
Keadaan Prabu Bujang Antasura semakin hari semakin memprihatinkan. Tubuhnya mulai kurus secara perlahan. Nampak garis hitam dikantung matanya. Wajahnya juga putih pucat.
Efek benturan dari ilmu kanuragan dan juga kekuatan pusaka milik Ditya Kalana dan juga milik Prabu Bujang Antasura benar-benar sangat luar biasa. Prabu Bujang Antasura tidak pernah mengalami sakit yang separah ini.
Disana sudah hadir Prabu Bagas Candramawa yang sedang menjenguknya. Prabu Bagas Candramawa sudah berhari-hari ada disana. Dia sangat prihatin dengan keadaan sahabatnya itu.
“Aku sama sekali tidak tahu kalau Prabu Bujang Kalana berperang dengan Gabah Lanang. Aku terlalu sibuk mengurus pemerintahanku yang baru saja tumbuh. Maafkan aku sahabatku.” Ucap Prabu Bagas Candramawa sembari menggengam tangan kanan sahabatnya itu.
“Tidak perlu bersedih sahabatku. Aku akan sembuh. Seorang anak sakti mandraguna telah dikirimkan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepadaku. Aku pasti akan sehat seperti sedia kala.” Jawab Prabu Bujang Antasura.
Dalam keadaan sakitnya itu, dia masih memikirkan pemerintahannya, dan masih bisa tersenyum kepada setiap orang yang hadir dihadapannya. Tidak sedikit pun dia menunjukkan kesedihannya.
“Sudahlah sahabatku. Jangan dulu memikirkan soal pemerintah kerajaanmu. Aku sudah mengutus Maha Patih Widhala untuk mengurus semuanya. Sekarang, tidak ada lagi rakyat yang membencimu.” Ucap Prabu Bagas Candramawa untuk menenangkan Prabu Bujang Antasura.
Padahal, sampai saat ini masih ada rakyat yang tidak suka kepada Prabu Bujang Antasura. Karena ulahnya yang suka gradag-grudug, banyak raja-raja dibawah kekuasaannya yang mati.
Saat ini, Maha Patih Widhala sedang berusaha keras untuk mendamaikan kembali kerajaan-kerajaan kecil yang berbalik menyerang Prabu Bujang Antasura.
Banyak juga dari mereka yang akhirnya mulai sadar dan kembali bergabung dengan Kerajaan Antasura. Tapi tidak sedikit juga yang masih berusaha untuk melepaskan diri. Karena mereka sudah sangat geram kepada Prabu Bujang Antasura.
Maha Patih Widhala mengutamakan jalan damai kepada seluruh rakyat Kerajaan Antasura. Karena jika mengutamakan kekerasan, maka akan semakin banyak orang yang justru terprovokasi dengan hal tersebut.
Sebenarnya Maha Patih Widhala dan Prabu Bagas Candramawa sudah membantu memberikan santunan, dan bahkan membangun istana mereka yang ditinggalkan oleh rajanya. Tapi tetap saja mereka masih belum bisa menerima semua itu.
Padahal, para raja yang mati pun sudah berpamitan kepada keluarga mereka. Begitu juga dengan Prabu Bujang Antasura yang tidak menjanjikan kepada mereka, kalau semuanya akan berjalan dengan baik.
Namun setelah semuanya terjadi, mereka yang kecewa pun melampiaskan amarah mereka kepada Kerajaan Antasura. Dan berusaha memberontak dengan semua kekuatan yang mereka miliki.
Maha Patih Widhala sudah tahu, kalau ada sekelompok orang yang selalu berusaha memprovokasi mereka semua. Sekelompok orang yang tidak seberapa jumlahnya ini entah datang dari mana.
Yang jelas mereka melakukan serangan kepada kerajaan-kerajaan kecil yang dendam kepada Prabu Bujang Antasura, dengan mengatas namakan utusan dari Kerajaan Antasura.
