Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
103 - Aku Ingin Kau Menemaniku Malam Ini.


__ADS_3

"Bisa kalian pergi dulu, aku ingin memakai pakaian dalam dan gaunnya," ujar Ceyasa, pelayan itu tersenyum dan mereka segera menarik tirai tak tembus pandang, memberikan ruang privasi pada Ceyasa.


Ceyasa mengunakan pakaian dalam dan gaunnya, semuanya pas sesuai ukurannya, bagaimana dia bisa tahu, dan tentu masih terkagum dengan ruangan ganti yang bahkan lebih indah dari butik itu.


"Nona, apakah sudah selesai?" tanya pelayan itu, membuayarkan semua pikiran Ceyasa.


"Ya sudah," ujar Ceyasa.


Pelayan itu menyibakkan gordennya, merasa terkejut melihat perubahan Ceyasa, Ceyasa juga kaget dengan apa yang dia lihat, seumur hidup dia hanya memakai gaun beberapa kali, bahkan tak lebih dari 3 kali, dan saat melihat gaun ini, dia merasa dia melihat orang lain, para pelayan pun setuju, dari seorang upik abu, tiba-tiba sekejap saja Ceyasa berubah jadi seorang putri salju.


"Baik Nona, sekarang saatnya merias Anda," ujar pelayan yang lain, dia segera mengarahkan Ceyasa untuk duduk di depan cermin yang sangat indah, Ceyasa hanya mengikutinya walaupun agak sedikit kaget, untuk apa dia harus dirias? dia dengan cekatan langsung memoleskan semua kosmetik yang ada di sana, pelayan yang lain menata rambut Ceyasa, rambut Ceyasa di tata menyerupai sanggul sederhana, wajahnya pun di rias dengan tampilan natural namun semua itu benar-benar merubah wajah Ceyasa yang bisanya polos menjadi begitu cantik, tak kalah cantik dengan para selebritis yang ada di TV.


"Baiklah, sudah, Anda cantik sekali pantas Tuan Rain memanggil Anda ke sini, Tuan Rain tak pernah membawa wanita ke sini," ujar pelayan itu.


"Ha? benarkah?" ujar Ceyasa lagi masih tak percaya, pria seperti Rain tak pernah membawa wanita ke sini.


"Kami tidak tahu Nona, kami hanya disuruh untuk mendandani Nona, sekarang, Tuan Rain sedang menunggu Anda di ruang makan," ujar Ceyasa, Ceyasa mengambil beberapa jepit rambut pin yang ada di meja, jaga-jaga kalau saja pria itu melakukan hal tak terduga, mana tahu dia bisa menusukkannya pada matanya.


"Baiklah, tunjukkan padaku dimana tempatnya," ujar Ceyasa lagi segera berdiri.


"Dengar senang hati Nona," kata seorang pelayan, dia langsung memimpin jalan Ceyasa, mengarahkannya ke sebuah tempat yang ada di dalam rumah, Ceyasa mengamati seluruh ruangan di rumah yang tampak benar-benar seperti istana, Ceyasa mengerutkan dahi melihat ruang makan yang kosong, bahkan mejanya saja kosong, tak ada makanan sama sekali.


"Dimana dia?" tanya Ceyasa yang penasaran, bukannya tadi katanya dia ada di ruang makan?

__ADS_1


"Oh, Tuan Rain ada di ruang makan luar ruangan Nona, Anda tinggal keluar dari pintu kaca itu, Tuan sudah menunggu Anda di sana."


Ceyasa mengerutkan dahi, ruang makan saja ada dua? Ruang makan dalam ruangan dan ruang makan luar ruangan, wow, pria ini benar-benar punya rasa yang bagus dalam menata rumah, pikir Ceyasa


pintu penghubung ruang makan itu dibuka oleh pelayan yang lain, suasana hangatnya malam terasa, Ceyasa kembali dibuat kaget sekaligus kagum, melihat apa yang ada di depannya, sebuah meja besar yang terbuat dari akar kayu jati terletak di tengah dengan lantai parket kayu, tak jauh dari sana terlihat kolam renang tingkat yang dibuat sedemikian rupa menyerupai kolam dengan air terjun kecil, dan di sebelah kolam berenang itu terlihat Rain sedang berdiri, menikmati pemandangan kota dengan seluruh lampu yang berkedip, ada yang redup, ada yang terang, ada yang putih, namun tak sedikit berwarna warni, semilir dingin angin yang alami begitu terasa, makanan sudah tersaji di atas meja itu, pemandangan diluar sini benar-benar memanjakan mata siapapun yang melihat, Ceyasa langsung bertanya dalam hati, ini rumah atau hotel?


Rain tampak masih menikmati pemandangan kota yang selalu bisa membuatnya tenang, tak lama mendengar suara pintu dibukakan, dia tahu Ceyasa sudah ada di sana, namun dia cukup enggan memalingkan wajahnya dari pemandangan itu, cukup lama dia masih menikmatinya, dan setelah puas dia baru membalikkan tubuhnya.


