
Ceyasa menatap balkon yang dikatakan oleh pria itu, benar saja kamar itu memiliki balkon, di segera berjalan dan mencoba untuk membuka pintu kaca kamar itu dan segera berjalan cepat menuju balkon itu, namun Ceyasa langsung berhenti melihat pemandangan di bawah balkon itu.
Di bawahanya sebuah jurang yang cukup dalam terlihat membentang, membuat tinggi lantai 2 rumah itu menjadi 2 kali lipat, dengan kata lain jika Ceyasa nekat melompat dari balkon ini, sama saja dia melompati gedung 4 lantai, dengan kata lain juga, itu sama saja bunuh diri.
Ceyasa lalu melihat ke arah lain, tidak ada jalan untuknya, rumah ini benar-benar di bangun di tepian jurang, siapa yang membangun rumah seperti ini? sudah di tengah hutan, di pinggir jurang pula, pikir Ceyasa yang bingung harus apa?
Ceyasa lalu melihat ke arah kamar itu, kembali mencoba untuk mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk melawan diri, tak ada apapun di kamar itu selain sebuah kursi, dan Ceyasa yakin, walaupun dia memukuli Rain dengan kursi itu, yang ada dia akan lebih membangkitkan sisi jahat dari Rain yang tak bisa tertebak, selain itu ternyata kursi itu jauh lebih berat dari pada yang terlihat, karenannya dia hanya menggeser kursi itu ke depan pintunya dan berharap pintu itu akan tertahan dari dalam, walaupun Ceyasa tidak yakin itu akan berhasil.
Ceyasa menunggu di sudut kamar itu, tangannya memegang lampu baca yang rasanya tidak akan mampu untuk melindunginya, tapi yang penting Ceyasa harus memberikan perlawanan, pintu balkon itu dibiarkannya terbuka, jika memang Rain berniat macam-macam dengannya, dia lebih baik mati dari pada tubuhnya di sentuh oleh pria lain selain suaminya.
Suaminya, Ceyasa langsung mengingat Archie, tiba-tiba ingin sekali melihat dirinya, entah kenapa dia merasa sangat merindukannya, bisakah dia bertemu Archie kembali?
Pintu itu tak lama seperti ingin di buka, siapa pun yang ada di balik pintu itu sepertinya sangat kesusahan untuk membuka pintunya, ternyata ada gunanya juga dia menghalangi pintu dengan kursi itu, namun semakin lama, semakin keras mereka mencoba untuk membuka pintu itu, dan dalam detik-detik menegangkan itu, otak Ceyasa berpikir dengan keras, dia melihat ke arah balkon dan pintu itu berulang kali, melihat pintu itu sebentar lagi akan terbuka, dia segera berlari ke arah balkon rumah itu dan tanpa melihat ke balakang lagi langsung naik dan ingin menaiki pagar balkon dan segera ingin melompat dari sana, karena baginya dari pada dia harus menerima siksaan apalagi jika sampai dia dilecehkan oleh Rain, dia akan lebih baik mati dari pada harus menerima beban seperti itu.
__ADS_1
---***---
Archie membuka matanya, melihat asap sedikit keluar dari depan mobilnya yang berantakan, kaca mobil berhamburan di sekitarnya, kepalanya nyeri, dia memeganngya sejenak melihat darah segar, seseorang membantunya untuk melepaskan sabuk pengamannya, dia sempat melihat ke arah sampingnya, tampak Gerald sudah dibawa keluar dari mobil itu.
Archie segera ditolong keluar oleh orang-orang yang sengaja berhenti untuk menolong mereka, dia dipapah dan melihat cahaya matahari yang silau membuat Archie langsung sadar akan keadaannya, dia ingat terkahir kali mereka mengejar mobil Ceyasa dan sebuah mobil malah menghalangi mereka.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya pria itu melihat Archie yang tampak sedikit linglung.
