Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
30 - Akankah Menceraikannya?.


__ADS_3

Jofan semakin tak bisa menahan tangisnya, seorang pria seperti Jofan pun tak bisa menahan tangisnya dalam situasi seperti ini, kesedihan benar-benar terpancar dari wajahnya mengamati keadaan wanita yang tak pernah bisa dilupakannya ini.


Wajahnya putih pucat dengan luka-luka yang masih sama, hanya saja tak ada senyuman manis itu di bibirnya, pipinya yang dulunya cukup berisi ini terlihat sangat kurus bahkan tulang pipinya terlihat sangat menonjol, tangannya yang keluar dari selimut dan diposisikan di sampingnya tampak begitu kurus, bukan hanya kurus, bahkan tinggal tulang yang terbalut oleh kulit, terlihat mengecil, tentu saja sudah 23 tahun dia tidak mengunakannya.


Tangan Jofan bergetar saat dia ingin menyentuh tangan  Sania, saat tangannya menyentuh tangan Sania yang terasa dingin, saat itu tangisnya  benar-benar percah, dia sudah menunggu 23 tahun untuk saat ini.


Selama ini yang  selalu ada di pikiran Jofan, dia akan bertemu dan melihat senyuman Sania yang manis dengan wajahnya yang ceria, walau pun dia hanya menatapnya dari jauh Jofan akan merasa bahagia. Tapi sekarang wanita itu ada di depan matanya, namun yang dia lihat hanya tubuh tak bergerak, tertidur damai tanpa ada emosi sama sekali.  Jofan mengambil salah satu kursi yang ada di sana, meletakannya di samping ranjang Sania, dia duduk sambil menggenggam tangan Sania yang terasa hanya tulang.


"Sania …. " kata Jofan terdengar serak dan bergetar, dia mengatakannya pelan dan lirih di dekat telinga Sania. "Aku sudah datang, aku ada di sampingmu, maafkan aku sudah membuatmu menunggu begitu lama, maafkan aku," kata Jofan di antara isakan tangisnya.


Tak ada sama sekali respon, hanya suara alat monitor penunjang kehidupan yang terdengar mengganggu.


"Aku baru tahu tentang anak kita, dia …. " kata Jofan terhenti, tak ingin mengatakan bahwa anak mereka tidak ada bersama dirinya. "Dia tumbuh dengan baik, dia menjadi anak yang ceria, sangat pintar dan ramah, percis seperti dirimu, aku akan segera membawanya menemui dirimu," kata Jofan tercekat, berbohong demi kebaikan Sania. Di dalam hatinya dia sudah bertekat, dia harus menemukan anaknya, apa pun yang terjadi, dia akan menemukan anak mereka, pasti ada cara untuk menemukannya, pikirannya kembali ke dokumen-dokumen yang di serahkan oleh Jendral Indra, perasaannya mengatakan pasti ada sebuah petunjuk di sana, namun sayangnya saat ini dia tidak bisa mencarinya, dia meninggalkannya di mobilnya tadi.


Sania tetap tidak menerspon sama sekali, tubuhnya tetap kaku di samping Jofan, tangan Sania di genggam dengan sangat erat  oleh Jofan seolah tak ingin tangan Sania yang kurus itu tetap dingin, Jofan ingin menyalurkan kehangatannya untuk Sania.


"Aku sudah ada di sini, aku akan menjagamu, pulihlah, jangan pernah menyerah, kita akan bersama, kita akan berkumpul bersama mulai sekarang, aku, dirimu dan anak kita, aku sudah tidak menjadi presiden, aku hanya orang biasa, sekarang kita bisa bersama, aku janji selamanya akan menjagamu, selamanya akan bersama denganmu, Sania terima kasih sudah menungguku," kata Jofan lagi, namun sama seperti tadi seperti dia hanya berbicara dengan angin lalu.


Jofan kembali menatap wajah Sania, duduk di sampingnya sepanjang malam, menatap wajah Sania yang hanya diam dengan setiap alat penunjang kehidupan yang menolongnya bertahan 23 tahun ini, benar-benar hanya menatapnya, bahkan tak terpejam sedetik pun, takut akan kehilangan wajah wanita ini lagi nantinya.

__ADS_1


Pagi menyingsing dengan cepat namun Jofan tak bergeming dari tempatnya di temani suara alat monitor penunjang kehidupan yang sekarang malah sangat terbiasa di dengar olehnya, berirama teratur, satu-satunya yang menunjukkan bahwa tubuh di depannya itu bukanlah hanya tubuh, masih ada detak jantung dan napas di dalamnya, Jofan  hanya duduk terkadang memandang, terkadang mengelus tulang pipi Sania yang begitu menonjol.


Tepat pukul 7 pagi, pintu kamar perawatan Sania terbuka, Jofan langsung melihat ke arahnya, Dokter Elly dan salah satu perawat masuk mendorong troli yang sepertinya berisi obat dan alat-alat medis yang lain.


"Maaf Tuan Jofan, ini saatnya kami memberikan obat dan makanan juga membersihkan tubuh Nona Sania, Anda boleh menunggu di sini atau di luar, Tapi Ibu Anda sudah menunggu Anda di luar," jelas Dokter Elly.


"Baiklah, aku juga harus mengurus sesuatu, bisakah kau kabarkan aku jika terjadi apa-apaa padanya?" tanya Jofan.


