
"Karena memang kalian tidak bisa, garis darah keluarga kita memiliki sebuah penyakit yang fatal, dan penyakit itu ada di darah kalian masing-masing, Papamu, ayah Archie, Archie dan dirimu memilikinya, bahkan kau bisa tumbuh besar seperti ini adalah sebuah keajaiban karena Papamu sudah sembuh karena penyakit itu, tapi untukmu, penyakit itu belum menunjukkan gejalanya dan pada wanita penyakit itu lebih ganas," kata Bella mencoba menjelaskan, Suri mengerutkan dahi, dia memang pernah mendengar bahwa adanya sebuah kutukan yang mengatakan bahwa pangeran tidak boleh menikah dengan seorang putri atau bangsawan, karena kalau tidak dia akan dikutuk dan keturunannya juga, tapi itu hanya dongeng agar pihak istana bisa menculik pada gadis kecil untuk di jadikan putri, dan karena itu ibunya ada di sini.
"Mama bohong, itu hanya dongeng murahan yang dikarang orang demi bisa menculik anak-anak tanpa garis keturunan bangsawan dan di jadikan putri seperti Mama," ujar Suri yang tak percaya, perkataannya cukup terasa pedas bagi Bella, Angga yang mendengar itu merasakan sepertinya dia harus mengambil alih.
"Tidak, itu bukanlah mitos, di darah kita, kita punya penyakit itu, setiap keturunan keluarga Huxley, mereka punya penyakit keturunan itu, kau dan Archie punya darah yang sama, bagaimana kalian akan bisa bersatu, jika kalian bersatu, maka …. " kata Angga mencoba menenangkan anaknya, mendekati Suri, menjaga tatapan matanya tetap lembut dan tegas, setelah cukup dekat, Angga memegang kedua lengan atas Suri, membuat Suri sedikit terperangkap tatapan ayahnya, namun dia cepat menggelengkan kepalanya, masih saja tak ingin percaya.
"Maka aku apa?" tanya Suri begitu tegas, mengangkat kepalanya seolah menatang tatapan ayahnya.
"Papa tidak bisa mengatakannya," ujar Angga yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu.
__ADS_1
"Apa aku akan kehilangan nyawa hanya karena bersatu dengan Kak Archie? apa karena itu? Papa, bahkan sekarang aku sudah merasa diriku telah mati separuhnya, kenapa kalian begitu kejam?" ujar Suri begitu marah, Angga tahu jika Suri sudah tak histeris, namun menatap wajahnya dengan begitu tegas, mengeluarkan apa yang ada di pikirannya, di saat itulah sebenarnya Suri sangat marah. Matanya yang indah tampak merah dan berair.
Suri menepis tangan kanan ayahnya yang masih menggenggam lengan atasnya, tatapannya yang tajam menusuk itu terus diarahkannya pada ayahnya, dia lalu ingin pergi dari sana, tak tahan atas bualan yang hanya berdasarkan cerita dongeng, kisah cintanya kandas hanya karena sebuah mitos, hal ini sungguh menyebalkan dan tak masuk akal, terlalu konyol untuk dijadikan masalah.
Sekarang dia harus menyakinkan Archie, bagaimana pun, dia tak peduli, baginya lebih baik mati dari pada harus hidup tanpa cintanya lagi.
"Kalau kau tetap bersikeras ingin menjalin hubungan dengan Archie," ujar Angga cukup menggelegar di ruang kerjanya yang luas. Membuat bulu kuduk seketika merinding mendengarnya, langkah tegas Suri tadi langsung terhenti, dia sebenarnya tak ingin berhenti, namun tiba-tiba saja tubuhnya kaku mendengarkan suara gema ayahnya, seolah suara itu punya kekuataan yang membuat semua orang kaku.
"Papa, ini tidak adil, kenapa hanya kalian yang boleh memperjuangkan cinta kalian, kenapa kami tidak boleh? Apa salahnya jika kami jatuh cinta?" ujar Suri berbalik, wajahnya penuh dengan kemarahan, air matanya sudah tak bisa lagi terbendung, histeris seolah semuanya sangat menyiksanya, tapi memang semua sangat menyiksa, sudah berminggu-minggu dia menahan perasaan nyeri, sakit, marah dan benci, sekarang setelah tahu semuanya, perasaan itu semakin menjadi, rasanya sudah lelah dengan kepura-puraan ini.
__ADS_1
"Tak ada yang salah jika kau jatuh cinta, asal jangan jatuh cinta pada Archie, dari awal itulah yang salah, Archie bisa membunuhmu hanya dengan cara kalian bersatu, kau kira dia akan menerima hal itu? kalau kau mencintainya, bantulah dia untuk tidak kembali dan menggodanya, dia juga sudah tersiksa sama sepertimu, sekuat apa pun kalian ingin bersatu, kalian akan terpisahkan juga, jika bukan saat ini karena ayah, kemungkinan besar dengan kematian dirimu," ujar Angga yang mulai tak bisa menutupi emosinya, sekali lagi berhasil membuat Suri terpaku mendengarnya.
"Suri, tolong lah, kami janji tak akan pernah melarangmu menikahi siapa pun lagi, siapapun, bahkan dengan pria dari luar dengan strata yang tak sesuai, kami akan menerimanya, tapi jangan jadikan kami orang tua yang buruk, yang membiarkan anak kami pergi sia-sia, hanya karena membiarkan kau dan Archie bersatu, seumur hidup kami akan menyesalinya," ujar Bella dengan suara gemetar, air matanya sudah turun dari tadi menatap anaknya yang histeris, tahu bagaimana sakitnya hati Suri sekarang, tak bisa menerima semua kenyataan ini.
"Tidak, tidak! Apa pun yang terjadi aku akan tetap bersama kak Archie! bahkan jika aku mati, aku ingin bersamanya, kalian tak bisa menghalangi kami!" kata Suri masih tak bisa mengalahkan egonya, akal sehatnya sudah tertutup oleh emosi, membuatnya tak bisa berpikir, dia memandang dengan tatapan benci yang amat sangat pada kedua orang tuanya. seolah jijik untuk melihat mereka lagi
Tatapan yang menusuk bagaikan pedang bagi Angga dan Bella, seluruh luka, seluruh nyeri yang pernah mereka rasakan ternyata tak ada apa-apanya dengan rasa sakit ketika melihat anak mereka sendiri menatap penuh kebencian pada mereka, Bella tak mengerti apa yang salah, hingga Suri bahkan begitu menunjukkan kebenciannya.
Suri perlahan-lahan mundur ingin meninggalkan tempat itu, sudah cukup semua hal yang membuat hatinya tercabik, di ruangan yang begitu luas itu, rasanya udara tak bisa masuk kedalam paru-parunya, sesak, ingin pingsan rasanya.
__ADS_1
"Suri," terdengar suara Bella lebih tegas, membuat pandangan Angga dan Suri jatuh padanya. Angga hanya menatap istrinya serius, jika begini biasanya Bella akan mengeluarkan sesuatu hal yang tak dia duga. "jika kau ingin bersama Archie, pergilah," ujar Bella sesekali terlihat seperti menelan namun kesusahan, juga merasakan sesak karena apa yang ingin dikatakannya, Angga langsung membesarkan matanya, bagaimana Bella bisa mengatakan hal itu.
Suri yang mendengarkan kata-kata ibunya kaget, tapi bukannya senang, dia malah menjadi takut melihat ekspresi ibunya yang datar, memandangnya seolah hanya ada kesedihan di dalam matanya.