
Dengan bersatunya Kerajaan Batih Reksa yang sekarang dibawah pimpinan Kerajaan Wiyagra Malela, kekuatan Prabu Jabang Wiyagra semakin bertambah. Banyak raja-raja besar yang juga kemudian mulai mendatangi mereka, karena mereka semua lebih mendukung pergerakan yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Tidak ada satu pun dari raja-raja besar itu yang bisa menundukkan sikap dan sifat Prabu Sura Kalana yang keras kepala dan keras hatinya. Melihat persatuan dua kerajaan itu, akhirnya raja-raja besar pun baru dibuat percaya, kalau semua yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah murni untuk kepentingan banyak orang.
Apalagi Prabu Jabang Wiyagra juga tidak berhenti mengirimkan surat kepada Prabu Suta Rawaja, Prabu Bagas Candramawa, dan juga Prabu Bujang Antasura. Dia menawarkan perdamaian dan persatuan kepada ketiga raja besar itu. Namun sampai tiga bulan lamanya, tidak ada satu pun surat yang mereka balas. Dan tidak ada utusan dari mereka untuk menyampaikan apa pun.
Mereka diam dan bungkam. Entah mereka sedang berfikir, atau mereka sudah memutuskan untuk tetap melakukan perlawanan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Rentan waktu yang lama itu seharusnya sudah lebih dari cukup untuk memberikan sebuah keputusan besar. Karena itu adalah rentan waktu yang sangat lama.
Prabu Jabang Wiyagra juga sudah menghentikan invasinya ke beberapa wilayah ketiga kerajaan besar tersebut. Dia benar-benar memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa bernafas dengan lega, untuk sesaat. Namun jika niat baiknya dibalas dengan hal yang menyakitkan, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak segan untuk menyakiti mereka.
“Romo Prabu, sudah tiga bulan lamanya mereka diam dan bungkam. Apa tidak sebaiknya kita tidak mengirimkan utusan ke kerajaan mereka?” Tanya Prabu Sura Kalana.
Pagi itu Prabu Sura Kalana sudah berada di Kerajaan Wiyagra Malela untuk kembali mempertanyakan kabar soal penawaran yang Prabu Jabang Wiyagra berikan kepada ketiga raja besar itu. Prabu Jabang Wiyagra duduk disinggasananya yang megah dengan beberapa pelayan di kanan dan kirinya.
“Aku sudah mencoba berkali-kali mengirimkan surat kepada mereka, Nanda Prabu Sura kalana. Tapi aku tidak tahu pasti apa yang sedang mereka fikirkan saat ini.”
“....Aku hanya memiliki dua pendapat. Yang pertama, mereka berfikir panjang dan matang, karena ini adalah keputusan yang besar. Atau yang kedua, mereka sedang merencakan sesuatu untuk membalas dendam.”
__ADS_1
“......Dan soal pendapatmu mengirimkan utusan, itu pendapat yang sangat bagus Nanda Prabu. Tapi, aku masih tidak bisa melupakan penghinaan mereka kepadaku. Mereka mengirimkan kepala orang-orang yang aku utus ke kerajaan mereka. Aku tidak akan bisa melupakannya sampai kapan pun.”
“Jadi, apa keputusan Romo Prabu? Semua orang sedang menunggu keputusan dari Romo. Terutama pasukan saya Romo. Mereka tidak bisa bergerak ke sembarang tempat, karena beberapa wilayah mereka sedang dijaga dengan ketat.”
Prabu Jabang Wiyagra masih terus berusaha mencari celah untuk membereskan masalah ini tanpa harus berperang. Dia ingin menempuh jalan damai, karena dia sudah tidak mau lagi ada pertumpahan darah dari pihak mana pun.
“Nanda Prabu, apa kamu pernah mendengar soal adikmu? Dan juga Gabah Lanang?” Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
Pertanyaan dari Prabu Jabang Wiyagra membuat Prabu Sura Kalana heran. Karena baru kali ini dia mempertanyakan masalah itu kepadanya. Sebelumnya Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah membicarakan soal adik dan pamannya yang entah kemana.
