
"Lalu apa lagi yang dia katakan padamu? " ujar Archie.
"Dia bilang mulai saat ini aku harus mengikuti apapun yang di katakan dan kapanpun dia butuh, aku harus ada," ujar Ceyasa yang entah kenapa malah jujur pada Archie.
Archie mengerutkan dahi, jangan-jangan Ceyasa mengatakan iya.
"Apa kau mengatakan iya?" kata Archie yang sudah terpancing kesalnya bahkan dengan membayangkannya saja.
Ceyasa memasang wajah masam, tak berani untuk menjawab, karena memang menurutnya itu bodoh sekali.
"Aku tidak mengatakan iya, tapi juga tak mengatakan tidak, karena saat itu posisiku. sangat tidak baik," jelas Ceyasa mencoba membuat Archie mengerti, tapi dia tak mungkin mengatakan hal itu karena dia kalah taruhan dengan Rain.
"Kau ini! padaku kau begitu garang! Kenapa sih dengannya kau begitu penurut!" Archie langsung tak bisa menahan rasa kesalnya, wanita ini akan menghancurkan dirinya.
Ceyasa hanya diam, kalau dia salah dia tidak akan melawan.
"Jadi kalau Rain menyuruhmu untuk menghancurkan karirku, kau juga akan mengikutinya?" tanya Archie lagi dengan kesal, menatap Ceyasa dengan wajahnya yang dicondongkan ke arah Ceyasa, menunjukkan dia sedang marah dan menantang Ceyasa.
__ADS_1
"Ya tentu tidak, kau pikir aku wanita seperti apa! jika aku merasa itu perbuatan tak baik, aku tidak akan melakukannya," kata Ceyasa lagi dengan suara yang sama besarnya, dia juga memajukan wajahnya, tak mau kalah dengan Archie.
Gerald benar-benar ingin menutup telingaya yang sebentar lagi rasanya gendang telinganya akan robek.
"Mulai sekarang kau akan tinggal di tempat yang aku sudah sediakan dan kau dilarang bekerja, Gerald, kirim surat pengundururan diri Ceyasa dari pekerjaan," kata Archie yang sekarang mencoba untuk menyenderkan dirinya, kesalnya sudah melewati batas.
"Apa? kenapa begitu? Kau tidak berhak untuk mengatur hidupku," kata Ceyasa yang merasa kaget dengan perkataan Archie, kenapa dia harus tinggal di tempat Archie, dankenapa dia tidak boleh bekerja? Dia sudah sangat nyaman dengan pekerjaannya.
"Karena jika kau masih tinggal di sana dan bekerja disana, Rain akan tetap menghubungimu, dan kau akan tetap berhubungan dengannya," kata Archie seadanya, sudah cukup dia menahan kesalnya, sedikit lagi, maka dia takut tak bisa mengontrol dirinya. Bisa-bisa dia akan melakukan sesuatu yang takutnya malah membuat dirinya menyesal.
"Karena aku suamimu!" kata Archie yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya, menegakkan tubuhnya, membusungkan dadanya, menunjukkan gestur bahwa dialah yang berkuasa di sini dan atas diri Ceyasa. "Aku berhak atas dirimu selama surat perceraian kita belum keluar, mulai detik ini, aku yang mengatur dimana kau harus tinggal, dengan siapa kau berhubungan, dan kau boleh bekerja atau tidak, bahkan kau tidak boleh keluar tanpa persetujuanku, kau benar-benar membuat aku kesusuahan, jika ada masalah dengan karir dan bisnisku, semua itu karena dirimu! Jangan menjadi wanita pembawa sial dalam hidupku," ujar Archie yang benar saja tak bisa lagi mengotrol apa yang keluar dari mulutnya.
Ceyasa yang mendengar itu sedikit terdiam, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Archie, Archie pun kaget dengan apa yang dia katakan, bagaimana dia bisa mengatakan hal itu pada Ceyasa.
Gerald yang melihat pertengkaran ini sudah menjurus menjadi pertengkaran suami istri, mengeser tubuhnya menjauh dari sepasang suami istri ini.
