
Rain berhenti di depan pintu sebuah apartemen mewah, penjaga yang dia bawa segera menekan bel apartemen itu, Rain menatap tajam pada pintu berwarna putih itu, dan tak lama pintu itu segera dibukakan untuknya.
"Selamat datang Tuan Rain," seorang pelayan wanita memberikan hormat pada Rain.
Rain segera menapakkan kakinya ke dalam apartemen yang sangat mewah itu, namun baru beberapa langkah dia masuk, dia berhenti dan melirik ke arah pelayan wanita yang hanya bisa menunduk, tak berani sedikit pun untuk menatap wajah Rain yang sangat tak ramah itu.
"Dimana Nona Lidia?" tanya Rain dengan suara yang begitu tak bersahabat.
"Nona sedang mandi di kamarnya Tuan, saya akan mengabarkan bahwa Anda datang, " kata pelayan itu lagi.
Rain tak menjawab, dia hanya terus berjalan menuju ke ruang tengah apartement itu, dia segera duduk di sofa putih berbentuk setengah lingkaran, menatap ke arah jendela yang menyuguhkan begitu pemandangan kota yang sangat memanjakan matanya. Cara duduknya tampak begitu santai, bersandar, dia juga menghidupkan rokoknya, merokok ria di sana, namun wajahnya tampak sama sekali tidak berubah, datar dan dingin, tatapan matinya seolah bisa membuat semua orang takut menatapnya. Pandangannya sangat sinis.
"Kakak? aku sangat kaget kau datang," kata Lidia begitu senang, jarang sekali Rain mau datang ke tempatnya, selalu saja dia yang mengunjunginya, bahkan Rain mau bertemu dengannya saja itu sudah termasuk kejadian langka.
Rain menghisap rokoknya, membuat api di rokoknya tampak menyala, matanya menatap tajam pada Lidia yang berdiri di dekatnya, Lidia masih tersenyum begitu bahagia, soal tatapan mata itu, kakak angkatnya itu memang selalu begitu dinginnya, namun dia tak pernah melakukan apapun padanya bahkan sangat memanjakan dengan menuruti semua keinginannya, Lidia duduk di sofa tunggal berbentuk bundar di dekat Rain.
Rain mengebulkan asap rokoknya, membuat asap itu jauh melayang, Lidia masih dengan senyumannya yang indah, seindah kelopak bunga lili, namun lama-lama dia merasa ada yang aneh, kenapa kakaknya ini malah hanya melihat dirinya saja, dia jadi salah tingkah melihat apa ada yang aneh pada dirinya.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa yang sudah kau lakukan pada tahananku?" kata Rain mematikan rokoknya pada asbak yang ada di atas meja itu. Lidia yang mendengar itu wajahnya langsung berubah, tampak kaget juga gugup, apalagi sekarang Rain menatapnya dengan begitu tajam, seolah tanpa perlu mengeluarkan kata-kata, Lidia sudah tahu Rain sedang marah.
"Oh, tidak, aku tidak melakukan apapun, dia, dia tidak ingin melihatku, jadi aku," kata Lidia bingung mencari alasan, jika Rain sudah bertanya seperti ini pasti dia sudah tahu apa yang dia lakukannya pada Ceyasa, dia lalu memandang kedua penjaga yang dibawa oleh Rain, penjaga yang sama dengan yang dia bawa untuk menyiksa Ceyasa. Mereka tampak berdiri dibelakang Rain dengan wajah tertunduk.
"Siapa yang mengadu kepada Kakak?" kata Lidia kesal, wajahnya tampak merajuk.
"Tidak penting untukmu sekarang siapa yang mengadukannya, apa alasanmu hingga melakukan itu padanya? Jawabanmu akan bisa membuat aku mengurungkan niatanku," kata Rain lagi masih mencoba memberikan kesempatan pada adik angkatnya.
"Kakak? kau ingin menghukumku hanya kerena wanita itu? aku hanya ingin membantumu menyiksanya, bukannya dia wanita yang selama ini ingin kau habisi!" kata Lidia tak percaya kakaknya ini malah ingin menghukumnya karena sudah menyiksa Ceyasa, seharusnya wanita itu disiksa lebih lagi untuk menuntaskan dendam dan sakit hati Rain.