Padahal Prabu Bujang Antasura tidak pernah mengutus siapa pun untuk melakukan penyerangan kepada rakyatnya sendiri. Sekejam apa pun Prabu Bujang Antasura, dia tidak pernah memperlakukan rakyatnya dengan kejam.
Masalah itu ditutup-tutupi oleh Prabu Bagas Candramawa dan Maha Patih Widhala, juga semua orang yang ada di dalam istana Kerajaan Antasura. Karena mereka khawatir, kalau nanti akan menambah beban pikiran Prabu Bujang Antasura.
“Apa kamu yakin sahabatku? Kalau rakyatku tidak akan memberontak kepadaku?” Tanya Prabu Bujang Antasura kepada Prabu Bagas Candramawa.
__ADS_1
“Tentu saja tidak sahabatku. Mereka sudah mengetahui semuanya. Mereka semua sudah mengerti dan memahami apa yang telah terjadi di pertempuran itu.”
“.....Rakyatmu sangat mencintaimu, Prabu Antasura. Walau pun mereka tidak di tempat ini, bukan berarti mereka tidak peduli.”
“Ya. Aku percaya kepadamu, Prabu Candramawa.”
Lare Damar dan Patih Kinjiri tiba-tiba datang dan meminta izin kepada Prabu Bujang Antasura, kalau mereka harus pergi ke suatu tempat, untuk mengambil sesuatu yang bisa menjadi obat sakit Prabu Bujang Antasura.
Lare Damar mendapatkan sebuah petunjuk, kalau ada orang sakti mandraguna yang tinggal di sebuah gunung berapi. Dan dia adalah penguasa dari gunung itu. Tapi gunung tersebut sangatlah berbahaya dan tidak sembarang orang bisa kesana.
“Sebuah gunung berapi? Apa kamu yakin Lare Damar? Aku bukannya meremehkanmu. Tapi apa kamu mau membahayakan dirimu sendiri untuk orang yang baru kamu kenal ini?” Ucap Prabu Bujang Antasura.
“Dengan segala hormat Gusti Prabu. Hamba datang ke tempat ini atas titah dari Kakang Prabu Jabang Wiyagra. Perintahnya adalah hukum mutlak bagi hamba.” Jawab Lare Damar.
“Hatimu begitu mulia Lare Damar. Tapi kalau aku boleh tahu, dimana gunung itu berada?”
“Gunung itu terletak di tempat paling ujung dari Tanah Jawa. Gunung itu adalah Gunung Khayangan, Gusti Prabu.”
Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa terkejut mendengar nama gunung tersebut. Karena tidak ada satu pun orang yang bisa selamat dari pengaruh ghaib Gunung Khayangan.
“Lare Damar, itu gunung yang sangat-sangat berbahaya. Kamu bisa mati jika pergi kesana. Jangan, biarkan saja aku sakit. Aku tidak mau mengorbankan siapa pun Lare Damar.”
“.....Pertempuran itu sudah cukup bagiku. Aku tidak mau menanggung rasa bersalah seumur hidupku, karena aku mengorbankanmu demi kesembuhanku.” Ucap Prabu Bujang Antasura.
Prabu Bagas Candramawa juga melarang Lare Damar untuk pergi kesana. Karena sudah banyak tokoh sakti yang pergi ke gunung itu, tapi tidak pernah terdengar kabarnya lagi.
“Mohon maaf Gusti Prabu. Hamba berniat baik untuk menolong seseorang. Kata Sang Maha Guru, niat baik akan dibalas dengan hal yang baik pula.”
“Hamba berjanji, hamba akan pulang dan berkumpul kembali di tempat ini bersama dengan Gusti Prabu Bujang Antasura. Dan kembali ke Wiyagra Malela.”
Prabu Bujang Antasura meneteskan air mata mendengar ucapan itu. Seumur hidupnya, yang dia pelajari hanyalah bagaimana caranya menjadi penguasa yang adikuasa. Kalimat ini benar-benar menyentuh hatinya.
