
Setelah kalah di tangan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, Panggul menjadi ragu dengan kemampuannya sendiri. Dia benar-benar terkena mental, dan seperti tidak berani lagi untuk mengganggu para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Ditandai juga dengan para anggota kelompoknya, yang sedikit demi sedikit mulai mencoba melepaskan diri dari dirinya. Panggul sama sekali tidak bisa mencegah kepergian mereka, karena para anggota kelompoknya pergi secara sembunyi-sembunyi.
Banyak sekali anggota kelompoknya yang kemudian memilih pindah ke kelompok yang lain, karena sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan yang Panggul miliki. Para anggota kelompoknya mulai meragukan kemampuannya, dalam memimpin kelompok bandit tersebut. Apalagi Panggul sudah berhari-hari kita melakukan pergerakan bersama dengan para anak buahnya. Sejak kekalahannya itu, Panggul lebih banyak merenung dan berdiam diri.
Sekarang Panggul juga jarang sekali berkumpul dengan anak buahnya sendiri. Dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah pribadinya. Bahkan selama itu pula, banyak sekali perempuan penghibur langganannya yang ditolak, saat ingin bertemu dengan Panggul. Panggul benar-benar berubah setelah mengalami kekalahan. Bagi anak buahnya, Panggul sekarang terlihat seperti seorang pengecut dan pecundang. Bukan seorang penjahat.
"Kalau terus-menerus seperti ini, kelompok kita bisa hancur. Dan keluarga kita bisa mati kelaparan. Ketua Panggul benar-benar sudah tidak bisa diandalkan lagi, kita harus ganti ketua yang baru." Ucap salah seorang anak buah Panggul, yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.
"Kamu benar. Bisa-bisa kita kehilangan kehormatan kita juga, dan akan ada pertikaian antara kelompok-kelompok bandit yang lain. Kita benar-benar akan kehilangan kekuatan kita, yang sudah selama bertahun-tahun ini kita bangun bersama-sama. Kalau perlu, kita memberontak saja. Aku tidak mau mati dalam keadaan kelaparan."
"Bagaimana kalau kita bertindak sendiri saja? Tanpa harus bersama dengan Ketua Panggul? Bagaimana?"
"Aku setuju! Kita lakukan saja sekarang! Kita biarkan saja si ketua kepa-rat itu mati kelaparan."
Mereka semua tertawa gembira, karena sekarang mereka sudah bebas dari perintah. Mereka sudah tidak lagi dipimpin oleh siapapun, karena Panggul dianggap sudah tidak mampu lagi memimpin kelompok Pandi tersebut. Namun saat mereka semua ingin pergi, tiba-tiba saja Panggul keluar dari rumahnya, dan langsung mengajar mereka semua. Panggul mengajar anak buahnya sendiri dengan sangat brutal. Dan tidak ada satupun di antara mereka yang mampu melawan kekuatan yang Panggul miliki.
__ADS_1
"Dengar! Tidak ada satupun orang yang bisa membantah perintahku! Kalau aku diam! Kalian pun harus diam! Paham?!" Bentak Panggul kepada para anak buahnya.
"Maafkan kami Ketua. Kami tidak bisa terus-menerus seperti ini. Kami membutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan bisa menjamin kehidupan kami. Kami memiliki keluarga yang harus kami Beri makan. Kami tidak bisa berlama-lama berdiam diri seperti ini." Jawab salah satu anak buahnya.
Panggul menginjak dada si anak buahnya itu, dan berkata..
"Dengar baji-ngan! Aku masih ketua dari kelompok ini. Aku diam bukan berarti aku menyerah begitu saja. Kalian, dan aku, masih bisa makan sampai satu tahun kedepan, sekalipun kita hanya diam saja seperti ini. Jadi jangan bersikap seperti anak kecil. Aku harus memikirkan bagaimana caranya agar tetap bisa merampok, dan merampas harta orang-orang kaya, tanpa diketahui oleh para prajurit istana!"
"....Kalian malahan berkumpul seperti kawanan tikus yang sedang kekurangan makanan. Bahkan seekor anjing gila pun tidak akan lupa kepada tuannya. Jangan pernah sesekali mencoba untuk mengkhianatiku! Sekali lagi kalian berusaha untuk berkhianat, aku akan membuat hidup kalian tamat! Paham kalian?!"
"Pa.. Pah... Ham... Ketua.."
Panggul menendang salah satu anak buahnya dan langsung mengambil pedangnya dari dalam rumah. Lalu dia kembali keluar, dan mengumpulkan seluruh anak buahnya yang ada di sana.
