
"Ya, tapi kenapa tidak membicarakannya dulu? " tanya Jenny lagi.
"Karena itu siang ini lah aku ingin membicarakannya padamu, sekaligus bisa mempertegas hubungan kita jika kedua keluarga kita sudah bertemu," kata Anxel sedikit melirik pemandangan dari meja prakteknya yang serba putih itu.
"Oh, ok, baiklah kalau begitu," kata Jenny menggaruk-garuk dahinya, benar juga, untuk apa di tunda, hasilnya juga sudah tahu, keluarga mereka pasti sangat setuju dengan hubungan ini.
"Sampai jumpa saat makan siang," kata Anxel dengan senyum tipis.
"Sampai jumpa," kata Jenny, panggilan langsung terputus.
Jenny memandang ke arah kaca, tersentak terkejut melihat Jonathan yang berdiri tepat di belakangnya, sejak kapan dia ada di sana? Jenny terlalu kaget mendengar kabar tentang pertemuan keluarga untuk makan siang ini, tanpa sadar Jonathan masih di sana.
"Anxel? Huh?" kata Jonathan sedikit menaikkan alistnya.
"Oh, ya," kata Jenny salah tingkah dia ingin membalikkan tubuhnya, tapi jika dia lakukan, dia akan bertentangan langsung dengan Jonathan dan dia bisa merasakan jarak di antara mereka akan sangat dekat.
"Siapa dia?" tanya Jonathan lagi, tahu kekikukan Jenny yang sudah dia buat.
"Hanya anak pedana menteri," kata Jenny yang akhirnya bisa bernapas lega, dia membalikkan tubuhnya, mengambil barang-barangnya, lalu segera bersiap-siap.
"Ternyata wanita sama saja di mana-mana ya? jika ada yang punya kedudukan, meraka akan segera menempel," kata Jonathan menghempaskan tubuhnya ke sofa, entah kenapa merasa sedikit frustasi.
"Tentu, jika memiliki kesempatan untuk mendapatkan pria yang sempurna kenapa tidak, Anxel kandidat paling cocok untukku, dia punya kedudukan, wajahnya juga tidak terlalu buruk, tidak akan memalukan keturunan, keluarganya terpandang, ya, apalagi yang dibutuhkan seorang wanita selain itu semua," kata Jenny lagi melihat Jonathan yang hanya tersenyum menyindirnya. "Baiklah, terima kasih untuk pertolonganmu semalam, dan aku berharap kau cepat sembuh, berikan kunci mobilku," kata Jenny berdiri di depan Jonathan.
Jonathan memandang Jenny yang tampak begitu cantik, dia memasang wajah diamnya, merasa tak senang hanya di anggap seperti ini, ada dari kata-kata Jenny yang tadi menyingung hatinya, Anxel? Pria itu yang paling cocok untuk Jenny, itu artinya sama saja Jonathan tidak cocok untuk Jenny, bagaimana wanita itu bisa berpikir seperti itu.
Jonathan bangkit, merogoh sakunya, namun sesaat kemudian dia berhenti, melirik sekali lagi ke arah Jenny dengan tatapan yang begitu meluluhkan hati, membuat bahkan seorang Jenny bisa terdiam.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu," kata Jonathan lagi.
"Ha? Tidak perlu, kau tahu, di sana ada paman dan sahabat pamanku, jika dia melihatmu akan … " kata Jenny kegelagapan karena Jonathan sudah pergi keluar dari kamarnya, Jenny mengikutinya.
"Akan apa? apa aku tak cukup pantas hanya untuk mengantarmu pulang, lagi pula di tempatku berasal, seorang pria harus bertanggung jawab membawa seorang wanita hingga sampai ke rumahnya, bahkan meminta maaf jika dia sudah membuatnya pulang terlambat, aku sudah membuatmu tidak pulang semalaman, karena itu aku akan minta maaf pada pamanmu," kata Jonathan.
"Jangan, kau tak tahu bagaimana buruknya hubungan pamanku dengan ayahmu," kata Jenny yang masih mencoba merayu Jonathan untuk menyerahkan kunci mobilnya.
"Aku tahu, kau kira aku tidak tahu, ayahku mencintai bibimu bertahun-tahun, dan akulah alasan kenapa ayahku mau menikahi ibuku, aku tahu itu semua, tapi itu tidak ada hubungannya denganku," kata Jonathan lagi.
Jenny yang mendengar itu sedikit terdiam, benarkah Jonathan tahu tentang masa lalu ayahnya dan bibinya.
