DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 55


__ADS_3

Patih Kinjiri bersama Lare Damar sudah sampai di kaki Gunung Khayangan. Gunung itu nampak indah dipandang. Tidak ada satu pun hal mengerikan yang mereka temukan di tempat itu.


Suara-suara kicauan burung, suara gemericik air, dan juga angin yang sepoi-sepoi membuat suasana di tempat itu semakin indah. Patih Kinjiri heran, tempat seindah itu tidak pernah dijamah oleh siapa pun.


“Benar-benar sangat disayangkan. Tempat seindah ini, tapi tidak berpenghuni.” Ucap Patih Kinjiri.


“Jangan tergoda Patih. Tempat ini tidak nampak seperti apa yang Patih lihat.”


“Maksudmu?”


“Gunakan mata batin Patih Kinjiri untuk melihat semuanya.”


Patih Kinjiri langsung duduk bersila dan menutup kedua matanya, dia menggunakan ketajaman mata batinnya untuk melihat apa saja yang ada di tempat ini. Barulah dia terkejut. Karena keindahan ini ternyata hanya sebuah tipuan.


Setelah dia kembali membuka matanya, seketika keindahan tempat ini berubah menjadi kesuraman yang sangat mengerikan. Padahal, awalnya Patih Kinjiri merasakan sesuatu yang sangat baik di tempat ini.


Tapi setelah dia melihat dengan kedua matanya dengan seksama, tempat ini jauh lebih buruk dari tempat apa pun yang ada di dunia ini. Dan kengerian yang ada di tempat ini tidak pernah ia lihat di tempat lain.


“Luar biasa! Dua anak manusia yang sangat luar biasa!”


Tiba-tiba terdengar satu suara di sekitar mereka. Mereka melihat kesana-kemari, tapi tidak ada siapa pun. Yang mereka temukan hanyalah rimbunnya pepohonan dan bebatuan, tak ada satu orang pun disana.


“Siapa kau! Keluarlah!” Teriak Patih Kinjiri.


“Sebaiknya bersiaplah Patih. Karena ada sesuatu yang buruk yang sedang menuju ke arah kita.” Ucap Lare Damar.


Di tempat yang sempit itu, mereka berdua saling bersiap satu sama lain, memasang kuda-kuda. Suasana di tempat itu seketika hening tanpa suara apa pun. Bahkan tidak ada angin yang menyapu mereka sedikit pun di tempat itu.

__ADS_1


Namun tak lama dari itu, mereka berdua merasakan kalau tanah bergetar. Dan terdengar suara-suara yang sangat ribut dari arah atas mereka. Mereka tidak bisa melihat dengan jelas, karena tempat itu dipenuhi dengan kabut.


“Patih, naiklah ke punggungku.”


“Apa?!”


Sekejap, Lare Damar berubah menjadi seekor beruang berwarna hitam pekat. Dia kemudian meraung memberikan tanda kepada Patih Kinjiri, agar cepat naik ke punggungnya.


Patih Kinjiri langsung naik ke punggung Lare Damar. Dia memegang pundak Lare Damar erat-erat. Karena saat itu Lare Damar berlari dengan sangat kencang.


“Perhatikan jalanmu Lare Damar! Ini jalan yang sempit! Kita bisa mati kalau jatuh ke bawah!”


Saat itu Lare Damar memacu dirinya dengan sangat cepat, sehingga dalam waktu yang singkat, mereka sudah sampai di bagian tengah gunung. Dan mereka berdua berada di tempat yang cukup luas.


Lare Damar pun kembali merubah wujudnya menjadi manusia. Dia bersiap dengan mengambil tongkat yang selalu ia bawa dipunggungnya. Begitu juga dengan Patih Kinjiri yang bersiap dengan kedua pedangnya.


“Kalian sudah masuk ke wilayah kami tanpa izin!” Ucap salah satu dari mereka.


“Maafkan kelancangan kami. Tapi sungguh, kami tidak berniat buruk. Kami hanya ingin bertemu dengan pemilik Gunung Khayangan.” Jawab Lare Damar.


“Anak manusia! Hatimu memang bersih! Tapi untuk membuktikannya, mari kita lihat, apakah kamu memang pantas untuk bertemu dengan tuan kami!”


