Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
26 - Tunggu Aku.


__ADS_3

Jofan mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh ajudan Jendral Indra, setelah dia turun jabatan dari presiden mereka memang jadi jarang berhubungan karena kesibukan masing-masing, ditambah lagi dia harus pindah ke luar negeri, namun Jofan tetap mengingat jasanya. Jendral Indra begitu banyak membantunya dalam masalah Bella dan Angga.


Tak lama dia sampai di rumah sakit itu, seorang tentara langsung mengarahkannya ke suatu ruangan yang dijaga penuh oleh para tentara, ketika dia sampai di ruangan, pintunya segera dibukakan dan Jofan masuk dengan kharismanya yang masih terpancar jelas, Jofan melihat ke sekeliling ruangan itu, di ruangan itu hanya ada Ajudan dan Jendral Indra yang terlihat lemah.


"Selamat datang Tuan Jofan," kata Ajudan Jendral Indra menyambut Jofan.


"Terima kasih, ada apa dengannya? aku tidak pernah mendengarnya sakit," kata Jofan melihat Jendral Indra masih tertidur.


"Jendral Indra diserang dalam perjalanan pulang ke rumah, keadaan beliau kritis karena lukanya sangat parah," kata Ajudannya.


"Lalu apa yang ingin dia katakan? bukannya lebih baik dia menghabiskan waktunya dengan istirahat dulu," kata Jofan berdiri di samping ranjang Jendral Indra namun tak sadar Jendral Indra mulai membuka matanya.


"Aku rasa waktuku sudah tak lama," kata Jendral Indra lemah, dia melirik ke arah Jofan. Jofan yang mendengar itu segera melihat ke arah Jendral Indra, mendekatkan dirinya karena suara Jendral Indra yang lumayan terdengar kecil dan lemah.


"Ada apa?" tanya Jofan.


"Aku ingin minta maaf, seharusnya aku mengatakan ini dari dulu," ujar Jendral Indra lemah, suaranya terbata, namun cukup jelas. Jofan mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Jendral Indra.


"Untuk apa kau meminta maaf," kata Jofan lagi.


"Aku sudah membiarkan dan membantu merusak kehidupanmu, maafkan aku untuk itu," kata Jendral Indra.


Mendengar itu Jofan semakin mengerutkan dahinya, dia sama sekali tidak tahu apa yang di katakan oleh Jendral Indra, apa maksudnya?

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak paham apa maksudmu, keadaanmu kritis sehingga membuatmu berbicara kacau, sudah, istirahatlah dulu," kata Jofan menegakkan tubuhnya menatap wajah Jendral Indra yang biasa sangat gagah itu terlihat layu dan lemah, pucat sekali.


"Ini tentang … Nona Sania," kata Jendral Indra kesusahan dalam mengatakannya.


Jofan yang awalnya melihat ke arah lain langsung menatap Jendral Indra, wajahnya yang tadi terlihat santai sekarang menatap Jendral Indra dengan tegang, matanya menatap tajam, apa dia tidak salah dengar? dia mendengar nama Sania?


"Apa maksudmu?" kata Jofan sekarang benar-benar serius, dia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Jendral Indra.


Tangan Jendral Indra bergerak, matanya melirik sesuatu di samping tempat tidurnya, sebuah lemari kecil yang terdiri dari laci-laci kecil, Jofan langsung melihat ke arah yang di lirik oleh Jendral Indra.


"Bukalah laci yang paling atas, ada sesuatu yang harus aku berikan dari dulu padamu," kata Jendral Indra sekuat tenaga mengatakannya agar terdengar lancar oleh Jofan.


Jofan segera membuka laci yang ada di  lemari itu dengan tergesa, dia menemukan sebuah map plastik dengan beberapa dokumen yang ada di dalamnya. Dia lalu membuka map itu dengan segera, mengeluarkan sebuah dokumen dan segera membacanya, matanya langsung membesar, dia tak percaya dengan apa yang di bacanya, wajahnya yang tadinya serius langsung berubah menjadi penuh emosi, tangannya mengepal kuat hingga memunculkan urat-uratnya dan gemetar, dia terus membaca dokumen itu hingga habis, setiap katanya malah membuat emosinya makin memuncak, bagaimana ini bisa terjadi?


"Maafkan aku," kata Jendral Indra lagi ketika melihat wajah Jofan yang tampak sangat syok.


Jofan menatap Jendral Indra, dia wajahnya begitu serius, tatapannya tajam dan penuh dengan emosi.


