DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 316


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Di istana Kerajaan Wiyagra Malela...


Kota Maja Negoro telah didirikan secara resmi. Dan sekarang, Ki Jangkung Sapu Jagat diangkat menjadi Panglima di Kota Maja Negoro, dengan pengawalan erat dari para pasukan terbaik Kerajaan Wiyagra Malela. Kelompok Pasukan Maha Wira juga telah diresmikan. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima akan menjadi kakak tertua dari kelompok tersebut. Mereka berdualah yang akan melatih dan membimbing para anggota Pasukan Maha Wira. Karena masih banyak hal yang harus diajarkan kepada para pendekar itu.


Beruntung, karena selama acara peresmian dilakukan, tidak ada satupun kendala yang terjadi di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Semuanya berjalan dengan sangat lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat senang, karena sekarang sudah memiliki pengawal pribadi yang baru. Karena para anggota Pasukan Bara Jaya akan masuk ke dalam daftar pasukan paling penting yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka akan tetap menjadi pasukan tertinggi, kebanggaan dari Prabu Jabang Wiyagra.


Pasukan Bara Jaya tentunya akan mendapatkan tugas yang jauh lebih berat dibandingkan dengan Pasukan Maha Wira, yang baru saja dibentuk. Pasukan Maha Wira akan lebih difokuskan kepada kepentingan yang ada di dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan Pasukan Bara Jaya akan lebih banyak menjalankan tugas di luar istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena mereka dianggap sudah sangat berpengalaman. Meskipun sekarang mereka telah kehilangan Panglima Galang Tantra, tapi bukan berarti Pasukan Bara Jaya akan berhenti begitu saja.


Justru mereka akan semakin sering mendapatkan tugas dari Prabu Jabang Wiyagra, untuk melakukan pencarian kepada Panglima Galang Tantra dan Panglima Dara Gending, disamping mereka sedang melakukan wilayah kekuasaan Kerajaan Panca Warna yang masih tersisa. Karena meskipun sekarang Kerajaan Panca Warna sudah runtuh, tapi masih banyak rakyat Kerajaan Panca Warna yang tetapi tidak mau menerima kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka masih merindukan sosok Ratu Mekar Senggani. Pemimpin yang mereka cintai.


Padahal, Ratu Mekar Senggani sendiri sudah tidak lagi memikirkan kekuasaannya. Dia tidak mau lagi ikut campur dengan urusan yang ada di Kerajaan Panca Warna. Dia takut kalau sampai dia kembali ke masa lalunya. Ratu Mekar Senggani ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya. Bahkan saat Prabu Jabang Wiyagra memaksanya, Ratu Mekar Senggani tetap teguh kepada pendiriannya itu. Dia ingin tahu bagaimana rasanya hidup menjadi orang biasa. Tanpa harus memikirkan nasib orang banyak.

__ADS_1


Ternyata, selama ini jauh di dalam hatinya, Ratu Mekar Senggani sudah sangat lelah mengurus pemerintahan di Kerajaan Panca Warna. Dia bahkan mengatakan kepada Prabu Jabang Wiyagra, kalau dia juga pernah berusaha keluar dari Kerajaan Panca Warna. Namun mendiang Maha Patih Baruncing mencegahnya. Apalagi setelah diketahui kalau Maha Patih Baruncing sangat mencintai Ratu Mekar Senggani. Dia rela melakukan apa saja untuk Sang Ratu. Setiap saat dia selalu ada untuk Ratu Mekar Senggani. Di mana ada Maha Patih Baruncing, maka di sana sudah dipastikan juga ada Ratu Mekar Senggani.


Kalau saja Maha Patih Baruncing tidak mencegah kepergiannya waktu itu, mungkin Ratu Mekar Senggani sudah lama mengundurkan diri dari tahtanya. Dan baru sekaranglah dia mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang biasa. Tentu Ratu Mekar Senggani tidak akan menyia-nyiakan hal tersebut, yang sudah sangat lama ia nanti-nantikan dalam hidupnya. Bahkan dia sudah memaafkan adiknya, Intan Senggani. Ratu Mekar Senggani benar-benar ingin berubah. Dan ingin berdamai dengan keadaan. Dia ingin belajar untuk menerima semua yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tanpa mempertanyakannya.


Semua orang yang mendengarkan hal itu pun sangat senang. Karena tidak ada satupun orang yang menyangka, kalau Ratu Mekar Senggani akan berubah. Bahkan, awalnya Prabu Jabang Wiyagra juga sempat meragukan perubahan yang terjadi di dalam diri Ratu Mekar Senggani. Karena menurut beliau, perubahan itu terlalu cepat terjadi. Dan tidak bisa ia cerna dengan pemikirannya. Namun setelah melihat semua kenyataannya, Prabu Jabang Wiyagra pun pada akhirnya percaya dengan semua hal yang dikatakan oleh Ratu Mekar Senggani kepadanya.


