
Pagi menyinsing cepat, setelah menyempatkan sarapan bersama, mau tak mau Archie harus pamit dan bergegas pergi ke perusahaannya, sebelum pergi Archie sekali lagi mewanti-wanti Ceyasa untuk menjaga keselamatannya, tidak memaksakan dirinya untuk ke sana jika dia tak mampu, bahkan tentang susu dan vitamin yang tak boleh terlewat sedetik pun, Ceyasa hanya mengangguk-angguk saja, Archie jadi cerewet sekali sekarang.
"Saya tidak iri dengan status Anda, namun saya sangat iri karena Anda bisa mendapatkan suami yang begitu sempurna, Yang Mulia Ratu," Ujar Hana yang tampak begitu elegan dengan setelan baju ala kantorannya, tak lagi begitu kaku seperti saat dia di markas militer.
"Jangan iri, yang terlihat belum tentu yang sebenarnya," kata Ceyasa tersenyum mendengar perkataan Hana.
"Tapi aku yakin, Yang Mulia Raja pasti tetap seperti itu pada Anda, mau di belakang atau pun di depan, kalian benar-benar pasangan yang sangat cocok," Jawab Hana begitu yakin, membuat Ceyasa semakin melebarkan Senyumannya, suaminya memang begitu, dia beruntung sekali.
"Yang Mulia Ratu, Putri Suri dan Ibunda Ratu Bella sudah datang," kata seorang pelayan yang segera mendatangi Ceyasa.
"Oh Baiklah," kata Ceyasa bangkit dari Sofanya, Hana sigap membantunya, sedikit kesulitan untuk mulai bangkit.
Ceyasa segera berjalan ke arah pintu utama, melihat Suri dan Bella sedang ada di ruang tamu, Ceyasa langsung memberikan hormatnya pada mereka, dibalas dengan hormat juga dari Suri dan Bella.
"Ah, sudah membesar, apa sudah merasakan gerakannya?" tanya Bella mengelus perut Ceyasa.
"Ya, sudah mulai bergerak, tapi belum terlalu keras," kata Ceyasa membiarkan Bella yang gemas melihat perut Ceyasa, Suri pun ambil bagian mengelusnya.
"Apa kau sudah boleh hamil?" tanya Ceyasa melihat Suri yang berdiri di depannya, Suri belum bisa berjalan normal sepenuhnya, namun dokter memberikannya alat penyangga di kakinya yang kekuatannya belum pulih 100%, jika dia berjalan akan tak tampak begitu pincang dan cukup normal namun dia masih tak bisa berlari, karena alat itu membuat lutut lebih kaku.
__ADS_1
Sudah, aku sudah tidak minum obat 2 bulan belakangan ini, dokter bilang sudah aman jika ingin hamil, gerak tangan Suri mengisyaratkan, apa yang dikatakan dokter benar, mungkin kakinya akan kembali lagi seperti biasanya, namun kemampuan bicaranya tak bisa disembuh.
"Oh, itu kabar yang baik, semoga cepat menyusul, akan lucu jika kita berdua memiliki bayi bersamaan," kata Ceyasa mengelus perut rata Suri, sudah lama dia tak ingat perutnya serata itu.
"Terima Kasih," kata Suri, kata-kata sederhana bisa dia ucapkan.
"Ya, sudah saatnya kita pergi, hari ini penutupan, kita tak boleh terlambat," kata Bella lagi, dia mengandeng tangan Suri, Ceyasa dikawal oleh Hana dan berapa penjaga.
Pintu mobil segera dibukakan oleh Hana, Ceyasa masuk ke dalam Mobil Rolls-Royce yang begitu mewah khusus dibelikan Archie untuk Ceyasa, sedangkan Bella dan Suri naik mobil mereka yang membawa mereka ke istana.
Mobil mereka melaju sedang ke arah tempat acara itu, acara itu diselenggarakan, di sebuah tempat di atas sebuah bukit yang menunjukkan seluruh pemandangan kota itu, tempat itu memang sering dijadikan tempat penyelenggaraan acara-acara penting.
Tak lama mobil mereka memasuki area tempat acara, mobil mereka terparkir sempurna di dekat acara, seluruh penjaga segera bergerak untuk memberikan perlindungan untuk Ceyasa, setelah merasa aman Hana segera membukakan pintu untuk Ceyasa.
