Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
156 - (S-J) Panas Termakan Cemburu


__ADS_3

"Oh, sebenarnya secara tehnis, bukan aku yang menyelamatkan bibi," ujar Jared yang teringat oleh Ceyasa karena kejadian tadi saat dia ingin turun.


"Benarkah?" kata Bella memandang Jared dengan sedikit terkejut juga tak percaya, padahal dia pikir Jared yang sudah menyelamatkan Aurora sendiri, setidaknya Suri mengatakan itu padanya.


Bukan hanya Bella, Aurora pun sedikit kaget, dia juga berpikir Jaredlah yang menolongnya keluar dari kebakaran itu, Suri juga langsung menatap Jared dengan kerutan di antara alisnya, memiliki pemikiran yang sama dengan bibi dan ibunya.


"Ya, sebenarnya ada seorang wanita pengirim barang yang sangat tanggap ketika dia masuk ke dalam area rumah, dia yang mengetahui pertama kali bahwa rumah itu sedang terbakar, dia juga yang menemukan bibi terjebak di dalam rumah itu, bahkan dia yang berinisatif untuk memecahkan kaca rumah agar kami bisa masuk, selama di rumah sakit dia juga yang membuatku bisa berpikir tenang untuk menghubungi Jenny dan Paman Liam," kata Jared menjabarkan kelakukan Ceyasa pada semua orang yang ada di sana.


Mendengar itu Suri tampak sedikit cemberut, dia merasa tak suka mendengar Jared menceritakan wanita itu, apalagi seolah-olah Jared menggambarkan wanita itu sangat hebat apalagi dia menceritakannya dengan senyuman tipis, tiba-tiba saja dia ingin marah pada Jared, namun ditahannya sebisa mungkin, hanya wajahnya saja yang tampak tak suka.


Aurora, Angga dan Bella yang mendengar itu hanya sedikit takjub, tak percaya ada wanita yang bisa melakukan hal itu.


"Wah, dia terdengar sangat hebat, lalu dia dimana sekarang? bisakah kita bertemu dengannya, dia harus diberi hadiah untuk keberaniannya," kata Bella yang kagum mendengarnya.


"Aku juga tidak tahu, aku hanya tahu namanya, aku juga meminta nomor ponselnya, hanya jaga-jaga jika bibi ingin bertemu dengannya," kata Jared lagi, masih belum sadar wajah Suri sudah terlihat memerah, rasa tubuhnya gerah, bagaimana bisa Jared menceritakan kebaikan seorang wanita disampingnya? dia meminta nomor ponselnya? Bagaimana bisa? itu yang terngiang di kepala Suri seketika.


Suri lalu pergi menjauh dari Jared, mendekat ke arah ibunya, Jared yang melihat ke arah Suri yang menjauh, hanya mengerutkan dahi, saat melihat wajah cemberut Suri, dia akhirnya tahu, Suri tak suka dia menceritakan Ceyasa, tapi bukannya merasa bersalah, saat Jared melihat wajah cemburu Suri, Jared malah senang.


"Ya, benar, aku akan sangat senang bertemu dengannya, siapa namanya?" kata Aurora lembut, selalu saja seanggun itu.


"Ceyasa," kata Jared lagi, kali ini sudah tahu bagaimana keadaan Suri, saat mengatakan nama Ceyasa, dia melirik Suri, Suri semakin cemberut, seolah ingin marah tapi harus ditahannya, bukan hal yang lucu bukan jika tiba-tiba dia mengamuk di antara suasana yang baik ini.


Jared yang melihat wajah Suri yang seperti itu semakin senang dan gemas.

__ADS_1


"Baiklah, jika aku sudah bisa keluar dari sini, bawa aku menemuinya, bibi ingin sekali berterima kasih dengannya," ucap Aurora.


"Ya, kapan kau sudah boleh keluar dari sini Aurora?" tanya Bella lagi.


"Sebenarnya besok aku sudah bisa pulang."


