DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 117


__ADS_3

Maha Patih Putra Candrasa mulai merasakan kalau tempat di sekitarnya terasa jauh lebih panas. Namun yang aneh adalah, tanah yang dia pijaki terasa sangat dingin. Sehingga membuatnya merasakan dingin dan panas yang luar biasa secara bersamaan.


Seumur hidupnya, dia baru merasakan hal seperti ini. Maha Patih Putra Candrasa tidak tahu dia akan dibawa ke mana. Maha Patih Putra Candrasa hanya mengikuti kata hatinya, untuk terus berjalan ke depan.


Maha Patih Putra Candrasa berjalan dan terus-menerus berjalan, hingga dia sampai di sebuah rumah kayu yang ukurannya sangat besar. Dan rumah kayu itu menutupi seluruh jalan yang sedang ia lewati. Perlahan, Maha Patih Putra Candrasa mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah tersebut.


Dia mencoba membuka pintunya, yang saat itu tidak terkunci. Maha Patih Putra Candrasa kemudian masuk ke dalam rumah yang sangat gelap itu. Dan secara mengejutkan tiba-tiba banyak sekali faktor yang menyala di rumah itu. Yang lebih mengejutkan lagi adalah obor-obor itu dipegang oleh keluarganya.


Padahal semua orang pun tahu, kalau keluarga dari Maha Patih Putra Candrasa sudah tiada. Maha Patih Putra Candrasa adalah orang yang hidup Sebatang Kara dan terlunta-lunta di jalanan. Tetapi saat ini keluarganya ada di sana rambutnya dengan sangat hangat.


Di sana juga terdapat sebuah meja yang sangat lebar. Dan juga dipenuhi dengan makanan-makanan yang sangat enak. Namun entah kenapa, Maha Patih Putra Candrasa sama sekali tidak nafsu melihat makanan-makanan itu. Dia bahkan tidak merasa bahagia sama sekali saat bertemu dengan keluarganya.


Semua rasanya seakan sudah mati. Tidak merasakan kebahagiaan dan juga tidak merasakan kesedihan. Maha Patih Putra Candrasa Hanya duduk terdiam Saat semua orang yang ada di sana mempersiapkan makanan untuknya. Maha Patih Putra Candrasa mencoba menenangkan dirinya untuk mencerna semua kejadian ini.


"Semua ini sama sekali tidaklah nyata. Aku pasti terjebak di dalam alam pikiranku sendiri." Ucap Maha Patih Putra Candrasa dalam hatinya.


Dia mencoba terus berdoa dan berdoa tanpa berhenti. Bahkan dia sama sekali tidak mau menyentuh makanan lezat yang sekarang sudah disediakan di hadapannya. Semua orang yang ada di sana mencoba untuk memaksa Maha Patih Putra Candrasa untuk memakan makanan yang sudah disediakan.


Namun Maha Patih Putra Candrasa tetap berusaha keras agar tidak memakan makanan tersebut. Karena dia yakin kalau semua ini sama sekali tidaklah nyata, dan bisa saja ini semua adalah sebuah jebakan untuk dirinya. Kalau dia sampai gagal, maka dia tidak akan pernah bisa kembali lagi.

__ADS_1


Karena tidak mau memakan makanannya, semua orang yang ada di rumah itu pun menjadi marah. Mereka mulai berusaha menyerang Maha Patih Putra Candrasa senjata apa saja ada yang menggunakan golok, celurit, dan ada yang menyerang menggunakan kayu.


Maha Patih Putra Candrasa sama sekali tidak memberikan perlawanan. Dia hanya menghindar dan terus menghindar, sembari berusaha membuka pintu rumah itu yang sekarang sudah terkunci sangat rapat. Maha Patih Putra Candrasa berusaha menendang pintu kayu itu. Tapi sama sekali tidak berhasil.


Orang-orang yang menyerangnya semakin ganas dan semakin beringas. Tetapi Maha Patih Putra Candrasa merasa tidak tega untuk melawan mereka semua. Karena yang nampak di matanya, mereka adalah keluarganya sendiri. Sehingga Maha Patih Putra Candrasa tidak mau menyakiti mereka.


Dan pada saat Maha Patih Putra Candrasa mencoba mengingatkan mereka, mereka justru menjadi semakin beringas saja. Yang aneh lagi adalah semua orang yang ada di rumah itu memiliki ilmu bela diri yang sangat baik. Sehingga membuat Maha Patih Putra Candrasa menjadi kewalahan untuk menghindari serangan mereka.