Melihat Ceyasa yang ada di sana membuatnya sedikit terpaku, mengerutkan dahinya melihat sosok yang ada di depan matanya, hampir saja tak mengenali sosok Ceyasa, dia pikir itu wanita lain yang dibawa oleh  Asisten Qie untuk menemani malamnya, ternyata itu Ceyasa. Dia berjalan santai, seolah Ceyasa tak akan lari darinya, ya gadis itu ingin lari kemana? Jika tak hati-hati dia bisa jatuh ke jurang jika ingin melarikan diri dari sini.


Ceyasa memperhatikan pria yang ada di depannya, kali ini terlihat rapi dengan sweater berwarna abu dan celana chinnosnya, dia berjalan dengan percaya dirinya ke arah Ceyasa, Ceyasa mengerutkan dahi, pria ini benar-benar arogan.


"Duduklah," ujar Rain lagi.


"Aku butuh kau menemaniku malam ini," kata Rain enteng saja.


Ceyasa langsung kanget, hanya seperti ini saja? dia harus menculik Ceyasa hanya untuk menemaninya makan?


"Hanya itu saja alasanmu harus menyeretku ke mari?" kata Ceyasa tak percaya, apakah semua orang kaya memang seperti ini, sesuka hatinya?


"Ya," kata Rain tak terlalu memperdulikan Ceyasa, padahal Ceyasa begitu cantik di depannya.


Ceyasa memandangi sekitar, kira-kira kalau dia lari kesana, apa yang akan terjadi, sial! Kenapa dia harus pakai gaun, kalau begini kan dia lari tak bisa dengan leluasa, pikirkanya.

__ADS_1


"Jangan berpikiran untuk lari kesana, di sana hanya ada tebing setinggi 13 meter, kalau ingin mencoba peruntungan untuk jatuh di sana, silakan, aku tinggal menyuruh orang mencari tubuhmu besok pagi," ujar Rain yang mulai dilayani oleh pelayan untuk memakan makanannya, Ceyasa sedikit menyipitkan matanya, pria ini bisa membaca pikiran ya?


"Kau ini seorang cenayang ya?" kata Ceyasa menatap Rain curiga, Rain yang sedang menikmati makanannya hanya melirik ke arah Ceyasa, tak punya minat untuk menghilangkan nafsu makannya hanya kerena meladeni Ceyasa.


Ceyasa yang merasa dicuekin pun hanya manyun, berwajah masam menatap Rain yang mulai memakan makanannya, namun Ceyasa tidak dilayani sama sekali, segelas air putih pun tak ada, jangankan segelas air putih, sisi  mejanya sama sekali kosong, hanya ada makanan di sisi meja Rain.


"Jika aku sediakan kau makan, aku yakin kau juga tidak akan memakannya, karena kau curiga aku akan meracunimu," ujar Rain dingin dan datar, Ceyasa kembali menyipitkan matanya pada Pria yang sama sekali tak menganggapnya ada di depannya, dia benar-benar bisa membaca pikiran, pikir Ceyasa.


"Ya, mungkin," ujar Ceyasa juga tak peduli.


Ceyasa terkadang melihat Rain sibuk makan, juga terkadang mencoba mencari-cari jalan keluar. Kalau jadinya begini, untuk apa Rain menyuruhnya di sini, apa dia hanya ingin pamer rumah dan makan malam mewahnya? pikir Ceyasa lagi.


Angin malam bertiup perlahan, sesekali berbisik lembut ditelinga Ceyasa, terpaannya menyentuh lembut wajah dan pipinya, seolah seorang ibu yang membelai rambutnya, membuat Ceyasa yang dari tadi sudah begitu lelah dan mengantuk harus beberapa kali menguap di depan Rain, membuat Rain benar-benar kehilangan nafsu makannya, dia menghentikan makannya.


"Sudah? " kata Ceyasa yang senang melihat Rain selesai makan, setelah ini dia ingin pulang, matanya sudah berair setiap kali dia menguap.


"Sudah, uapanmu membuat nafsu makanku hilang, "ujar Rain lagi melirik Ceyasa sambil meminum minumannya.


"Kalau tahu begitu dari awal aku menguap terus," gerutu Ceyasa, dia langsung berdiri, ingin segera meninggalkan Rain.


"Kau Ingin kemana?" tanya Rain lagi.


"Aku ingin pulang, bukannya kau sudah selesai makan?" kata Ceyasa lagi.

__ADS_1


"Aku bilang aku ingin kau menemaniku malam ini, bukan menemaniku makan," kata Rain lagi, mendengar itu Ceyasa membelalakan matanya, menemani? apa maksudnya dengan menemani?


__ADS_2