Dengan santunnya, Prabu Sura Kalana menjelaskan soal masalah tersebut. Dia mengatakan kalau Ditya Kalana dan juga Gabah Lanang tidak pernah terdengat lagi. Mereka seakan lenyap ditelan bumi. Entah dimana mereka sekarang, tidak ada satu pun orang yang tahu.
“Tentu tidak Romo Prabu. Silahkan Romo. Katakan saja apa adanya.”
Prabu Jabang Wiyagra mulai mengurutkan ceritanya satu persatu. Saat Gabah Lanang ditahan di salah satu kerajaan kecil yang berada dibawah kepemimpinan Prabu Sura Kalana, murid Gabah Lanang, yaitu Kelabang Jagad menyusul ke penjara bawah tanah itu.
Namun, Mangku Cendrasih memindahkan Gabah Lanang yang terluka parah ke sebuah tempat yang jauh lebih mengerikan dari pada tempat sebelumnya. Dan disana juga ada Ditya Kalana dan Kelabang Jagad yang sama-sama sudah menjadi tahanan.
__ADS_1
Singkat cerita, hari demi hari pun berganti. Saat itu Gabah Lanang dan Ditya Kalana beradu mulut, setelah secara tidak sengaja, murid Gabah Lanang, yaitu Kelabang Jagad, mengatakan apa yang selama ini mereka lakukan dibelakang Ditya Kalana.
Mereka pun akhirnya saling adu jotos. Dan adu kemampuan. Gabah Lanang dibantu muridnya untuk menyerang Ditya Kalana. Walau pun Ditya Kalana sudah terluka parah, tapi dia masih sanggup mengalahkan Gabah Lanang dan Kelabang Jagad dengan sisa tenaganya.
Di dalam penjara yang cukup luas itu mereka bertarung cukup lama. Sampai mereka bertiga sama-sama terluka dan jatuh pingsan tak sadarkan diri. Luka mereka begitu parah dan sangat sulit diobati, sehingga Mangku Cendrasih dan murid-muridnya memindahkan kembali Gabah Lanang ke tempat lain.
Setelah dirawat, mereka bertiga pun akhirnya sadar. Meski mereka dibiarkan tetap diikat dengan rantai yang sangat kuat di seluruh tubuh mereka. Tapi entah bagaimana ceritanya, mereka bertiga berhasil melarikan diri tanpa diketahui oleh siapa pun.
Menurut Mangku Cendrasih melalui hasil penerawangannya, Gabah Lanang menggunakan Ajian Sirep Rogo Sukmo untuk membuat semua penjaga menjadi tidak sadarkan diri, sehingga dengan mudah mereka bertiga bisa bebas dari sana.
Setelah itu, mereka bertiga memutuskan untuk bersatu dan melupakan semua masalah pribadi mereka. Jelas saja, itu semua hanyalah tipu muslihat Gabah Lanang agar Ditya Kalana bisa terbujuk dan kembali percaya kepadanya.
Namun sepertinya hal itu tidak berlangsung lama, karena Ditya Kalana memutuskan untuk pergi sendiri dan memisahkan diri dari mereka berdua. Dari Gabah Lanang dan Kelabang Jagad. Dia pergi ke sebuah bukit yang terkenal dengan keangkerannya.
Bukit itu dikenal dengan nama Bukit Gendeng, karena bukit itu sangat angker dan sangat mengerikan. Siapa pun yang pergi ke bukit itu, pasti keluar dengan keadaan yang sudah tidak waras, atau menjadi gila, karena jiwa mereka dihisap oleh para bangsa lelembut jahat yang menguasai bukit tersebut.
Sedangkan Gabah Lanang dan Kelabang Jagad, mereka diketahui pergi ke tempat tinggal guru dari Gabah Lanang. Gabah Lanang memiliki seorang guru ilmu hitam yang bernama Ki Damar Ireng.
__ADS_1
Ki Damar Ireng sendiri adalah seorang guru ilmu hitam yang sangat sakti mandaraguna. Dan dia sudah hidup selama ribuan tahun, jauh sebelum Kerajaan Reksa Digdaya ada. Yang berarti, Ki Damar Ireng tidak bisa mati, atau abadi karena kesaktian yang ia miliki.