"Hentikan semuanya! Hentikan! Sudah cukup!" Teriak Maha Patih Putra Candrasa kepada mereka semua.


Kamu semua orang itu tidak mendengarkan Maha Patih Putra Candrasa. Mereka terus menyerang dan menyerang Maha Patih Putra Candrasa. Sampai pada akhirnya Maha Patih Putra Candrasa berhasil mendobrak pintu dan langsung keluar menuju halaman rumah kayu itu.


Maha Patih Putra Candrasa sangat tidak menyangka kalau akan terjadi hal seperti ini. Dan sesaat kemudian rumah kayu tersebut sudah menghilang dari tengah jalan. Maha Patih Putra Candrasa semakin dibuat tercengang dengan hal itu.


Maha Patih Putra Candrasa sulit menebak apa yang akan terjadi kedepannya, karena hampir semua ilmunya seakan tidak berguna lagi. Ilmunya tidak bisa ia gunakan dengan baik. Maha Patih Putra Candrasa berusaha untuk tetap fokus dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Buru-buru Maha Patih Putra Candrasa melanjutkan perjalanannya. Dan tidak terasa, dia sudah sampai di sebuah desa yang sangat sepi, seakan tidak berpenghuni. Di sepanjang jalan desa tersebut, Maha Patih Putra Candrasa hanya melihat beberapa orang saja yang berlalu lalang.


Maha Patih Putra Candrasa terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap sinis ke arahnya. Dia mencoba berjalan cepat dan menundukkan kepalanya. Orang-orang yang ada disana pakaiannya sangat berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh Maha Patih Putra Candrasa.

__ADS_1


Kebanyakan dari mereka memakai jubah panjang berwarna putih. Begitu juga dengan orang-orangnya. Mereka semua memiliki rambut yang putih. Baik anak-anak, atau pun orang yang sudah dewasa. Hidung mereka juga lebih mancung dari pada orang-orang pada umumnya.


Maha Patih Putra Candrasa tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang memakai pakaian serba hitam. Orang itu bertubuh lebih pendek dari dirinya, hanya sebatas pundak. Tapi tubuhnya kekar dan tegap. Orang itu langsung menarik tangan Maha Patih Putra Candrasa.


"Hey! Kenapa bisa disini?! Ayo ikut!" Ucap orang itu sembari menarik tangan Maha Patih Putra Candrasa.


"Tunggu dulu! Kamu siapa?!"


"Sudah ayo ikut saja dulu! Ayo cepat! Sebelum mereka semua menyantapmu!"


Orang itu memegang tangan Maha Patih Putra Candrasa dengan sangat kencang. Dia juga menarik sembari berlari dengan sangat cepat, dan membuat Maha Patih Putra Candrasa menjadi semakin panik. Namun Maha Patih Putra Candrasa merasa kalau orang ini adalah orang yang baik.


Terlihat dari raut wajahnya yang nampak ramah dan tidak sinis seperti yang lainnya. Dia juga terus memberikan arahan kepada Maha Patih Putra Candrasa untuk tidak berjalan sendirian saat orang-orang berjubah putih sedang berkeliaran di desa ini.


Setelah cukup jauh dari jalanan, Maha Patih Putra Candrasa dan orang itu sampai di sebuah rumah. Rumah itu terbuat dari batu yang ditumpuk, tapi terlihat sangat indah dan rapi.


"Akhirnya kita sampai juga. Istirahatlah terlebih dahulu. Aku akan mengambilkan minum di dalam." Ucap orang itu.


"Ya. Terimakasih." Jawab Maha Patih Putra Candrasa yang masih terengah-engah.

__ADS_1


Nafasnya terasa seakan mau habis karena berlari sangat kencang dan sangat jauh, melewati jalanan sempit yang nenanjak, dan dipenuhi dengan bebatuan serta pepohonan yang sangat rimbun. Rumah itu memang terletak di tempat yang tinggi.


Sehingga Maha Patih Putra Candrasa bisa melihat ke segala arah dengan sangat jelas tanpa terhalang oleh apa pun. Kabut di tempat ini juga sangat tebal. Udaranya terasa sangat dingin menusuk tulang. Padahal tubuh Maha Patih Putra Candrasa berkeringat, karena berlari dengan sangat cepat.


__ADS_2