DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 163


__ADS_3

"Apa yang akan kita lakukan Gusti Patih? Apa kita akan membiarkan ini terjadi begitu saja?" Tanya Patih Kinjiri kepada Maha Patih Putra Candrasa.


"Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Pangeran Rawaja Pati tidak memiliki kesadaran penuh saat sedang berubah wujud. Dia hanya fokus kepada musuh-musuhnya. Kalau kita ikut campur, maka kita akan menjadi musuhnya juga." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.


"Oh.. Pantas saja Pangeran Rawaja Pati tidak pernah berubah wujud. Jadi itu alasannya."


"Ya. Dan sekarang sebaiknya kita mempersiapkan para pasukan kita."


"Untuk apa Gusti Patih? Lare Damar tidak memberikan perintah kepada kita."


"Kita beritahu semua yang terjadi kepada Lare Damar. Karena tidak lama lagi, Pangeran Rawaja Pati pasti akan menyerang semua keraton yang ada di Kerajaan Wesi Kuning. Bahkan, mungkin dia juga akan menyerang istana Prabu Bawesi."


"Kalau begitu, ayo kita kembali Gusti Patih."


"Ayo."


Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri langsung pergi ke markas utama Lare Damar, dan memberitahukan semua yang terjadi di tempat hutan itu. Lare Damar langsung paham dengan apa yang terjadi kepada Pangeran Rawaja Pati. Selalu memerintahkan para pimpinan pasukan untuk bersiap melakukan penyerangan ke wilayah keraton yang ada di Kerajaan Wesi Kuning.


Mendadak, semua pasukan yang ada pun bersiap untuk melakukan serangan dengan membawa senjata-senjata berat. Banyak juga meriam yang dipasang di benteng pertahanan markas besar Lare Damar dan pasukannya. Mau tidak mau, Lare Damar juga harus turun tangan langsung untuk memimpin serangan besar ini. Apalagi hanya dia yang bisa mengendalikan Pangeran Rawaja Pati.


Kalau Pangeran Rawaja Pati tidak dikendalikan oleh Lare Damar, maka Pangeran Rawaja Pati bisa membunuh semua orang yang ikut dalam pertempuran tersebut. Termasuk pasukan Maha Patih Putra Candrasa dan juga yang lainnya. Dan untuk sementara waktu, Lare Damar menyerahkan kepemimpinan sementara kepada Maha Patih Kumbandha.

__ADS_1


Maha Patih Kumbandha diperintahkan untuk tetap berada di wilayah penaklukkan ini bersama dengan para pasukan pertahanan. Karena hanya dia yang ahli dalam strategi mempertahankan wilayah penaklukkan.


"Ingat Maha Patih Kumbandha, jangan tinggalkan tempat ini, apapun yang terjadi. Kau paham?"


"Paham Lare Damar. Aku dan para pasukan pertahanan, akan menjaga tempat ini sebaik mungkin. Kau berhati-hatilah. Semoga keberhasilan menyertai dirimu dan pasukanmu."


"Ya. Terimakasih."


Lare Damar dan ribuan pasukannya langsung berangkat untuk menyerang ketujuh keraton yang ada di istana Kerajaan Wesi Kuning. Di sana, keadaan sudah kacau balau. Pangeran Rawaja Pati menyerang semua orang tanpa terkendali. Dia menyerang siapa saja yang ada di hadapannya. Termasuk Prabu Bawesi dan para pengawalnya.


Walaupun Prabu Bawesi memiliki tubuh yang besar, tapi tetap saja dia tidak bisa menyerang Pangeran Rawaja Pati yang sudah berubah menjadi seekor naga raksasa. Pangeran Rawaja Pati bisa terbang dengan bebas di atas langit. Sedangkan Prabu Bawesi tidak dapat melakukan hal itu.


Prabu Bawesi memerintahkan para pasukan pemanah terbaiknya untuk menyerang Pangeran Rawaja Pati dengan panah besi yang ukuran anak panahnya sangat panjang dan memiliki diameter jauh lebih besar dari anak panah pada umumnya. Tetapi cara itu tetap saja tidak berhasil, karena serangan pasukan pemanah besi selalu saja meleset.


Belum sampai di situ saja. Beberapa prajurit melaporkan kepada Prabu Bawesi kalauLare Damar dan pasukannya sudah sampai ke tempat ini, dan sudah menembakkan meriam mereka ke segala arah. Pintu gerbang dan benteng pertahanan yang ada di keraton pertama sudah hancur. Banyak sekali pasukan yang terluka dan mati.


