
Prabu Jabang Wiyagra terus berusaha untuk menyadarkan Maha Patih Kumbandha, dari pengaruh Buta Karang. Maha Patih Kumbandha dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Dia kesulitan untuk mengendalikan amarah yang ada di dalam dirinya. Apalagi dengan godaan-godaan yang terus Buta Karang berikan kepada dirinya. Membuatnya semakin kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri. Tubuh Maha Patih Kumbandha perlahan-lahan mulai lemas. Dalam keadaan yang sudah setengah sadar itu, Maha Patih Kumbandha seakan dibawa melayang-layang suatu tempat.
Meskipun hal itu hanya ada di dalam pikirannya, tetapi Maha Patih Kumbandha merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian. Dia sudah tidak lagi mengingat apa yang sedang ia lakukan di tempat tersebut. Padahal, semua orang sedang gencar-gencarnya melawan Buta Karang. Begitu juga dengan Prabu Jabang Wiyagra, ya masih terus berusaha untuk menolongnya. Tetapi karena sudah masuk terlalu dalam, Maha Patih Kumbandha pun sangat sulit untuk diselamatkan. Prabu Jabang Wiyagra sudah menghabiskan banyak tenaganya untuk menyadarkan Maha Patih Kumbandha.
Sayangnya semua usaha yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra sia-sia belaka. Saat itu juga, Buta Karang langsung mengarahkan serangannya kepada Maha Patih Kumbandha. Semua orang yang sedang dalam keadaan melemah, yang salah satunya adalah Prabu Sura Kalana, tidak bisa berbuat apa-apa, saat Buta Karang perlahan mulai menghisap jiwa Maha Patih Kumbandha. Prabu Jabang Wiyagra yang berusaha menarik kembali Maha Patih Kumbandha, pun hampir saja ikut terhisap kekuatan yang dikeluarkan oleh Buta Karang. Semua orang hanya bisa pasrah dengan keadaan Maha Patih Kumbandha.
Tapi sepertinya, di sini Buta Karang sedikit mengalami kesulitan. Ilmu yang ia gunakan seperti tertahan oleh sesuatu. Buta Karang sendiri mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia merasa kalau ada yang tidak biasa dengan jiwa Maha Patih Kumbandha. Padahal, biasanya semuanya berjalan dengan sangat lancar. Apalagi untuk orang yang sakti, sekelas Maha Patih Kumbandha ini. Karena seseorang yang memiliki ilmu kesaktian jauh lebih mudah untuk dihisap jiwanya. Dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu apa-apa. Tapi jiwa Maha Patih Kumbandha seperti lain daripada jiwa-jiwa manusia yang lainnya.
Disamping itu, Prabu Jabang Wiyagra sudah dalam keadaan yang sangat lemah. Karena beliau mengeluarkan banyak sekali tenaga dalam, untuk menolong Maha Patih Kumbandha. Sedangkan Buta Karang masih kesulitan untuk mengambil jiwa Maha Patih Kumbandha. Sesuatu yang luar biasa pun terjadi setelahnya. Ternyata, Eyang Badranaya sudah hadir di tempat itu sejak lama. Hanya saja beliau tidak menampakkan diri di hadapan semua orang. Dia datang ke sana bersama dengan Maha Patih Lare Damar. Buta Karang pun terkejut dengan hadirnya Eyang Badranaya di tempat itu. Setelah ratusan purnama berlalu, kini ia kembali dihadapkan kepada lawan yang tak pernah bisa ia kalahkan. Eyang Badranaya.
__ADS_1
"Badranaya. Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar tentang dirimu. Ratusan tahun aku dihukum. Selama itu pula, Aku tidak pernah sekalipun melupakanmu. Aku membayangkan bagaimana wajahmu menua, mati termakan usia. Dan saat aku bangkit kembali, kau sudah tidak ada lagi di dunia ini." Ucap Buta Karang.
"Hal itu tidak akan pernah terjadi, Buta Karang. Kamu sendiri juga mengetahui hal itu. Apa yang selama ini kamu cari saudaraku? Pulanglah. Dunia ini bukanlah tempatmu lagi." Kata Eyang Badranaya.