"Aku tidak apa-apa, aku harus menyelamatkan istriku," kata Archie melihat pria itu, dia segera ingin melepaskan diri dari papahan pria itu.
"Istriku diculik, aku harus mencarinya, " kata Archie sedikit mendorong pria itu agar dia lepas dari dirinya, dia lalu berjalan sedikit lunglai awalnya namun mencoba sebisa mungkin untuk berpikir bagaimana dia bisa mencari Ceyasa, dia juga melihat sekitarnya, mobilnya benar-benar tak mungkin lagi digunakan olehnya, dia berjalan perlahan untuk mencari cara, melihat sekitar dengan wajah cemasnya, tak lagi merasakan sakit di kepalanya yang luka, atau badannya yang sebenarnya terasa remuk, bahkan kakinya yang pincang tak jadi masalah baginya.
Tiba-tiba sebuah mobil tentara berhenti di depannya, pintu langsung dibukakan oleh tentara itu.
__ADS_1
"Jika ingin mencari Nona Ceyasa, silakan Anda naik, Pangeran," kata seorang pria lengkap dengan peralatan dan atributnya. Archie mengerutkan dahi sejenak, lalu tanpa memikirkan apapun, dia langsung naik di bantu oleh tentara yang lain.
Pintu mobil itu segera tertutup, mereka segera melaju dengan cepat, seorang tentara segera mengambilkan kotak P3K yang ada di mobil itu, dia langsung memberikan kasa yang sudah ditetesi obat anti septik untuk Archie, Archie yang melihat itu segera mengambilnya, meletakkannya pada luka di kepalanya, dia meringis sejenak karena perih yang ditimbulkan efek dari obat itu.
"Bagaimana kalian bisa di sini?" kata Archie melihat beberapa tentara yang ada di sana, di belakang mereka juga ada 2 lagi mobil terntara yang sama.
"Yang Mulia Raja yang mengutus kami, Asisten Lin mengirimkan gambaran CCTV dan kami sudah melacak kemana mereka membawa Nona Ceyasa, sekarang kami akan menuju ke sana, beberapa prajuritku juga sudah ada yang sampai di sana, mereka sudah melumpuhkan penjaga yang ada di bagian luar, selain itu kami juga sudah memantau Tuan Rain, dia juga sudah menuju ke arah tempat mereka menyekap Nona Ceyasa, kami sudah berusaha untuk mencegat jalannya, membuat seolah terjadi kecelakaan di jalur yang akan dilaluinya sehingga akan memperlambat jalannya," kata kata prajurit itu menjelaskan pada Archie.
"Untuk apa kalian memperlambatnya, kalian bisa langsung menghalanginya datang," kata Archie dengan dahi berkerut, kepalanya cukup penuh untuk memikirkan hal itu.
"Karena memang tujuan kami adalah memastikan dia untuk datang kesana," kata prajurit itu tersenyum tipis, Archie memandangnya, memutar otak untuk menganalisa yang baru saja prajurit itu katakan, tak lama dia akhirnya mengerti juga.
Mobil mereka berhenti cukup jauh dari rumah itu, namun cukup dekat untuk memantau keadaan di rumah itu, setelah mobil berhenti mereka segera bersiap dan keluar dengan semua peralatan lengkap mereka.
__ADS_1
"Anda akan butuh ini untuk menjemput istri Anda," kata prajurit itu lagi menyodorkan pistol pada Archie, Archie segera mengambilnya, memengang dengan mantap lalu keluar bersamaan dengan prajurit itu.
Prajurit itu memberikan arahan, segera mereka berjalan menuju pintu masuk rumah itu, 2 orang tentara langsung berjaga di depannya, yang lain berjaga di belakang Archie dan prajurit yang sepertinya adalah pimpinan dalam operasi itu, dengan aba-aba yang jelas prajurit itu segera menendang pintu rumah yang sudah cukup berumur itu, membuatnya langsung terbuka dan mengagetkan 3 orang yang sedang menunggu di dalam sana.