
Jofan melajukan mobilnya dengan cukup kencang, dia terus tersenyum dan sangat semangat ingin bertemu dengan putrinya, putri yang belum pernah dia temui selama ini, namun juga ada rasa cemas yang menyelimuti hatinya, akankah putrinya menerima dirinya? Akankah dia menyalahkannya karena baru mencarinya setelah sekian lama? Bagaimana wajahnya, apakah mirip dengan Jofan atau Sania? semua itu bergaung dikepalanya, tapi bagaimanapun dirinya nanti, Jofan akan berusaha terus agar membuat putrinya bisa menerima dirinya.
Ban mobil Jofan berhenti di sebuah perkarangan panti asuhan yang cukup besar, dia segera keluar dari mobilnya dan melihat ke arah panti asuhan itu, gedungnya bergaya arsitektur eropa kuno, lapangannya luas, dan sepertinya keadaan panti asuhan itu cukup terawat. Tak lama mengamati, mata Jofan melihat sosok Asisten sedang berdiri di pintu utama, melihat bosnya, Asisten Jofan langsung mendatanginya. Suasana malam cukup kelam, bahkan bulan tidak bisa mengalahkan awan tebal yang menutupinya, angin sedikit kencang menyambut mereka.
"Selamat malam Tuan," kata Asisten Jofan memberikan salam.
"Dimana dia?" tanya Jofan tak ingin lagi membuang waktu, segera melangkah menuju ke pintu utama panti asuhan itu.
"Dia ada di ruang kepala panti asuhan," kata Asisten Jofan lagi mengikuti langkah Jofan.
"Kau yakin dia anakku?" tanya Jofan masih berusaha meyakinkan dirinya, malam ini dia akan bertemu anaknya.
"Ya, dia memiliki catatan dan bukti hasil DNA saat dia masih bayi dulu, aku yakin dia putri Anda," kata Asisten Jofan terlihat senang, Jofan juga langsung tersenyum dan segera mempercepat jalannya.
Asisten Jofan segera mengarahkan Jofan ke ruang kepala panti asuhan, pintu ruangan itu tertutup, Asisten Jofan perlahan membuka pintu itu, membuat jantung Jofan berdegup lebih kencang karena dibaik pintu itulah anaknya berada.
Pintu perlahan terbuka, menjadi pembatas untuk ayah dan anak yang sama-sama tak pernah tahu siapa mereka sebenarnya, 23 tahun tak pernah bertemu, dan ini adalah saatnya, Jofan benar-benar gugup, apalagi perlahan-lahan melihat sosok wanita yang sedang duduk, namun segera berdiri ketika pintu itu terbuka, masih membelakanginya, dan tak lama, berbalik menatapnya.
Jofan terpaku menatap wajah wanita muda di depannya, jarak mereka cukup jauh namun dia bisa melihat betapa cantiknya wajah anaknya, wajahnya sangat mirip dengan Sania, matanya tajam, bibirnya kecil, hidungnya yang mancung dan wajahnya yang kecil, memiliki semua perpaduan antara dirinya dan Sania, Jofan bahkan hanya bisa memandang anaknya, tanpa bisa berkata apa pun, dia berjalan selangkah demi selangkah mendekati anaknya, masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Ayah?" tanya wanita itu, mengeluarkan suara lembut yang membuat Jofan langsung merasakan rasa cinta yang benar-benar belum pernah dia rasakan, rasanya dia bisa memberikan apa pun untuk gadis muda yang ada di depannya ini, tanpa terasa haru menyelimuti dirinya, matanya mulai basah, semakin dia mendekati gadis itu, semakin dia yakin, dia memang anaknya.
"Tuan Jofan, ini Nona Siena, nama yang sudah di siapkan oleh Nona Sania sebelum dia koma," kata Asisten Jofan memperkenalkan mereka.
Jofan kembali mengamati wajah anaknya, Siena tersenyum dengan sumringah, memperlihatkan kecantikannya yang memancar, Jofan masih tidak percaya, dan tiba-tiba Siena memeluk pinggang Jofan dengan erat, Jofan awalnya masih kaget, namun segera setelah itu dia langsung membalas pelukan anaknya, merasakan kasih sayang yang sangat dalam pada anaknnya. Jofan mencium kepala anaknya, benar-benar bagaikan menemukan separuh darinya yang hilang, membuatnya lengkap.