Acara berjalan dengan lancar, cukup banyak orang yang datang dipenutupan kali ini, Ceyasa cukup terhibur dengan semuanya jika saja punggungnya tak cepat merasa nyeri.
"Hana, aku ingin ke toilet sebentar," kata Ceyasa, semenjak kandungannya membesar dan menekan kandung kemihnya, dia jadi sering merasa ingin buang air kecil.
"Baiklah, Saya akan menjaga Anda Yang Mulia Ratu," kata Hana lagi berdiri, dia menunggu Ceyasa untuk berdiri, 2 orang penjaga pun di panggil Hana untuk membantunya, jaga-jaga jika terjadi sesuatu nantinya.
__ADS_1
Ceyasa pergi ke arah kamar kecil yang letaknya di salah satu bangunan di dekat tempat acara itu. Toilet yang hanya khusus untuk dipersiapkan untuknya atau anggota kerajaan yang lain, jadi tak ada orang yang akan menggunakannya hari ini kecuali Ceyasa, Suri atau Bella.
"Berjaganya jangan terlalu dekat, aku tidak apa-apa, hanya ke kamar kecil saja," Ujar Ceyasa yang sedikit canggung melihat 2 penjaga pria yang ada di sana, mereka mendengarkan itu langsung mengangguk, dan berjaga sedikit menjauh dari kamar kecil itu.
Hana membuka kamar kecil itu, melihat di dalamnya kosong, bilik di kamar mandi itu ingin di buka olehnya namun Ceyasa langsung mencegahnya.
"Tidak perlu seperti itu, lagi pula hanya kita yang ke sini kan?" kata Ceyasa lagi, penjagaan yang di perintahkan oleh Archie ini terlalu ketat baginya. Hana mengerti, dia mengangguk saja.
"Saya akan menunggu di sini," kata Hana yang terdengar tegas, Ceyasa hanya tersenyum, Hana tak akan mau keluar bahkan jika diminta oleh Ceyasa.
Ceyasa membuka pintu bilik kamar mandi yang tampak tak terkunci, tapi baru saja dia ingin masuk, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang, dengan sangat cepat tubuhnya dibalikkan ke depan dan sebuah lengan sudah mengapung di lehernya, benda yang terasa tajam dan dingin juga nempel di lehernya, Semua begitu cepat hingga Hana pun tak sempat melakukan tindakan, dia baru saja ingin mengambil senjatanya yang ada di balik blazer kerjanya.
"Jangan coba-coba!" suara wanita yang tak ramah terdengar di belakang Ceyasa, Ceyasa hanya menelan ludahnya, panik namun tak ingin gegabah, lehernya terasa sedikit nyeri karena tekanan benda di lehernya, dia harus bagaimana? mengingat sekarang dia sedang hamil, keselamatannya dan bayinya lah yang utama.
" Jangan coba-coba mengambil apapun yang ada dibalik pakaianmu itu, atau aku tanpa ragu menusuk lehernya," suara itu terdengar lagi, Ceyasa sama sekali tak mengenalinya, siapa wanita ini sebenarnya dan apa maunya? rasanya selama ini dia tak pernah musuh.
"Baik, baik, aku sudah mengeluarkan tanganku," Ujar Hana mengeluarkan tangannya, mengangkatnya setinggi dadanya.
"Bagus, sekarang, kau harus mengikuti apa yang aku inginkan," kata Wanita itu mendorong tubuh Ceyasa yang mencoba setenang mungkin padahal dirinya sudah sangat cemas, Ceyasa tak ingin panik dan nantinya malah membuat semuanya kacau, apalagi sampai membahayakan kandungannya.
__ADS_1
Hana melihat Ceyasa yang dari matanya tampak ketakutan, Hana juga masih memutar otaknya bagaimana cara menyelamatkan Ceyasa, apalagi sekarang yang harus dia selamatkan bukan hanya Ceyasa namun bayi dikandungannya, Ceyasa hanya mengangguk, memberika isyarat untuk setuju dengan perkataan wanita ini.
"Baiklah apa maumu?" tanya Hana lagi