DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 28


__ADS_3

Setelah kematian seorang pejabat di pasar terbesar yang ada di Kerajaan Antasura, ada beberapa kejadian janggal lagi yang terjadi. Dan kebanyakan dari mereka yang menjadi korban adalah para pejabat yang memegang kedudukan penting.


Para raja dari kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Antasura pun menjadi ketar-ketir karena mereka takut dibunuh secara diam-diam.


Sebagian dari mereka datang secara bersama-sama ke istana Kerajaan Antasura untuk menyampaikan keluhan mereka kepada Prabu Bujang Antasura.


Dan permintaan mereka sama, yaitu untuk meminta perlindungan dari Prabu Bujang Antasura. Padahal, kurang satu hari lagi Prabu Bujang Antasura akan mengakan pesta ulang tahunnya.


Semua persiapan sudah dilakukan. Undangan sudah disebar ke semua orang-orang penting yang berada dibawah kekuasaannya, termasuk para raja yang sekarang datang ke istananya.


Tidak mungkin kalau pesta itu dibatalkan begitu saja. Sudah banyak para raja yang datang dari jauh sedang berangkat menuju ke istana ini. Kalau dibatalkan, mereka bisa kecewa. Karena mereka sudah datang dari jauh dan mempersiapkan hadiah khusus untuk raja besar mereka, Prabu Bujang Antasura.


Prabu Bujang Antasura pun dengan terpaksa memerintahkan Maha Patih Bala Antasura untuk mengeluarkan pasukan khusus yang mereka miliki, guna memperketat setiap penjagaan di masing-masing istana yang berada dibawah kekuasaannya. Padahal, pasukan khusus kerajaan ini juga sebentar lagi akan menghadapi pertempuran.


Namun karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang raja, maka dengan berbagai pertimbangan, Prabu Bujang Antasura dengan terpaksa memberikan perintah itu.

__ADS_1


Lagi pula, menurutnya jumlah pasukan khusus yang ia miliki tidak harus semuanya ia keluarkan, karena sekarang jumlah mereka sudah lebih dari cukup jika untuk dibagi-bagi di setiap wilayah kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah kekuasaanya.


Yang terpenting bagi Prabu Bujang Antasura adalah keamanan para pengikutnya. Sedangkan di istana sendiri sudah banyak sekali orang-orang hebat yang sekarang berada disampingnya, dan siap mati untuknya. Menjaganya siang dan malam. Tidak mungkin ada orang yang berani menyerangnya dengan penjagaan yang sangat-sangat ketat.


Prabu Bujang Antasura juga tidak mau pesta yang berlangsung hanya satu kali dalam setahun itu gagal hanya karena masalah yang menurutnya masih bisa diselesaikan dengan mudah. Padahal, keputusan Prabu Bujang Antasura untuk tetap mengadakan pesta itu adalah sebuah keputusan yang sangat salah.


Biar bagaimana pun, musuh yang ia hadapi sekarang ini bukanlah prajurit baru, atau pun pendekar amatiran. Tetapi pendekar kelas kakap yang sudah terbiasa membunuh. Dan mereka sudah sangat berpengalaman untuk membuat kekacauan. Hanya dengan tatapan mata saja, mereka sudah mampu melumpuhkan seseorang.


Tapi rasa percaya diri yang terlalu tinggi membuat Prabu Bujang Antasura tidak berfikir sampai kesana. Dia tidak akan pernah menyangka, kalau pesta ulang tahunnya akan menjadi bencana.


......................


Kerajaan Wiyagra Malela bisa hancur, karena hingga saat ini, Prabu Jabang Wiyagra dan Ratu Ayu Anindya belum dikaruniai seorang anak. Kalau Prabu Jabang Wiyagra sampai terbunuh, maka dia tidak memiliki pewaris tahta, kecuali istrinya sendiri.


“Kanda, Dinda hanya khawatir dengan keselamatan Kakanda. Kita belum memiliki keturunan. Sudah bertahun-tahun kita menikah. Tapi Yang Maha Kuasa belum memberikan berkah keturunan kepada kita. Nanti siapa yang akan meneruskan tahta?” Ucap Ratu Ayu Anindya sembari memeluk suaminya.

__ADS_1


“Tenang Dinda. Yang Maha Kuasa pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk kita. Kanda yakin, Yang Maha Kuasa tidak memberikan keturunan karena Dia ingin Kanda menyelesaikan dulu tugas Kanda. Atau mungkin, Yang Maha Kuasa memiliki alasan yang lain. Sebentar lagi peperangan besar akan dimulai. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, Dinda.”


“Itulah yang Dinda khawatirkan, Kakanda. Selama masa peperangan, pasti Kanda akan sibuk dengan urusan perang. Dan kita jarang memiliki waktu untuk bersama. Apalagi kalau....”


“Ssst.... Sudahlah Dinda. Doakan saja Kanda. Ya?”


Kekhawatiran Ratu Ayu Anindya bisa dimaklumi. Karena dia sangat mencintai suaminya. Setiap hari sebenarnya Ratu Ayu Anindya selalu khawatir dengan keadaan Prabu Jabang Wiyagra yang suka menekan dirinya sendiri.


Memang, semua yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra adalah untuk kepentingan orang banyak, tapi tetap saja naluri seorang istri tidak bisa dibohongi. Ingin rasanya, sekali saja dalam sehari ia tidak mendengar Prabu Jabang Wiyagra membicarakan soal pemerintahan kerajaannya.


Dia ingin sekali Prabu Jabang Wiyagra lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatannya. Prabu Jabang Wiyagra sering sekali terbangun di malam hari hanya untuk memastikan para prajurit yang berjaga di istana baik-baik saja.


Prabu Jabang Wiyagra juga tidak akan makan sebelum para dayang dan para pelayan istana makan terlebih dahulu. Karena menurutnya, posisi mereka menjadi seorang pelayan jauh lebih lelah dari pada menjadi seorang raja.


Seorang pelayan harus bangun terlebih dahulu sebelum Sang Raja bangun.

__ADS_1


Semua pakaian, tempat, dan berbagai hidangan, sudah harus siap sebelum Sang Raja beranjak dari kamar tidurnya. Dan mereka juga harus membersihkan tempat tidur Sang Raja ketika Sang Raja sudah beranjak dari kamarnya.


Prabu Jabang Wiyagra memperlakukan setiap abdi istana seperti keluarganya sendiri. Bahkan para pelayan yang memasak untuknya juga sering diajak makan satu meja dengannya. Karena rasa menghargai tanpa membeda-bedakan itulah yang membuat Prabu Jabang Wiyagra dicintai oleh semua orang.


__ADS_2