"Tentu Tuan, saya sudah memiliki kontak Anda, Anda jangan cemas, saya rasa keadaan Nona Sania akan sama seperti sebelumnya tapi kami akan tetap memberikannya yang terbaik," kata Dokter itu.


"Baiklah, Terima kasih, Sania, aku harus pergi dahulu untuk bertemu anak kita, jangan khawatir, aku akan selalu ada ketika kau membutuhkanku, aku akan segera kembali," bisik Jofan sambil mengelus rambut Sania yang tampak kusam, dia tersenyum, mencium dahi Sania lalu membiarkan dokter itu melakukan tugasnya.


Dia segera keluar, melihat ibunya sedang duduk sambil meminum segelas susu hangat dan memakan sarapan yang sudah di sediakan, ibu Jofan yang melihat anaknya begitu kacau tahu bahwa anaknya ini tidak tidur semalaman terlihat dari matanya yang merah, basah, dan sedikit membengkak juga di kelilingi oleh lingkaran hitam.


"Aku di sini saja, aku akan menyuruh supir menjemput ibu, istirahatlah sebentar, Sania tidak akan ke mana-mana, jangan sampai kau sakit, dan kapan kau akan memberitahukan Aurora tentang ini?" tanya ibu Jofan, dia tahu, dia harus menanyakan hal ini.


Jofan terdiam sebentar, semua hal ini membuat dia lupa bahwa dia sekarang sudah memiliki seorang istri, seorang yang memenuhi statusnya sebagai Suami, tapi dia tidak pernah mencintai wanita itu, di dalam hatinya hanya ada perasaan menghargai dan menyenangkan wanita itu, tapi dia tidak mungkin mempertahankan Aurora sedangkan Sania sekarang sudah di temukan, menahannya lebih lama sama saja Jofan menghancurkan hidup Aurora lebih lama.


"Aku akan memberitahukannya secepatnya," kata Jofan tegas namun tak melihat ke arah ibunya.

__ADS_1


"Apa kau akan menceraikannya?" tanya Ibunya, dia takut hal itu akan terjadi, bagaimana pun Aurora sudah di anggapnya menjadi anaknya sendiri, gadis yang baik, dengan senang hati menjaga kedua cucunya, menjaga anaknya, tetap berada di sisinya walau pun kelakuan Jofan padanya begitu dingin, itu tidak adil untuk Aurora kalau Jofan menceraikannya hanya gara-gara Jofan  sudah menemukan Sania sekarang, sedangkan Sania hanya tinggal tubuh yang tak bernyawa, tak ada yang tahu kapan dia bisa sadar, bahkan dokter pun sudah menyerah padanya.


"Aku sedang memikirkannya," kata Jofan.


"Jofan … Ibu sudah pernah memaksamu, membuat hidupmu menderita, tapi bolehkah ibu sekali lagi menyampaikan apa yang ada dipikiran ibu, Aurora adalah wanita yang baik, dia sudah memberikan masa mudanya mengabdi padamu dan anak Madeline, dia menjagamu dan martabatmu, apakah itu tak akan membuat hatinya sakit? kau menceraikannya hanya karena kau sudah menemukan wanita yang kau cintai, sedangkan Sania bahkan tidak bisa menjawab kata-katamu, itu tidak adil bagi Aurora," kata Ibu Jofan.


Jofan terdiam sambil beberapa kali membenarkan ujung lengan jasnya, menandakan dia sedikit berpikir tentang hal itu.


"Aku tak ingin dia mengharapkan hal yang sia-sia hingga dia tua nanti," kata Jofan pada ibunya, Ibunya yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana jika ibu yang mengatakannya?,Ibu tak ingin kau mengharapkan hal yang sia-sia hingga kau tua dan menyia-nyiakan seseorang yang mungkin tak akan pernah kau dapatkan lagi nantinya, ibu hanya tak ingin kau kehilangan segalanya, berbicaralah padanya, jangan ambil keputusan, biarlah dia saja yang mengambil keputusan, akankah dia sanggup bertahan?, atau dia ingin bebas, itu saja," kata Ibunya memberikan nasehat.


Jofan kembali berpikir, sebagian hatinya mengatakan ingin melepaskan Aurora, namun sebagian lagi merasa yang di katakan ibunya itu benar, setelah 18 tahun bersama, itu bukan hal yang adil jika tiba-tiba Jofan meminta berpisah dengan Aurora.


"Baiklah, aku akan serahkan semuanya pada dirinya, tapi jika Sania sadar, aku ingin Aurora tahu bahwa aku akan memilih Sania," kata Jofan tegas.


"Baik, katakan itu padanya, kesadaraan Sania pun ada di tangan Tuhan, jika kau memang berjodoh dengannya, Tuhan akan mengabulkan hal itu," kata Ibu Jofan mengangguk kecil.


"Ya, Aku pergi dulu," kata Jofan.

__ADS_1


"Oh, ya, ini lencana akses masuk ke sini, ibu sudah tidak memerlukannya lagi, kau akan lebih sering ke sini dari pada ibu, jadi ibu rasa kau lebih perlu ini dari pada ibu."


"Baiklah, terima kasih," kata Jofan mengambil lencana itu dan segera pergi dari sana.


__ADS_2