"Ayo kita buktikan! Kita serang semua prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang berjaga! Kita balas kekalahan kita tempo hari!" Perintah Panggul kepada seluruh anak buahnya.
__ADS_1
Seluruh anak buah Panggul langsung bangkit dan memanggil teman-teman mereka yang lainnya, yang belum ada di sana. Mereka semua berbondong-bondong untuk melakukan penyerangan kepada para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang ada di setiap desa, yang masih berada dalam wilayah kekuasaan mereka.
"Aku harus buktikan kepada semua orang! Kalau aku bukan pengecut dan pecundang! Seperti apa yang mereka katakan!" Tegas Panggul dalam hatinya.
Panggul meyakinkan dirinya kalau dia bisa membalas kekalahannya kepada para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, yang sudah mengalahkannya beberapa hari yang lalu. Panggul masih ingat dengan baik wajah-wajah semua orang yang telah menertawakannya. Panggul tidak bisa menerima kekalahannya begitu saja. Dan selama beberapa hari dia mengurung dirinya, ternyata Panggul menyempatkan diri untuk bersemedi di dalam rumahnya sendiri.
Panggul berharap kalau ini mau kesaktiannya akan bertambah dengan sendirinya. karena biasanya, orang yang melakukan semedi memang akan mendapatkan suatu wangsit yang tidak disangka-sangka. Hal itulah yang dilakukan oleh Panggul selama beberapa hari ini. Namun tanpa sepengetahuannya, para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela ternyata sudah mengetahui, kalau Panggul akan datang bersama dengan seluruh anak buahnya, untuk membalas dendam.
Para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela yang berjaga di setiap desa pun langsung berkumpul menjadi satu, di satu desa yang menjadi tempat Panggul dan kelompoknya dikalahkan. Mereka semua sudah siap dengan pedang di tangan mereka masing-masing. Ada beberapa dari mereka yang juga menggunakan panah. Seorang pimpinan prajurit memerintahkan para pasukannya untuk memberitahu para pendekar yang ada di sana, agar ikut membantu para prajurit, melawan Panggul.
Panggul berangkat dengan penuh rasa dendam dan kebencian kepada para prajurit yang sudah membuatnya terhina di hadapan semua orang. Karena kekalahannya itu, banyak juga anak buah Panggul yang tidak ikut dalam pertempuran ini. Mereka semua menjadi ragu dengan kemampuan yang Panggul miliki. Karena kalau ketuanya saja lemah, bagaimana dengan anggotanya? Sudah pasti mereka juga akan kalah di tangan para prajurit yang kemampuannya jauh lebih hebat di atas mereka.
Sebelum para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela mengambil alih daerah tersebut, Panggul dan kelompoknya sangat leluasa dalam melakukan aksi mereka. Namun setelah para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela berjaga di setiap desa, pergerakan Panggul dan kelompoknya menjadi sangat terbatas, tidak bisa bebas seperti biasanya. Panggul dan kelompoknya jadi sering berpindah-pindah tempat, agar tidak ditangkap oleh para prajurit, yang hampir setiap hari memburu mereka.
Meskipun demikian, masih saja ada kelompok-kelompok kecil di bawah kepemimpinan Panggul yang ditangkap dan dieksekusi di tempat oleh para prajurit istana. Ada juga yang mati di tangan para pendekar lokal, dan tidak pernah ditemukan jasadnya. Entah ke mana mayat para bandit ini dibuang. Yang pasti, jika para bandit sampai bertemu dengan prajurit ataupun para pendekar, maka sudah dipastikan mereka akan mati. Sehingga banyak sekali para bandit yang kemudian mulai mengundurkan diri.
__ADS_1
Memang tidak semuanya dari kelompok Panggul, tapi kebanyakan adalah kelompok-kelompok kecil yang berada di bawah kepemimpinan Panggul. Nama Panggul memang sudah sangat dikenal oleh banyak orang, sebagai ketua para bandit yang paling ditakuti. Meskipun Panggul masih kalah di tangan para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, tetapi sewaktu-waktu Panggul dan kelompoknya akan melakukan serangan secara mendadak, ataupun secara diam-diam.
Berita tentang ketenaran Panggul sebagai seorang ketua bandit yang paling ditakuti sudah sampai kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dengan cepat Prabu Jabang Wiyagra langsung menurunkan para pasukan terbaik yang ia miliki, untuk menangani para bandit kejam ini. Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya telah berhasil menekan pergerakan Panggul, dan juga semua kelompok-kelompok bandit kecil yang ada di bawah kepemimpinannya.