Segerombolan manusia kera itu pun langsung menyerang Lare Damar dan Patih Kinjiri. Namun Lare Damar dan Patih Kinjiri hanya menghindari serangan mereka. Karena mereka sudah paham, kalau ini adalah salah satu ujian yang harus mereka lewati.


Jika mereka sampai melukai segerombolan kera itu, maka sampai kapan pun mereka tidak akan sampai ke atas. Dan selamanya mereka akan menghadapi kawanan manusia kera yang tidak ada habisnya.


Mereka berdua pun melompat kesana-sini untuk menghindari serangan dari para manusia kera itu. Mereka berdua menggunakan senjata mereka hanya untuk menangkis, bukan untuk menyerang.

__ADS_1


Kawanan manusia kera itu terus menghasut mereka dan memanas-manasi mereka berdua, agar mereka marah, dan menyerang para manusia kera itu. Tapi hal itu sama sekali tidak berhasil.


Bahkan Patih Kinjiri yang mudah tersulut emosinya pun, sekarang dia sudah bisa mengendalikan emosinya. Dan dia terus berada di dekat Lare Damar, agar para gerombolan kera itu kebingungan.


“Sang Hyang Tunggal, berikan kekuatan kepada hambamu ini untuk menundukkan api amarah yang ada di dalam diri hamba.” Ucap Patih Kinjiri di dalam hatinya.


“Ayo serang! Serang! Keluarkan kesaktianmu Kinjiri! Keluarkan!”


Namun Patih Kinjiri masih tetap bertahan. Dia bahkan mencoba untuk tertawa, agar amarahnya teralihkan. Walau pun dia tidak tahu apa yang dia tertawakan. Yang terpenting, dia bisa meredam amarahnya.


Patih Kinjiri dan Lare Damar meledek mereka semua. Supaya amarah itu berbalik kepada para manusia kera itu. Inilah salah satu ujian berat yang harus mereka lewati di gunung ini.


Mereka tidak boleh marah, tidak boleh mengeluh, tidak boleh beristirahat terlalu lama, dan mereka harus tetap dalam tujuan mereka. Sampai sedikit saja mereka memiliki niat lain, maka mereka dinyatakan gagal.


Para manusia kera itu sepertinya mulai kelelahan. Mereka semua kemudian berhenti menyerang Patih Kinjiri dan Lare Damar. Gerombolan manusia kera itu ternyata hanyalah satu yang asli.


Sedangkan yang lainnya hanyalah pecahan raganya saja. Karena kera yang sakti ini, memiliki kemampuan memecah raganya menjadi sangat banyak. Sehingga jarang sekali orang yang bisa membedakan mana yang asli dan mana yang hasil pecahan.


Pendekar siluman kera itu pun merasa kagum kepada mereka berdua. Karena jarang sekali orang yang bisa melewati ujian kesabaran ini. Rata-rata orang akan mengeluarkan ilmu kesaktian yang mereka miliki.


“Maafkan aku manusia. Namun ini adalah tugasku. Aku kagum dengan kalian berdua, yang sanggup menundukkan api amarah dalam diri kalian. Sekarang, terimalah hadiah dariku.” Ucap siluman kera.


Pendekar siluman kera memberikan suatu kekuatan kepada Lare Damar dan Patih Kinjiri, berupa sebuah kemampuan untuk menambahkan jumlah suatu benda, apa pun itu. Tapi dengan rupa yang tetap sama.


“Aku telah memberikan suatu kemampuan kepada kalian. Gunakan itu dengan bijak. Jika kalian memegang satu batu, maka kalian bisa memperbanyak jumlah batu itu dengan kemampuan yang telah aku berikan kepada kalian.”


“Terimakasih, pendekar siluman kera. Kami berdua akan menggunakannya dengan bijak.” Ucap Lare Damar.

__ADS_1


Pendekar siluman kera itu pun pergi dari tempat tersebut. Sekejap dia sudah menghilang dari pandangan mata. Sedangkan Patih Kinjiri dan Lare Damar, mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Karena tidak akan lama lagi, mereka akan segera sampai di tujuan mereka.


__ADS_2