
Aurora terbangun, melirik ke arah ranjangnya, dia juga meraba tempat tidur Jofan yang sudah kosong, dia lalu membalikkan tubuhnya, melihat ke arah meja kecil di sebelah tempat tidurnya, melirik ke arah jam di sana, sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, sepertinya dia terlalu lelah hingga tertidur terlalu lelap.
Aurora lalu segera bangkit, sejenak terduduk untuk mengambil napas setelah itu dia baru turun dari ranjangnya, saat dia berjalan untuk sedikit melihat wajahnya, dia bisa mendengar suara shower yang menyala, menebak mungkin suaminya sedang mandi.
Semenjak Jofan kembali, Jofan sekarang punya kebiasaan yang cukup aneh bagi Aurora, karena setahunya Jofan tak pernah melakukan hal itu sebelumnya, dia selalu mengganti bajunya di kamar mandi, dia bahkan membawa baju gantinya ke kamar mandi, padahal dulu dia paling tidak suka mengganti bajunya di kamar mandi, karena menurutnya kamar mandi penuh dengan kuman.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Jofan kaget melihat Aurora yang sudah berdiri di dekat pintu kamar mandi, Aurora menyerahkan baju gantinya, Aurora menatap wajah Jofan yang langsung tersenyum padanya, dia hanya menggunakan jas mandinya yang berwarna biru tua.
"Terima kasih," kata Jofan mengambil baju itu dari tangan Aurora, Jofan kembali masuk ke dalam kamar mandi membuat Aurora kembali mengerutkan dahi, namun dia menahan dirinya untuk bertanya.
Aurora ingin menyisir rambutnya, namun saat dia baru saja mengambil sisirnya, dia melihat pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat, Aurora lalu berjalan menuju kamar mandi, awalnya hanya ingin menutupnya lebih rapat, namun matanya tertuju pada sesuatu di balik pintu itu.
Mata Aurora membesar, melihat tubuh bagian belakang Jofan yang penuh dengan luka, luka kecil hingga luka yang begitu luas, bahkan ada beberapa yang tampak kurang sedap di pandang, bagaimana Jofan bisa mendapatkan begitu banyak luka di tubuhnya? Apakah itu yang selama ini ditutupi Jofan hingga dia tidak ingin membuka bajunya di depan Aurora.
Jofan segera menutup tubuhnya, dengan cepat menggunakan kemejanya, dia tidak ingin menunjukkan tubuhnya pada siapa pun, bekas luka membuatnya tidak nyaman, bahkan dirinya sendiri pun merasa risih dengan hal ini, apa lagi orang lain, dan dia tak ingin Aurora merasa jijik dengan hal ini, karena itu dia selalu mengganti bajunya di kamar mandi sekarang.
Jofan baru saja mengancing seluruh kemejanya saat dia menoleh ke arah pintu kamar mandi, dia terdiam melihat Aurora yang terpaku di pintu kamar mandi itu, mata Aurora membesar memandang Jofan.
__ADS_1
"Aurora, kau melihatnya?" tanya Jofan pelan.
"Kenapa dengan tubuhmu?" tanya Aurora membuka pintu kamar mandi itu lebih besar, matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat, tubuh suaminya yang begitu mulus dulunya, sekarang penuh guratan-guratan yang sangat mengerikan baginya, bukan, bukan dia jijik atau bagaimana, namun dia bisa membayangkan nyeri dari seluruh luka itu, saat itu pasti Jofan sangat kesakitan.
Jofan diam, dia berjalan menuju ke arah Aurora, dia sedikit memberikan senyumannya, memegang pundak kecil Aurora untuk menenangkan wajahnya yang tampak masih tidak percaya.
"Maaf jika kau melihatnya, aku tahu ini sangat mengganggu," kata Jofan dengan suara rendahnya, dia tahu dia tidak akan bisa selamanya menutupi bekas-bekas luka itu, Jofan hanya berpikir mungkin nanti saat luka-luka itu tidak lagi terlihat terlalu menyeramkan dengan warna kulit yang bebeda, putih kemerah-merahan, dia baru akan menunjukkan tubuhnya, tapi ternyata Aurora sudah menangkap basah dia sekarang.
"Bukan, bukan itu, tapi bagaimana kau bisa terluka sebegitu parah?" kata Aurora menatap Jofan dengan wajah khawatir.
"Ini sudah tidak apa-apa, tidak perlu khawatir, " kata Jofan sedikit tersenyum, dia lalu meninggalkan Aurora, mengambil jasnya yang tergantung rapi di depan lemari mereka.
"Biarkan aku melihatnya," kata Aurora mendekati Jofan, kali ini menahan Jofan untuk tidak memakai jasnya.
"Jangan, akan lebih mengganggu saat melihatnya dari dekat," kata Jofan lembut, tidak ingin Aurora risih melihat dirinya nantinya.
"Tidak akan, izinkan aku melihatnya," kata Aurora lagi, dia hanya melihat luka itu sekilas, jadi dia yakin luka itu pasti lebih berat.