Setelah mengetahui semua penjelasan dari Ratu Mekar Senggani, akhirnya Prabu Jabang Wiyagra mengutus para anggota kelompok Pasukan Bara Jaya. Mereka diperintahkan untuk membersihkan seluruh wilayah Kerajaan Panca Warna, dari para penjahat yang ada. Terutama dengan orang-orang yang membentuk persekutuan. Karena dengan adanya orang-orang seperti itu, wilayah Kerajaan Panca Warna menjadi satu-satunya wilayah yang sulit untuk ditaklukan. Apalagi mereka semua adalah para penduduk asli. Bukan orang asing ataupun pendatang.


Tak hanya itu saja, mereka adalah orang-orang yang bisa dibilang sangat primitif. Mereka tidak memiliki pengetahuan yang luas, tidak seperti orang-orang di kerajaan yang lainnya. Mereka adalah mereka. Tidak boleh ada yang namanya pencampuran. Semua itu adalah hasil didikan yang diberikan oleh Ratu Mekar Senggani. Sehingga membuat pemikiran mereka semua menjadi pendek. Mereka bahkan belum bisa meninggalkan budaya lama mereka. Yaitu bersenang-senang dengan anak kandung ataupun keluarga mereka sendiri.


"Jika terus menerus dibiarkan seperti ini, maka sama halnya aku sudah kehilangan rakyatku sendiri." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.


"Memang itu bukanlah hal yang mudah Gusti Prabu. Apalagi kalau kita mengingat kembali hal yang pernah diucapkan oleh Ratu Mekar Senggani. Dia bahkan sudah tidak mau lagi mendengar tentang Kerajaan Panca Warna. Karena itu akan mengingatkan dirinya kepada mendiang Maha Patih Baruncing." Jawab Mbah Kangkas.

__ADS_1


"Apa menurutmu, akan menjadi masalah kalau aku membangkitkan kembali Maha Patih Baruncing? Mbah Kangkas?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


Mbah Kangkas sangat terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena membangkitkan kembali orang yang sudah mati selama berbulan-bulan, bahkan hampir masuk ke dalam hitungan tahun, pasti akan menimbulkan masalah yang sangat besar. Dan itu adalah hal yang sangat melanggar hukum alam. Karena yang sudah mati tidak boleh diungkit-ungkit lagi. Mbah Kangkas kesulitan memberikan jawaban kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kalau ada Maha Patih Baruncing, maka Ratu Mekar Senggani akan mudah untuk mereka atur.


Tetapi jika Maha Patih Baruncing hidup kembali, belum tentu dia sepemikiran dengan Ratu Mekar Senggani, yang sekarang sudah berubah. Apalagi hal tersebut adalah sebuah pelanggaran berat yang tidak boleh dilakukan oleh manusia manapun di dunia ini.


"Jawab saja apa adanya Mbah. Aku akan terima apa nasehatmu. Katakanlah Mbah Kangkas." Kata Prabu Jabang Wiyagra memecahkan lamunan Mbah Kangkas.


"Begini Gusti Prabu. Bukannya hamba bermaksud lancang. Tetapi orang yang sudah mati tidak boleh diungkit-ungkit lagi. Biarkan Maha Patih Baruncing menyelesaikan urusannya di alam sana. Memang benar, kalau ada Maha Patih Baruncing, Ratu Mekar Senggani akan mudah diatur. Namun, kalau membangkitkan orang yang sudah mati, maka itu akan menjadi masalah yang besar untuk Gusti Prabu sendiri."


"Ya. Lalu apa nasehatmu Mbah?"


"Hanya Keris Ngerah Pati-lah yang bisa melakukanya, Gusti Prabu. Agar Ratu Mekar Senggani mau menuruti apa yang diucapkan oleh Gusti Prabu."

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra akhirnya setuju dengan saran yang diberikan oleh Mbah Kangkas. Karena memang sudah tidak ada cara lain lagi untuk membujuk Ratu Mekar Senggani. Secepatnya Prabu Jabang Wiyagra harus mulai menghentikan kekacauan yang terjadi di Kerajaan Panca Warna. Walaupun Prabu Jabang Wiyagra sempat ingin membumihanguskan seluruh rakyat Kerajaan Panca Warna, tetapi Prabu Jabang Wiyagra kembali memikirkan masa depan semua orang yang ada di sana. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau dicap sebagai seorang raja yang kejam dan pendendam. Karena akan merusak kehormatannya sebagai seorang raja besar, yang berkuasa di Tanah Jawa.


__ADS_2