"Karena itu aku ingin pamanmu tidak berpikir aku adalah pria yang tak bertanggung jawab, jika seadainya dia mengetahui bahwa semalaman ini kau bersamaku, dan tiba-tiba saja kau pulang sendirian, kira-kira apa yang akan dipikirkan keluatgamu tentangku?" tanya Jonathan lagi dengan sangat serius, tatapan matanya pun menyiratkan itu, Jenny tak bisa lagi berkata-kata, dia hanya menggigit bibirnya, dengan berat hati melangkah dan mengikuti Jonathan untuk turun ke lobby dan berjalan ke arah mobilnya.
Seperti yang dikatakan oleh Jonathan, mobil Jenny sudah bersih seperti sedia kala, tak ada bau lembab ataupun bawah, namun hal itu tak bisa membuat ketegangan Jenny menghilang, lagi-lagi dengan wajah sangat serius, Jonathan melajukan mobilnya ke istana.
Jenny segera keluar dari mobil itu, dia memperbaiki gaun malam yang sudah tak cocok dia gunakan untuk pagi ini. Dia melihat wajah Jonathan yang masih seserius tadi, mau tak mau dia tetap mengikuti Jonathan
“Aku sudah sampai, dan kau sudah mengantarku kan?" kata Jenny lagi, sedikit melirik ke segala arah, takut tiba-tiba pamannya muncul di sana.
"Benar," kata Jonathan lagi.
"Ya, sudah pulang sana," kata Jenny mulai kesal dengan sikap Jonathan.
"Pulang? kau kira aku pria apa yang mengantar seorang wanita di depan rumahnya lalu pergi begitu saja, aku akan memberikan penjelasan pada pamanmu," kata Jonathan.
"Tidak perlu, sudah, pulang saja," kata Jenny kesal.
__ADS_1
"Tidak, aku pria yang punya prinsip," kata Jonathan lagi bersikeras.
"Ih, kau ini, ingin membuatku kena marah ya?" kata Jenny semakin kesal, namun setelah dia mengucapkan hal itu, terdengar suara yang tak asing ….
"Jenny?" suara Aurora terdengar sedikit kaget namun tetap lembut, Jenny yang mendengar itu langsung diam, Jonathan yang mendengar hal itu segera memalingkan wajahnya menuju ke sumber suara.
Aurora yang melihat Jonathan langsung kaget, apa yang Jonathan lakukan di sini? jangan-jangan Liam pun ada di sini.
"Bibi, maaf, dia memaksa sekali," kata Jenny langsung menemui ibunya itu. berdiri di sebelahnya.
"Selamat pagi Bibi, maafkan aku, tadi malam … " kata Jonathan ingin menjelaskan, namun dia berhenti ketika melihat Jofan keluar dari istana itu bersama seorang pria, Jofan seperti ingin mengantarkan pria itu keluar dari istana.
Jenny yang melihat pamannya keluar langsung membesarkan matanya, bukan saja kaget melihat pamannya namun juga kaget melihat pria di sebelahnya, Anxel? Bagaimana bisa dia ada di sini sekarang.
Jofan yang melihat Jenny mengerutkan dahinya, dari dandanannya tampak tak cocok untuk pagi hari, Anxel juga melihat ke arah Jenny, dia lalu memalingkan pandangannya ke arah pria yang ada di belakangnya.
"Anxel?" kata Jenny yang membuat Jonathan sedikit kaget, dia melihat pria itu, untuk masalah penampilan, jauh di bawah Jonathan tentunya.
"Anxel, katakan pada ayahmu, kami akan datang dengan senang hati, hati-hatilah, bukannya kau punya pasien yang mendesak tadi?" kata Jofan yang secara tak langsung mengusir dengan halus.
"Oh, baiklah, aku akan sampaikan, aku permisi dulu, Paman dan Bibi," kata Anxel mencoba bersikap sopan, dia lalu berjalan ke arah Jenny, melihat Jenny yang salah tingkah karenanya.
"Jangan lupa acara makan siang ini, keluarga kita akan bertemu," kata Anxel secara tidak langsung menegaskan pada Jonathan siapa yang sebenarnya mendapatkan wanita yang ada di tengah mereka ini.
"Oh, baiklah, hati-hati di jalan," kata Jenny dengan gugup, tak tahu harus berkata apa.
"Baiklah," kata Anxel dengan senyuman manisnya, matanya tajam menatap Jonathan, namun tak sedetik pun Jonathan gentar melihatnya.
__ADS_1