Jofan masih sedikit ragu, namun melihat keteguhan dalam mata Aurora, dia menjadi luluh, benar, sampai kapan dia tidak mengizinkan Aurora untuk mendekatinya, sekarang, jika nantinya Aurora tidak akan lagi mau menyentuhnya, Jofan akan menerima hal itu.
Jofan membiarkan tangan Aurora yang mulai membuka satu persatu kancing kemejanya, Jofan menahan napasnya, Aurora pun begitu, satu per satu kancing itu terbuka, memperlihat dada bidang suaminya yang biasanya terlihat begitu mulus, kali ini mulai terlihat gurat-gurat bekas luka, Aurora menebak, luka-luka ini pasti dulunya sangat parah, Jika tidak terlalu dalam tak mungkin meninggalkan bekas begitu besar.
__ADS_1
Aurora baru selesai membuka semua kancing kemeja Jofan, dengan tangan sedikit bergetar dia menyibakkan kemeja Jofan yang berwarna abu-abu tua itu, mata Aurora membesar, dia bahkan harus menutup mulutnya karena terkejut, dia lalu melihat ke arah Jofan, Jofan hanya bisa menekan kedua giginya melihat reaksi Aurora, namun dia hanya diam saja.
Aurora sekali lagi melihat ke arah luka-luka itu, begitu banyak, bahkan ada luka yang seperti jahitan besar di bagian perut Jofan, apa dia mengalami operasi? Jofan yang melihat Aurora mengamati seluruh tubuhnya segera membuka kemejanya, membiarkan Aurora melihat keseluruhan luka-luka di tubuhnya, Jofan juga membalikkan tubuhnya yang tampak masih begitu kencang walau umurnya sudah lagi tak muda, Aurora benar-benar tak habis pikir, luka ini sangat mencengangkan baginya.
Aurora menyentuh kulit yang sudah terasa tak rata dan kaku itu, merasakan bagaimana bisa ada orang yang begitu kejam melukai suaminya. Jofan menangkap tangan istrinya itu cepat, tidak membiarkan Aurora menyentuh luka yang menjijikan itu. Aurora yang mengalami hal itu menatap Jofan yang tampak sedikit kurang percaya diri.
"Jangan menyentuhnya," kata Jofan lembut.
"Kenapa?"
"Aku hanya tak ingin kau merasa terganggu olehnya."
"Aku tidak merasa terganggu, sekarang luka ini adalah bagian dari dirimu, bagaimana pun aku akan menerimannya," suara lembut itu kembali berhasil membuat hati Jofan tersentuh, "bagaimana ini bisa terjadi padamu?" kata Aurora dengan suaranya yang mendayu.
"Sudah aku katakan ada orang yang mencoba membunuhku, ini yang mereka lakukan padaku, tapi untunglah aku masih di berikan kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padamu, sehingga Tuhan tak menyuruhku pulang lebih cepat," kata Jofan menatap lurus pada bola mata Aurora yang terlihat berkaca-kaca.
"Kau melakukan ini sendirian? Bagaimana kau bisa menyembunyikan ini semua dariku? Bagaimana kau menjaga dirimu saat kau merasakan luka-luka ini?" kata Aurora yang membayangkan Jofan menangung semuanya sendiri, dia merasa sangat sedih, pasti dia sangat tersiksa, namun Aurora malah pernah berpikiran pria ini lari dari tanggung jawabnya hanya karena memilih putrinya, padahal selama ini dia berjuang, untuk melindungi dirinya dan keluarganya, air mata Aurora langsung turun begitu saja.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa, itu semua memang harus aku lakukan, asalkan kau tidak apa-apa, aku tidak pernah menyesal melakukannya," kata Jofan lembut memeluk Aurora dalam dekapannya.
Kehangatan menyelimuti keduanya, Jofan mengurai pelukannya, menatap ke dalam mata Aurora yang begitu indah baginya, dalam sekali tatapan itu hingga Aurora tak bisa lepas darinya, mata Jofan bergerak-gerak mengamati wajah mungil Aurora, perlahan dan pasti mereka saling mendekatkan wajah mereka, seakan tahu tujuannya, bibir mereka berpaut dengan lembut.
Kelembutan itu perlahan berubah menjadi deruan yang memancing nafsu keduanya, membarakan kembali perasaan yang dalam yang sempat mendingin, memacu detak jantung keduanya hingga serasa berburu, Jofan kembali menggendong tubuh Aurora, meletakkan istrinya itu dengan sangat lembut di ranjang mereka, sudah begitu lama tak mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut itu, membuat tubuh Jofan serasa haus, dia langsung merkam tubuh istrinya yang hanya memandangnya sendu.
__ADS_1
Mereka Memadu kasih dengan kelembutan, membagi kehangatan, berbalut cinta yang indah, menyalurkan rasa yang tak terlukiskan, akhirnya cinta bisa kembali pada tempat yang tepat.