"Maaf, tapi aku harus pergi sekarang," kata Jofan, dia segera memasukkan dokumen itu lagi dan segera pergi membawa map itu, meninggalkan Jendral Indra yang terlihat tersenyum, akhirnya dia melakukan hal yang benar, bahkan jika dia meninggalkan dunia ini sekarang, dia tak akan terbebani.


Jofan buru-buru keluar dari rumah sakit itu, bahkan dia beberapa kali ingin menabrak beberapa orang di sana, dia segera masuk ke dalam mobilnya setelah sampai di parkiran, dia melihat kembali dokumen yang tadi dia baca tetap saja dia tidak bisa percaya, bagaimana ini bisa terjadi? pantas saja dia tidak bisa menemukannya dimana pun, ternyata ….


Jofan menghidupkan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu secapatnya, dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat membelah jalan raya yang tetap cukup ramai pada malam itu.

__ADS_1


Dia masih tidak percaya dan melihat dokumen itu hatinya menjadi sangat sakit, bagaimana mereka bisa tega melakukan hal ini padanya? bagaimana mereka bisa menyembunyikan hal ini darinya selama ini, terlalu banyak bagaimana yang muncul di pikirannya, sekarang yang penting adalah dia akan menemui wanita yang selama 23 tahu ini ada di dalam pikirannya, di dalam hatinya, tak pernah keluar dari pikirannya walau pun sedetik, dia akan menemuinya.


Sania, tunggu aku, pikir Jofan menekan pedal gas mobilnya lebih dalam.


Jofan segera keluar dari mobilnya saat dia tiba di sebuah rumah yang megah, dia segera menuju ke pintu utama ruangan itu, 2 penjaga rumah itu segera membukakan pintu untuk Jofan, dia segera masuk ke dalam ruang tamu yang sangat besar dengan dekorasi bergaya Eropa yang sangat mewah dan megah.


"Selamat malam Tuan Jofan, Anda datang malam sekali," seorang kepala pelayan datang menyambut Jofan yang masuk ke dalam sana dengan sangat buru-buru.


"Apakah dia belum tidur? aku ingin berbicara dengannya sekarang," kata Jofan dengan suara dan tatapan yang begitu serius.


"Baiklah, saya akan memanggilkan Beliau," kata kepala pelayan itu segera mengikuti perintah Jofan karena melihat keseriusan dari wajah Jofan, Jofan hanya melihat pelayan itu masuk ke dalam, dia bahkan tidak bisa duduk tenang karena hal ini, dia masih terlalu terkejut dan syok karena kabar malam ini, bagaimana bisa? pikirnya lagi tak habis pikir.


Tak lama seorang wanita tua dengan piyama tidur tebal berwarna peach yang terlihat sangat mewah keluar dari dalam, melihat Jofan wajahnya langsung sumringah, sudah lama sekali dia tidak melihat anaknya.


"Jofan, apa yang membuatmu datang ke mari, bahkan kemarin saat di tempat Angga kau tidak ingin berbicara dengan Ibu," kata wanita itu merentangkan tangannya tanda menyambut anaknya dengan sangat hangat.


Jofan menatap ibunya dengan tatapan tajam, dia lalu mendekatinya dan segera menyodorkan dokumen itu tepat di depan ibunya.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi?" kata Jofan pada ibunya, wajah Jofan yang tadinya serius sekarang terlihat kesal dan marah, emosinya sungguh sudah di puncaknya.


Wajah ibu Jofan yang tadinya sangat bahagia menyambut anaknya langsung berubah ketika dia membuka dokumen dan melihat hal-hal yang ada di sana, dia bahkan sampai ternganga membacanya, menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia tidak percaya ini terjadi, selama ini dia pikir hal ini tidak akan terjadi.


"Ibu! Aku mau Ibu menjelaskan hal ini padaku! Apa aku harus membongkar kuburan ayah untuk mencari jawaban tentang ini di sana?" bentak Jofan cukup keras hingga menggema di ruangan besar itu, hal itu membuat ibunya kaget, namun mencoba menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Baik, baik, Ibu akan menjelaskannya, tapi bisakah kau tenang ini sudah sangat malam, ayo menceritakannya di ruang kerja ayahmu," kata ibu Jofan mencoba untuk menenangkan Jofan, juga menenangkan jantungnya yang berdetak begitu cepat mendengar kemarahan dan suara keras dari Jofan itu, dia cukup tua untuk menerima kemarahan ini.


__ADS_2