Setelah serangan meriam dirasa sudah cukup, Lare Damar langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk melakukan penyerangan. Dengan terpaksa, Lare Damar juga menghubungi Prabu Jabang Wiyagra dengan kemampuan batinnya, dan memberitahukan semua yang sudah terjadi di tempat ini. Semua itu di luar rencana Prabu Jabang Wiyagra dan Lare Damar.


Untung saja, Prabu Jabang Wiyagra mendukung dan setuju dengan keputusan yang dilakukan oleh Lare Damar. Karena kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Namun Lare Damar diminta untuk segera mengendalikan Pangeran Rawaja Pati yang sudah menyerang secara membabi buta. Kalau sampai tidak dikendalikan, Pangeran Rawaja Pati akan memusnahkan semua orang yang ada di sana.


Setelah selesai menghubungi Prabu Jabang Wiyagra, Lare Damar langsung masuk ke dalam. Dia duduk bersila di tengah-tengah pertempuran yang sedang terjadi. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Saat itu juga, Pangeran Rawaja Pati yang sebelumnya tidak terkendali, sekarang sudah dipegang penuh oleh Lare Damar.

__ADS_1


Dengan ilmu yang ia miliki, Lare Damar memberikan kesadaran penuh kepada Pangeran Rawaja Pati. Agar Pangeran Rawaja Pati bisa membedakan, mana kawan dan mana yang lawan. Walaupun pandangan mata Pangeran Rawaja Pati sudah berubah, karena dalam wujud siluman naga, tetapi Pangeran Rawaja Pati sudah bisa membedakan mana musuh yang sebenarnya.


Pangeran Rawaja Pati bahkan bisa mengetahui, kalau yang memberikan kesadaran penuh kepadanya, adalah Lare Damar.


"Patih Kinjiri! Bukakan jalan untukku! Aku harus membantu Pangeran Rawaja Pati menghadapi Prabu Bawesi!" Perintah Lare Damar kepada Patih Kinjiri.


"Baik!"


"....Pasukan! Buka jalan untuk Lare Damar!"


Para pasukan di sekitar Patih Kinjiri langsung membentuk sebuah barisan, agar bisa menerobos kumpulan prajurit musuh. Mereka menyerang dengan cepat dan tepat. Membuat kumpulan pasukan musuh kewalahan untuk menahan mereka. Bahkan banyak pasukan musuh yang terluka, karena berusaha menahan Patih Kinjiri dan pasukannya.


Suasana di wilayah itu benar-benar sudah tidak bisa dikondisikan. Ribuan pasukan saling adu kemampuan mereka masing-masing. Banyak sekali para pimpinan pasukan dari pihak Prabu Bawesi yang sudah mati terlebih dahulu oleh serangan meriam, sehingga banyak kelompok pasukan yang bergerak tanpa seorang pemimpin.


Semua keraton sudah dihancurkan oleh serangan meriam. Ada beberapa raja yang akhirnya mati terpanggang di tempat itu. Mereka mati sia-sia, karena tidak siap menerima serangan yang datang secara tiba-tiba, dari Pangeran Rawaja Pati dan juga Lare Damar. Sekarang, jalan menuju ke Prabu Bawesi terbuka lebar untuk Lare Damar.


Lare Damar melihat bagaimana kehebatan Pangeran Rawaja Pati yang sedang berhadapan dengan Prabu Bawesi. Prabu Bawesi dibuat kesal dengan Pangeran Rawaja Pati yang tidak berhenti mencambuk dengan ekornya. Saat melihat Lare Damar dan Patih Kinjiri ada di sana, Prabu Bawesi menjadi semakin murka.


Karena, keberadaan Lare Damar dan Patih Kinjiri adalah sebuah tanda, kalau pasukannya tidak mampu menahan gelombang serangan yang begitu besar. Sampai akhirnya, Prabu Bawesi mengeluarkan ilmu andalannya. Yaitu merubah wujud menjadi seekor harimau berwarna hitam pekat. Kedua matanya merah menyala seperti kobaran api.


Melihat kalau Prabu Bawesi sudah mengeluarkan jurus andalannya, Lare Damar juga tidak bisa menahan dirinya lagi. Saat itu juga, Lare Damar langsung merubah wujudnya menjadi seekor harimau putih. Yang memiliki tanduk di kening, dan juga kedua taring yang panjang di mulutnya. Lare Damar baru sekali ini merubah wujudnya menjadi harimau putih.

__ADS_1


Sebelumnya Lare Damar selalu menggunakan kemampuan bela diri, ataupun ilmu kanuragannya yang lain. Dengan cepat, Lare Damar langsung menerkam Prabu Bawesi. Prabu Bawesi yang sudah berubah wujud itu, menjadi sangat kuat dan sulit diserang. Bahkan, Prabu Bawesi bisa menggigit ekor Pangeran Rawaja Pati dengan sangat kuat.


__ADS_2