
"Ada apa? apakah ada masalah dengannya?" tanya Jofan mendekati Aurora yang tampak begitu ketakutan.
"Aku baru saja bertemu dengan Sania," ujar Aurora keceplosan.
Jofan dan Siena yang mendengar hal itu langsung mengerutkan dahi, apakah Aurora sedang mengigau? mana mungkin dia menemui Sania. Jofan memandang Aurora dengan tatapan tak percaya.
"Benar, aku bertemu dengannya, dia sangat cantik, rambutnya panjang, hidungnya, matanya, dan senyumnya begitu hangat," kata Aurora mencoba menyakinkan suaminya dan Siena yang terus menatapnya aneh.
"Kau hanya terlalu lelah," ujar Jofan tak ingin melawani istrinya.
"Dia mengatakan padaku untuk mengatakan ini padamu," ujar Aurora lagi pada Jofan yang sedang membuka jam tangannya. Mendengar itu Jofan terdiam, bahkan langkahnya untuk membuka jam itu terhenti.
"Apa pesannya?" tanya Jofan seadannya, hanya ingin membuat Aurora tak merasa diabaikan.
"Dia mengatakan relakanlah," kata Aurora pada Jofan.
Kata-kata Aurora membuat hening suasana kamar itu, Jofan kembali mematung, Siena yang mendengar itu juga tak mengerti, apa yang harus direlakan. Jofan melihat ke arah Aurora, lalu melihat ke arah Siena, dia rasa dia harus berbicara empat mata dengan Aurora.
"Aurora, bisa bantu aku membuatkan teh kesukaanku di dapur?" tanya Jofan dengan ramah dan segera berjalan menuju dapur.
Aurora yang seperti masih dianggap tak benar, sedikit merasa kecewa, namun karena Jofan memintanya dengan begitu halus, dia mau tak mau mengikuti Jofan yang sudah ada di dapur. Ruanga itu ada di sebelah ruangan rawat Sania, sedikit tertutup, sehingga Jofan bisa memastikan bahwa Siena tak akan bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Benarkah dia bertemu dengannya? " tanya Jofan melirik Aurora yang baru saja masuk ke dalam dapur itu, menatapnya masih kurang percaya.
"Iya," kata Aurora sambil mengangguk seperti anak kecil, sedikit takut dengan suara Jofan yang mengintrogasi.
__ADS_1
"Apa katanya?" ujar Jofan lagi.
"Dia hanya menunjukkan padaku apa yang terjadi, aku tak tahu, mungkin aku hanya bermimpi," ujar Aurora yang sekarang malah tak percaya diri mengatakannya pada Jofan, Jofan mengerutkan dahi.
"Menunjukkan apa?"
"Tentangmu berbicara dengan Dokter Elly, Dokter Elly mengatakan seperti walaupun Sania sembuh dia tidak bisa seperti normal, dan aku juga melihatmu menangis di ujung koridor rumah sakit, ah, kau benar, mungkin aku hanya bermimpi karena terlalu lelah, aku bangun pagi-pagi sekali," ujar Aurora memegangi kepalanya, merasa baru mengalami mimpi paling nyata yang bisa dia ingat.
Jofan yang mendengar itu terkejut setengah mati, bagaimana Aurora bisa tahu? padahal saat itu dia sama sekali tidak ada di sana, bagaimana dia tahu apa yang dikatakan oleh Dokter Elly sedangkan dia ada di ruangan itu.
"Apa yang ingin dikatakan Sania? " tanya Jofan yang tiba-tiba tampak begitu serius, dia bahkan mendekati Aurora dan memegang tangannya.
"Eh … dia bilang, relakanlah, " kata Aurora sedikit kaget dan takut melihat Jofan seperti itu. Jofan terdiam, dia mengerutkan dahi.
Relakanlah? Apa maksud Sania? merelakannya kah? Apa ini jawaban dari pertanyaannya tadi? Apakah Sania ingin pergi meninggalkannya? Kenapa harus melepaskan jika dia sudah bertahan begitu lama? Kenapa?
"Ada apa denganmu?" kata Aurora lembut mengelus kepala suaminya yang bersandar di bahunya, membuat Jofan makin terisak karenanya. Jofan menarik napasnya panjang, menyela air matanya segera, tak ingin terlihat lemah dihadapan Aurora.
"Apa lagi yang dia katakan padamu?" tanya Jofan.
"Tak ada, ehm … aku hanya mengatakan bahwa kau tidak akan percaya padaku, tapi dia mengatakan, 'Secangkir Macha Latter sudah dibayar lunas'" ujar Aurora mengutip kata-kata Sania.
Jofan benar-benar tak percaya, kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aurora, dia sampai menarik napas panjang, begitu terkejut dengan semuanya, kini dia yakin, Sania benar-benar datang dan menjawab pertanyaannya, namun kenapa harus ke Aurora, kenapa dia tak datang menemui Jofan, tak tahukah dia bertapa Jofan merindukan sosoknya, bahkan arwahnya pun dengan senang hati Jofan temui, itukah perminataan terakhinya? untuk menelepaskannya.
"Ayah! Ayah!" teriak Siena panik, dia segera menemui ayahnya yang ada di dapur, Aurora dan Jofan yang mendengarnya langsung kaget.