"Kau bilang apa? aku wanita apa? yang sial di dunia ini adalah aku karena sudah berhubungan dengan pria sepertimu! Jika dari awal aku tak bertemu dengan mu, aku tak akan seperti ini! lagi pula kau sebut apa dirimu? kau suamiku? Kau tak ingat, kita hanya menikah palsu, kau dan aku hanya punya hubungan semu, kita tidak benar-benar menikah, lagi pula kita sudah akan berce …. " Cerewet Ceyasa yang ingin mengutarakan semuanya.
__ADS_1
Namun seketika bibirnya berhenti berbicara, tatkala tangan Archie menarik lengannya, membuat Ceyasa terhentak ke depan dan entah bagaimana, bibir Archie sudah menempel di bibirnya, membungkamnya seketika, membuat suasana di dalam mobil itu hening senyap. Gerald yang melihat itu, langsung menutup wajahnya dengan tirai jendela mobil yang ada di sampingnya, terlalu banyak yang dia lihat dan dia dengar hari ini, bagaimana dia akan bersama Ceyasa kalau begini.
Ceyasa membesarkan matanya, menatap wajah Archie yang begitu dekat, mata Archie tertutup saat dia melihatnya, hembusan napasnya terasa hangat menerpa pipi Ceyasa, awalnya cepat namun perlahan hembusan napas itu terasa lebih tenang, Ceyasa langsung lemas, apa yang terjadi sebenarnya, seketika saja kepala Ceyasa langsung terasa berat, terlalu syok dengan apa yang diberikan oleh Archie.
Archie yang merasa sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Ceyasa, hanya ingin membuat wanita ini terdiam, dan entah kenapa dia malah refleks menarik dan melakukan hal ini pada Ceyasa, dia memang sukses membuat Ceyasa terdiam, namun dia baru sadar dengan lembutnya bibir Ceyasa yang langsung membuainya, tak menyangka sentuhan bibir kecil Ceyasa sesaat malah membuat dirinya yang terbungkam, dan sesaat kemudian dia baru sadar apa yang sudah dilakukannya, cepat-cepat dia membuka mata dan melepaskan Ceyasa dari ciuman yang sebenarnya tergolong singkat itu.
Ceyasa hanya terpaku, masih diam seperti posisinya saat Archie menciumanya, matanya masih terbelalak besar dan masih benar-benar syok dengan apa yang sudah terjadi, Archie yang melihat itu segera menyadarkan dirinya, salah tingkah karena hal itu, dia mengigit bibirnya, masih bisa merasakan kelembutannya.
"Akhirnya kau diam juga," kata Archie dengan suara mencari-cari alasan.
Ceyasa yang masih syok dan kaget, mendengar kata-kata Archie langsung sadar dan melihat ke arahnya dengan tajam, melihat sorot mata Ceyasa yang begitu tajam, Archie menjadi salah tingkah, dia mencoba tak melihat tatapan Ceyasa.
"Kau! aku akan membunuhmu! Kau jahat sekali! Dasar pria mesum!" ujar Ceyasa mengamuk dalam van itu, membuat tak hanya Archie dan Gerald yang kaget, bahkan semua orang di dalam, hingga supir langsung menghentikan laju mobil itu secara mendadak, membuat Ceyasa yang tadi berdiri ingin menyerang Archie langsung tersungkur jatuh, Archie yang melihat Ceyasa mengamuk cukup kaget dan takut melihat wanita ini, baru kali ini dia mencium wanita dan wanita itu malah mengamuk seperti orang gila. Archie langsung memberikan isyarat pada Gerald.
"Nona, Anda tidak boleh menyerang seorang Pangeran, Nona, duduk lah di sebelah sini," kata Gerald yang langsung menarik Ceyasa berpindah ke depannya, dan Archie segera menekan tombol, membuat pembatas yang memang dirancang untuk melindunginya jika ada apa-apa langsung naik. Ceyasa yang melihat itu hanya bisa menahan kesalnya.
"Lanjutkan perjalanan," kata Archie yang syok melihat Ceyasa, untung saja mobil ini punya pembatas ini, kalau tidak, dia harus menahan diri karena diserang oleh wanita gila yang sekarang hanya meliriknya tajam dibalik pembatas kaca anti peluru.
__ADS_1