“Lare Damar, kalau sudah keputusanmu seperti itu, maka aku tidak dapat melarangnya. Tapi, ada baiknya kamu meminta izin terlebih dahulu kepada Prabu Jabang Wiyagra. Mintalah restu darinya.”
“Baik Gusti Prabu. Hamba dan Patih Kinjiri izin pamit. Doakan hamba Gusti Prabu.”
“Ya. Doaku selalu menyertaimu Lare Damar. Berhati-hatilah saudaraku.”
__ADS_1
“Nggih Gusti.”
Lare Damar dan Maha Patih Kinjiri pun keluar dari istana Kerajaan Antasura. Setelah sampai di pintu gerbang, mereka menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk sampai dengan cepat ke Kerajaan Wiyagra Malela.
Mereka berdua terbang dengan amat sangat cepat. Bahkan sangat cepat bagaikan kilat. Sudah puluhan desa mereka lewati. Bahkan mereka berdua bisa melihat dengan jelas keberadaan Gunung Khayangan.
Gunung itu menjulang tinggi. Orang-orang bahkan menyebutnya dengan ‘Gunung Sundul Langit’. Karena gunung itu sangat tinggi, dan ketinggiannya hampir mencapai ujung langit.
Tak bisa dibayangkan kalau mendatangi gunung itu dengan berjalan kaki. Bisa berhari-hari, atau bahkan berbulan-bulan lamanya. Tak bisa dibayangkan pula bagaimana kalau gunung itu meletus. Pasti akan banyak hal mengerikan yang terjadi.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di depan gerbang istana Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka heran, karena disana sudah ada Prabu Jabang Wiygara yang menunggu mereka berdua.
“Akhirnya kalian berdua sampai juga. Aku sudah tahu apa yang akan kalian lakukan. Aku mengizinkan kalian berdua untuk pergi ke Gunung Khayangan.”
Lare Damar dan Patih Kinjiri saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua heran, karena Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui niat kembalinya mereka ke Kerajaan Wiyagra Malela.
“Namun ingat Lare Damar, dan Patih Kinjiri. Ujian disana jauh lebih berat dari apa yang kalian bayangkan. Semua perbuatan yang kalian lakukan, akan dipertontonkan kepada kalian.”
“.....Bukan hanya itu, jika kalian merubah sedikit saja niat kalian, maka kalian akan selamanya diperbudak oleh Gunung Khayangan. Apa kalian paham?”
“Paham Gusti Prabu.”
“Luruskan dan mantapkan niat kalian. Jangan pernah mau diperdaya oleh Gunung Khayangan dengan seluruh keindahannya. Tetap berjalan, jangan berhenti. Sekali pun kalian harus merangkak.”
“.....Disana akan ada seorang tokoh sakti mandraguna yang tidak akan mempan dengan kesaktian apa pun. Dia dikenal dengan nama, Eyang Badranaya.”
“.....Hanya orang-orang yang berniat tulus yang bisa bertemu dengannya. Jika kalian berniat buruk, atau hanya ingin memuaskan ambisi kalian, maka selamanya kalian akan berputar di Gunung Khayangan.”
“.....Dan tidak akan pernah bisa kembali.”
Jelas Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka berdua.
Mereka berdua pun menarik nafas dalam-dalam, karena mereka sudah tahu, kalau ini adalah ujian yang amat sangat berat untuk mereka berdua.
Namun janji adalah janji. Janji harus ditepati. Niat mereka sudah mantap dan sulit untuk digoyahkan. Mereka tidak akan kembali sebelum mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Pada akhirnya, mereka berdua pun berangkat ke Gunung Khayangan. Namun kali ini, mereka berjalan kaki dan tidak menggunakan ilmu kesaktian mereka. Semua itu dilakukan untuk menguji kesabaran mereka, seberapa kuat mereka menempuh perjalanan jauh dan panjang, yang sangat melelahkan.
__ADS_1