Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
247 - Dia seorang pahlawan.


__ADS_3

"Dia menjanjikan kenikmatan yang lebih! Dia menjanjikanku dapat membalaskan dendam bagi orang-orang yang sudah menjerumuskan hidupku dalam neraka jahanam itu!" kata Siena dengan wajah begisnya, mengeluarkan semua hal yang dia rasakan dan pendam selama ini, wanita itu tersenyum tipis, ketukan tangannya entah sejak kapan sudah dilakukannya lagi, membuat Siena seketika sadar apa yang baru saja di katakan.


"Siapa?" kata wanita itu tenang, Siena mengenggeleng, dia terjebak lagi.


"Aku tidak tahu," kata Siena sambil menunduk


"Jangan bermain lagi Nona Siena, semua sudah Anda ungkapkan, semua informasi darimu akan meringankan hukumanmu, lagi pula jika kau melindunginya, hanya kau yang akan menjadi pesakitan di sini, seorang anak yang  tinggal di panti asuhan, sendiri tanpa siapapun, di lecehkan, lalu mendapatkan penyelamat yang ternyata menjurumuskanmu ke tempat yang sama, penjara akan sama menakutkannya dengan panti asuhanmu yang dulu Nona Siena," kata wanita itu lagi.


"Jika aku mengatakannya kalian juga akan tetap memenjarakanku," kata Siena lagi menatap wanita itu, tatapannya sudah tampak melunak, malah terkesan sedih.


Wanita itu terdiam sedikit, mengembangkan senyumannya yang menenangkan, menatap lurus ke mata Siena yang tampak sedih.


"Jika kau mengatakannya, kami akan memberikanmu perlindungan dan aku yang akan menjamin kehidupanmu, kau sudah terlalu tersesat jauh, Nak," kata wanita itu dengan sangat lembut, selembut seorang ibu yang mengayomi anak-anaknya.


"Kau serius?" kata Siena lagi.


"Ya, aku serius, aku berjanji padamu," kata wanita itu lagi menatap mata Siena yang bergerak-gerak melihat ke arahnya, mencoba menganalisa wajah wanita itu.


"Aku benar-benar tidak tahu siapa dia, aku hanya tahu dia bernama Marka, aku bertemu dengannya hanya sekali itu juga tidak jelas, karena dia datang saat aku sedang dalam keadaan sekarat setelah mereka menyiksaku, setelah itu dia tak pernah lagi muncul, hanya orang suruhannya yang selalu mendatangiku, memberikanku semua hal yang aku butuhkan," kata Siena awalnya masih tampak takut-takut, namun melihat wajah wanita itu seolah mendengarkannya dengan simpatinya akhirnya dia bisa mengatakannya.


"Apa yang dia katakan padamu hingga kau bisa menjadi seperti ini, Nak," kata wanita itu menyentuh tangan dingin Siena membuat Siena melihat ke arah tangannya yang sedang di sentuh dengan hangat, Siena lansung menangis, entah kenapa langsung tersedu, seolah bebannya sangat banyak.


"Dia bilang dia akan membantuku untuk membalaskan dendam keluargaku, ayahku di bunuh secara keji, ayahku dibunuh oleh pihak istana karena dia bekerja menjadi seorang mata-mata pemerintahan, dia di tembak begitu saja, dan pihak pemerintahan bahkan tak pernah menganggap dia ada, bahkan mayatnya hingga sekarang tak tahu di buang kemana oleh pihak kerajaan, ibuku mengalami kelainan kejiwaan setelahnya dan meninggal bunuh diri karena kematian ayahku, sejak saat itu aku dipindahkan ke panti asuhan dan harus menjalani neraka itu hingga aku bertemu dengannya, dia mengeluarkanku dan memberikanku segala hal untuk membalas dendam, dia bakan memberikanku jalan untuk bisa masuk ke sana," kata Siena lagi dengan wajahnya yang kembali emosi.

__ADS_1


"Benarkah? lalu kenapa dia ingin membantumu?"  kata wanita itu lagi.


"Entah lah, mungkin dia hanya kasihan padaku," kata Siena.


"Lalu apa hubungannya dengan Tuan Jofan, kenapa kau mengusik keluarganya?" kata wanita itu lagi.


"Karena ayahku meninggal di bawah pimpinannya, dia menyuruh ayahku melindungi wanitanya di istana, tapi ayahku yang menjadi korbannya! Bahkan hingga sekarang mereka tidak mengingat jasanya! Karena itu aku ingin melenyapkan seluruh keluarganya agar dia tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga! dan juga balas dendam dengan semua orang yang ada di istana!" kata Siena lagi menggebu-gebu, dia bahkan memandang kaca itu dengan penuh dengan emosi, seolah dia tahu Jofan ada di sana. Jofan hanya memandangi wajah wanita muda itu.


"Lalu, bagaimana 3 tes DNA menyatakan bahwa kau adalah anak Tuan Jofan dan Nyonya Sania? " tanya wanita itu lagi.


"Entahlah, mungkin Marka yang melakukannya, aku juga tidak tahu," kata Siena cuek saja.


