
Bella memberikan senyuman manis pada Suri yang duduk di sampingnya, Suri juga tersenyum lalu memegang tangan ibunya.
"Bagaimana kabarmu, Ma?" tanya Suri melihat wajah ibunya yang sedikit pucat.
"Aku baik-baik saja, Papamu yang terlalu khawatir padaku," ujar Bella melirik suaminya yang duduk di sofa tak jauh dari ranjangnya.
"Tekanan darahmu naik, itu tidak baik," ujar Angga melirik ke arah Bella.
"Lihatlah, dari aku hamil dirimu, Papamu berubah jadi cerewet seperti itu, Angga, izinkan aku pulang, dari dulu aku tidak suka bau rumah sakit seperti ini, tekanan darahku bukannya turun, malah naik,"ujar Bella lagi melirik Angga yang masih saja seperti dulu, masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tunggu dokter mengizinkan dirimu pulang," ujar Angga tanpa melirik Bella.
"Ma, maafkan aku," ujar Suri yang entah berapa kali sudah meminta maaf.
"Sudahlah, itu bukan salahmu, lagi pula Mama tidak apa-apa, hanya sedikit syok," ujar Bella dengan lembut, menatap wajah anaknya yang tampak bersalah.
"Ma, aku berjanji padamu dan Papa, aku akan menuruti semua keinginan kalian, aku tahu apa yang kalian lakukan demi kebaikanku," ujar Suri, matanya yang sebening kristal menatap mata lembut Bella, Bella tersenyum sedikit, walaupun terutupi, jauh di dalamnya, ada rasa sakit yang disimpan oleh putri kecilnya ini.
"Ya, Mama percaya," ujar Bella kembali mengelus rambut anaknya yang berkilau, Suri meletakkan pipinya ke punggung tangan Bella, membiarkan ibunya terus mengelus kepalanya, dia sudah membuat ibunya seperti ini karena keegoisannya, sekarang, sesakit apapun, dia akan menerimanya, mungkin jalannya mereka hanya mencinta namun tak ditakdirkan bersama.
"Selamat Pagi Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu," terdengar suara William yang baru saja masuk, langsung memberikan salam sempurnanya.
"William, bangkitlah," ujar Bella tersenyum melihat William.
William segera menegakkan tubuhnya, tampak begitu tampan dengan jas dokter mudanya, dia datang dan segera tersenyum, wajahnya yang imut segera menyebarkan aura positif.
"Apa kabar Bibi?" ujar William mendekat ke arah Bella yang langsung tersenyum senang.
"Baik sekali, kau menjadi co-assisten di sini?" tanya Bella yang senang, Angga yang melihat William masuk langsung menutup laptopnya dan segera mendekati Bella, sebuah adap untuk menyambut tamu.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya izin sebentar dari tugas," ucap William lagi begitu sopan dan ramah.
"Bibi tidak apa-apa, jangan membuat dirimu sendiri susah karena ini," ujar Bella lagi.
"Tidak Ma, itu hanya alasannya, dia memang suka bolos," ujar Suri yang memang suka berkelahi dengan William sebelumnya. William melirik Suri dan menyipitkan matanya, kalau tidak di depan Raja dan Ratu, dia pasti akan membalas kakaknya ini.
"Ayah dan ibu juga akan datang, mereka bilang, mereka akan tiba sebentar lagi, " ujar William.
"Oh, benarkah? padahal aku tidak apa-apa," ujar Bella merasa tak enak, karena dirinya pasti istana jadi heboh, padahal dia sudah tidak apa-apa saat dia di bawa ke rumah sakit ini, memang darahnya sedikit tinggi karena syok, dan dokter juga hanya menyarankan dia di rawat sehari, namun Angga yang tidak mengizinkan dia pulang dulu, hingga tekanan darahnya turun.
Baru saja Bella mengatakan hal itu, pintu ruangannya terketuk, William langsung beriniasiatif untuk membukanya karena di dalam sana dialah yang paling muda. Saat dia membuka pintu, ayah dan ibunya sudah ada di depan pintu.
