DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 32


__ADS_3

Mangku Cendrasih dan para pasukan manusia serigalanya benar-benar membuat seorang Maha Patih Raseksa kebingungan. Dia sudah kehabisan akal untuk menghadapi mereka semua.


Bahkan senjata pamungkasnya pun tidak berguna untuk mereka, karena mereka para siluman yang sudah ada selama ribuan tahun. Dan mengetahui secara pasti, apa kelemahan gada pusaka yang digunakan oleh Maha Patih Raseksa.


Itu dibuktikan saat Maha Patih Raseksa memukulkan gadanya ke lantai, para manusia serigala itu bisa menahannya dengan ilmu kanuragan yang mereka miliki. Sekali pun lantainya sampai retak, tapi tidak berefek apa pun kepada para manusia serigala, maupun kepada Mangku Cendrasih.


Bahkan Maha Patih Raseksa sampai mundur beberapa langkah ke belakang, karena tidak mampu menahan serangan balik dari mereka. Posisinya benar-benar terpojok. Dan dia sendirian di istana ini, tanpa bantuan siapa pun. Para patih dan para punggawa kerajaan juga sudah menjadi korban sebelum Maha Patih Raseksa.


Mereka tidak sanggup melawan kekuatan Mangku Cendrasih yang memiliki kesaktian setinggi langit. Memang mereka masih hidup, tapi mereka semua terbaring lemah dan tidak bisa membantu Maha Patih Raseksa. Maha Patih Raseksa tidak menyangka kalau Mangku Cendrasih sekuat ini.


Kalau dia tahu, pasti dia tidak akan dengan bodohnya memerintahkan para Patih dan Punggawa untuk maju terlebih dahulu. Dia pasti akan bergabung dengan mereka untuk menghadapi Mangku Cendrasih dan pasukan silumannya.


Mangku Cendrasih hanya duduk diam di lantai istana sembari melihat pasukan silumannya yang terus menyerang Maha Patih Raseksa.


“Hey tua bang-ka! Satu lawan satu kalau berani!” Teriak Maha Patih Raseksa kepada Mangku Cendrasih yang sedang duduk sembari menatapnya.


“Pakai tangan kosong kalau berani.” Jawab Mangku Cendrasih sembari tertawa terkekeh.

__ADS_1


Jelas Maha Patih Raseksa tidak akan mau menyimpan pusakanya. Karena tanpa pusaka ditangannya, dia sudah pasti kalah sedari tadi. Mangku Cendrasih yang bosan karena hanya diam dan tidak melakukan apa-apa, kini mulai mengeluarkan ilmunya.


Dia menggunakan ilmu pukulan yang ia miliki untuk menghantam beberapa pilar berukuran besar di istana itu. Sebagain atap istana mulai roboh karena pilarnya mulai retak. Mangku Cendasih kemudian mengeluarkan gumpalan api dari kedua tangannya, dan membakar beberapa ruangan di dalam istana.


Maha Patih Raseksa semakin tidak karuan. Dia mencoba mengeluarkan semua ilmu yang ia miliki, dan disalurkan pada senjata pusakanya untuk menghadapi pasukan manusia serigala. Tapi semuanya sia-sia.


Saat para pasukan manusia serigala lumpuh dalam waktu sesaat, Maha Patih Raseksa menggunakan kesempatan itu untuk menyusul Mangku Cendrasih dan berusaha keluar dari istana itu. Sayangnya, pilar-pilar yang ada di dalam istana perlahan mulai hancur. Dan atapnya mulai roboh.


Istana yang megah dan gagah itu sekarang sudah hancur dan hanya menyisakan beberapa tempat saja. Ruangan-ruangan penting, seperti kamar para pejabat istana, termasuk kamar pribadi milik Prabu Suta Rawaja juga sudah hancur tertimpa atap yang roboh.


Di luar, pasukan yang sebelumnya mengejar para prajurit istana juga sudah kembali kesana.


“Apa yang terjadi disana Ki?” Tanya mereka.


“Istana itu hanya tinggal nama sekarang. Maha Patih Raseksa dan para Patih Kerajaan belum mati. Tapi setidaknya itu bisa menjadi pesan penting, dan Suta Rawaja tidak akan pernah bisa melupakannya sampai kapan pun.” Jawab Mangku Cendrasih.


Setelah itu, mereka semua pergi dari sana. Meninggalkan Maha Patih Raseksa dan para Patih kerajaan yang tertimpa puing-puing bangunan istana. Istana itu juga mengalami kebakaran hebat, bahkan api yang menjilat-jilat sampai terlihat dari beberapa desa yang keberadaannya cukup jauh dari istana Kerajaan Rawaja Pati.

__ADS_1


Orang-orang di desa pun dibuat gemetar melihat hal itu. Dan para prajurit yang berjaga di desa-desa mulai berkumpul untuk pergi menuju istana. Mereka yang tidak menerima serangan dari Mangku Cendrasih dan pasukannya sudah pasti tidak tahu apa yang terjadi malam ini.


Ratusan prajurit pergi dengan kuda mereka menuju istana. Karena Kerajaan Rawaja Pati adalah kerajaan besar, jadi Mangku Cendrasih tidak menyerang pedesaan. Mereka hanya memfokuskan serangan kepada istana kerajaan.


Banyak desa yang tidak dilewati oleh pasukan Mangku Cendrasih saat mereka mengejar para prajurit istana. Sehingga sekarang, para prajurit istana yang tersebar di beberapa desa pun terkejut dengan kejadian itu. Mereka tidak menyangka kalau akan ada serangan besar ke istana kerajaan. Karena mereka tidak pernah memperkirakan kalau hal itu akan terjadi.


Beberapa prajurit istana yang sudah sampai disana pun hanya bisa menatap kosong ke istana. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Api sudah merambah kemana-mana. Beberapa bangunan istana juga sudah hancur termasuk pintu gerbang istana. Sehingga menghalangi para prajurit untuk masuk kesana.


Mereka mencoba mencari jalan lain, tapi tetap saja, semuanya sama. Gerbang yang lain juga sudah hancur dan tidak bisa dilewati. Mereka juga tidak mungkin menerobos kobaran api yang sudah semakin membesar. Bisa-bisa mereka semua mati terpanggang bersama dengan yang lainnya.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan menyusul Prabu Suta Rawaja yang masih berada di istana Kerajaan Antasura. Dan para prajurit itu juga tidak tahu, kalau Kerajaan Antasura juga sedang sama-sama kacaunya dengan Kerajaan Rawaja Pati. Bahkan diperparah dengan kematian para raja kerajaan-kerajaan kecil yang dibawah pemerintahan Kerajaan Antasura.


Mereka semua tidak tahu menahu soal penyerangan yang terjadi di hampir semua tempat diketiga kerajaan besar itu. Karena para prajurit yang bertugas menjaga desa sangat jarang mendapat perintah dari atas.


Jumlah prajurit yang ada di setiap desa yang bergabung menjadi satu itu hanya sekitar seribu lebih. Dan mereka adalah prajurit biasa. Bukan prajurit pilihan. Sekali pun jumlah mereka banyak, mereka pastinya tidak akan mampu melawan jika mereka dihadang oleh musuh ditengah-tengah perjalanan.


Keadaan yang kacau itu juga membuat mental para prajurit menjadi kacau. Mereka semua hanya bisa berharap kalau keadaan bisa membaik. Mereka tidak pernah tahu, kalau semua ini terjadi karena ulah raja mereka sendiri, Prabu Suta Rawaja. Yang selalu iri kepada semua orang yang lebih baik dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2