Buta Karang dan Eyang Badranaya kembali mengingat masa lalu mereka. Kala itu, Eyang Badranaya dan Buta Karang masih sama-sama muda. Dan ternyata, nama asli Buta Karang adalah Sura Panjaga. Sura Panjaga adalah seorang pendekar yang sangat sakti mandraguna. Sama seperti Eyang Badranaya. Namun, Sura Panjaga seringkali menggunakan kekuatannya untuk kepentingan pribadinya, bukan untuk menolong orang-orang yang tertindas, ataupun orang-orang yang lemah. Sura Panjaga akan menolong siapa saja yang bisa memberikan bayaran kepadanya. Sampai namanya dikenal oleh banyak orang. Hingga sampai ke raja-raja besar yang ada di Tanah Jawa kala itu.
Seperti yang semua orang ketahui, pada waktu itu Tanah Jawa berada dalam keadaan yang sangat mencekam. Banyak terjadi peperangan saudara di mana-mana. Raja-raja besar membutuhkan pendekar yang sakti untuk mendukung kekuatan pasukan mereka. Dan Sura Panjaga adalah salah seorang yang menjadi kepercayaan para raja-raja besar tersebut. Pertarungan demi pertarungan telah ia menangkan. Sura Panjaga bahkan diangkat menjadi seorang panglima perang tertinggi, yang memimpin ribuan pasukan. Namun di sinilah sifat serakah mulai muncul dalam dirinya. Sura Panjaga mengkhianati rajanya sendiri, yang telah membesarkan namanya. Sura Panjaga menjual semua informasi yang ada di kerajaannya, demi mendapatkan harta dan tahta yang tak terhitung jumlahnya.
"Aku mengutuk kalian-kalian semua yang telah mengkhianati aku. Termasuk kau Sura Panjaga! Sifat dan tidak tanduk kalian memang sama! Maka bersatulah kalian semua dalam satu raga! Tersiksalah kalian selama-lamanya di dunia ini! Tak akan ada setetes pun kebahagiaan dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa. Kalian akan menjadi makhluk yang paling terkutuk di dunia ini!" Ucap Sang Raja.
__ADS_1
Sejak saat itu, Sura Panjaga dan para raja-raja besar yang ada Tanah Jawa, mulai mengalami kekalahan dan kemunduran. Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menjadi seorang penguasa, ataupun raja satu-satunya. Mereka semua telah gagal. Kalah, dan tak sedikit pula yang mati. Jiwa mereka terus-menerus menggentayangi seluruh tempat yang ada di Tanah Jawa ini. Masyakarat ketakutan dan merasa terancam. Mereka tidak pernah sekalipun merasakan yang namanya ketenangan dan kedamaian. Sampai pada akhirnya, muncullah seorang raja yang baru. Yang menggantikan posisi raja yang telah dikhianati oleh Sura Panjaga. Sura Panjaga menjadi sangat murka. Karena dia harus mendapatkan musuhnya yang baru.
Sang Raja itu bagaikan mimpi buruk bagi dirinya. Dan juga bagi para raja-raja serakah yang ada di Tanah Jawa ini. Mereka bersatu untuk mengalahkan Sang Raja. Sang Raja yang baru mendirikan kerajaannya, tentu tidak memiliki banyak pasukan. Sang Raja tersebut pada akhirnya harus kalah dalam pertempuran. Namun di sinilah semua kutukan mengerikan itu bermula. Apa yang telah diucapkan oleh Sang Raja sebelumnya, ternyata benar-benar telah terjadi. Sura Panjaga dan juga semua raja yang bekerja sama dengannya, hari itu juga mendapatkan sebuah penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan. Penyakit itu menular, dan sangat-sangat berbahaya. Siapa saja yang terkena penyakit itu, pasti kulit di tubuhnya akan melepuh dan meleleh seperti lilin.