"Pindahlah kembali ke Istana, menurut kabar yang aku dapatkan, rumah kalian benar-benar habis terbakar, barang-barang Jared dan Jenny pun masih ada di istana, lagi pula berkumpul bersama di sana bukannya menyenangkan?" ujar Bella lagi dengan suara sedikit merayu.


Aurora menatap Jenny dan Jared bergantian, Jared memberikan anggukan sedikit menyatakan bahwa dia setuju untuk tinggal di istana.


"Baiklah Kak, aku akan ikut kemana Jenny dan Jared akan tinggal," kata Aurora dengan senyuman manis.


Bella yang mendengar itu langsung tersenyum sumringah, senang setidaknya ada lagi yang akan menemaninya di istananya yang sangat luas itu.


"Ma, bolehkan aku pulang duluan," kata Suri tiba-tiba ditengah obrolan Bella dan Aurora yang tampak sangat akrab, merasa sudah tak sanggup lagi bertahan di sana.


"Kenapa Suri?" tanya Aurora yang memandang Suri khawatir.


"Oh, tidak Bibi, hanya saja sepertinya aku kurang enak badan," kata Suri yang memang sekarang merasa badannya panas dingin, dada dan kepalanya terasa sangat panas, namun kaki dan tangannya terasa dingin, mungkin karena menahan rasa cemburu, jadinya seperti ini.


"Suri sakit? ingin diperiksa dokter? sekalian saja mumpung kita di rumah sakit," tanya Bella meletakkan tangannya pada pipi anaknya yang memang terasa panas.


"Ya, Asisten Lin, panggil dokter," perintah Angga pada Asisten Lin yang berdiri jauh di dekat pintu, Asisten Lin menganggik patuh.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin tidur sekarang, Pa, Ma, aku pulang duluan yah, Papa Mama dan bibi lanjutkan saja," kata Suri lagi, mendengar itu Asisten Lin menghentikan langkahnya.


Jared yang mendengar itu hanya diam saja dan mengamati, Suri sesekali melirik pria dingin itu.


"Benarkah? kita pulang saja semua, Mama khawatir padamu," kata Bella yang melihat wajah anaknya memerah.


"Tidak, tidak perlu, aku sudah dewasa Ma, Papa dan Mama di sini saja, aku hanya ingin tidur," rengek Suri yang sudah tak tahan lagi ada di sana, apalagi melihat pria dingin itu hanya memandanginya, seolah tak peka apa yang dirasakan oleh Suri sekarang.


"Aku akan mengantarkan Suri pulang, bolehkah Paman Bibi?" kata Jared langsung mengajukan diri, Bella dan Angga segera melihat ke arah Jared, merasa itu ide yang baik.


"Tak mau, aku pulang sendiri," kata Suri lagi manja.


"Baiklah, aku minta tolong untuk menjaga Suri, " kata Angga langsung, membuat Suri tambah kesal, jika ayahnya sudah berkata, mau tak mau dia harus mengikutinya.


"Papa, Mama, Bibi aku permisi dulu," ujar Suri dengan wajah masamnya, dia ingin menghindari pria ini tapi malah sekarang dia harus bersamanya. Suri benar-benar kesal.


"Paman, Bibi Bella, Bibi, aku permisi dulu, Jenny, kabari aku jika ada sesuatu," ujar Jared yang memberikan pesan pada adiknya yang sibuk bermain ponsel sambil meminum kopinya.


"Baik," kata Jenny patuh


Angga dan Bella hanya mengangguk, melihat hal itu Jared tak ingin ambil waktu lama lagi, dia segera mengejar Suri yang hampir sampai ke lift, Suri segera menekan-nekan tombol lift itu, Jared melihat itu jadi berjalan cukup santai, lalu setelah ada di belakang Suri dia menempelkan kartu khususnya.


"Tidak akan berfungsi tanpa kartu ini, lupa?" tanya Jared, lembut namun juga ada nada menggoda, membuat Suri makin kesal, bagaimana dia bisa lupa kalau seluruh ruangan ini harus menggunakan kartu khusus.

__ADS_1


__ADS_2