
Tetapi dua puluh sosok Maha Patih Lare Damar tersebut terus menendang dan memukul tanpa henti secara bergiliran. Dua sosok dari mereka lalu membangunkan Prabu Barajang. Sedangkan yang lainnya langsung memukul perut wajah dan juga kaki Prabu Barajang dengan sangat keras. Kedua kaki Prabu Barajang seketika membengkak karena dipukuli terus menerus.
Walaupun Prabu Barajang terus saja mengoceh meminta ampun kepada mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghentikan serangannya. Prabu Barajang sudah dibuat tak berdaya. Rasa sakit hinggap di seluruh bagian tubuhnya. Dan pada saat itulah datang Mangku Cendrasih dan beberapa orang muridnya untuk menghentikan perbuatan Maha Patih Lare Damar.
"Gusti Patih! Gusti Prabu Jabang Wiyagra memanggil Gusti Patih untuk kembali ke istana sekarang juga!" Teriak Mangku Cendrasih.
Dua puluh sosok Maha Patih Lare Damar itu pun langsung menyatu kembali menjadi sosok Maha Patih Lare Damar yang asli. Begitu juga dengan sosok-sosok yang lainnya, yang telah berhasil mengalahkan seluruh pasukan Prabu Barajang. Prabu Barajang merasa lega untuk sesaat. Sampai akhirnya dia ditendang oleh Mangku Cendrasih hingga tidak sadarkan diri.
"Gusti Prabu Jabang Wiyagra menginginkan Maha Patih Kana Raga dan Prabu Barajang tetap dalam keadaan hidup. Maha Patih Kana Raga dan Prabu Barajang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan selama ini. Dan mereka berdua masih memiliki cap seorang buronan Gusti Patih."
Maha Patih Lare Damar sebenarnya ingin sekali membunuh Maha Patih Kana Raga dan Prabu Barajang pada saat itu juga. Tetapi perintah dari Prabu Jabang Wiyagra adalah perintah yang sangat sakral bagi dirinya.
"Baiklah. Mari kita bawa penjahat-penjahat ini ke istana."
"Mari Gusti Patih."
__ADS_1
Maha Patih Lare Damar dan Mangku Cendrasih langsung membawa Maha Patih Kana Raga beserta Prabu Barajang ke istana untuk dihadapkan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dan dalam sekejap semua orang yang ada di sana langsung lenyap, kecuali yang sudah mati. Para pasukan Prabu Barajang dibiarkan begitu saja di tempat itu. Setidaknya sampai pasukan kiriman dari Kerajaan Wiyagra Malela sampai di sana. Untuk membersihkan semuanya.
*
*
*
Dari kejauhan, ternyata Mbah Gagang mengawasi tempat itu dengan sangat cermat sedari tadi. Mbah Gagang sudah mengetahui secara pasti apa yang terjadi kepada Maha Patih Kana Raga dan Prabu Barajang. Sudah pasti mereka berdua akan ditempatkan di penjara bawah tanah, sebelum mereka dijatuhi hukuman pancung oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Namun, Mbah Gagang masih belum mengetahui kalau Nyi Dwi Sangkar sudah mati, karena sedari tadi dia hanya mengawasi pertarungan antara Maha Patih Lare Damar dan Prabu Barajang. Mbah Gagang belum kembali ke wilayah Kerajaan Bala Bathara. Karena Mbah Gagang percaya diri kalau Nyi Dwi Sangkar dan pasukannya akan menang. Padahal, tidak ada satupun pasukan Kerajaan Bala Bathara yang berhasil hidup.
Mereka semua mati di tempat, dan mayat-mayat mereka dibuang ke tengah lautan bersama dengan jasad Nyi Dwi Sangkar. Tidak akan ada sedikitpun jejak dari mereka yang bisa ditemukan oleh Mbah Gagang. Karena jika nanti Mbah Gagang sudah sampai di sana, semuanya sudah bersih. Di wilayah Kerajaan Bala Bathara hanya tersisa para prajurit penjaga desa dan kota, yang saat ini masih belum diserang oleh Panglima Galang Tantra dan yang lainnya.
Dikarenakan Maha Patih Lare Damar kembali ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, maka yang dikirimkan ke Padepokan Mbah Kangkas adalah Patih Rogo Geni. Prabu Jabang Wiyagra sudah menghubungi Prabu Sura Kalana untuk mengirimkan Patih Rogo Geni, untuk ditugaskan ke Padepokan Mbah Kangkas. Prabu Jabang Wiyagra juga merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Padepokan Mbah Kangkas.
Karena jika sesuai dengan rencana, seharusnya Mbah Kangkas sekarang ini sudah berada di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Tetapi selama Prabu Jabang Wiyagra menunggu, tidak ada kabar apapun dari Mbah Kangkas. Bahkan beberapa orang prajurit yang ia kirimkan ke Padepokan Mbah Kangkas juga tidak memberikan kabar apapun. Para prajurit yang dikirimkan itu belum kembali sampai sekarang.
Prabu Jabang Wiyagra merasa khawatir dengan keadaan Mbah Kangkas yang sudah tua. Apalagi dengan para pendekar, yang sebenarnya belum terlalu mampu untuk menghadapi musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang jumlahnya masih sangat banyak. Prabu Jabang Wiyagra lupa tidak memberitahu mereka, kalau di sebuah perbatasan wilayah Kerajaan Bala Bathara dan Kerajaan Putra Bathara, ada sebuah padepokan ilmu hitam yang didirikan oleh musuh Prabu Jabang Wiyagra dan musuh Sang Maha Guru.
__ADS_1