
Gerald duduk di salah satu sofa di yand berdekatan dengan ranjang Archie, Archie masih terlihat tenang seolah hanya tertidur dengan damai, Gerald tidak bisa membayangkan, saat Gerald tak sadarkan diri, sahabatnya ini sadar duluan, namun sekarang saat Gerald sudah sadarkan diri dan keadaannya perlahan membaik, malah Archie yang keadaannya memburuk, bahkan tak sadarkan diri.
Saat Gerald sedang menatap Archie, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Gerald segera melihat siapa yang datang, dia langsung berdiri melihat Asisten Lin yang membuka pintu, tentu dia tahu siapa yang akan masuk selanjutnya setelah itu.
"Selamat siang Yang Mulia," kata Gerald berusaha memberikan salam formalnya, namun karena tubuhnya juga masih penuh dengan rasa sakit, dia tak bisa melakukannya dengan sempurna.
"Bangkitlah, jangan memaksakan dirimu," kata Angga yang tahu bagaimana keadaan Gerald, dia melihat di lengan atas Gerald masih ada kasa besar yang melekat di sana.
"Terima kasih Yang Mulia," kata Gerald bangkit, Angga langsung mendekatkan dirinya untuk melihat keadaan Archie, ternyata masih sama saja seperti kemarin.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Angga, kata-kata itu sering dia ucapkan beberapa hari ini.
"Stabil, semua tanda vitalnya dalam batas normal, namun dia masih belum sadar," kata Gerald menjelaskan keadaan Archie pada Angga.
Angga hanya mengangguk kecil, melihat ke arah Archie, di luar lukanya hampir tidak ada sama sekali, tapi tak disangka di dalamnya cukup parah.
"Gerald, aku ingin berbicara denganmu di ruangan ku," kata Angga melirik ke arah Gerald.
"Baik Yang Mulia," kata Gerald.
Angga melihat Archie lagi sejenak, setelah itu dia segera membalikkan tubuhnya dan Asisten Lin yang mengerti langsung membukakan pintu untuk Angga, Gerald pun mengikuti Angga dari belakang, berjalan menuju ruangan khusus Angga.
Gerald duduk di depan Asisten Lin, sedangkan Angga duduk di tempat yang selalu dia duduki, Gerald memperhatikan Asisten Lin dan Angga, wajah mereka sama-sama seperti menanggung beban yang sangat besar, namun dia tak berani bertanya, memandang terlalu lama saja dia tak berani apa lagi mengeluarkan kata-kata atau pun pertanyaan.
"Katakanlah," kata Angga pada Asisten Lin.
"Saya baru mendapatkan kabar Yang Mulia, bahwa Tuan Rain sudah dibebaskan," kata Asisten Lin.
__ADS_1
Angga tampak tak kaget, sedangkan Gerald yang mendengarkan hal itu langsung refleks menegakkan tubuhnya hingga rasa sakit di tubuhnya kembali lagi, dia tentu kaget, bagaimana bisa Rain bebas? dia baru mendapat kabar bahwa Rain sudah tertangkap, dia kira Rain akan mendekam di penjara lebih lama, tapi belum ada 3 hari, pria itu sudah dibebaskan? Bagaimana bisa?
"Bagaimana bisa?" tanya Angga yang seolah mewakili isi otak Gerald sekarang.
"Pihak militer negaranya menjamin kebebasan Tuan Rain, mereka meminta kebebasannya secepatnya dan mereka juga mengancam jika tidak membebaskan Tuan Rain maka hubungan baik antara kedua negara akan putus dan genjatan senjata tidak akan terelakkan," kata Asisten Lin menjelaskan.
Angga dan Gerald mengerutkan dahinya, sebegitu kuat pengaruh Rain di negaranya sendiri, bahkan pihak militernya bisa dia kuasai dan berada dalam kendalinya.
"Tuan Rain memang sangat berpengaruh di negaranya, bahkan saya dengar, Presiden di sana adalah orang yang dibantu oleh Tuan Rain untuk mendapatkan jabatannya, jadi dia tak bisa berbuat apapun pada Tuan Rain," kata Asisten membeberkan alasan kenapa Rain begitu berkuasa di sana.
"Aku akui dia hebat, semuda itu sudah mengusai semuanya, " kata Angga dengan wajah seperti berpikir keras.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Yang Mulia Raja," kata Gerald.
Angga melihat ke arah Gerald, Gerald jadi gugup karenannya.
"Tolong jaga Archie, selain itu aku ingin kau datang ke Markas militer khusus untuk melihat keadaan Ceyasa, tapi jangan beritahu apa yang terjadi padanya, katakan saja Archie sangat sibuk mengurusi Ibunda Ratu hingga tidak bisa datang ke sana," kata Angga lagi, tahu Ceyasa pasti sudah sangat cemas menunggu Archie di sana, banyak sekali yang harus Angga pikirkan sekarang.