"SIAPA YANG MENYURUHMU IKUT CAMPUR DALAM URUSANKU!" murka Rain hingga dia terlonjak berdiri, menatap Lidia dengan tatapan bengis yang siap membunuh, Lidia yang melihat hal itu tentu kaget terdiam, baru kali ini seumur hidupnya Rain membentaknya seperti itu, tubuh Lidia seketika mematung, kaku dan gemetar.
"Kakak! lepaskan aku! kau menyakitiku," kata Lidia dengan susah payah, Rain yang menatapnya dengan penuh emosi, sangat emosi, bahkan matanya tampak begitu memerah, Lidia meringis kesakitan akibat cengkraman Rain yang begitu sakit, bahkan rahangnya terasa nyeri sekali, bulir air mata tampak di ujung matanya.
Rain menatap wajah Lidia itu cukup lama, wajah Lidia sudah memerah, lalu dengan tanpa perasaan dia menghempaskan tubuh Lidia ke arah sofa, hingga Lidia jatuh ke sofa itu, perutnya membentur sofa yang walaupun empuk tetap saja terasa sangat sakit.
"Kakak! kau tega sekali melakukan ini padaku demi wanita yang sudah menyebabkan ibumu di bunuh seperti itu, kalau tanpa keluargaku! Kau tidak akan bisa seperti ini!" kata Lidia marah, tak mau kalah dengan Rain, dia merasa dia tidak melakukan kesalahan sama sekali.
__ADS_1
"Diam!” kata Rain sambil menarik rambut Lidia, membiarkan wanita itu meringis sangat kesakitan, dia lalu berbisik pada telinganya dengan suara yang begitu bengis, "Kau masih ingin mengatakan bahwa selama ini keluargamulah yang membesarkan aku? kalian hanya memamfaatkan seluruh harta yang ayah dan ibu tinggalkan, kalian merawatku dengan menggunakan hal itu semua, tanpa itu, kau tidak akan punya semua ini!"
Rain segera mendorong tubuh Lidia hingga dia tersungkur ke lantai yang dingin, Rain memandang Lidia dengan tatapan yang sangat jijik.
"Kau!" teriak Rain pada salah satu penjanga yang dibawanya, penjaga itu segera mendekati Rain dengan wajah yang ketakutan, bosnya ini sangat luar biasa.
"Ya, Tuan," kata penjaga itu.
"Berapa kali dia menyuruhmu untuk mencambuk Ceyasa?" kata Rain tampak santai membuka tali pinggangnya.
"10 kali Tuan," kata penjaga itu gemetar.
"Cambuk dia 20 kali," kata Rain santai menyerahkan tali pinggangnya membuat penjaga itu segera kaget, bahkan membesarkan matanya, dia harus menyambuk Lidia? tangannya bergetar sangat hebat mengambil tali pinggang itu.
Lidia yang mendengar dan melihat Rain menyerahkan tali pinggang itu bahkan dengan wajah yang sangat tenang langsung ketakutan, tubuhnya benar-benar gemetar namun dia segera ingin melindungi dirinya, dia bangkit dan segera berlari meninggalkan Rain, Lidia segera belari ke luar, Rain yang melihat itu sedikit menikmati ekspresi ketakutan dari Lidia yang lari tunggang langgang menjauhinya.
Mau coba-coba bermain? Baiklah, pikir Rain menaikkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Bawa dia kembali kemari, jika kalian tidak berhasil, kalian yang akan menggantikan posisinya," kata Rain dengan tenang mengambil rokok dari tempatnya, lalu mulai menghidupkannya kembali.
"Baik Tuan," kata para penjaga itu, Rain mau lihat sampai mana wanita itu bisa lari darinya, Rain jadi bisa membayangkan betapa dia bisa menikmati penyiksaannya nanti. Dia kembali duduk santai, tampak jauh lebih santai dari pada saat dia datang tadi, dia kembali mengebulkan asap rokoknya, tiba-tiba teringat wajah senyuman Ceyasa yang dulu sangat menganggunya, namun sekarang entah kenapa, malah membuatnya tersenyum bahagia.