"Aku senang akhirnya aku punya ayah," kata Siena lirih pada Jofan.
"Ya, ayah ada di sini, maaf membuatmu menunggu, ayah terlalu lama," kata Jofan dengan mata yang merah dan berair, orang-orang yang ada di sana terharu melihatnya, pertemuan ayah dan anak ini begitu menguras emosi siapapun.
Siena melepaskan pelukannya pada ayahnya, sekali lagi ingin melihat wajah ayahnya yang dia kira tidak akan pernah bisa dia lihat, ternyata ayahnya begitu tampan, sangat tampan. Jofan mengahapus air mata yang membasahi pipi putri kecilnya, tak akan pernah lagi dia mengizinkan anaknya untuk menangis.
Jofan membawa anaknya memasuki mobil mereka, Seina sedikit kaget melihat mobil ayahnya yang terlihat sangat mewah, Asisten Jofan segera membukakan pintu mobil itu untuk Siena dan Jofan, Jofan menyerahkan kunci mobilnya pada Asistennya, menandakan dia ingin Asisten untuk mengendarai mobilnya, Asisten Jofan segera menaiki mobil itu.
"Ayo masuk," kata Jofan pada Siena yang masih kaget, dia hanya mengangguk dan segera masuk ke dalamnya, Jofan duduk di samping anaknya dan tak lama mobil mereka melaju dan pergi dari sana.
"Bagaimana keadaanmu selama ini?" tanya Jofan, hal ini memang hal yang pertama ingin ditanyakannya pada anaknya jika mereka bertemu, menatap mata anaknya yang tampak begitu indah, tak pernah menyangka dia memiliki seorang putri yang begitu cantik, Jofan sungguh menyesal tak bisa melihatnya tumbuh dan menjaganya.
"Aku cukup baik, hidup berpindah-pindah tempat dan akhinrya berakhir di panti asuhan itu," jelas Siena menatap ayahnya, mendengar hal itu hati Jofan terasa sangat sakit, bagaimana bisa anaknya hidup seperti ini, padahal dia termasuk orang yang punya segalanya, mata Jofan menjadi suram, "Ayah, apakah aku masih memiliki ibu?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang sedikit menampar Jofan, bagaimana harus dia menceritakan bahwa dia masih punya ibu, tapi ibunya tidak bisa melihat dirinya.
"Ibumu, dia masih ada, tapi …. " kata Jofan lemah.
"Benarkah? ternyata aku masih punya ayah dan ibu, bisakah kita melihatnya? Aku selalu diberitahu aku tidak memiliki siapa pun di dunia ini, dan sekarang tiba-tiba aku punya segalanya, Ayah, kenapa Ibu tidak ikut?" tanya Siena begitu senang, seolah semuanya sudah lengkap, dia tampak begitu sumringah, Jofan tersenyum kecut, benar-benar tidak ingin membuat senyuman manis anaknya itu hilang, tapi dia tidak mungkin menutupi keadaan Sania, dia harus berterus terang.
"Ibumu tidak bisa ikut karena dia sedang koma," kata Jofan perlahan, pelan agar Siena yang tampak girang itu mendengarnya. Siena terdiam, dia menatap wajah Jofan dengan dalam, senyuman manisnya perlahan pudar berganti dengan kerutan di dahinya.
"Ibu koma?" kata Siena pelan, matanya bergerak-gerak seolah berpikir, "jadi yang dikatakan mereka itu benar?"
"Apa yang mereka katakan padamu?" tanya Jofan dengan wajah berkerut.
"Mereka bilang, ibuku harus bertaruh nyawa untuk melahirkanku, karena akulah dia harus tidur dan tak bisa sembuh kembali, karena itu alasannya aku ada di panti asuhan," suara Siena lirih bahkan bergetar menandakan dia menahan rasa sedihnya.
Jofan terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa, apakah harus dia mengatakan bahwa hal itu benar, hal itu akan menghancurkan hati kecil anaknya, dia pasti merasa sangat bersalah dan sedih, melihat kesuraman di mata anaknya dan suara anaknya yang bergetar saja perasaan Jofan sudah begitu tersiksa.
-------------------------------------------------------
__ADS_1