"Baik Yang Mulia," kata Gerald mengerti.
"Berjalan dengan baik, saya memiliki rekaman yang Anda minta, saya akan menyerahkannya pada Anda," kata Gerald juga baru ingat tentang hal itu.
"Baiklah, berikan pada Asisten Lin jika kau sudah membawanya," kata Angga lagi.
"Siap Yang Mulia Raja," kata Gerald lagi.
"Kembalilah untuk menjaga Archie, setelah kau cukup kuat, temui Ceyasa hari ini," kata Angga lagi.
"Baik Yang Mulia, Saya permisi dulu," kata Gerald berdiri dan memberikan salam, lalu segera keluar dari ruangan Angga.
"Asisten Lin, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?" tanya Angga pada Asisten Lin.
"Saya belum mendapatkan apapun, keluarga kerajaan hanya tinggal intinya saja, sepupu atau keponakan yang bukan dari dari keturunan Raja langsung tampak sudah tidak ada, itu juga karena penyakit tersebut, banyak yang meninggal di saat mereka balita hingga tak ada yang melanjutkan keturunan mereka, tapi saya akan berusaha untuk mencarinya lebih jauh lagi, Yang Mulia," kata Asisten Lin lagi.
"Baiklah," kata Angga yang sudah tahu, hal ini akan menjadi hal yang sulit. Dalu, darahnya lah yang menjadi incaran semua orang, namun sekarang, untuk mencari darah yang murni dengan penyakit itu ternyata lebih susah.
__ADS_1
---***----
Rain menyipitkan matanya, tampak sedikit kesilauan karena dia baru saja keluar dari ruang tahanannya, wajahnya begitu ketat dan serius, tampak tak ramah sama sekali, juga tidak nyaman.
Empat orang tentara dari negaranya tampak mengitarinya, ketegangan begitu terasa di tempat penahanan Rain, sebuah mobil mewah berhenti di depannya, pintu segera di bukakan untuk dirinya, dan dengan bebasnya dia melenggang masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu, Asisten Ken pun mengikutinya dari belakang, di duduk di kursi depan mobil itu, tak lama mobil itu melaju, diikuti 2 mobil yang diisi penjaga dan juga tentara Rain.
"Dimana dia sekarang?" tanya Rain dengan suara dan wajah tak bersahabat, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.
Asisten Ken yang baru saja duduk langsung membuka tabletnya, mencari semua yang dia bisa, cukup lama dia mengutak atik tabletnya itu hingga dia bisa menemukan jawaban untuk Tuannya, dia lalu melihat ke arah Rain yang hanya menatap depan, wajahnya benar-benar tampak tak bersahabat.
"Markas Militer Khusus," kata Asisten Ken memberikan jawaban untuk Rain, Rain melirik Asisten Ken, lirikannya penuh kemarahan.
"Bagaimana menembusnya?" tanya Rain lagi.
"Tidak bisa, itu daerah yang tak tersentuh sama sekali, dia ada di sebuah pulau, bahkan presiden sendiri harus punya alasan khusus untuk masuk ke dalamnya," kata Asisten Ken.
"Lalu bagaimana dia bisa masuk ke dalam sana?"
"Pasti perintah khusus Yang Mulia Raja," jelas Asisten Ken.
"Artinya yang bisa mengeluarkannya hanya Yang Mulia Raja," kata Rain mengambil kesimpulan, Asisten Ken mengangguk mantap, Rain kembali menatap ke arah depan, "Kalau begitu, kita harus melakukan hal itu, siapkan semuanya."
"Baik Tuan, kapan Anda ingin melakukannya?" kata Asisten Ken siap melakukan yang ingin dilakukan oleh Rain.
"Secepatnya, aku tidak ingin lagi menunggu lama, aku sudah cukup bersabar dan mereka mempermalukan diriku, lagi pula aku ingin wanita itu ada padaku sekarang, aku akan mengambilnya kembali, dan bahkan Yang Mulia Raja tidak akan bisa lagi menyelamatkannya," kata Rain menggenggam erat tangannya hingga urat-urat di tangannya terlihat keluar.
"Ya, Tuan, aku juga baru mendapatkan kabar, keadaan Pangeran Archie sedang tidak sadarkan diri," kata Asisten Ken lagi.
__ADS_1
Rain mendengar itu menaikkan sedikit sudutnya bibirnya, terlihatnya sangat sinis.
"Baiklah, dia sadar atau tidak, itu tidak akan berpengaruh untukku, dia tak akan bisa berkutik setelah ini," kata Rain lagi.