__ADS_1
"Ada apa? " tanya Jofan.
"Ibu! Ayah, Ibu kejang! " kata Siena panik dan cemas, Jofan yang mendengar itu langsung berlari, melihat tubuh kecil Sania yang mulai menghentak, tak terlalu bergerak namun tangan dan kakinya mulai gemetar, napasnya yang tadi teratur tampak sesak dan alat monitor jantung yang tadinya tenang, sekarang terdengar memekikkan telinga.
Jofan yang melihat itu segera menekan bel yang ada di samping ranjang Sania, dia tak tahu harus apa sekarang, hanya bisa melihat tubuh Sania yang benar-benar seperti di ambang maut. Jofan lalu teringat sesuatu.
Relakanlah,
mungkin inilah yang menghalangi Sania selama ini, mungkin perasaan cinta Jofan yang selama ini menghalangi Sania untuk pergi, perasaan ingin bertemu walau untuk yang terakhir kalinya, itu lah yang menahannya di dunia ini.
Jofan langsung mendekati tubuh Sania yang sudah seperti ikan kekurangan air, mengelepar tak berdaya, Jofan langsung memegang tangan Sania, dia mendekatkan dirinya ke telinga Sania. Belum dia mengucapkan sepatah kata pun air matanya sudah deras membasahi matanya, tak ada lagi kewibawaan, tidak ada lagi ketegasan, hanya rasa pilu yang lirih, sebuah tangisan terakhir, tangisan perpisahan.
"Sania, aku tahu aku tak pernah mengatakanpadamu secara langsung bahwa kau adalah wanita yang paling aku cintai, dari pertama aku melihatmu menyambutku di kedai kopi di pagi yang cerah, aku tak menyangka gadis dengan senyuman begitu manis itu akan menjadi orang yang paling penting bagiku hingga sekarang, setiap tawamu membuatku semakin menyukaimu, Mocha latte buatanmu benar-benar membuatku rindu," Jofan berhenti sejenak, menarik napas dan menyeka hidungnya yang sudah berair karena tangisnya, suaranya serak menahan kesedihannya, "Sania, kau benar-benar menungguku, terima kasih, terima kasih sudah memberikan cinta dan nyawa hanya untuk membawa Siena padaku, terima kasih karena sudah begitu berjuang untukku, aku berharap masih punya waktu untuk sekedar menikmati senyummu," bayangan senyuman indah Sania tampak begitu jelas di mata Jofan, membuatnya terhenti sejenak.
"Aku begitu mencintaimu, tak menyangka obsesiku yang membuatmu terperangkap, Sania, jika kau sekarang ada di sini, aku hanya ingin mengatakan, tak apa, sudah tidak apa-apa jika kau sudah ingin pergi, pergilah, aku kini melepasmu … aku merelakanmu, aku …. " ujar Jofan serasa menahan pedih dan pahit sekaligus, serasa ada bara di dalam tenggorokannya, membuatnya seketika tercekat, tak sanggup lagi berkata-kata, air matanya mengalir, bahkan Aurora dan Siena yang tak mendengar kata-kata itu pun menangis melihatnya.
"Aku rela, " kata Jofan lagi mengenggam tangan Sania dengan erat, suara Jofan lebih keras, sehingga Siena bisa mendengarkannya, seolah kaget dan tak percaya, Siena langsung mendatangi ayahnya.
"Ayah, apa yang kau katakan, kau tidak boleh merelakan ibuku! aku baru bertemu dengan ibu! ayah!" ujar Siena terlihat marah. Jofan yang masih terlihat sangat terpukul itu tak merespon apa pun, Dokter Elly yang ada di sana awalnya hanya diam, namun Siena langsung mendekatinya.
"Kau dokternya! tolong ibuku! kenapa kalian diam saja?" kata Siena seperti orang sangat marah, bahkan panik tak beralasan, tangan Dokter Elly ditarik-tarik oleh Siena, melihat itu Dokter Elly mencoba untuk melakukan tindakan, namun Jofan yang melihat itu langsung merentangkan tangannya pada tubuh kecil Sania, seolah melarang, Dokter Elly yang melihat itu hanya bisa terdiam, dia mengerti maksud Jofan.
"Ayah!" teriak Siena yang tidak dianggap.
Setetes air mata mengalir hangat ke pipi Sania, begitu air mata itu hilang di sela rambutnya, alat monitor jantungnya membunyikan suara panjang yang melengking, membuat tangis Jofan semakin menjadi, melepaskan seseorang tak akan pernah bisa begitu mudah, suasana suram menyelimuti semuanya, tak seorang pun di ruangan itu bisa menahan tangis. Siena begitu histeris melihat keadaan ibunya, membuat Jofan perasaannya semakin hancur karenanya.
__ADS_1
Dokter Elly pun begitu haru melepas Sania, dia segera ingin melepas alat bantu yang masih terpasang di jasad Sania, Jofan melepaskan pelukannya, tak ingin tapi harus dilakukannya, sekali lagi menatap wajah Sania, tampak begitu tenang, sangat tenang, Jofan menyeka air matanya dan hidungnya yang berair, mundur beberapa langkah, membiarkan para perawat mulai mengurusi jenazah Sania, akhirnya memang harus merelakan.