"Lalu, tahukah kau dimana dan siapa anak Tuan Jofan sekarang?" kata wanita itu dengan suara yang sangat lembut. Jofan memeras pengangan kursi rodanya.


Siena menunduk, dia tersenyum sinis yang lama-lama berubah menjadi tawa yang menyeramkan, dia lalu melihat ke arah kaca itu lagi.


Wanita penyidik itu mengerutkan sedikit wajahnya, melepaskan pegangan tangannya, ternyata wanita di depannya tak sepolos yang dia kira, ada sisi yang cukup mengerikan di baliknya.


"Kau tidak mungkin sanggup melakukannya," kata wanita itu seakan tak percaya, mencoba kembali memainkan emosinya.


"Ya, aku sudah melakukannya, aku menikmati setiap tubuhnya mengejang, aku memasukkan racun pada tubuhnya setiap kali aku berdua bersamanya, tak aku sangka cukup 2 kali saja sudah membuatnya pergi, sayangnya aku tidak bisa membunuh wanitanya yang lain," kata Siena dengan wajah begisnya.


Jofan mendengarnya hanya bisa terdiam, pegangannya pada kursi roda itu semakin erat, ternyata dia sudah membawa malaikat pencabut nyawa bagi Sania, berkedok anaknya dia malah membiarkan wanitanya meregang nyawa begitu saja di tangan anak palsunya itu, air mata Jofan tak bisa di bendung, bagaimanapun dia menjaganya, ternyata dia yang akhirnya membuat Sania kehilangan nyawanya.

__ADS_1


Tidak ada yang merasa lega walaupun mengetahui apa yang sudah diakui oleh Siena, semua yang menyaksikan introgasi itu malah hanya terdiam merasa miris dengan semuanya. Jendral Ferdinan hanya bisa menepuk pundak Jofan untuk menyalurkan rasa simpatinya.


"Tahan dia," kata Jendral Ferdinan lagi.


Wanita penyidik itu menarik napas panjang sekali untuk mengisi paru-parunya, lalu melepaskannya dengan perlahan, dia tersenyum pada Siena, memukul sedikit meja membuat Siena sedikit kaget, dia memandang wanita itu.


"Terima kasih Nona Siena," kata penyidik memberikan salam lalu ingin berjalan keluar.


"Kau bilang akan memberikan aku perlindungan," kata  Siena yang kaget wanita itu ingin pergi begitu saja.


"Kau sudah melakukan tindakan kriminal Nona Siena, aku tidak bisa membantumu untuk melawan hukum, bagaimanapun kau harus menerima hukuman dari ulahmu menghilangkan nyawa orang lain, tapi aku akan pastikan kau mendapatkan tempat hukuman yang layak untukmu dan aku akan selalu menjagamu di sana, aku harap kau temukan jalanmu kembali, Nak," kata wanita itu dengan suara rendah, membuat Siena memandangnnya dengan wajah sedih yang berkerut.


Para penjaga membukakan pintu, dan 2 orang tentara wanita masuk untuk kembali menyeret Siena ke penjaranya, saat dia keluar dari sana, baru saja beberapa langkah, dia mendengar sebuah suara.


"Siena!" suara Jofan menggema besar di lorong itu, Siena langsung berhenti dan melihat ke arah Jofan yang di dorong oleh Jendral Ferdinan, Siena menyipitkan matanya melihat pria itu.


"Kau puas sekarang? aku akan menyumpahimu tak akan pernah bisa bertemu dengan anakmu itu!" kata Siena geram, merasa terjebak dalam interogasi ini. Jofan hanya diam memandang wanita itu, seorang wanita bisa begitu kejam hanya karena salah paham yang fatal.


"Kolonel Jacob Wandry Blythe, ayahmu adalah pahlawan, namanya dan fotonya terpajang di Hall of Memorial di setiap markas militer di negara ini bersanding dengan para pahlawan yang lain, bahkan di istana dia di tempat barisan para Raja, kami sudah memberikan pernghargaan dan juga perlindungan untuk keluarganya hingga saat ini, namun kami tak tahu dia punya keluarga yang lain yang tak tercatat dalam berkas kenegaraan, dia adalah pahlawan untuk kami, berbanggalah memiliki ayah sepertinya," kata Jofan memberikan foto Asisten Wan pada Siena lengkap dengan atribut kenegaraannya.


Siena melihat ke arah foto ayahnya itu, menatapnya dengan sangat nanar, ayahnya tampak begitu gagah dengan segalanya atributnya ketentaraannya, Siena menangis pilu melihatnya, sudah lama sekali tidak melihat foto ayahnya itu, dia sudah mencoreng nama baik ayahnya dengan melakukan hal kejam, bagaimana dia baru bisa sadar sekarang.


"Maafkan aku," kata Siena tak berani melihat Jofan.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu, namun kau tetap harus menjalani hukumanmu, aku akan menjagamu di sana demi janjiku pada ayahmu," kata Jofan lagi.


Siena menangis tersedu, memeluk foto ayahnya lalu pergi meninggalkan Jofan yang hanya bisa melihat sosok itu pergi, sekarang dia harus menemukan anaknya.


__ADS_2