"Selamat datang Ayah dan Ibu," kata William sopan mempersilakan kedua orang tuanya untuk masuk, mereka membalasnya dengan senyuman.
"Kakak, bagaimana kabarmu? Maaf kami baru datang sekarang, Kak Angga baru mengizinkan kami datang hari ini," ujar Nakesha dengan wajah yang sedikit khawatir, dia langsung mendatangi Bella, sedangkan Daihan segera berjalan mendekati Angga, tahu harus ada jarak di antara mereka.
"Kau membuatku dan istana jadi khawatir, tak ada satupun dari keluarga kalian yang pulang dan menjelaskan apa yang terjadi," ujar Nakesha masih sama cerewet dan hebohnya seperti dulu.
"Iya, maafkan kami, sebenarnya aku sudah boleh pulang dari kemarin, tapi Angga tidak memperbolehkan aku pulang, lihatlah betapa segar aku sekarang," ujar Bella selalu suka dengan celotehan Nakesha yang penuh dengan semangat itu, dia melirik ke arah Angga, seolah mengadu. Daihan hanya diam mendengarkan istrinya menguasai keadaan.
"Tekanan darahmu belum stabil," ujar Angga lagi seolah membela diri, dia mengambil sebuah apel yang ada di samping tempat tidur Bella, dan mulai mengupas kulitnya melingkar.
"Tapi kau sudah janji membiarkanku pulang hari ini kan?" tanya Bella mencoba untuk menggoda suaminya di depan semua orang.
"Hanya jika dokter mengatakan tekanan darahmu stabil," ujar Angga lagi tanpa melirik semua mata yang sekarang tertuju padanya, sibuk mengupas apel untuk Bella.
"Bukannya tadi katanya jika dokter bilang aku sudah boleh pulang, aku boleh pulang hari ini," ujar Bella kesal, Angga merubah lagi perkataaannya.
"Aku tidak mau kau pingsan lagi nantinya," ujar Angga sambil melirik istrinya yang sama sekali tak berubah, keras kepalanya benar-benar tak bisa diubah, dan itu juga diturunkannya pada anaknya.
__ADS_1
"Angga …. " ujar Bella dengan suara yang menuntut.
"Bella!" ujar Angga menegaskan, namun tangannya menjulurkan potongan apel yang sudah di kupas. Bella sengara mengambilnya dan segera memakannya.
Semua diruangan itu hanya melihat pertengkaran kecil antara suami istri yang malah membuat mereka tersenyum.
"Selalu saja menjadi pasangan yang membuat iri, sayang … kau seharusnya secerewet itu jika aku sakit," ujar Nakesha yang protes.
"Kalau aku cerewet, maka aku mengambil peranmu," kata Daihan lagi sambil tertawa, membuat seisi ruangan itu tertawa.
"Di mana Jofan?" tanya Angga melirik ke arah Daihan yang ada di sampingnya.
"Entahlah, beberapa minggu ini dia tampak sangat sibuk, dia juga sudah tidak pernah lagi datang ke istana, aku kira kau tahu kemana dia, " ujar Daihan selalu saja dengan suara yang hangat.
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun padaku," kata Angga lagi dengan serius.
"Baiklah, kau tidak ke perusahaan?" tanya Daihan lagi.
"Tidak, semua sudah aku serahkan pada Archie, sejauh ini dia melakukannya dengan baik," ujar Angga melirik ke arah Daihan.
"Ya, dia juga sudah sangat jarang pulang ke rumah," kata Daihan.
"Iya, ada proyek baru yang harus dia kerjakan," kata Angga lagi pada Daihan,
"Ehm …" tegur Bella pada dua pria yang saling berbicara ini, Angga yang mendapatkan terguran dari istrinya itu langsung melihat ke arah Angga, mata Bella bergulir, melirik ke arah Suri. Angga mengerti apa maksud Bella, Angga melihat Suri yang tampak sedang berbincang dengan Nakesha.
"Lebih baik tidak menceritakan tentang Archie di sini," ujar Angga sedikit berbisik pada Daihan.
"Baiklah, aku mengerti, " ujar Daihan lagi.
__ADS_1