Satu persatu para raja yang membela kekuasaan Sura Panjaga pun akhirnya mati. Hingga tersisalah Sura Panjaga seorang diri. Melihat kalau kekuatan Sura Panjaga telah melemah, semua raja yang ada di Tanah Jawa pun langsung menyerang kerajaannya. Raja-raja yang menyerang Sura Panjaga kala itu adalah raja-raja yang adil dan bijaksana kepada rakyatnya. Tetapi kekuatan mereka terlalu kecil untuk mengalahkan Sura Panjaga. Sehingga mereka menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kerajaan yang dipimpin oleh Sura Panjaga. Kesempatan yang luar biasa itu akhirnya datang juga kepada mereka. Para raja tersebut menyerang dengan sangat ganas dan beringas. Yang membuat Sura Panjaga kalah dalam penyerangan tersebut.
Jasad Sura Panjaga pun dibuang begitu saja. Tidak ada satupun orang yang mau memakamkannya dengan layak. Semua orang pada waktu itu sangat membenci Sura Panjaga. Sura Panjaga yang kala itu sudah menjadi mayat, tiba-tiba bangkit kembali. Dan semua itu disebabkan oleh jiwa para raja-raja serakah yang bergentayangan. Mereka merasuki tubuh Sura Panjaga secara berurutan. Sehingga terbentuklah satu sosok yang sangat kuat, dan sangat sulit untuk dikalahkan. Jadi, Sura Panjaga pada dasarnya tidak bisa mati karena kutukan yang menyelimuti dirinya. Namun dia juga dikutuk, bersama dengan para raja yang sekarang bersemayam di dalam tubuhnya. Sehingga selama ratusan tahun ini, Sura Panjaga benar-benar tersiksa dan menderita.
Tak hanya itu saja. Setelah jiwa para raja serakah tersebut berhasil masuk ke dalam tubuh Sura Panjaga, Sura Panjaga harus berhadapan dengan saudara seperguruannya sendiri. Yaitu Eyang Badranaya. Eyang Badranaya berhasil mengalahkan Sura Panjaga dalam pertempuran sengit. Saat itulah Eyang Badranaya langsung menendang tubuh Sura Panjaga ke atas langit. Dan memenganggalnya menjadi dua bagian. Untuk selanjutnya disatukan kembali dalam keadaan yang sudah terikat dengan berbagai macam mantra pelindung. Yang membuat Sura Panjaga tidak bisa turun ke bumi. Kecuali ada orang jahat yang mampu membangkitkannya. Eyang Badranaya berdoa kepada Sang Hyang Tunggal, agar memberikan hukuman yang jauh lebih menyakitkan kepada Sura Panjaga.
__ADS_1
Dan doa Eyang Badranaya pun dikabulkan. Sura Panjaga dibiarkan tetap hidup, tapi digantung di antara langit dan bumi. Tidak akan ada satupun makhluk yang mampu membebaskannya. Kecuali keturunan sahnya sendiri. Karena hal itu, Eyang Badranaya berupaya mencari semua keturunan Sura Panjaga. Diketahui, Sura Panjaga sudah meniduri banyak sekali perempuan. Banyak dari para perempuan itu yang kemudian hamil dan melahirkan. Tapi di tengah-tengah perjalanan mencari keturunan Sura Panjaga, Eyang Badranaya merasa tidak tega kalau harus membunuh bayi-bayi yang tidak bersalah itu. Dia pun tentunya akan merasa sangat berdosa, karena membunuh bayi yang tidak bersalah. Dan sekarang, inilah yang terjadi. Banyak keturunan Sura Panjaga yang masih hidup dan membangkitkan Sura Panjaga, hingga berkali-kali.
Berkali-kali pulalah Eyang Badranaya berhasil mengalahkan Sura Panjaga. Semakin lama, Sura Panjaga semakin dibuat tidak mampu mengalahkan Eyang Badranaya. Karena Eyang Badranaya selalu berusaha menjadi orang baik setiap harinya. Bisa dibilang, Eyang Badranaya ini adalah orang suci. Sedikit sekali dosa yang ia lakukan di dunia ini. Sehingga Sang Hyang Tunggal memberikan sebuah kekuatan yang dahsyat kepada Eyang Badranaya, untuk menghadapi segala marabahaya, yang datang ke dalam kehidupannya. Salah satunya adalah, agar Eyang Badranaya bisa mengalahkan kekuatan yang dimiliki oleh Sura Panjaga. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Eyang Badranaya berkali-kali. Yang membuat semua orang ketakutan ketika mendengar namanya.